Sejatinya, Semua Adalah Nikmat

large            Aku sekarang sedang hobi masak, suka masak tapi belum cinta hahaha #apasih. Awalnya aku tak pernah ada gambaran jikalau seorang aku akan menggandrungi hobi masak ini, seorang aku lho. Orang yang mualesnya minta ampun, jangankan masak, nyuci piring aja males. Bayangin dong kalau masak kan barang-barang yang harus dicuci jadi bejibun. Rasa sukaku pada masak entah dari mana datangnya tiba-tiba datang menghampiri. Dilatarbelakangi oleh keenggananku untuk makan di kantin kampus karena lumayan mahal dan males aja kalau tiap mau makan harus mikir buat milih makanan. Cukuplah pikiranku terfokus untuk memikirkanmu memikirkan materi kuliah yang kadang terlalu abstrak untuk dipikirkan. Jadi, berasa mubadzir pikiran aja kalau tiap kali makan haru mikir dulu, milih, bingung, dan kadang dapet makanan yang tak sesuai ekspektasi. Jadilah ku putuskan untuk masak saja, lebih simple, lebih hemat, tinggal lep, nggak usah banyak mikir. Pagi itu aku lagi nongkrong di dapur kosan. Hampir sepertiga waktu yang kugunakan masak habis karena bolak balik kamar buat ngambil barang-barang buat masak. Alat dan bahan buat masak sengaja aku taruh di kamar tidak di dapur karena tau sendiri kan kalau di kosan suka ada oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab, berbuat tapi nggak mau nyuci. Daripada dongkol tiap mau masak, mending cari aman aja, amankan alat dan bahan masakan di kamar. Nice solution banget kan. Jadi tak ada pihak yang tersakiti dan terhianati #apasih.

            “nggak capek apa mbak bolak-balik kamar?” tanya temanku, jengah bercampur kasihan kali ya melihat kehebohanku bolak balik kayak setrikaan.

            “capek sih mbak, tapi nggak papa. Jadi nanti pas kita udah punya dapur sendiri kita bakalan ngerasain nikmatnya masak tanpa harus bolak-balik” jawabku ngasal. Jawabanku ini membuat temanku senyum-senyum sendiri dan ngangguk-ngangguk. Aku pun jadi mikir, dari mana ya aku bisa dapet jawaban sekece itu. Percakapan ini terus terngiang sampai aku keluar dari kosan. Ku putar semua kejadian yang terjadi dalam hidupku selama ini dan aku berakhir pada satu kesimpulan bahwa, sejatinya semua adalah nikmat. Jika kita sedang mengalami sesuatu yang tidak mengenakkan, menyedihkan, membosankan, itu semua sejatinya untuk menunjukkan pada kita bahwa sesungguhnya setiap apa yang kita alami dan kita miliki, semuanya adalah nikmat. Mungkin kalau kita tidak mengalami sesuatu yang tidak mengenakkan, menyedihkan, atau membosankan, kita hanya akan merasa bahwa sesuatu yang kita miliki atau kita alami ya memang sudah seharusnya, bukan sebagai nikmat, padahal sejatinya semua adalah nikmat. Semua orang mungkin udah tau teori ini kali ya, tapi aku baru benar-benar menyadarinya sekarang.

