Konsisten dan Profesional

konsisten-mengelola-blogBerawal dari kegabutanku di kosan karena ditinggal teman sekamar yang sedang pulang kampung ke Bandung untuk mempersiapkan perhelatan agung dalam hidupnya, yang ikrarnya menggetarkan alam semesta, yang disebut sebagai mitsaqan ghalidza ‘perjanjian yang agung’, yakni pernikahan. Hari pertama aku ditemani teman sekantor yang kosannya tidak terlalu jauh dari kosanku, tapi hari selanjutnya sepertinya tak enak rasanya merepotkan orang lain, jadilah aku nikmati saja kesendirian ini. Kadang sendirian membuat kita bisa memikirkan banyak hal yang mungkin tidak terpikirkan ketika kita bersama orang lain. Jadi, menyendiri sepertinya bisa jadi alternatif untuk menjernihkan pikiran sesekali. Mungkin karena aku kurang terbiasa sendiri, rasanya ingin sekali melakukan suatu hal daripada hanya bengong atau berpikir tak tentu arah. Hal yang biasanya ku lakukan adalah nonton drama, drama korea. Tapi, berhubung drama yang ku suka belum tayang lagi karena drama ini on going, jadilah aku tak melakukan apa-apa kemarin malam. Ditambah dengan kondisi badanku yang sedang benar-benar tidak enak, kepala migrain, pencernaan kurang lancar, dan Bekasi yang sepertinya sedang mencapai suhu terpanasnya. Rasa panasnya bukan main, jangankan di kosan yang tanpa AC, di kantor yang ber-AC pun keringat tak henti-hentinya bercucuran. Mungkin sudah masuk musim kemarau. Tak heran sih banyak meme yang bilang Bekasi punya dua matahari, panasnya benar-benar maksimal, numero uno.

            Rasa pusing yang ku alami tadi malam membuat tidurku makin ku perpanjang, tapi tetap saja sepertinya rasa pusingnya tak mau lepas dari kepala. Aku segera mandi agar kondisiku kembali pulih, yang ada di kepalaku pagi tadi hanyalah beli tolak angin cair atau minum kopi karena biasanya dengan salah satu barang itulah rasa pusingku bisa hilang. Pilihanku jatuh pada minum kopi walaupun ketika minum kopi itu rasa pusingnya sudah mendekati kata sembuh, tapi tetap saja ku beli untuk memaksimalkan proses penyembuhannya. Ketika akan pulang ke kosan, aku ingat aku harus punya tontonan, jadilah aku putuskan untuk mendownload sebuah film yang direkomendasikan seorang temanku di media sosialnya.

            Temanku ini adalah teman yang beberapa tahun belakangan ini aku kagumi. Setiap postingannya, entah itu di IG ataupun wordpress selalu membuat kekagumanku makin bertambah padanya. Selalu saja ada hal baru yang dia posting. Entah karena pengetahuanku yang sempit atau pengetahuan dia yang luas, seakan-akan apa-apa yang dia posting adalah hal baru bagiku dan selalu meninggalkan kesan. Tentunya hal ini membuatku semakin menyukainya. Aku menyukai dia dari penggambaran yang ada di kepalaku karena memang kita sudah tidak bertemu beberapa tahun. Akan ada dua kemungkinan ketika aku kembali bertemu dengannya, aku makin menyukainya atau mungkin malah tidak menyukainya. Apakah dia menyukaiku? Sepertinya tidak karena kemungkinan tidak ada kesan menarik yang ku tinggalkan ketika kita berteman. Kenapa aku begitu yakin? Nggak tau, yakin aja. Pesimis? Nggak juga. Menyukaiku ini bukan dalam taraf aku harus memilikinya, bukan. Aku bukan anak kecil, aku hanya kagum, suka, ya itu saja.

