Terpilihnya Seorang Imam

                anak-kecil-jadi-imamBanyak hal yang terjadi beberapa bulan belakangan. Ingin sekali ku ceritakan, tapi sepertinya akan banyak sekali keluhan. Sebenarnya tak apa-apa bukan, karena sejatinya keluhan adalah uangkapan rasa yang harus diungkapkan. Daripada mengendap tak karuan dan meledak dalam diri hingga mengganggu kejiwaan. Bukankankah akan lebih merepotkan handai taulan jikalau itu semua menjadi kenyataan? Lebih baik ku ceritakan lewat tulisan yang mungkin akan menjadi kenangan tak terlupakan di hari kemudian. Beneran bakalan cerita keluhan? Nggak sih, nggak malam ini, karena momennya udah terlewatkan. Aku mau cerita kisah yang menurutku unik aja untuk dibagikan, cerita tentang terpilihnya seorang imam.

                Salah satu yang sangat ku syukuri ketika ku berada di Bandung ini adalah bertemunya dan bertemannya aku dengan banyak orang-orang baik dan luar biasa hebat. Entah dengan apa aku bisa menggambarkan rasa syukurku ini. Aku bersyukur berada di tengah-tengah mereka dengan keberagaman yang mereka bawa. Keberagaman dan perbedaan di antara kami tidak lantas menimbulkan perpecahan, malah semakin meningkatkan rasa persaudaraan yang terjalin. Aku bertemu dengan mereka karena sebab-sebab tertentu, bisa karena organisasi, jurusan, beasiswa, kepanitiaan, lab, dan kosan. Nah, sebab yang ku sebutkan terakhir yang kali ini mau aku ceritakan. Kosanku sekarang sangatlah nyaman, tidak hanya karena fasilitas dan kondisi fisik kosannya tetapi penghuninya yang amat sangat bikin nyaman. Aku merasakan hangatnya persaudaraan, pertemanan, persahabatan, dan kebersamaan di kosan ini. Emangnya momen-momen apa aja sih yang membuatku merasakan semua rasa itu? Banyak, seperti, makan bareng, masak bareng, ngobrol bareng, dan sholat bareng. Momen yang terakhir ku sebut itu yang paling unik, sholat bareng alias sholat berjamaah.

                Sholat berjamaah menjadi ajang yang sangat menegangkan di kosanku ini, karena dari sanalah akan terpilih seorang imam yang akan memimpin sholat. Pertimbangan pemilihan imam bukan berdasarkan bacaan Al-Qurannya yang paling baik karena insyaAllah semua penghuni kosan bacaannya sudah baik, tetapi dipilih dari penghuni kosan yang paling terakhir sampai di musholla kosan. Peraturan ini dibuat untuk mencegah kecemburuan sosial dan ngaretnya proses sholat berjamaah karena tunjuk-tunjukan siapa yang seharusnya menjadi imam. Efektif? sangat efektif, bahkan peraturan ini membuat setiap orang penghuni kosan menjadi berlomba-lomba untuk segera sampai di musholla. Fastabiqul khoirot atau berlomba-lomba dalam kebaikan menjadi hal yang sangat tampak karena adanya peraturan ini. Tapi, jadi agak kabur juga sih antara fastabiqul khoirot dan nggak mau terpilih jadi imam, hehe. Sikap kompetitif setiap penghuni kosan menjadi sangat terasah. Bahkan waktu memulai sholat di musholla kami bisa bersamaan atau bahkan lebih cepat dibandingkan masjid yang suara speakernya terdengar hingga ke kosan, bahkan untuk sholat subuh sekalipun, mantul (mantap betul).

                Menunda-nunda sholat tak lagi terjadi, karena disadari atau tidak, hal yang paling sering dilakukan seorang muslim adalah menunda-nunda sholat. Termasuk aku dan sholat yang paling sering aku tunda-tunda adalah sholat isya. Alasannya? Karena waktunya panjang, padahal belum tentu juga umurku bakalan sepanjang waktu sholat isya. Ampuni hamba ya Allah. Padahal katanya menunda sholat itu adalah ciri-ciri orang munafik, ngeri nggak sih. Bahkan di Al-quran Allah telah menjelaskan dengan sangat gamblang tentang ini,

Celakalah orang-orang yang shalat, yaitu orang-orang yang lalai dari shalatnya. (QS. al-Ma’un: 4 -5)

                Mungkin ini adalah momen yang akan sangat aku rindukan nanti ketika aku sudah tidak di kosan ini, saat dimana kita berlari-lari untuk segera sampai di musholla agar tidak terpilih menjadi imam. Bahkan ada yang bela-belain ngetokin kamar satu per satu karena datang terakhir dan nggak mau jadi imam dengan harapan masih ada yang tertidur dan mau ikutan jamaah, sehingga yang bersangkutan bisa terlepas dari tanggung jawab menjadi imam. Kenapa pada nggak mau jadi imam sih? Ya tau lah, kami kan maunya diimamin sama imam, hahahaha.

Teruntuk semua penghuni kosan rambutan, terimakasih atas canda tawa yang selama ini tercipta. Terimakasih untuk semua motivasi dan pengingat sehingga diri ini bisa senantiasa memperbaiki diri dari hari ke hari. Semoga Allah senantiasa memberikan keistiqomahan kepada kita semua untuk terus berada di jalanNya. Carilah aku jikalau nanti di akhirat kelak kalian tidak menemukanku di antara kumpulan orang-orang sholeh-sholehah yang mendapatkan syafaat dari Allah. Adukanlah padaNya bahwa kita pernah bersama-sama berlomba-lomba melaksanakan sholat berjamaah tepat waktu, berlomba-lomba untuk menentukan siapakah yang akan terpilih menjadi seorang imam. Semoga Allah mengumpulkan kita semua di surgaNya, aaamiiin.