            Aku pun berangkat kuliah dengan banyak kejadian yang ku putar ulang di otak, ku mulai menganalisis dari sesuatu yang terdekat. Kala itu aku berangkat kuliah naik motor. Naik motor ke kampus menjadi sesuatu kenikmatan sendiri, karena ketika S1 dulu ku lalui dengan berjalan kaki. Mungkin akan berbeda kejadiannya seadainya sudah sejak S1 dulu aku berangkat kuliah dengan mengendarai motor, maka mengendarai motor sekarang akan menjadi biasa dan tak ada istimewanya, dan tak ada tambahan kenikmatannya. Jadi ya udah gitu aja, ngerasa ya emang seharusnya ke kampus naik motor, istilahny ga ada rasa syukurnya udah dipermudah dengan adanya motor. Analisis selanjutnya mengenai suasana Bandung yang sejuk dan cenderung dingin, ini juga menjadi kenikmatan tambahan karena sebelumnya aku tinggal di Bekasi yang terkenal dengan ‘dua mataharinya’ karena memang panas dan gerah. Dulu aku sempat bertanya-tanya, kenapa aku bisa terdampar di Bekasi dengan suasana dan cuaca yang begitu panas, tapi sekarang aku menemukan jawabannya. Sejatinya Allah ingin aku merasakan betapa nikmatnya tinggal di tempat yang sejuk. Kenikmatannya menjadi berlebih karena sebelumnya aku berada di sisi yang sebaliknya. Seandainya, sehabis kuliah di Bogor aku langsung ke Bandung maka kenikmatan tinggal di Bandung tak akan semaksimal ini karena Bandung dan Bogor suasananya tak jauh berbeda.

            Selanjutnya masalah kuliah. Kenapa Allah menunjukkan jalan padaku untuk bekerja terlebih dahulu? Bekerja di tempat yang mungkin tidak terpandang di mata manusia? Yang terkadang membuatku agak minder untuk menyebutkan profesiku kala itu? Ya balik lagi, karena sejatinya semua adalah proses pendewasaan diri. Agar pandanganku tak dangkal dan sadar bahwa sesuatu yang baik menurut manusia pada umumnya belum tentu baik di mata Allah. Agar aku bisa melihat dari banyak sisi bahwa pandangan umum manusia itu tak selamanya benar. Maka sudut pandangku sekarang tak selalu berdasar pada kriteria manusia tetapi lebih pada esensi dan makin menyadari bahwa sejatinya semua adalah nikmat. Kuliah sekarang menjadi kenikmatan sendiri karena aku tahu bahwa mencari ilmu itu jauh lebih menyenangkan daripada mencari nafkah wkwkwk. Aku lebih menghargai setiap proses perkuliahan yang ku jalani di sini karena untuk sampai pada tahap ini bukanlah perkara mudah.

            Selanjutnya adalah tentang rasa sakit. Aku rutin mengalami rasa sakit yang amat sangat ketika siklus bulananku datang. Aku seringkali mengeluh, kenapa harus aku? Kenapa dari sekian banyak perempuan di muka bumi, kenapa salah satunya aku yang mengalami rasa sakit ini? Setiap kali bertemu dengan orang yang sama sekali tak mengalami rasa sakit ketika siklus bulanannya, aku akan selalu berkata ‘anugerah terindah banget kalau ga sakit’. Ternyata, aku baru sadar, bahwa aku salah besar. Rasa sakit juga merupakan nikmat. Seandainya tak ada rasa sakit yang ku rasakan, maka tiap hari ketika hari sehatku berjalan, aku tak akan pernah merasa bersyukur, tak akan pernah merasa feeling blessed, dan akan selalu merasa bahwa sehatnya badan adalah hal yang memang seharusnya dirasakan. Padahal sejatinya nikmat sehat adalah anugerah yang perlu selalu disyukuri. Menikmati setiap prosesnya semakin membuatku sadar bahwa Allah itu memfasilitasi manusia dengan limpahan nikmat yang tidak ada batasnya dan tidak ada hitungannya. Lantas, masihkah kita merasa kurang beruntung padahal setiap inchi dari kehidupan kita adalah limpahan nikmat yang tak pernah sedikitpun Allah kurangi, malah selalu ditambah setiap detiknya? Pantaslah manusia itu bergelimang dosa dan sejatinya tak akan pernah masuk syurga dari amalan yang dimiliki ya karena itu, lupa akan pemberian Allah yang sejatinya semua adalah nikmat.

Advertisements

2 thoughts on “Sejatinya, Semua Adalah Nikmat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s