            Postingannya kali ini mengenai sebuah film dokumenter yang berjudul ‘Jiro, The Dreams of Sushi’. Sampai di kalimat ini mungkin akan banyak yang tahu siapa gerangan yang aku kagumi, hehe. Ya dia. Cukup sampai di sini, mari lanjutkan bahasan intinya mengenai film dokumenter ini. Film ini sukses membuatku tertampar, melongo, dan sadar. Film ini juga sukses mambuatku membereskan kamar yang berantakan, melipat baju yang sudah dicuci, kembali punya ‘ghiroh-semangat’ untuk melakukan banyak hal. Dahsyat bukan? Bukan lagi. Aku bisa menjadi sebegitunya ketika menemukan hal yang berhasil menaikkan motivasi. Apa sih isi film ini sampai sebegitu membekasnya di hati? Intinya sih tentang konsistensi dan profesinalitas. Dan semua yang ku tonton di film ini benar-benar berkebalikan dengan apa yang ku lakukan hingga saat ini. Dan aku berniat untuk merubahnya agar hidupku lebih punya arti, ceilah.

            Film menceritakan seorang pemilik restoran sushi di Jepang yang hingga umur 85 tahun masih bersemangat untuk bekerja membuat sushi, namanya Jiro Ono. Di awal film ini beliau berkata bahwa seseorang harus mencintai dan professional dalam pekerjaannya untuk menjadi orang yang sukses di bidangnya. Beliau begitu konsisten membuat sushi bahkan disebutkan di film itu beliau berangkat kerja menaiki kereta dengan posisi yang sama tiap harinya, saking konsistennya. Karena kecintaannya yang sangat besar pada pekerjaannya, beliau sampai tidak suka hari libur dan menurutnya hari libur itu terasa sangat lama, sampai sebegitunya loh. Emang ada orang jaman sekarang yang merasa kalau hari libur itu adalah hari yang tidak menyenangkan? Ada kali ya, tapi aku belum pernah ketemu orang seperti itu. Bahkan ketika beliau tidur pun, beliau bisa membuat sushi dalam mimpinya dan terbangun dengan ide-ide baru tentang sushi. Restoran yang beliau punya sangat kecil tetapi popularitasnya benar-benar telah mendunia. Dianugerahi penghargaan Michelin sebagai restoran bintang 3 (aku nggak tau ini penghargaannya sebergengsi apa tapi dari ceritanya sepertinya penghargaan ini bergengsi banget, mungkin sekelas Nobel kali ya, tapi di bidang kuliner), masuk guiness book world of records, dan berpredikat restoran termahal di dunia. Kalau mau buat reservasi harus dua bulan sebelumnya dan harga sushi per buahnya mulai dari ¥30.000 (kurs rupiah ke yen, 1¥ = 119.11, berarti ¥30.000 setara dengan Rp 3.573.300). What??? Mihil bingit? Aku baru konversi harganya pas nulis ini dan ternyata emang muahaaaaallll bangeeeet. Kalau harganya mulai dari ¥30.000, artinya itu harga termurah kan ya? Pantesan dibilang restoran termahal di dunia. Jangan bayangkan porsi yang besar dengan harga semahal itu, porsinya keciiiil banget sushinya, nggak nyangka semahal itu. Dan jangan bayangkan pula restorannya mentereng dan mewah khas restoran eropa, nggak, nggak sama sekali. Restorannya itu kecil, sempit, hanya berisi 8 kursi kayak warung gitu, benar-benar kecil untuk mendapatkan predikat restoran termahal di dunia. Lantas apa yang membuat restoran dan Jiro ini menjadi begitu tenar dan spesial? Coba nonton deh, kalian bakalan mengerti kenapa bisa sebegitunya. Aku akan sedikit bercerita, tapi mungkin nggak bakalan terlalu menggambarkan kehebatan kakek Jiro ini.

