Dimana Letak Keadilan?

inilah-macam-macam-jenis-keadilan-menurut-para-ahliMasih tentang kehidupan di Jakarta. Selama tinggal di Jakarta, aku banyak melihat ketidakadilan meraja lela. Di satu sisi aku melihat orang yang begitu nyaman tinggal di gedung megah, sejuk berAC, dan makanan melimpah ruah. Tapi, di sisi lain, aku melihat orang yang merasa cukup hanya dengan tinggal di gerobak dengan anak-anaknya yang banyak.  Lalu aku bertanya, dimana letak keadilan?

            Selama tinggal di Jakarta, aku ngekos di sebuah kosan tak terlalu jauh dari tempatku magang. Kamarku berada di posisi paling depan sehingga sangat dekat dengan gerbang kosan. Di depan gerbang kosan, di seberang jalan gang lebih tepatnya, ada tempat sampah yang biasa digunakan oleh pada penghuni kosan untuk membuang sampah harian. Entah karena terlalu tertutup atau gimana, ketika ku masuk ke dalam kamar kosan maka secara otomatis sinyal internet di HPku akan hilang. Sebagai generasi milenial yang tidak bisa lepas dari gadget terutama HP, kondisi ini menjadi salah satu penyebab makin minusnya kosan ini di mataku. Oleh karena itu, mau tak mau ku harus rela nongkrong di depan gerbang untuk mengembalikan sinyal di HPku. Berasa hidup di gunung bukan di Jakarta, masa masalah sinyal aja pake harus nongkrong depan gerbang kosan. Astaghfirullah, terlalu banyak mengeluhnya saya. Jadilah setiap pulang dari magang, bisa dipastikan ku akan nongkrong di depan gerbang sampai waktu yang tak bisa ditentukan. Sampe sebosennya aja, jadinya lama banget sih soalnya kalau main HP tuh nggak ada bosennya. Kejadian nongkrong ini tentunya bukan kebetulan sih, pasti ada maksud di baliknya dan beneran dong.

            Suatu malam, entah malam ke berapa, ku nongkrong di depan gerbang kosan buat nyari jodoh sinyal. Malam itu hujan, aku bersyukur sudah sampai di kosan sebelum hujan turun. Tak lama nongkrong di gerbang kosan, ada suara yang mengusikku. Ku dongakkan wajah dan tertujulah pada seorang bapak-bapak yang sedang ngorek-ngorek sampah sambil membawa sepeda. Wajahnya terlihat sumringah ketika melihat keberadaanku. Ya Allah, hamba sedih melihat bapak itu, lalu dimanakah letak keadilan? Di saat manusia yang lain mempunyai banyak pilihan untuk bersantai di rumahnya untuk menghindari hujan, bapak itu justru terkena hujan sambil mencari barang sisa di tumpukan sampah. Di malam yang lain ku kembali melihat seorang bapak yang juga sedang mengorek sampah di tempat sampah seberang kosan. Kali ini bapaknya berbeda dari sebelumnya, tidak memakai sepeda tetapi berjalan. Mebawa plastik besar di kedua tangannya. Ketika selesai mengambil barang yang diinginkan, bapaknya pun berjalan. Barulah ku lihat sesuatu yang membuatku makin mempertanyakan dimana letak keadilan. Ternyata si bapak (mohon maaf) cacat dari lahir. Bentuk tangan dan kakinya tidak sempurna. Tangannya bengkok sehingga tidak bisa membawa beban berat, sedangkan kaki beliau juga bengkok sehingga cara berjalannya lambat dan membuat badannya bergoyang seluruhnya ketika berjalan. Ya Allah… Bahkan orang cacat pun di Jakarta ini harus mencari nafkah. Saya pribadi sangat mengapresiasi si bapak karena tidak memanfaatkan kekurangan pada badannya untuk meminta belas kasihan orang lain. Tapi, pertanyaan dalam diri kembali hadir. Jadi, sebenarnya dimana letak keadilan? Bapak itu tidak pernah meminta untuk dilahirkan cacat. Kalau boleh memilih, mungkin beliau ingin terlahir normal, hidup normal, menikah, dan mencari nafkah yang halal untuk keluarganya.

            Kemudian tadi malam aku benar-benar terharu dan menangis tanpa bisa dibendung. Diawali oleh kiriman video dari seorang teman tentang seorang anak bernama Yuda yang marawat bapaknya yang sedang sakit kanker otak seorang diri. Bayangin dong, Yuda yang masih umur 12 tahun harus merawat ayahnya yang sakitnya bukan sakit sembarangan, sakit kanker otak. Selama menjalani perawatan di rumah sakit Hasan Sadikin Bandung, Yuda dan ayahnya tinggal di rumah teduh sahabat iin Bandung. Hal yang membuatku makin sedih, ayah Yuda mengalami kejang-kejang tengah malam. Yuda tidak enak membangunkan petugas rumah teduh di tengah malam, dia hanya bisa menunggui ayahnya sambil memijat ayahnya yang sedang kejang sampai adzan subuh berkumandang. Setelah itu barulah ayah Yuda dirujuk ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan. Betapa tak teriris hati ini mendengar cerita Yuda, terlebih ayah Yuda yang harus menahan rasa sakit berjam jam. Aku aja sakit kepala biasa sampe nelpon orang rumah dan nangis sesenggukan, gimana ayah Yuda yang harus nahan sakit kanker sampai kejang-kejang. Yuda pun tak bisa istirahat hingga pagi karena dia nungguin ayahnya sampe dapet penanganan dokter. Anak sekecil itu bebannya bisa seberat itu, di saat teman sebayanya masih sibuk bermain. Lantas dimana letak keadilan?

