Almamater Baru

menuntut-ilmu                Puji syukur atas segala nikmat yang Allah titipkan padaku yang notabene dengan ibadah yang seminim ini bisa mendapatkan nikmat hidup yang tak bisa dihitung banyaknya. Nikmat sehat yang tak pernah diminta, nikmat tidur nyenyak tiap malamnya, nikmat bersama keluarga yang tak pernah lelah memberikan dukungan dan doanya, serta nikmat untuk kembali menuntut ilmu di jenjang selanjutnya. Alhamdulillah setelah rentetan ke ‘kekeuh’an itu akhirnya aku sekarang berada di sini di kota yang tiap aku bertemu dengan orang yang pernah tinggal di sini, mereka selalu berkata bahwa kota ini adalah kota yang penuh dengan kenangan manis. Bandung, not just a city, it’s home, it’s a story, it’s a history.  Ditambah lagi dengan wali kotanya yang dicintai tak hanya oleh warganya, tetapi oleh warga di daerah lainnya. Aku sudah sejak lama berangan-angan untuk bisa setidaknya ‘pernah tinggal’ di kota ini dan Alhamdulillah angan-anganku ternyata diijabah oleh Allah, tak henti-hentinya berucap syukur. Aku pindah ke Bandung per tanggal 1 Agustus 2017, berangkat dari Bekasi jam 10.00 dan nyampe di Bandung jam 2.00 dini hari. Itungannya tanggal 2 Agustus berarti ya. Tempat tujuan kala itu adalah kost yang aku booking by phone, jadi aku nggak survey tempat sama sekali, jadi yang penting ada. Tapi Allah maha baik, tempat kost ku ternyata nyaman banget jadi sepertinya akan tetap tinggal di kosan ini untuk dua tahun ke depan. Bahaya sih punya kosan terlalu nyaman karena bikin males keluar kosan ditambah lagi wifi yang 24 jam nyala dengan kecepatan yang cukup buat nonton youtube seakan-akan nonton TV dengan kamar mandi di dalem, lengkap sudah fasilitas buat jadi individu ansos (anti sosial) hehe. Tapi aku nggak bakalan gitu lah, rugi banget jauh-jauh ke Bandung terus temennya dikit, iya nggak sih? Hehe.

                Pindahan kali ini aku merasa sangat boros karena aku harus beli barang-barang kebutuhan di kamar. Perasaan pas dulu pindah ke Bekasi nggak seboros ini, mungkin karena dulu aku nggak sendiri tapi berdua sekamar, jadinya temen sekamarku yang notabene udah duluan di sana meminjamiku dengan barang-barang yang dia punya. Itulah yang membuat aku tak perlu membeli barang-barang terlalu banyak dan dampaknya aku rasakan ketika pindahan sekarang, berasa boros pake banget. Belum genap sebulan tapi pengeluaranku kayaknya udah cukup buat beli iphone7 wkwkwk. Tapi ya nggak (mama) papa juga sih kan barang-barangnya toh jadi punyaku kan. Keborosan ini juga didukung karena aku belum tahu dimana tempat beli barang-barang yang murah dan tempat beli makan yang murah. Kalau dibandingkan Bekasi, biaya hidupnya hampir sama lah ya tapi mahalan Bekasi dikit jadi aku nggak terlalu kaget. Nggak sekaget dulu pas pertama kali pindah dari Bogor ke Bekasi, rasanya kok apa-apa jadi mahal. Baru nyadar ternyata kota rantau yang pernah aku singgahi berawalan huruf B, Bogor-Bekasi-Bandung. So? There is somethihg special? Nggak sih, kocak aja.

                Nggak hanya kotanya yang baru tapi almamataernya juga baru, dari Institut Pertanian Bogor ke Institut Teknologi Bandung. Sampai tulisan ini dibuat pun aku masih berusahan menyesuaikan lidah dan jari agar nggak kepeleset bilang Institut Pertanian Bogor padahal niatnya Institut Teknologi Bandung. Pas upacara penyambutan mahasiswa baru juga sempet lidah kepleset bilang IPB padahal harusnya ITB. Kayaknya sih yang mendarah daging itu almamater S1 kali ya, ini pendapat subjektifku aja sih, mungkin orang lain nggak sama. Jadi gimana? Apa bedanya IPB sama ITB? Banyak. Mulai dari mana ya? hm… dari fisik kampusnya dulu kali ya. IPB itu luas banget sampe bus kampus hilir mudik untuk membantu mobilitas mahasiswa dari tempat yang satu ke tempat lainnya. Kalau ITB sempit, dari pintu depan ke pintu belakang aja bisa aku tempuh dengan hanya berjalan kaki, agak ngos-ngosan sih soalnya medannya naik terus. Lahan parkir, kalau IPB luas banget dan gratis, nggak bingung buat markir motor dimana-mana ada. Kalau di ITB karena mungkin lahannya sempit jadi berdampak juga pada lahan perkir, di ITB lahan parkirnya terbatas, mbayar kisaran 2000 sampai 3000, dan buat markirin motor kayak nyari jodoh #susah #eh hahaha, kayaknya nih lengan bakalan berotot soalnya ngangkatan motor pas mau markir sama mau ngambil motor. IPB itu udah kayak pesantren, banyaaaak banget yang pake kerudung panjang dan lebar, hampir homogen lah suasanya. Nah kalau ITB lebih heterogen, yang pake kerudung panjang dan lebar biasanya aku temuin di sekitar masjid kampus, namanya masjid salman. IPB lebih ramah orang-orangnya, kalau jalan banyak yang senyum (ini subjektif ya) tapi kalau ITB orang-orangnya terlihat lebih serius dan jarang senyum. IPB nggak terlalu keluar aura orang pinter yang mengintidasi gitu tapi kalau ITB aura pinter dan mengintimidasinya kuat banget hahahaha.

                Itu sih sekilas tentang almamater baruku, dari perkuliahan yang aku ikuti sih kayaknya aku nggak bisa lagi santai-santai kayak pas jaman S1 dulu. Sekarang belajarnya harus keras dan ekstra. Berasa pengen nginep di perpus kalau udah denger petuah dosen-dosen di sini ditambah lagi obrolan teman-teman seangkatan yang risetnya kayaknya udah jauh banget. Aku mah apa atuh, udah lupa semua yang pernah dilakukan di lab karena emang pada dasarnya kurang suka lab. Mulai sekarang harus mulai menyukai sesuatu yang tidak disukai, mulai dari lab, hal-hal detail, dan tepat waktu. Harus mulai manata diri karena adanya aku di sini bukanlah kebetulan, semuanya by design, dan aku sendiri lah yang memilih design ini maka jalan yang paling tepat adalah lakukan yang terbaik. Semoga semangat ini terus berkobar, kalau pun toh redup semoga Allah kirimkan pengingat dari jalan yang tak diduga-duga. Oya tak lupa doakan juga, semoga ngejar Master dapet Mister juga ya, Amin.

Advertisements

13 thoughts on “Almamater Baru

  1. Master dapat, mister juga wkwk
    Mbak nggak sendiri kok yang kepeleset lidahnya antara IPB dan ITB 😂
    Dan kurang lebih saya pun setuju dengan impresinya atas orang-orang di kedua kampus itu

    Oh ya, kalau boleh tau ngambil apa kak studinya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s