Kaos Polo Abu

31726_xfh00033425824357_1_gudang_fashion___kaos_polos_kerah_Kaos polo itu cocoknya dipake sama laki-laki, kalau perempuan menurutku agak kurang pas aja, apalagi yang pake kerudung. Laki-laki yang memakai kaos polo terlihat lebih gagah menurutku walaupun tetep ya… yang pake baju koko dan pake sarung sama peci terus pergi jumatan jauh lebih menarik wkwkwk. Kaos polo juga lebih apik kalau lengannya pendek, kalau panjang jadi rada aneh aja, terlihat kurang pas. Orang yang pake kaos polo itu akan terlihat rapi, santai, sporty pada saat yang bersamaan. Makanya, kaos polo tuh bisaan dipake di acara semi formal dan bisa banget dipake buat hang out. Apaan sih ngereview kaos polo ampe segininya, semua orang juga udah tau kali. Iya juga sih tapi aku punya cerita kaos polo abu yang aku jamin nggak ada yang tau. Iyalah, cerita pribadi kok, yang bentar lagi bakalan jadi cerita publik. Awalnya mau nulis cerita ini kalau udah ketemu sama yang punyanya, tapi kok rasanya gatel aja pengen segera nulis cerita ini. Nanti kan bisa nulis lagi kalo beneran udah ketemu sama si empunya kaos polo abu. Yuk lanjoutkeun ceritanya.

            Jadi gini, awal mulanya diawali ketika aku memutuskan untuk belanja ke pasar tanah abang. Udah kebayang kan gimana tanah abang, banyak barang, banyak pilihan, nggak semuanya murah, bakalan dapet barang murah dan bagus asal pinter milih dan nawar aja. Nah, kepergianku ke sana dikarenakan aku ingin belanja perlengkapan PK (Persiapan Keberangkatan) untuk para awardee/penerima beasiswa LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan). Berhubung perlengkapannya lumayan banyak, jadi aku putuskan untuk belanja di tanah abang saja karena kalau di mall harganya bakalan jauh lebih mahal. Kala itu perlengkapan yang harus aku beli kalau tidak salah ingat adalah kaos polo warna merah, hitam, biru, abu, rok jeans, batik, dan tentunya kerudung untuk masing-masing baju yang berwarna warni tersebut. Lumayan banyak kan? Jadilah ku putuskan ke tanah abang saja soalnya banyak pilihan dan bisa nawar juga kalau belinya banyak. Ketika sampai di tanah abang, aku menghampiri toko kaos polo yang lumayan bagus dengan harga yang lumayan juga. Aku putuskan untuk membeli satu warna saja dan ku pilih warna abu. Nah, pas jalan ke toko yang lain ternyata ada yang lebih murah dengan kualitas yang biasa aja sih, jadinya aku beli sisa warna lain di toko tersebut. Jadilah kaos polo abu adalah kaos polo dengan kualitas dan harga paling bagus di antara kaos polo dengan warna yang lain.

            Ketika hari H pelaksanaan PK, ternyata kaos polo abu sudah disediakan oleh panitia karena di kaosnya sudah dibordir logo PK angkatan kami. Jadilah, kaos polo abu yang ku beli tak terpakai. Iya, nggak kepake, sayang banget kan, padahal dia tuh yang paling mahal dan kualitasnya paling bagus. Kaos itu tak terpakai hingga detik ini, kenapa? Karena aku punya misi. Apaan tuh? Kaos polo abu itu akan aku berikan pada suamiku nanti. Emang muat? InsyaAllah, aku emang beli yang ukurannya agak gede soalnya aku nggak terlalu suka baju yang pas badan. Pas beli kaos polo abu itu pun si abang jualannya nanya “buat siapa mbak? Buat suaminya ya?” aku ketawa aja sambil mikir, wah… boleh nih dibuat tulisan dan baru terealisasi 2.5 tahun kemudian, lama banget yak wkwkw. Oya, ukuran kaos polonya XL. Akankah kaos polo abu itu benar-benar muat di kamu? Kamu… iya kamu… let’s see.