            Tak berhenti sampai di situ, kisah Yuda akhirnya viral dan membuatnya diundang di hitam putih. Ketika diwawancarai, tak henti-hentinya Yuda mengeluarkan air mata sehingga beberapa kali pernyataan yang harusnya Yuda keluarkan digantikan oleh host hitam putih. Kala itu yang diundang ke sana bukan hanya Yuda tetapi juga pemilik Yayasan sosial rumah teduh sahabat iin yang bernama lengkap Iraningsih. Beliau sungguh sangat baik menurutku. Bagaimana tidak, di saat yang lain berlomba-lomba membangun properti pribadi atau kos-kosan untuk mendapatka passive income, beliau malah mendirikan rumah teduh sahabat iin. Rumah teduh ini adalah rumah singgah yang dapat digunakan oleh para pasien dan keluarganya ketika melakukan pengobatan atas penyakit yang mereka derita. Rumah teduh ini tentunya sangat bermanfaat bagi para pasien dengan tingkat ekonomi pas pasan. Sudah menjadi rahasia umum kalau penyakit kanker membutuhkan pengobatan yang bertahap dan panjang sehingga akomodasi menjadi hal utama yang harus dipikirkan dan tentunya juga membutuhkan biaya mahal. Sebagian besar yang tinggal di rumah teduh itu adalah orang-orang dengan penghasilan minim dan bahkan harus meninggalkan pekerjaan serta keluarga mereka di kampung halaman. Rumah teduh ini tidak hanya menfasilitasi akomodasi tetapi juga transportasi dan administrasi rumah sakit yang terkenal ribet dan tidak bersahabat bagi orang yang tak beruang. Sungguh mulia pendiri, pengurus, pengelola, dan donatur rumah teduh ini. Hati mereka benar-benar lembut sehingga terketuk untuk menolong orang-orang yang benar-benar membutuhkan. Rumah teduh sahabat Iin sudah dibuka yang ke-12 kalau tidak salah, masyaAllah.

            Setelah ku dapatkan sekilas informasi tentang rumah teduh sahabat IIn ini, akhirnya ku putuskan untuk melihat lebih jauh ke akun Instagram mereka yaitu @rumah_teduh_sahabat_iin. Mulailah ku scroll dari atas ke bawah. Ternyata kisah Yuda hanyalah satu dari sekian ratus kisah pasien penderita kanker yang ada di rumah teduh ini. Berbagai macam jenis kanker diderita oleh pasien di sana, mulai dari kanker gertah bening, kanker darah, kanker tulang, kaker mata, kanker otak, dan bahkan kanker yang telah menyebar ke berbagai organ tubuh. Melihat kisah mereka membuatku semakin menyadari betapa kurang bersyukurnya diriku selama ini atas nikmat sehat yang diberi tanpa harus meminta. Permasalahan yang mereka hadapi tidak hanya menahan rasa sakit karena terkena kanker tetapi juga permasalah hidup terkait perekonomian keluarga yang tentunya tak kalah memberikan beban berat pula. Sebagian atau mungkin seluruh pasien yang ada di sana berasal dari keluarga yang kekurangan dari hal ekonomi. Dari sini aku kembali bertanya, dimana letak keadilan? Ketika di saat yang sama, ada orang yang ditimpa musibah bertubi tubi mulai dari penyakit hingga masalah ekonomi yang sangat sulit, tetapi di sisi yang lain ada orang-orang yang sehat wal afiat dengan perekonomian yang terus menggeliat. Dimana letak keadilan ketika di satu sisi ada yang diberi kesakitan dan kesulitan di saat yang bersamaan, sedangkan di sisi lain ada yang dianugerahi kesehatan dan kemudahan dalam hidup.

            Setelah merenungkannya sejenak, akhirnya ku menemukan muara atas semua pertanyaan yang terus terngiang, sebenarnya dimanakan letak keadilan? Iya dimana? Kalau menurutku, letaknya di akhirat. Kehidupan yang abadi setelah kematian. Dari perenungan di atas, maka tak ada alasan untuk tak mengimani adanya akhirat. Seandainya tidak ada akhirat, maka dunia ini menjadi tempat atas berjalannya praktek ketidakadilan. Bagaimana tidak? Dari kisah-kisah di atas, tidak adanya akhirat akan membuat orang-orang yang terkena penyakit dan berbagai kesulitan hidup akan merasa Allah sungguh tak adil akan hidup yang mereka jalani. Apa bedanya mereka dengan manusia yang lain, kenapa harus mereka yang terkena penyakit dan kesulitan hidup semacam itu, kenapa yang lain tidak?

Oleh karena itu, kita semua perlu sadar bahwa akan selalu ada konsekuensi atas segala hal yang terjadi pada diri kita. Jadi, tak perlu berlampau bersedih bagi yang sedang mengalami kesusahan dan tak perlu terlampau bahagia bagi yang dianugerahi kemudahan dalam hidupnya, karena semua ada konsekuensinya. Seringkali, setiap pulang ke kosan, tidur di kamar yang enak, berselimutkan selimut yang hangat, makan tanpa harus membanting tulang terlalu keras, tiba-tiba timbullah pertanyaan dalam diri. Apa bedanya aku dengan mereka yang hidup di jalanan, tak punya rumah, tak punya selimut, kepanasan, digigit nyamuk, makan kalau ada. Kami sama-sama manusia, lantas apa bedanya? Maka pada saat yang bersamaan, hatiku akan berbisik, akan ada konsekuensi yang harus kamu pertanggungjawabkan atas semua kenyamanan, kemudahanm dan kenikmatan yang kamu rasakan. Pun demikian akan ada pula konsekuensi atau balasan yang akan mereka dapatkan atas penyakit, kesulitan, kesusahan, dan kesedihan yang mereka rasakan ketika di dunia ini. Menulis seperti ini membuatku merasa bahwa dunia ini hanya panggung sandiwara belaka, tempat bersinggah sementara, tempat dimana keadilan banyak dipertanyakan, menuju akhirat dimana jawaban tentang dimana letak keadilan akan terjawabkan tanpa perlu dipertanyakan.

Probabilitas yang Sama

download.jpgAlhamdulillah magang di Jakarta Pusat telah usai. Terhitung sangat singkat ketika diingat-ingat tapi terasa begitu lambat ketika dijalani. Jujur, aku suka sekali magang di tempatku magang tetapi sangat tidak suka Jakarta dengan semua hingar bingar yang ditawarkannya. Nggak tau kenapa ya, aku merasa sangat tidak betah. Banyak sekali pelajaran yang kudapatkan selama di magang di Jakpus, mulai dari metode penelitian yang menjadi terang benderang hingga pelajaran hidup yang bisa diambil hikmahnya. Kali ini aku akan bercerita tentang sebuah kisah yang ku alami di tempat magang yang terhitung sangat singkat itu, yaitu hanya 5 hari. Ada sebuah kisah yang sepertinya sangat menarik untuk aku bagi, sembari menunggu aku lelah hingga mudah tertidur malam ini. Sudah terhitung dua hari aku susah sekali tidur cepat di malam hari. Daripada maksain tidur tapi sebenernya nggak bisa bisa, mending nulis dulu biar capek terus langsung bisa tidur.