            Jiro telah terkenal sebagai master of sushi, tidak ada yang bisa menyamai kualitasnya selama dia masih hidup, bahkan anak tertuanya pun tidak akan bisa. Ini pendapat seorang penulis buku resep yang telah berulang kali makan di restoran Jiro. Jiro dilahirkan dari seorang Bapak yang mempunyai banyak uang dari usaha kapal angkutan miliknya. Akan tetapi bisnisnya bangkrut dan hidup keluarganya berantakan, bapaknya menjadi peminum dan tidak peduli pada keluarga. Menjadi anak yang tidak terurus membuatnya hidup disiplin dan selalu bekerja keras karena tanpa kerja keras dia tidak akan bisa makan. Jiro bekerja sebagai pegawai di sebuah rumah makan dan sangat konsisten di pekerjaannya, bahkan tetap bertahan walaupun dimarahi dan ditampar ketika melakukan kesalahan (gileee…. Kalau aku kayaknya bakalan langsung ngacir). Sikap disiplinnya inilah beliau tularkan pada anak-anaknya. Ketika anak keduanya akan membuka restoran sushi, pesannya beliau adalah ‘ketika kau pergi (untuk memulai usaha maksudnya), tidak akanada jalan kembali’. Jadi menurut Jiro, ketika orang tua memberikan nasehat kepada anaknya seperti ini ‘berusahalah, pintu rumah akan selalu terbuka ketika kau gagal’ justru akan mengantarkan seorang anak untuk gagal. Banyak pegawai dan pengamat yang berpendapat bahwa Jiro sangat perfeksionis dan sangat keras pada dirinya sendiri. Bahkan ada yang berpendapat ‘harusnya dia tidak menyesali hidupnya karena dia telah berusaha sangat keras, aneh saja kalau dia masih menyesal’. Perumpamaan bekerja pada Jiro adalah ‘kau tidak bisa merasakan kakimu ketika akan tidur’, mungkin saking lamanya berdiri kali ya. Saking jarangnya pulang, ketika anak-anaknya masih kecil, mereka berlari mencari ibu mereka dan berkata ‘bu… ada orang asing tidur di rumah kita’, padahal itu bapaknya sendiri, hahaha.

            Kesan yang didapatkan ketika makan sushi di restoran Jiro katanya selalu enak luar biasa. Ada kepuasan yang tidak bisa didefinisikan dengan kata-kata dan digambarkan dengan permisalan. Kombinasi rasanya luar biasa enak dan mengagumkan. Nggak kebayang seenak apa tuh sushi. Aku aja yang nonton sampe ngiler-ngiler gitu walaupun aku nggak suka sushi tapi kayaknya wenaaaak banget. Pas liat harganya jadi nelen ludah sendiri tapi wkwkwk, iya sih, ada harga ada rasa, tapi kan nggak harus semahal itu juga kaleee. Harganya sebanding sih menurutku karena bahan-bahan yang mereka ambil juga bahan-bahan dari orang yang memang sudah professional dan konsisten di bidangnya. Misalnya kayak ikan tuna, si Jiro udah punya langganan dari penjual tuna yang memang sudah konsisten dan professional di bidang per-tuna-an, udangnya juga gitu, guritanya juga gitu, berasnya pun juga gitu, berasal dari orang-orang yang memang sudah lama di bidang itu, konsisten dan professional. Bahkan bapak-bapak si penjual berasnya sampe bilang, beras jenis itu hanya Jiro dan karyawannya yang bisa ngolah. Pernah mau dibeli sama hotel Grand Hyatt tapi nggak dikasih karena menurut dia hanya Jiro dan karyawannya yang bisa ngolah, bakalan dijual kalau Jiro ngijinin buat dijual. Ampe segitunya lo. Semacam udah nge-link gitu satu sama lain, tidak terpisahkan. Bahkan si penjual bahan-bahan itu kalau ada barang bagus selalu mikir ‘wah… bagus nih barang buat Jiro’. Aku nggak ngerti lagi kenapa bisa sebegitunya ya membangun kepercayaan, ya itulah kekuatan konsistensi dan profesinalisme. Mereka selalu bilang tidak peduli dengan uang padahal kan bisnis ya tapi bagi mereka yang terpenting adalah kualitas.

