Resiko Bertindak Tanpa Berpikir

cerobohSekarang aku berada di tahap dimana aku merasa, diriku yang sekarang bukanlah diriku yang dulu, sangat berbeda dalam banyak hal. Ada yang positif, ada pula negatifnya. Kadang ku merasa diuntungkan dengan perubahan ini, tapi terkadang pula perubahan ini benar-benar mengantarkanku pada banyak penyesalan. Seberapa signifikankah perubahan itu? Mari kaji satu per satu. Dulu aku anaknya introvert, susah sekali melebur dan membaur di lingkungan baru. Menutup rapat karakterku yang sebenarnya, merasa insecure akan banyak hal sehingga tidak bisa menunjukkan sisi terbaik dari diriku. Sekarang? Aku berubah menjadi orang yang ekstrovert, senang sekali bertemu orang, be just the way Iam, banyak bercanda, banyak ngomong sehingga sulit sekali untuk serius dan ini tidak baik menurutku. Dulu aku suka membaca dan belajar, sekarang aku merasa hampa dan tak begitu semangat belajar. Membaca pun menjadi sangat jarang walaupun itu hanya sekedar novel atau bacaan ringan. Sepertinya aku terkena dampak milenialisasi karena kemajuan teknologi. Tak bisa ku pungkiri, aku menjadi seorang yang suka sekali berselancar di youtube, membaca twit yang pendek-pendek, menghabiskan waktu hanya untuk scroll timeline Instagram, dan hal-hal minim faedah lainnya di medsos (media sosial).

            Akibat dari semua kebiasaan buruk itu, aku menjadi jarang menggunakan otakku sehingga harganya jadi lebih mahal kalau dijual karena jarang digunakan wkwkwk. Aku sekarang merasa bodoh dalam banyak hal, seperti dalam bidang akademik (pekuliahan dan penelitian), tercermin dari IPK ku yang mengenaskan, serta dalam hal pengambilan keputusan untuk melakukan suatu tindakan, aku merasa sangat payah. Sepayah apa sih? Payah banget tau, ada beberapa kejadian yang ingin aku ceritakan di sini.

            Pertama, kejadian ketika aku hendak mengurus surat ijin kode etik untuk penelitianku. Jadi, penelitian yang menggunakan hewan coba dan manusia sebagai objek penelitian harus mempunyai surat ijin kode etik, untuk menghindari terjadinya malpraktek. Surat ijin kode etik ini harus ada apalagi jika kita ingin mempublikasikan hasil penelitian kita dalam bentuk jurnal. Nah, berhubung penelitianku menggunakan keduanya (hewan coba dan manusia) maka mau tidak mau aku harus mengurus surat tersebut. Surat ijin kode etik sebenarnya bisa diurus di ITB, di fakultas Sekolah Farmasi, tapi berhubung katanya di UNPAD (Universitas Padjajaran) yang notabene punya fakultas kedokteran, lebih mudah dan cepat, akhirnya ku putuskan untuk mengurus di UNPAD saja. Teman-teman satu lab ku juga rata-rata mengurus surat ijin kode etik ke UNPAD.

            Entah angan-angan darimana, secara tidak sadar di bawah alam sadarku, aku selalu berpikiri bahwa UNPAD itu ya di Jatinangor, padahal kan ada juga yang di dekat ITB Ganesa. Jadilah aku pada hari kamis, hari terakhir dalam minggu itu untuk pengumpulan berkasnya, karena mereka hanya menerima berkas pada hari selasa, rabu, dan kamis setiap minggunya. Aku segera meluncur ke tempat mangkal Damri yang menuju jatinangor. Aku merasa sangat beruntung kala itu karena aku berhasil mencegat bis yang hampir berangkat dengan motorku, sambil melambaikan tangan pada sopirnya kalau aku akan ikut. Ku tempuhlah perjalanan dari UNPAD Dipatiukur ke UNPAD Jatinangor yang jaraknya lumayan. Turun dari Damri naik odong-odong UNPAD menuju fakultas Kedokteran. Sesampainya di sana aku agak curiga, karena di website dituliskan mereka berada di lantai 6 Rumah Sakit Pendidikan (RSP) UNPAD, akan tetapi, aku melihat Gedung di sana tidak ada yang menjulang tinggi hingga lantai 6, paling hanya lantai 2. Ketika aku bertanya pada pak satpam, benarlah saudara-saudara, ternyata RSP UNPAD itu berada di kota Bandung sebelahan sama Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung. Betapa kagetnya aku dan berkali-kali mengutuki diri sendiri kenapa tidak membaca alamat website dengan baik dan benar, atau seenggaknya bertanya pada rekan satu lab yang sudah mengurus surat tersebut. Aku udah nanya sih ke mereka, tapi nggak spesifik nanya lokasi, aku hanya bertanya mereka pakai apa ke sana, dan semua menjawab pakai motor atau ojek online. Parahnya lagi, aku sempat mengecek ongkos ojek online ke UNPAD jatinangor yang itu mahal banget dan aku belum sadar juga kalau yang mereka maksud itu adalah UNPAD di jalan Eicjkman bandung. Benar-benar kejadian yang sangat-sangat konyol, kepekaanku benar-benar sangat payah, analisisku sangat dangkal, dan aku merasa benar-benar eerrrghhhh.

