Kehilangan dan Halangan yang Datang Bersamaan

87c84f2326a28d3b9c3e5e821b06749aBanyak kisah yang terjadi selama berada di Bandung, khususnya ketika bulan Ramadhan, yap… ini Ramadhan pertama di kota kembang, Bandung. Awalnya pengen bikin project gitu, menulis kisah yang terjadi setiap hari di bulan yang penuh berkah ini. Tapi, ya gitu hingga hari ke-22, barulah nih tulisan realease. Ngerasa nggak sih kalau waktu berjalan begitu cepat, jadi kalau punya niat baik sebaiknya disegerakan saja, jangan ditunda, kayak nikah #eaaa. Soalnya nih ya, perasaan baru kemarin rasanya mengharu biru menyambut Ramadhan pertama, eh sekarang udah mau selesai aja. Satu lagi, asik asik aja sih ya menyendiri, eh tiba-tiba temen-temen seangkatan udah punya bayi. Mau sih nikah, tapi belum ada yang ke rumah aja #kode. Cukup cukup…. back to the main topic. Jadi gini, ada sedikit kisah sedih nih, aku baru mengalami kehilangan, it’s not a big deal sih. Tapi, yang namanya kehilangan mau itu hal kecil atau besar, pastinya bakalan menimbulkan rasa sedih dan cekit-cekit gitu. Apalagi kalau diambilnya dengan pemaksaan dan tepat di depan mata kita sendiri. Sedih sih kehilangan tapi akan terasa lebih sedih ketika kita tidak bisa melakukan apa-apa untuk mencegahnya padahal kejadiannya tepat di depan mata kita sendiri. Yuk ah, dilanjutkeun wae atuh ya cerita lengkapnya.

Hari jumat kemarin, tepatnya tanggal 1 Juni 2017 atau hari ke-17 Ramadhan, pada siang hari di perumahan dekat kosan, jalan tubagus ismail, aku dan temanku kena jambret, iya… HPKU DIJAMBREEEET. Begini kronologinya, hari itu aku dan temanku berencana untuk berbelanja di pasar baru, mau beli oleh-oleh pulang kampung. Semua anak rantau pasti nggak asing lah dengan kegiatan semacam ini. Nah, sekitar jam 11 siang, temenku ini menjemputku di kosan. Aku yang bawa motor terus dia yang di belakang. Agak rempong sih hari itu, ada beberapa pesan yang harus aku balas tapi di saat yang bersamaan aku harus bawa motor. Bawa motor? Jangan dibawa, berat, biar aku saja wkwkwkw, bawa motor di sini artinya mengendarai ya sodara-sodara. Jadilah aku memasrahkan HPku ke temenku agar dia bisa membalas pesan yang ingin aku balas sekaligus membuka google map untuk menuju lokasi yang ingin kita tuju karena memang kami berdua belum tau persis lokasi tepatnya si toko baju berada. Nah berangkatlah kita berdua sambil ngobrol santai. Eh pas nyampe di jalanan perumahan menuju jalan utama tubagus ismail, ada dua orang laki-laki berboncengan yang merampas HPku dari tangan temenku.

“Aaaa… mbk” teriak temenku itu, aku awalnya nggak ngeh sama apa yang terjadi,

“HP… HP” kata temenku lagi. Beberapa detik kemudian aku baru sadar bahwa kita sedang mengalami penjambretan.

Aku langsung narik gas sampe full sambil teriak-teriak kayak orang gila,

“JAMBREEEEET….. JAMBREEEEEET……. JAMBREEEET…..ASTAGFIRULLAH…..” Teriakku kenceng banget ditambah lagi suara temenku.

