Karena Doaku Kah?

11918053_899462426775675_829091093_nSudah sejak 6 bulan yang lalu rasanya kelu untuk sekedar betegur sapa denganmu. Entah apa yang menahan jari jemari ini untuk sekedar menuliskan kisah receh sehari-hari yang ku alami. Sibukkah? Tidak, tidak ada orang sibuk, yang ada adalah kita yang tidak berada dalam daftar prioritas. Jadi, bagi kamu yang sekarang sedang menghibur diri karena sudah lama tak dihubungi karena alasan sibuk, maka bersedihlah, karena dapat dipastikan kamu sudah tak lagi berada di daftar prioritasnya. Itu analisis dangkalku saja sih, yang mungkin akan kamu iyakan setelah mambacanya, Iyakaaaan? #apasih.

            Rutinitasku sekarang adalah kuliah dan organisasi tapi anehnya aku merasa berat ke salah satunya karena memang pada dasarnya tak ada manusia yang bisa adil kan, pasti ada kecenderungan. Jadi, bagi yang berniat poligami dan mau bersikap adil, itu agak nggak mungkin nggak sih? wkwkwkwk, Ok back to the main topic. Menjadi mahasiswa pasca sarjana terasa lebih berat daripada menjadi mahasiswa sarjana #yaIyalah. Aku jujur nih, aku merasa sulit memahami materi yang seharusnya menjadi spesialisasiku nanti. Mungkin aku terlalu banyak dosa sehingga sel-sel neuron otakku sulit untuk saling sambung menyambung sehingga sinyal-sinyal yang terkirim ke otakku ketika dosen menjelaskan atau ketika diriku membaca buku atau jurnal tidak tertransfer dengan baik. Ataukah ini bukan passionku? Tapi aku tidak bisa kembali ke daratan, pantang pulang setelah layar terkembang, gitu ceunah. Kuatkan hamba ya Allah.

            Seperti yang terjadi beberapa minggu kemarin, aku dilanda rasa rindu malas yang amat sangat. Mengerjakan tugas yang jumlahnya beberapa, ibarat bikin candi, mengandalkan waktu semalaman. Beberapa kali metode ini ampuh ku aplikasikan tapi sepertinya tidak berlaku untuk malam itu, beberapa minggu kemarin. Aku benar-benar kewalahan, perhitungan akal paling toleran pun tidak mau mengiyakan kalau tugas itu akan selesai. Tapi anehnya aku merasa tenang dan selalu percaya kalau Allah akan menolongku dari jalan yang tidak pernah aku duga, kuncinya adalah kerjakan amalan yang telah menjadi rutinitas sesibuk apapun. Nah, lagi-lagi soal prioritas kan? Selalu prioritaskan ibadah di atas apapun karena Allah ga pernah lupa ngasih nikmat sehat dan nikmat-nikat yang lainnya kan. Nah, kalau kamu udah nggak dijadiin prioritas, maka jangan terus-menerus menghibur diri kalau si dia sibuk hahaha.

            Jadilah malam seninku dilalui dengan begadang, kegiatan yang sudah sejak lama ku tinggalkan. Aku yang dulu hobi banget tidur setelah jam 12 sekarang sudah tak lagi mau, karena tidur cepat itu membuat tubuh lebih segar dan membuat hari-hariku menjadi lebih teratur. Begadang hanya ku lakukan jika ada hal yang memang benar-benar harus dan tidak bisa tidak dilakukan jika tidak begadang #belibetBanget. Tugas-tugas yang harus ku kerjakan adalah menyiapkan presentasi salah satu jurnal acuan tesis, laporan praktikum, dan mengumpulkan modul praktikum. Tiga tugas yang harus dikumpulkan pada hari yang sama dan ku kerjakan hanya dalam waktu semalam. Harapan yang teralalu muluk-muluk sih, terlalu langitan. Kayak aku ke kamu, kamu… iya kamu, kamu terlalu langitan, susah dijangkau #eaaa. Parahnya lagi, presentasi itu harus ku presentasikan jam 7 pagi, pendek banget kan waktunya kalau mulai ngerjainnya dari abis isya. Celakanya, habis isya aku tidur dong karena nguantuk dan capek banget, bangun-bangun udah jam 1. Bayangkan dong, aku hanya punya waktu 5 jam untuk mengerjakan 3 tugas sekaligus. Ya Allah maafkan hamba yang lalai tapi tolonglah hamba ya Allah.

            Abis sholat subuh langsung siap-siap dan rieweuh banget dong karena ngerjain tugasnya masih seadanya dan ngasal banget, bener-bener belum selesai, pengen ngilang rasanya. Jam 6 harusnya udah selesai dan langsung berangkat ke kampus, tapi kemarin udah setengah 7 belum berangkat juga soalnya tugasnya bener-bener belum selesai. Pas lagi bingung-bingungnya mau ngapain, HP-ku bunyi. Ketika dibuka ternyata ada whatsapp dari dosen pengajar jam 7. Isi pesannya adalah beliau bilang kalau kuliah pagi itu ditunda soalnya si ibu kecelakaan, jatuh dari tangga dan kakinya patah. Ya Allah… Innalillah… aku sedih banget dong sekaligus ada perasaan lega (jahat sih yang ini) soalnya ga jadi kuliah dan presentasi. Aku bukan penyebabnya kan? Bukan karena doaku kan? Tak henti-hentinya aku menyalahkan diri sendiri, tapi memang aku ga doa yang macem-macem kan, aku hanya doa satu macem yaitu minta pertolongan agar dimudahkan dan minta pertolongan. Tak selang berapa lama ada pesan di grup kalau jam 10 nya nggak ada kuliah juga, yang artinya tugas modul juga nggak jadi dikumpulin. Tinggal tugas laporan yang aku lobi untuk dikumpulkan hari rabu dan asistennya mengiyakan. Hari senin yang dalam bayanganku akan sangat padat dan mencekam ternyata dapat ku lalui dengan lancar dan lengang karena tidak ada kuliah sama sekali dan tidak ada deadline tugas yang harus dikumpulin.

            Doa memang benar-benar senjata ampuh untuk menghadapi banyak rintangan dan tantangan. Tapi, bukan karena doaku kan si ibu dosen jadi jatuh. Aku benar-benar merasa bersalah walaupun sejatinya aku tak bersalah. Kamu menginginkan banyak hal dan merasa sangat tidak mungkin untuk mendapatkannya, caranya gampang, mintalah pada yang maha punya segalanya, maha pengasih, maha penyayang, yang akan selalu menolong hambanya dari jalan yang bahkan tidak pernah kita duga. Nggak diminta aja dikasih apalagi diminta, masih males ibadah? Duuuh…. malu.