            Lembaga penelitian tempatku magang bergerak di bidang biologi molekuler. Aku kurang tau pasti ada berapa lab yang ada di sana, tetapi yang pasti ada beberapa lab yang menerima jasa diagnosa untuk mendeteksi penyakit kelainan genetik. Kebetulan lab yang aku tempati mendiagnosa kelainan pada tingkat kromosom. Salah satu penyakit kelainan genetik yang ku ketahui dipelajari di Lembaga penelitian ini adalah thallasemia. Thallasemia adalah penyakit kelainan genetik yang terjadi pada hemoglobin darah. Hemoglobin merupakan komponen dalam darah yang berfungsi untuk membawa oksigen ke seluruh bagian tubuh. Seseorang yang mengalami thallasemia akan mengalami kekurangan oksigen pada tubuhnya karena hemoglobinnya mengalami kelainan atau mutasi, Nah, apa dampaknya? Orang yang mengidap thallasemia akan mudah lelah, mengalami penyakit kuning, kegagalan jantung, bahkan kematian. Thallasemia dibagi menjadi dua jenis, minor dan mayor. Seseorang yang mengalami thallasemia mayor harus selalu waspada dengan kondisi hemoglobin dalam darahnya dan harus melakukan transfusi darah tiap bulan. Alhamdulillahnya, thallasemia telah menjadi perhatian pemerintah sehingga transfusi darah bagi penderita thallasemia tidak dipungut biaya alias gratis. Sedangkan penderita thallasemia minor biasanya tidak perlu pengobatan khusus, hanya akan mudah lelah saja. Setelah aku baca dari beberapa sumber, menurut WHO Indonesia adalah negara dengan persentase penderita thallasemia tertinggi di dunia. Aku terkaget kaget dan terheran heran membacanya, dari sini aku baru menyadari pentingnya Lembaga biologi molekuler di Indonesia.

            Para penderita thallasemia biasanya kurang bisa diterima untuk dijadikan pekerja karena kondisi fisik mereka yang lemah, mudah lelah, dan pemeriksaan rutin yang perlu mereka lakukan yang tentunya kurang menguntungkan bagi perusahaan yang menjujung tinggi produktivitas para pegawainya. Kalaupun mereka telah lulus seleksi tes, kemungkinan besar mereka akan gugur di tes medical check up yang sudah umum dilakukan oleh perusahaan. Nah, di sinilah letak kekagumanku pada tempat magangku ini karena ternyata ada beberapa orang pengidap thallasemia yang sengaja dipekerjakan di sini. Aku seringkali bertemu mereka ketika mereka memberikan file terkait data pasien ke ruangan tempatku magang. Bahkan, salah satu mbak ini sangat akrab dengan para peneliti di ruanganku. Ketika aku sedang menunggu waktu pulang, ku sempatkan duduk di lobi kantor. Ku perhatikan pintu otomatis yang dilewati oleh orang-orang, salah satunya mbak pengidap thallasemia yang sering berkunjung ke ruanganku itu. Si mbaknya terlihat ke luar kantor dengan membawa file, terus berjalan memunggungiku. Tak tau kenapa aku merasa tertarik memperhatikan mbaknya, beliau terlihat berjalan sambil menyeret salah satu kakinya. Mungkin sakit atau keseleo pikirku kala itu. Setelah siap pulang, ku putuskan segera memesan ojek online dan pulang. Aku berniat untuk berangkat pagi keesokan harinya karena ada metode yang akan diajarkan padaku.

            Benar saja, aku berangkat pagi-pagi sekali. Sampai di kantor baru jam 7.00, benar-benar sangat pagi. Baru ada beberapa pegawai. Bahkan lab tempatku magang belum dibuka. Ku lihat seorang mbak peneliti di lab ku yang sepertinya akan membukakan lab sambil ngobrol sama pak sekuriti. Tapi, ada yang aneh di sana. Si mbaknya ngobrol sambil nangis dengan air mata yang masih banyak menggenang di matanya. Aku melangkahkan kaki untuk mendekat dan ingin tahu hal apa yang sedang terjadi. Setelah ku dengarkan sejenak percakapan mereka barulah aku mengerti. Ternyata ada pegawai yang meninggal dan beliau adalah mbak pengidap thallasemia yang hari sebelumnya aku perhatikan cara jalannya itu. Iya, beliau meninggal, tergolong sangat mendadak. Si mbaknya memang terlihat berbeda, lemes dan kurang bersemangat hari kemarin menurut para pegawai di sana. Padahal beliau dikenal sebagai sosok yang ceria dan suka berinteraksi dengan para pegawai yang lain. Ketika ditanyakan terkait kadar hemoglobinnya, beliau bilangnya sudah periksa dan kadarnya normal.

            Aku kaget bukan main. Si mbaknya yang kemarin masih sehat-sehat saja, keesokan harinya telah mengahadap sang pencipta. Benar-benar umur tak ada yang tahu. Semua pegawai di tempatku magang merasa sangat kehilangan karena kematian si mbaknya, merasa belum percaya, dan benar-benar tak menyangka. Si mbaknya terkenal dengan kinerjanya yang sangat baik, rajin, dan suka menolong rekan kerjanya. Benar-benar sosok yang baik hati dan suka menolong orang lain katanya. Menurut informasi, beliau ini adalah pegawai ketiga pengidap thallasemua yang meninggal. Bagian administrasi di tempatku magang memang sengaja menempatkan para penderita thallasemia, maka pengganti si mbaknya juga harus penderita thallasemia. Ketika sedang mengobrol tentang kematian si mbaknya, salah seorang pegawai di lab ku berkata,

“Temennya dia yang sama-sama punya thallasemia ngerasa was was nggak ya? Ngerasa kematian begitu dekat dengan mereka” Katanya.

            Aku dalam hati menjawab, “Mbak, jangan salah lo, kita semua yang sehat ini juga punya probabilitas yang sama untuk meninggal”

            Iya kan? Setiap orang yang hidup harus menerima kenyataan bahwa kematian adalah sebuah kewajiban. Jadi, kematian itu tidak hanya perlu dikhawatirkan oleh orang yang punya penyakit saja tetapi juga oleh semua orang yang bernyawa. Justru menurutku, orang yang tahu bahwa dirinya sakit semacam ‘diuntungkan’ untuk senantiasa mengingat mati sehingga senantiasa meningkatkan ibadah untuk memperbanyak bekal untuk kembali kepadaNya. Nah, kita-kita yang sehat ini yang selalu merasa ‘aman’ dari kematian akan cenderung melalaikan ibadah karena merasa kematian sangatlah jauuuh. Padahal kita mempunyai probabilitas yang sama untuk meninggal.