            Tidak ada bumbu rahasia kayak ayam K*C, tekniknya juga tidak dirahasiakan, hanya saja mereka melakukan itu berulang-ulang kali hingga bisa professional di bidang itu. Dan yang paling penting Jiro tidak pernah merasa puas dengan teknik dan resep yang dia buat, jadi terus menanjaklah kemampuan dan kepiawaiannya membuat sushi. Dia bilang nggak akan berhenti berinovasi karena dia nggak tau puncaknya dimana, bahkan ada pesan bagus dari penjual gurita ‘ketika kau merasa ahli di suatu bidang berarti kau telah membohongi diri sendiri bahwa sesungguhnya kau tak tahu apa-apa’. Kata si penulis resep, untuk menjadi ahli membuat sushi, kita harus belajar dari Jiro selama setidaknya 10 tahun. What? Belajar 10 tahun? Lama banget. Entah orang dulu emang penyabar dan aku generasi sekarang yang katanya tidak bisa sabar dan maunya instant. Menurut mereka generasi muda lebih suka hal yang cepat tanpa memikirkan keahlian dan kualitas dan suka sekali waktu santai (ini aku banget). Iya juga sih…. Aku tipe yang tidak bisa menetap pada satu bidang yang sama, konsisten, melakukan hal yang sama tiap hari. Beda banget sama Jiro atau mungkin orang Jepang yang lain yang begitu konsisten dan prosefional di bidang mereka masing-masing. Mungkin karena aku belum pertemu passionku (ah… excuse lagi… excuse lagi). Intinya sih aku nggak habis pikir bagaimana caranya orang jepang itu menanamkan rasa cinta dan bangga akan profesi mereka masing-masing sehingga mereka bisa terus konsisten di bidang yang sama hingga berpuluh-puluh tahun. Di Indonesia tercinta ini kebanggaan justru muncul ketika kita bekerja di bidang yang dianggap prestisius di masyarakat dan menjadi minder ketika bekerja di bidang yang dianggap ecek-ecek. Ini juga yang terjadi padaku sekarang. Aku tuh ya, pas awal kerja, tiap hari mengutuki diri sendiri, kenapa aku di sini? Kenapa aku kerja cuma segini doang? Kenapa nggak di perusahaan gede? Kenapa hanya jadi guru? Guru les? Kenapa nggak kayak yang lain? Bener-bener minder dan nggak percaya diri. Kenapa? Ya karena doktrin yang berkembang di masyarakat seperti itu. Kebanggaan hanya ada pada pekerjaan dan posisi-posisi tertentu saja.

            Aku dari dulu sudah mengagumi Jepang di banyak lini dan nonton film ini makin menambah kekagumanku. Mungkin akan banyak yang mengira hidup konsisten dan professional itu kan kaku, nggak menarik, dan nggak bahagia. Hey… itu juga pendapatku sebelumnya tapi coba deh nonton film ini dan lihat betapa bahagianya si Jiro menceritakan pekerjaan yang amat sangat dia cintai, lihat bagaimana bahagianya dia ketika mengunjungi teman-teman sekolahnya dulu di kampung halamannya. Mereka sudah sama-sama kakek nenek dan terlihat sangat bahagia. Aku sampe mikir, orang jepang tuh hidup sehat banget ya kok bisa sampe setua itu tapi terlihat masih segar dan bugar. Aku kagum seada-adanya sama profesioanalisme dan konsistensi orang Jepang. Kayak gimana ya pola pendidikan yang mereka tanamkan sehingga bisa sedisiplin itu dan konsisten bahkan pada diri sendiri. Berkaca pada diri sendiri, sepertinya aku terlalu banyak waktu terbuang hanya untuk bersantai dan hal tidak produktif lainnya. Mungkin malam ini aku sadar tapi bisa jadi hari-hari barikutnya aku akan kembali ke pola hidup santai kayak di pantai, sellow kayak di pulow. Nah ini yang aku maksud, bagaimana caranya menanamkan konsistensi dan profesinalisme serta bisa istiqomah menjalankannya. Hanya satu sih kurangnya orang jepang tuh, kurang baca syahadat, hahaha.

Advertisements

7 thoughts on “Konsisten dan Profesional

  1. Siapa teman blog yang ente maksud? Hmm.. Ane penasaran..

    Berhentilah mencari passion, kalau terus menerus “mencari”, bisa-bisa seumur hidup kita tak pernah melakukan hal yang luar biasa, haha..

    • Ayo… ditonton mbak. Yang aku ceritakan itu blum ada apa2nya klo nggak nonton sendiri. Ada kesam mendalam yg tertinggal ketika nonton itu. Dampaknya positif banget hehe

    • Ga ada link khusus sih… aku browsing aja di google pake kata kunci ‘free download jiro the dreams of sushi’ trs tinggal telusuri deh linknya yg mana

  2. Jangan bilang teman itu Kak Dila? 😂😂😂
    Makasih referensinya kak. Jarang orang ngasih tau film dokumenter. Orang Jepang biasanya banyak yang berumur panjang. Umur sampe 90-an udah biasa kayaknya. Dan yang paling bikin kagum, sama kayak Kak Dita juga, profesioanalisme dan konsistensinya (y)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s