Tentang Berlari

img20181018072139Terhitung sejak tanggal 16 Oktober 2018 tahun kemarin (berasa lama ya, padahal sekarang baru tanggal 12 Januari 2019, hehe) aku memutuskan untuk menchallenge diri sendiri dengan melakukan sebuah tantangan #30HariLariPagi. Detail challenge ini akan aku sampaikan nanti setelah aku berhasil melewatinya karena sekarang baru sampai hari ke 21, kurang 9 hari lagi. Banyak yang salah paham dengan hashtag #30HariLariPagi, mereka pikir aku akan melakukannya 30 hari berturut-turut padahal maksudku itu ngelakuin lari pagi selama 30 kali, ambigu sih ya. Nah terlepas dari semua keambiguan itu, aku merasa banyak hal yang aku dapatkan dari challenge ini, mulai dari kesehatan jasmani hingga kesehatan rohani. Rohani? Darimananya? Nah itu, aku juga tak pernah membayangkan akan mendapatkan hal semacam ini hanya karena berlari. Hal-hal mendetail tentang lari yang ku lakukan akan aku posting di postingan terpisah karena di sana aku akan banyak bercerita tentang pengalaman berlari #30HariLariPagi mulai dari iseng, suka, sampe suka banget. Nah, di postingan ini aku akan bercerita tentang suatu hal yang aku temui ketika berlari, tentang kisah selama berlari.

            Aku lupa entah pada hari ke berapa pertama kali aku melihat mereka, mereka yang berlari dengan begitu bersemangat, terlihat dari kecepatan lari dan keringat yang membasahi kaos mereka. Tak ada yang spesial memang, berlari mengitari lintasan lari dengan penuh semangat hingga keluar keringat, aku pun demikian. Tapi, beberapa kali ku perhartikan, mereka berdua selalu berlari dengan jarak yang berdekatan, seperti tak bisa dipisah satu dengan yang lain. Lebih dekat ku perhatikan, ternyata mereka saling berpegangan melalui sebuah tali yang mereka pegang bersamaan. Dua laki-laki yang sepertinya sebaya itu terus berlari berpengangan melalui sebuah tali dengan posisi yang satu agak di depan dan yang satunya agak di belakang. Aku pun semakin penasaran, ada apa gerangan dengan mereka, aku tak bisa membohongi diri sendiri akan rasa penasaran ini. Ku terus berlari hingga pada titik tertentu aku kembali berpapasan (lebih tepatnya disalip mereka berdua) dan aku melihat sesuatu yang membuatku mengerti apa yang mereka berdua lakukan.

            Seketika ada rasa sesak di dada, air mata yang tak terasa menyeruak keluar bercampur dengan keringat yang sudah sejak tadi membasahi wajah. Sungguh air mata ini bukan semata-mata karena rasa kasihan dan iba, tapi lebih tepatnya menangisi diri sendiri yang minim syukur dan sering takabur. Mereka berdua berhasil menyadarkanku akan banyak hal yang lupa atau sengaja tak ku sykuri dan keluhan yang selalu saja keluar dari diri ini. Aku terus berlari dengan air mata tak berhasil aku bendung, terus keluar tanpa permisi. Kenapa emang mereka berdua? emang mereka ngapain? Yuk aku certain. Sebenernya aku juga nggak tau mereka itu siapa dan dari komunitas apa, tapi sepertinya mereka dari sebuah komunitas. Komunitas berlari bagi para tunanetra. Aku pernah liat di youtube sebuah komunitas serupa, namanya bioskop berbisik. Nah, komunitas ini adalah komunitas yang memungkinkan para saudara-saudara kita yang tunanetra untuk nonton bioskop. Cara nontonnya dengan cara dibisikin sama volunteer tentang jalan cerita yang lagi ditayangin di bioskop itu. Sungguh ide yang sangat brilian menurutku, bagaimana membuat saudara-saudara kita yang mempunyai keterbatasan untuk mempunyai akses yang sama terhadap hiburan. Nah, yang aku temui di lapangan ketika berlari ini, adalah teman-teman volunteer yang sedang mengajak saudara-saudara tunanetra untuk mendapatkan akses yang sama terhadap kesehatan, salah satunya dengan berlari.

            Mereka sangat bersemangat ketika berlari. Pernah suatu ketika aku dikagetkan dengan suara orang yang bertubrukan di lapangan, ketika ku tolehkan wajah ke arah suara, aku melihat dua orang yang sedang membungkukkan badan meminta maaf pada seorang bapak-bapak yang tak sengaja mereka tubruk. Ternyata mereka berdua adalah dua orang yang beberapa kali aku temui ketika berlari, kakak yang tunanetra dan volunteer yang menemaninya. Aku kembali merasakan sesak di dada dan keluar air mata tanpa aba-aba. Jikalau mereka begitu bersemangat mensyukuri sehatnya badan dengan cara berlari, lantas dengan alasan apa aku bisa bermalas-malasan dan tak ingin berlari. Bagiku sekarang, berlari tak hanya sekedar memenuhi tantangan #30HariLariPagi tapi lebih pada mensyukuri nikmat sehat yang ku dapat setiap hari, yang mungkin tanpa ku minta tapi dengan baik hati diberikan oleh ilahi robbi.  Tak pernah terbayangkan kalau berlari akan memberikan makna sedalam ini. Yuk ikutan lari, kamu… Iya kamu.