Rantau Lag

imagesEntah itu judul bener atau nggak, pokoknya kemarin, lebih spesifiknya dua hari yang lalu, aku mengalami apa yang menjadi judul tulisan di atas, rantau lag. Rantau lag apaan sih? Ya semacam jetlag gitu lah, ketidaksiapan badan kita menghadapi perbedaan waktu ketika kita pergi ke belahan dunia yang berbeda dengan kita. Ketika tubuh kita ngerasa udah malem eh pas nyampe lokasi ternyata masih siang, jadinya tubuh kita jadi bingung dan terjadilah yang namanya jetlag, bisa berupa pusing atau nggak enak badan lainnya. Nah, kalau rantau lag itu adalah suatu kondisi dimana kita merasa terkaget kaget dan terheran-heran ketika tercemplung atau dicemplungkan di tempat rantau yang lokasi atau kondisinya berbeda dengan tempat kita berada sebelumnya, dimana secara psikis kita belum siap menghadapi kondisi yang semacam itu dan aku ngalamin itu gaes. Sekarang aku sedang berada di Jakarta Pusat, sedang menjalani magang di suatu Lembaga penelitian demi lancar jayanya tesisku. Iya, aku rantau lagnya di Jakarta? Iyakah? iya. Padahal nih ya, Jakarta itu bukanlah tempat yang baru bagiku, entah berapa kali aku ke Jakarta. Beberapa kali aku datang bahkan menginap di rumah temanku yang asli orang Jakarta. Pun demikian, merantau juga bukanlah hal baru juga bagiku, aku udah menjalani kehidupan merantau sejak kuliah S1 dulu mulai dari Bogor, Bekasi, Bandung, dan sekarang Jakarta.

            Terus kok bisa ngalamin rantau lag? Setelah aku analisis ternyata aku tuh nggak bisa hidup sendiri, aku butuh pasangan temen yang harus ada di sekitarku ketika aku berada di lingkungan baru. Ketika di Bogor dulu, rantau lag bisa aku hindari karena aku kuliah bersama saudara kembarku dan kompaknya GASISMA (keluarga mahasiswa madura) telah berhasil membuatku hanya nangis satu kali yaitu ketika berpisah dengan kelurgaku ketika pertama kali dianter ke kampus, setelah itu aku bahagia, sama sekali tidak mengalami rantau lag, bahkan dulu aku agak heran aja sama anak-anak yang sampe nangis berhari-hari bahkan hingga berbulan-bulan ketika di asrama. Sekarang aku megerti kalian gaes, setelah sekian lama wkwkwk. Dilanjutkan merantau ke Bekasi, rantau lag bisa diminimalisir karena aku sekamar dengan teman kosanku yang cerewet tapi baiknya minta ampun. Ketika di Bandung? Aku benar-benar jatuh cinta dengan kota yang satu ini, bahkan sebelum aku bertempat tinggal di sana. Jadi, semacam telah ada ekspektasi lebih dan mindset yang telah terbentuk bahwa Bandung adalah kota yang livable and loveable, dan memang iya. Aku banyak bertemu orang-orang baik di sini, lingkaran yang begitu positif, mulai dari kosan hingga kampus. Kalau kelak ada yang mau ngajakin bangun masa depan bersama di Bandung, aku mau banget wkwkwk. Nah, ketika di Jakarta? Jejejejejeng….. akhirnya aku ngalamin yang namanya rantau lag.

            Jadi, hari minggu kemarin aku berangkat dari Bandung menuju Jakarta pada jam 5.00 pagi. Terlalu pagi sebenarnya, sehingga aku harus bangun jam 4, lantas mandi dan sampai di stasiun jam 5 kurang 15 menitan. Jadinya ku putuskan sholat di atas kereta saja, khawatir ketinggalan kalau sholat di mushola stasiun. Sesampainya di stasiun Gambir Jakarta, ku pesan ojek online yang ternyata murah banget hanya 2k padahal setelah ku lalui jarak tempuhnya lumayan jauh. Sesampainya di kosan aku dipersilahkan oleh ibu penjaga kosan untuk memasuki calon kamarku yang seadanya banget kalau nggak mau bilang jelek wkwkwk. Pengap khas kamar yang udah lama nggak dipake. Bayangin dong, aku baru dari perjalanan jauh, panas di jalan, masuk kamar pengap, apa nggak stress, lebbay sih. Di kamar itu ada AC tapi berhubung aku sewanya yang nggak pake AC jadilah aku hanya melihat AC itu tanpa bisa menikmatinya. Ku coba berbaring di Kasur yang sudah diganti spreinya sama si ibunya, aku gerah segerah-gerahnya. Kata ibunya, kamar ini kamar sementara aku karena kamarku yang sebenarnya ada di lantai 3. Berhubung penghuni sebelum aku belum beres-beres, jadilah aku diminta menunggu di kamar pengap itu. Aku sudah benar-benar tak tahan, ku hidupkan AC yang ada di kamar itu karena toh itu fasilitas yang ada di kamar itu, kan aku juga didzalimi karena kamarku yang seharunya belum siap juga. AC benar-benar menghilangkan rasa gerahku, setelah agak dingin, ku matikan lagi takut dosa wkwkwk, padahal udah dosa dari awal sih hahaha. Sorenya akhirnya aku dipindahkan ke kamar lantai 3, kamarnya luas, ada kipasnya, tapi masih geraaaaah. Aku benar-benar tak tahan, ku tanyakan harga kosan yang pakai AC ke bapaknya dan tanpa babibu aku putuskan untuk menyewa yang berAC saja. Manja banget sih badanku nih. Mending aku ngeluarin budget lebih daripada aku mateng wkwkkwk.