                Ada beberapa bapak-bapak di pinggir jalan dan motor yang lalu lalang, tapi emang kondisinya sepi banget sih, semacam mestakung (semesta mendukung) aja buat di duo jambret buat ngalakuin kejahatannya. Orang-orang yang melihat kami berdua teriak-teriak kayak orang gila hanya ngeliatin doang nggak berbuat apa-apa, kayak nggak tergerak gitu buat ngapain kek, ngejar kek, nyegat mereka kek. Aku sih husnudzan aja, mungkin mereka bingung mau ngapain. Satu lagi, aku kan ngegas motor ampe full nggak setengah-setengah, eh masa di mata aku tuh pas ngalamin kejadian kemarin rasanya slow motion, beneran, serius. Makanya aku merhatiin gas motor udah full tapi rasanya kok laju motor kami lambat-lambat aja sampe kami kehilangan jejak si duo jambret. Sampe di tikungan, mereka berdua udah nggak ada jejaknya. Kami clingak-clinguk, keluar masuk gang buat nyari si duo jambret. Akhirnya kami pasrah, mungkin emang bukan rejekinya. Aku tuh nggak habis pikir aja, hari jumat lo, di bulan Ramadhan lo, bukannya setan-setan dibelenggu ya? Tapi ya kok masih ada penjambretan semacam ini. Hikmah yang bisa diambil adalah, nafsu jahat manusia sudah jauh berkembang melampaui kejahatan setan ternyata ya.

                Setelah itu gimana perasaanku sebagai korban? I feel nothing. Nggak ngerasain apa-apa, karena mungkin saking banyaknya rasa yang harus diekspresikan, jadi jatohnya nggak ada sama sekali yang tereskpresikan. Hal yang pertama dalam pikiran aku cuma pengen ngabarin orang rumah dan orang-orang terdekatku kalau HPku ilang. Oh iya, data-data di dalam HP itu yang jauh lebih berharga dari HP itu sendiri, foto-foto penelitian, foto-foto selama hampir setahun di bandung, file-file kuliah, file-file organisasi, dan semua muanya deh yang di dalemnya. Tapi, akhirnya aku ikhlasin aja karena aku percaya Allah akan menggantinya dengan yang jauh lebih baik. Selain itu, menyadari kalau semua yang melekat pada diri kita hanyalah titipan, maka ketika seketika hilang, hanya rasa ikhlas dan ketenangan hati yang tersisa. Kata ustadz Adi Hidayat, setiap benda yang kita punya akan ada hisabnya masing-masing. Nah, teruntuk HP ku yang hilang, maka sudah berakhirlah hisabnya terhadapku dan mulailah hisab untuk duo jambret itu yang tentunya akan terhitung dosa bagi mereka berdua. Semoga Allah mengampuni dan memberi hidayah untuk mereka berdua.

                Sorenya, aku ada janji dengan teman-teman kosanku untuk mengadakan ‘bridal shower’ dadakan ala-ala tahu bulat yang digoreng dadakan, soalnya kalau direncanain suka nggak jadi wkwkwk. Ini tradisinya orang barat sih, sepertinya ini acara bridal shower pertama dan terakhir yang akan aku hadiri. Semoga Allah senantiasa mengistiqomahkanku di jalan yang sesuai syariat Islam. aaamiiin. Fokusnya bukan ke sana sih, jadi mari lanjutkan dulu ceritanya. Semua teman kosanku sudah tau kejadian yang menimpaku. Mereka semua bersedih dan menguatkanku. Senang sekali rasanya punya teman kosan rasa saudara di tanah rantau. Kami semua bersenang-senang malam itu. Makan dan foto-foto bersama sebuah kafe yang Instagramable banget, namanya le delice bandung, kafenya ala-ala taman kerajaan gitu. Nih fotonya aku ambil di google, bagus banget kan…. aslinya jauh lebih bagus. Makanannya juga lumayan enak dan nggak terlalu mahal untuk tempat sekece itu.

le delice

                Malemnya aku ngerasan hal yang aneh, rasanya nggak enak hati dan nggak enak badan. Bener aja dong, aku dapet tamu bulanan alias halangan. Jauh lebih sakit rasanya halangan daripada kehilangan. Benar-benar kehilangan dan halangan yang datang bersamaan. Mari syukuri dan nikmati saja.

3 thoughts on “Kehilangan dan Halangan yang Datang Bersamaan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s