Tentang Berlari

img20181018072139Terhitung sejak tanggal 16 Oktober 2018 tahun kemarin (berasa lama ya, padahal sekarang baru tanggal 12 Januari 2019, hehe) aku memutuskan untuk menchallenge diri sendiri dengan melakukan sebuah tantangan #30HariLariPagi. Detail challenge ini akan aku sampaikan nanti setelah aku berhasil melewatinya karena sekarang baru sampai hari ke 21, kurang 9 hari lagi. Banyak yang salah paham dengan hashtag #30HariLariPagi, mereka pikir aku akan melakukannya 30 hari berturut-turut padahal maksudku itu ngelakuin lari pagi selama 30 kali, ambigu sih ya. Nah terlepas dari semua keambiguan itu, aku merasa banyak hal yang aku dapatkan dari challenge ini, mulai dari kesehatan jasmani hingga kesehatan rohani. Rohani? Darimananya? Nah itu, aku juga tak pernah membayangkan akan mendapatkan hal semacam ini hanya karena berlari. Hal-hal mendetail tentang lari yang ku lakukan akan aku posting di postingan terpisah karena di sana aku akan banyak bercerita tentang pengalaman berlari #30HariLariPagi mulai dari iseng, suka, sampe suka banget. Nah, di postingan ini aku akan bercerita tentang suatu hal yang aku temui ketika berlari, tentang kisah selama berlari.

            Aku lupa entah pada hari ke berapa pertama kali aku melihat mereka, mereka yang berlari dengan begitu bersemangat, terlihat dari kecepatan lari dan keringat yang membasahi kaos mereka. Tak ada yang spesial memang, berlari mengitari lintasan lari dengan penuh semangat hingga keluar keringat, aku pun demikian. Tapi, beberapa kali ku perhartikan, mereka berdua selalu berlari dengan jarak yang berdekatan, seperti tak bisa dipisah satu dengan yang lain. Lebih dekat ku perhatikan, ternyata mereka saling berpegangan melalui sebuah tali yang mereka pegang bersamaan. Dua laki-laki yang sepertinya sebaya itu terus berlari berpengangan melalui sebuah tali dengan posisi yang satu agak di depan dan yang satunya agak di belakang. Aku pun semakin penasaran, ada apa gerangan dengan mereka, aku tak bisa membohongi diri sendiri akan rasa penasaran ini. Ku terus berlari hingga pada titik tertentu aku kembali berpapasan (lebih tepatnya disalip mereka berdua) dan aku melihat sesuatu yang membuatku mengerti apa yang mereka berdua lakukan.

            Seketika ada rasa sesak di dada, air mata yang tak terasa menyeruak keluar bercampur dengan keringat yang sudah sejak tadi membasahi wajah. Sungguh air mata ini bukan semata-mata karena rasa kasihan dan iba, tapi lebih tepatnya menangisi diri sendiri yang minim syukur dan sering takabur. Mereka berdua berhasil menyadarkanku akan banyak hal yang lupa atau sengaja tak ku sykuri dan keluhan yang selalu saja keluar dari diri ini. Aku terus berlari dengan air mata tak berhasil aku bendung, terus keluar tanpa permisi. Kenapa emang mereka berdua? emang mereka ngapain? Yuk aku certain. Sebenernya aku juga nggak tau mereka itu siapa dan dari komunitas apa, tapi sepertinya mereka dari sebuah komunitas. Komunitas berlari bagi para tunanetra. Aku pernah liat di youtube sebuah komunitas serupa, namanya bioskop berbisik. Nah, komunitas ini adalah komunitas yang memungkinkan para saudara-saudara kita yang tunanetra untuk nonton bioskop. Cara nontonnya dengan cara dibisikin sama volunteer tentang jalan cerita yang lagi ditayangin di bioskop itu. Sungguh ide yang sangat brilian menurutku, bagaimana membuat saudara-saudara kita yang mempunyai keterbatasan untuk mempunyai akses yang sama terhadap hiburan. Nah, yang aku temui di lapangan ketika berlari ini, adalah teman-teman volunteer yang sedang mengajak saudara-saudara tunanetra untuk mendapatkan akses yang sama terhadap kesehatan, salah satunya dengan berlari.

            Mereka sangat bersemangat ketika berlari. Pernah suatu ketika aku dikagetkan dengan suara orang yang bertubrukan di lapangan, ketika ku tolehkan wajah ke arah suara, aku melihat dua orang yang sedang membungkukkan badan meminta maaf pada seorang bapak-bapak yang tak sengaja mereka tubruk. Ternyata mereka berdua adalah dua orang yang beberapa kali aku temui ketika berlari, kakak yang tunanetra dan volunteer yang menemaninya. Aku kembali merasakan sesak di dada dan keluar air mata tanpa aba-aba. Jikalau mereka begitu bersemangat mensyukuri sehatnya badan dengan cara berlari, lantas dengan alasan apa aku bisa bermalas-malasan dan tak ingin berlari. Bagiku sekarang, berlari tak hanya sekedar memenuhi tantangan #30HariLariPagi tapi lebih pada mensyukuri nikmat sehat yang ku dapat setiap hari, yang mungkin tanpa ku minta tapi dengan baik hati diberikan oleh ilahi robbi.  Tak pernah terbayangkan kalau berlari akan memberikan makna sedalam ini. Yuk ikutan lari, kamu… Iya kamu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s