            Hari pertama masuk magang, aku terlambat setengah jam karena aku masih mikir suasana Jakarta akan serupa dengan di Bandung. Berangkat 15 menit sebelum acara dimulai rasanya masih aman-aman saja kalau di Bandung dan ternyata aku salah besar. Pas pesen ojek online dan keluar kosan akhirnya ku sadari keberadaanku sekarang. Aku sedang di Jakarta, macet dimana-mana. Jadilah aku baru sampai di tempatku magang jam setengah 9 yang searusnya jam 8. Untungnya aku nggak dimarahin dan disambut dengan diskusi yang menyenangkan. Tetapi karena berada di tempat baru, aku masih merasa kikuk untuk bergerak ke sana ke mari. Ketika makan siang aku diberi saran untuk beli makan di daerah yang banyak jajanan dimana jaraknya lumayan jauh menurutku. Tapi, tetap ku datangi karena di sana ada masjid yang cukup besar. Sasampainya di masjid aku sholat dan setelah sholat aku benar-benar tidak bisa menahan emosiku. Aku menangis tanpa bisa dibendung, mengalir tanpa diberi aba-aba. Aku merasa benar-benar sendiri di kota besar ini, di kosan sendiri, di tempat magang sendiri, beli makan siang sendiri, tak ada yang menemani, tak ada yang dikenal dan mengenaliku, tak ada yang bisa ditanya atau diajakin bareng-bareng. Aku merindukan banyak orang dan banyak hal, aku merindukan kaluarga di rumah, teman-teman di Bandung, aku benar-benar merasa tersiksa dengan kesendirian ini. Aku berdoa pada Allah dan menyampaikan kondisiku yang tidak kuat sendiri, sedih sekali rasanya sendiri.

            Ketika tiba saatnya pulang dari tempat magang, ku lewati sebuah rumah sakit di sebelah tempat magangku. Ku berjalan seperti anak hilang tanpa arah dan tujuan, ada sih arahnya… ke kosan wkwkwk. Ketika aku sibuk dengan pikirankuu, tiba-tiba ada yang menyapa,

“Hei….. kamu” sampanya sambil menunjuk ke arahku.

            Siapa nih orang, emang ada ya yang kenal aku di sini? Pikirku kala itu. Terlihat olehku seorang perempuan memakai masker di wajahnya. Ah, paling salah orang seperti yang sudah-sudah. Pas si mbaknya buka masker ternyata orang itu benar-benar aku kenal dan mengenalku, kami saling mengenal satu sama lain. Langsung aku peluk si mbaknya yang ternyata adalah teman SMAku yang bekerja di rumah sakit itu. Dulu temenku ini sering sekali ke Bogor karena memang calon suaminya adalah kakak kelas di kampusku. Sungguh ini benar-benar sebuah keajaiban dan doaku benar-benar terasa diijabah oleh Allah. Ketika aku merasa benar-benar kesepian dan sendirian, beliau kirimkan orang dari arah yang tidak diduga-duga. Kami bercerita banyak hal, mulai dari kerisauanku yang merasa hidup sendirian di Jakarta hingga kehidupannya sekarang yang telah berumah tangga. Perjalanan pulang benar-benar tak terasa jauh jika dilalui dengan mengobrol bersama teman. Kami pun sepakat untuk makan di sebuah rumah makan sambil menunggu suami temanku ini datang. Kami berpisah setelah adzan isya dan aku diantarkan sampai di depan gerbang kosanku karena mereka khawatir dengan curhatanku yang selalu merasa insecure di kota besar ini.

            Berkat pertemuan kami yang tak diduga-duga itu, akhirnya ku tahu ternyata teman sebangku SMAku juga sedang berada di Jakarta Pusat. Temenku yang satu ini diterima PNS di sebuah kementrian dan tempat kerjanya di Jakpus. Ya Allah benar-benar sebuah kejutan yang tak disangka-sangka. Temeku ini juga menyayangkan kenapa aku nggak ngasih kabar, kalau ngasih kabar kan kami berdua bisa barengan ngekosnya. Ditambah lagi kosan temenku ini bagus dan bersih banget. Nggak papa lah… ketemu sama temenku ini sudah lebih dari cukup buatku. kalau tidak salah kira, sudah terhitung 4 tahun kami tidak bertemu. Terakhir aku bertemu dengannya ketika aku berkunjung ke rumah dia dan suaminya di Sukabumi. Temenku ini asli madura tapi dapet suami orang Riau yang kerjanya di Bogor, akhirnya mereka memutuskan tinggal di Sukabumi dan sekarang malah jadi orang Jakarta. Kami berdua akhirnya bertemu keesokan harinya, mengobrol dan mengenang banyak hal dari sore hingga malam hari. Tertawa lepas seperti jaman SMA dimana beban hidup masih tak seberapa. Mengobati rasa kangen yang entah sudah sejauh apa karena memang tak ada alat ukurnya. Saling berpelukan entah yang keberapa karena tak tahu kapan lagi akan berjumpa. Rindu yang menggebu membuat pertemuan menjadi sangat mengharu biru.

Terimaksih ya Allah atas semua pemberianmu yang sangat hamba tak duga-duga ini. Memang benar, jikalau kita benar-benar menginginkan sesuatu mintalah dengan sungguh-sungguh pada Allah yang punya segalanya. Tak sulit bagiNya mengadakan sesuatu dari yang awalnya tak ada menjadi ada. Maka perkara mudah bagi Allah mempertemukanku dengan teman-temanku yang memang sudah ada sehingga ku tak merasa sendiri, kesepian, dan hilanglah sudah rantau lag yang ku alami. Rantau lag mengajariku untuk selalu menghargai dan menyayangi orang-orang yang berada di sekitarku karena tanpa mereka hidupku benar-benar kosong dan hampa. Aku benar-benar mencintai kalian karena Allah kaluarga, saudara, dan teman-temanku. Keberadaanku terasa ada karena adanya kalian dan keberadaanku menjadi tak berasa ada jika tak ada kalian. Semoga kita semua kembali dipertemukan si surgaNya kelak, aamiin.

Menghargai Pemberian

Give, Donate, Charity

Tulisan ini ditulis ketika diriku berada di lab memperhatikan orang berlalu lalang dengan kesibukan mereka masing-masing. Sedangkan diriku? Hanya duduk berdiam diri memperhatikan mereka satu per satu sambil menyibukkan diri di depan laptop. Benci sekali rasanya tidak mengerjakan apa-apa, sedangkan yang lain terlihat sibuk atau mungkin menyibukkan diri. Ku pasang headset, buka laptop, cari jurnal, baca sekilas, lantas kembali bingung mau ngapain lagi. Akhirnya ku putuskan untuk menulis agar ada setidaknya satu karya yang ku hasilkan hari ini. Agar aku bisa tau bahwa aku pernah mengalami masa ini, masa-masa galau dan bingung mau dibawa kemana kiranya penelitian ini. Aku percaya semua ini akan ada ujungnya, jalani saja dulu, yakinlah akan selesai kemudian. Mau cerita apa ya? Oya kan udah ada judulnya tuh, pastinya udah kebayang dong mau cerita apaan. Iya sih, iseng aja nanya biar keliatan komunikatif gitu wkwkwk.

            Jadi gini ceritanya. Suatu hari seorang teman sejurusanku yang juga teman kosanku, yang kamarnya sebelah kamarku, memberikan sebuah kabar gembira.

“Mau nonton bioskop gratis nggak? Aku punya 8 tiket gratis nih buat nonton film X di semua bioskop di Bandung di hari kamis besok” katanya mengabariku lewat whatsapp.

“seriusan nih? maooooo” jawabku tanpa berpikir panjang.

“tapi belinya lewat aplikasi TIX ID, mbak punya aplikasi itu kan?” tanyanya.

“iya masih tapi harus top up dulu” jawabku.

“oke, nanti pesen tiketnya 8 ya” katanya.

“banyak banget, emang mau ngajakin siapa aja?” tanyaku.

“ngajak orang mah gampang kalau gratisan” jawabnya.

“iya juga sih” jawabku mengiyakan.

            Jadilah kami berdua membeli banyak tiket, tidak hanya 8 tetapi hingga berpuluh puluh tiket, totalnya ada 68 tiket (kalau tidak salah hitung) dan semuanya gratis. Banyak respon orang-orang yang kami temukan ketika membagi-bagikan tiket ini, ada yang senang bukan main, berterimakasih tak henti-henti, dan diikuti rasa penasaran dari mana gerangan tiket gratis ini karena sungguh tidak mungkin aku dan temanku yang notabene masih mahasiswa ini membagi-bagikan tiket nonton bioskop yang tidaklah murah. Ada juga yang nerima aja tanpa babibu ingin tahu ini itu, cukuplah bagi mereka tiket gratis itu, golongan ini adalah golongan modis (modal diskon). Ada golongan yang agak jual mahal padahal sebenernya ingin dan ada pula yang menulis list nama tapi ternyata tidak hadir ketika pemutaran filmnya berlangsung, golongan terakhir inilah yang sedikit banyak akan aku bahas dalam tulisan ini.

            Golongan yang terakhir itu -golongan yang ingin tapi sebenarnya tak ingin- memberiku banyak pelajaran tentang pentingnya menghargai sebuah pemberian. Jujur, aku sedikit kecewa dengan sikap mereka, kalau tidak salah hitung ada 3 tiket gratis sia-sia yang dibeli tanpa ada si empunya tiket pas filmnya diputar. Aku sayang aja gitu ya, walaupun toh tiket itu gratis, tolonglah dihargai. Ada sedikit goresan kekecewaan yang walaupun tak aku tampakkan tapi aku rasakan, rasanya cekit-cekit. Rada aneh sih ya, padahal aku lo nggak keluar uang sepeser pun, nggak rugi serupiah pun, lantas apa sih yang ngebuat aku sampe sebegitu kecewanya. Nggak tau ya, kecewa aja gitu ya. Pas lagi mau mulai nonton, mbak di sebelahku yang juga tau sebab akibat tiket itu terbuang sia-sia hanya bisa berbisik,

“nggak papa, seenggaknya kamu belajar sesuatu dari peristiwa ini”

“iya mbak, makasih ya” jawabku.

            Pulang dari bioskop aku benar-benar tidak bisa menahan emosi, aku benar-benar nangis di atas motor. Air mata bercampur dengan rintikan air hujan yang turun ikut membaur. Aku jadi mengingat banyak hal dan satu yang benar-benar aku tangisi kala itu adalah aku sangat merasa bersalah pada Allah yang selama ini memberikan segalanya kepadaku, mencukupi kebutuhanku, menghidupkanku, menyehatkanku, mambahagiakanku, dan memberikan semuanya tanpa aku minta. Lantas sikapku? Sangatlah congkak, sama sekali tak pernah sungguh-sungguh berterimakasih atas semua pemberianNya. Kalau aku saja yang sebegitu kecewanya hanya karena tidak hadirnya temanku atas tiket gratis yang ku berikan -yang notabene aku tak mengeluarkan uang sepeserpun-, lantas bagaimana dengan Allah yang telah memberikan segalanya padaku? Ayo introspeksi diri. Rasa minim syukurku bisa dilihat dari minimnya ibadah yang ku lakukan, sholat yang ditunda-tunda, sedekah yang dinanti-nanti, puasa sunnah yang sangat jarang sekali, lantas kecewamu sungguh tak beralasan jika dibandingkan dengan semua yang ku lakukan selama ini.

            Ya Allah, ampuni hamba yang sungguh benar-benar telah melampui batas. Terimakasih atas pengingat yang engkau berikan bahwa sesungguhnya selama ini hamba begitu jauh dari rasa syukur dan penghargaan atas pemberianmu yang sungguh sangat berharga, kesehatan, keluarga, teman-teman, guru-guru, dan segalanya yang berada di sekitar hamba. Terkadang menghargai sebuah pemberian bukan hanya untuk menyenangkan orang yang memberikannya tetapi juga mehindari kekecewaan yang mungkin akan orang tersebut rasakan jikalau kita menolaknya. Terimakasih teman sudah tidak datang setidaknya dari kamu aku banyak belajar bahwa menghargai pemberian adalah sebuah keharusan.

Resiko Bertindak Tanpa Berpikir

cerobohSekarang aku berada di tahap dimana aku merasa, diriku yang sekarang bukanlah diriku yang dulu, sangat berbeda dalam banyak hal. Ada yang positif, ada pula negatifnya. Kadang ku merasa diuntungkan dengan perubahan ini, tapi terkadang pula perubahan ini benar-benar mengantarkanku pada banyak penyesalan. Seberapa signifikankah perubahan itu? Mari kaji satu per satu. Dulu aku anaknya introvert, susah sekali melebur dan membaur di lingkungan baru. Menutup rapat karakterku yang sebenarnya, merasa insecure akan banyak hal sehingga tidak bisa menunjukkan sisi terbaik dari diriku. Sekarang? Aku berubah menjadi orang yang ekstrovert, senang sekali bertemu orang, be just the way Iam, banyak bercanda, banyak ngomong sehingga sulit sekali untuk serius dan ini tidak baik menurutku. Dulu aku suka membaca dan belajar, sekarang aku merasa hampa dan tak begitu semangat belajar. Membaca pun menjadi sangat jarang walaupun itu hanya sekedar novel atau bacaan ringan. Sepertinya aku terkena dampak milenialisasi karena kemajuan teknologi. Tak bisa ku pungkiri, aku menjadi seorang yang suka sekali berselancar di youtube, membaca twit yang pendek-pendek, menghabiskan waktu hanya untuk scroll timeline Instagram, dan hal-hal minim faedah lainnya di medsos (media sosial).

            Akibat dari semua kebiasaan buruk itu, aku menjadi jarang menggunakan otakku sehingga harganya jadi lebih mahal kalau dijual karena jarang digunakan wkwkwk. Aku sekarang merasa bodoh dalam banyak hal, seperti dalam bidang akademik (pekuliahan dan penelitian), tercermin dari IPK ku yang mengenaskan, serta dalam hal pengambilan keputusan untuk melakukan suatu tindakan, aku merasa sangat payah. Sepayah apa sih? Payah banget tau, ada beberapa kejadian yang ingin aku ceritakan di sini.

            Pertama, kejadian ketika aku hendak mengurus surat ijin kode etik untuk penelitianku. Jadi, penelitian yang menggunakan hewan coba dan manusia sebagai objek penelitian harus mempunyai surat ijin kode etik, untuk menghindari terjadinya malpraktek. Surat ijin kode etik ini harus ada apalagi jika kita ingin mempublikasikan hasil penelitian kita dalam bentuk jurnal. Nah, berhubung penelitianku menggunakan keduanya (hewan coba dan manusia) maka mau tidak mau aku harus mengurus surat tersebut. Surat ijin kode etik sebenarnya bisa diurus di ITB, di fakultas Sekolah Farmasi, tapi berhubung katanya di UNPAD (Universitas Padjajaran) yang notabene punya fakultas kedokteran, lebih mudah dan cepat, akhirnya ku putuskan untuk mengurus di UNPAD saja. Teman-teman satu lab ku juga rata-rata mengurus surat ijin kode etik ke UNPAD.

            Entah angan-angan darimana, secara tidak sadar di bawah alam sadarku, aku selalu berpikiri bahwa UNPAD itu ya di Jatinangor, padahal kan ada juga yang di dekat ITB Ganesa. Jadilah aku pada hari kamis, hari terakhir dalam minggu itu untuk pengumpulan berkasnya, karena mereka hanya menerima berkas pada hari selasa, rabu, dan kamis setiap minggunya. Aku segera meluncur ke tempat mangkal Damri yang menuju jatinangor. Aku merasa sangat beruntung kala itu karena aku berhasil mencegat bis yang hampir berangkat dengan motorku, sambil melambaikan tangan pada sopirnya kalau aku akan ikut. Ku tempuhlah perjalanan dari UNPAD Dipatiukur ke UNPAD Jatinangor yang jaraknya lumayan. Turun dari Damri naik odong-odong UNPAD menuju fakultas Kedokteran. Sesampainya di sana aku agak curiga, karena di website dituliskan mereka berada di lantai 6 Rumah Sakit Pendidikan (RSP) UNPAD, akan tetapi, aku melihat Gedung di sana tidak ada yang menjulang tinggi hingga lantai 6, paling hanya lantai 2. Ketika aku bertanya pada pak satpam, benarlah saudara-saudara, ternyata RSP UNPAD itu berada di kota Bandung sebelahan sama Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung. Betapa kagetnya aku dan berkali-kali mengutuki diri sendiri kenapa tidak membaca alamat website dengan baik dan benar, atau seenggaknya bertanya pada rekan satu lab yang sudah mengurus surat tersebut. Aku udah nanya sih ke mereka, tapi nggak spesifik nanya lokasi, aku hanya bertanya mereka pakai apa ke sana, dan semua menjawab pakai motor atau ojek online. Parahnya lagi, aku sempat mengecek ongkos ojek online ke UNPAD jatinangor yang itu mahal banget dan aku belum sadar juga kalau yang mereka maksud itu adalah UNPAD di jalan Eicjkman bandung. Benar-benar kejadian yang sangat-sangat konyol, kepekaanku benar-benar sangat payah, analisisku sangat dangkal, dan aku merasa benar-benar eerrrghhhh.

            Kedua, kejadian yang terjadi lagi-lagi karena kurangnya info, analisis, dan minat baca yang minim dari diriku ini. Suatu pagi, aku berniat untuk berbelanja peralatan yang berkaitan dengan penelitianku. Hari itu rencananya aku akan mengambil sampel darah sehingga aku membutuhkan syringe dan tube anti koagulan untuk menampung darah. Toko Sakura menjadi tempat andalan karena dekat dari kampus, lengkap, murah, dan bisa beli eceran. Aku berencana menggunakan ojek online karena merasa akan lebih simple, murah, dan cepat. Didukung oleh promo yang aku dapatkan hari itu. Sayangnya, ketika sampai di Sakura, ternyata kedua barang yang ku butuhkan itu sedang kosong, syringe hanya ada yang merk lain yang tidak terlalu bagus dan tube antikoagulan yang tutupnya ungu bukan hijau. Aku biasanya menggunakan yang tutupnya hijau karena mengandung heparin sedangkan yang ungu mengandung EDTA. Berhubung barang-barang itu benar-benar sangat aku butuhkan hari itu, mau tidak mau aku harus mendapatkannya bagaimanapun caranya. Akhirnya ku browsing tempat serupa Sakura yang menjual alat-alat kesehatan juga, ku temukan sam medical yang jaraknya tidak terlalu jauh dari Sakura. Tanpa berpikir panjang, ku pesanlah ojek online menuju ke sana.

            Sayangnya, ojek online yang ku tumpangi kala itu rada-rada kurang aman dan nyaman cara bawa motornya. Ketika baru berjalan beberapa meter, ada bapak-bapak yang neriakin ‘mas… standarnya’. Ya ampu… si mas nya lupa naikin standar, padahal kan bahaya banget, kita berdua bisa jatoh. Di tengah perjalanan turunlah hujan yang amat deraslah, si masnya berhenti buat ngambilin jas ujan. Aku jadi merasa bersalah, soalnya udah agak nggak percaya ke masnya gegara standar motor dan cara ngendarain motornya yang kurang ajeg menurutku. Baru beberapa meter berjalan, ada bapak-bapak yang kembali neriakin ‘mas…. standarnya’. Ya Allah… masa lupa lagi, kan bikin makin was was yak. Pas mau belok di persimpangan masnya juga ragu-ragu sehingga banyak di klaksonin pengendara yang lain. Jarak sam medical yang deket jadi berasa juauuuuuh bangeeeet. Pengen segera nyampe rasanya. Akhirnya sampailah di sam medical. Sebelum berpisah, aku bilang ke masnya, ‘mas, jangan lupa standar motornya lagi ya hehe’. Aku kasian aja kalau nanti masnya lupa lagi. Sesampainya di sam medical, ternyata mereka hanya punya syringe sedangkan tube hijau tidak ada, adanya hanya yang ungu. Kenapa susah banget yak. Aku yang merasa sudah setengah jalan, jengah rasanya kalau nggak sampe dapet tuh tube. Jadinya aku cari lagi tempat serupa yang menjual alat-alat kesehatan, ternyata ada walaupun jaraknya cukup jauh, yaitu PT. Inti Medika Sarana. Sesampainya di sana, ternyata serupa dengan tempat-tempat sebelumnya, mereka tidak punya tube hijau, adanya hanya yang ungu. Kata si mbak-mbaknya emang kalau satu tempat nggak ada, maka tempat yang lain juga bakalan nggak ada, karena mereka semacam satu supplier gitu. Terus aku nyeplos dong ‘emang kalau yang ungu fungsinya apa mbak?’ terus mbak nya jawab ‘wah,,, saya kurang tau juga mbak’.

            Aku langsung ngeh dong, kenapa aku nggak browsing aja, jangan-jangan fungsi mereka sama. Dan… jejejejenggggg…. beneran dooong, fungsi tube hijau dan ungu itu sama. Mereka sama-sama antikoagulan (mencegah darah menggumpal sehingga bisa dianalisis). Perbedaan mereka berdua hanya kandungannya saja saudara-saudara. Tau gitu kan…. sejak sedari tadi aku udah bisa dapetin tuh tube. Akhinya aku bilang ke mbaknya,

“fungsinya ternayata sama mbak, saya beli yang tube ungu ya 5 biji”

“maaf mbak, di sini nggak jual eceran”

Wagelaseeeeh…. udah jauh-jauh gini ternyata mereka nggak jual eceran. Jadilah dengan berat hati karena benar-benar butuh tuh tube, akhirnya ku putuskan kembali ke tempat awal, yaitu Sakura. Jaraknya juaauuuhhh. Sesampainya di Sakura aku langsung beli tuh tube dan kembali ke kampus dengan perasaan campur aduk, capek iya, kesel iya, merasa oneng iya, benar-benar merasa konyol untuk kesekian kalinya. Sangat beresiko sekali memang ya, bertindak tanpa berpikir matang terlebih dahulu.

Ketiga, kejadian ini baru kemarin lusa aku alami, kejadian yang terjadi karena sok ideku yang lagi-lagi bertindak tanpa berpikir. Bermula ketika printerku bermasalah, cartridge nya yang warna rusak. Printerku ini agak rewel ya, ketika tintanya abis, maka dia harus diganti cartridge nya yang harganya lumayan mahal. Aku pun berniat untuk memodifikasi printerku ini jadi infus aja biar nggak ribet dan lebih hemat. Tanpa berpikir panjang, ku bawalah dengan susah payah tuh printer ke BEC (Bandung Elektronik Center) yang memang tempatnya servis atau modif alat elektronik. Aku ingat kalau cartridge yang warna sudah aku lepas dari printernya, ‘ah… palingan nggak kepake juga’ pikirku kala itu. Aku bopong tuh printer ya, keliling-keliling mall kayak orang bingung bawa-bawa printer yang lumayan bikin pegel. Ketemulah sama sebuah toko servis yang katanya bisa modif jadi infus. Tapi kata mereka cartridge nya harus lengkap yang hitam sama yang warna. ‘Allahu robbi… kenapa tadi nggak dibawa aja ya” kataku dalam hati. Kalau beli baru berapa mas? aku sok-sokan nanya. Harganya lumayan dong, 135 rebu. Biaya modifnya 350k, kalau beli baru semua cartridge nya berarti 270k. Jadi kalau ditotal semua jadinya 620k. Padahal harga printernya aja 550k. Apa-apaan coba…. eeeergggghhhhh. Ngapain sih sok ide banget langsung bawa printernya, kenapa nggak survey harga dulu, kenapa nggak nanya-nanya orang dulu, atau seenggaknya browsing gitu di internet. Akhirnya ku bawa balik tuh printer ke kampus. Sesampainya di kampus aku bingung mau naro tuh printer dimana. Seketika terlintas sekre KAMIL di Masjid Salman ITB, nanti pulang ngelab aku ambil lagi. Eh… udah jauh-jauh jalan ke sekre, ternyata di dalemnya lagi ada rapat. Jadilah aku bawa lagi tuh printer yang beratnya lumayan. Karena haus, aku beli thai tea, eh… pas minta plastic, ternyata plastiknya abis. Bener-bener bikin emosi memuncak nih mas-masnya. Dia nggak liat apa, aku bawa apaan… ya kali bawa printer sampel megang cup besar thai tea tanpa plastic. Emang sekate-kate nih masnya. Aku mencoba untuk menahan emosi. Aku memutar otak dan akhirnya aku taroh tuh cup thai tea di tempat botol di tas ranselku. Terus printernya aku titipin di tempat penitipan helm di parkirn resmi kampus. Akhirnya aku terbebas dari gotong-gotong printer. Benar-benar hari yang sangat melelahkan dan mengesalkan, buah dari kepayahanku dalam bertindak tanpa berpikir panjang.

Hikmah dari kejadian-kejadian ini adalah berpikirlah sejenak sebelum bertidak, buat analisis-analisis kecil akan tindakan yang akan dilakukan, perbanyak membaca dan bertanya pada orang lain yang lebih berpengalaman. Awalnya aku merasa sangat payah dan konyol mengalami kejadian-kejadian ini tetapi setelah ku tulis kembali, aku merasa terkadang manusia harus melalu tahapan-tahapan payah dan konyol untuk menjadi lebih mawas diri dan dewasa. Tak apalah mengalami hal-hal payah dan konyol, yang terpenting dari semua itu adalah kita bisa mengambil pelajaran dari setiap kejadian yang telah terjadi dalam kehidupan. Karena hidup memang tempatnya belajar bukan?