            Kedua, kejadian yang terjadi lagi-lagi karena kurangnya info, analisis, dan minat baca yang minim dari diriku ini. Suatu pagi, aku berniat untuk berbelanja peralatan yang berkaitan dengan penelitianku. Hari itu rencananya aku akan mengambil sampel darah sehingga aku membutuhkan syringe dan tube anti koagulan untuk menampung darah. Toko Sakura menjadi tempat andalan karena dekat dari kampus, lengkap, murah, dan bisa beli eceran. Aku berencana menggunakan ojek online karena merasa akan lebih simple, murah, dan cepat. Didukung oleh promo yang aku dapatkan hari itu. Sayangnya, ketika sampai di Sakura, ternyata kedua barang yang ku butuhkan itu sedang kosong, syringe hanya ada yang merk lain yang tidak terlalu bagus dan tube antikoagulan yang tutupnya ungu bukan hijau. Aku biasanya menggunakan yang tutupnya hijau karena mengandung heparin sedangkan yang ungu mengandung EDTA. Berhubung barang-barang itu benar-benar sangat aku butuhkan hari itu, mau tidak mau aku harus mendapatkannya bagaimanapun caranya. Akhirnya ku browsing tempat serupa Sakura yang menjual alat-alat kesehatan juga, ku temukan sam medical yang jaraknya tidak terlalu jauh dari Sakura. Tanpa berpikir panjang, ku pesanlah ojek online menuju ke sana.

            Sayangnya, ojek online yang ku tumpangi kala itu rada-rada kurang aman dan nyaman cara bawa motornya. Ketika baru berjalan beberapa meter, ada bapak-bapak yang neriakin ‘mas… standarnya’. Ya ampu… si mas nya lupa naikin standar, padahal kan bahaya banget, kita berdua bisa jatoh. Di tengah perjalanan turunlah hujan yang amat deraslah, si masnya berhenti buat ngambilin jas ujan. Aku jadi merasa bersalah, soalnya udah agak nggak percaya ke masnya gegara standar motor dan cara ngendarain motornya yang kurang ajeg menurutku. Baru beberapa meter berjalan, ada bapak-bapak yang kembali neriakin ‘mas…. standarnya’. Ya Allah… masa lupa lagi, kan bikin makin was was yak. Pas mau belok di persimpangan masnya juga ragu-ragu sehingga banyak di klaksonin pengendara yang lain. Jarak sam medical yang deket jadi berasa juauuuuuh bangeeeet. Pengen segera nyampe rasanya. Akhirnya sampailah di sam medical. Sebelum berpisah, aku bilang ke masnya, ‘mas, jangan lupa standar motornya lagi ya hehe’. Aku kasian aja kalau nanti masnya lupa lagi. Sesampainya di sam medical, ternyata mereka hanya punya syringe sedangkan tube hijau tidak ada, adanya hanya yang ungu. Kenapa susah banget yak. Aku yang merasa sudah setengah jalan, jengah rasanya kalau nggak sampe dapet tuh tube. Jadinya aku cari lagi tempat serupa yang menjual alat-alat kesehatan, ternyata ada walaupun jaraknya cukup jauh, yaitu PT. Inti Medika Sarana. Sesampainya di sana, ternyata serupa dengan tempat-tempat sebelumnya, mereka tidak punya tube hijau, adanya hanya yang ungu. Kata si mbak-mbaknya emang kalau satu tempat nggak ada, maka tempat yang lain juga bakalan nggak ada, karena mereka semacam satu supplier gitu. Terus aku nyeplos dong ‘emang kalau yang ungu fungsinya apa mbak?’ terus mbak nya jawab ‘wah,,, saya kurang tau juga mbak’.

            Aku langsung ngeh dong, kenapa aku nggak browsing aja, jangan-jangan fungsi mereka sama. Dan… jejejejenggggg…. beneran dooong, fungsi tube hijau dan ungu itu sama. Mereka sama-sama antikoagulan (mencegah darah menggumpal sehingga bisa dianalisis). Perbedaan mereka berdua hanya kandungannya saja saudara-saudara. Tau gitu kan…. sejak sedari tadi aku udah bisa dapetin tuh tube. Akhinya aku bilang ke mbaknya,

“fungsinya ternayata sama mbak, saya beli yang tube ungu ya 5 biji”

“maaf mbak, di sini nggak jual eceran”

Wagelaseeeeh…. udah jauh-jauh gini ternyata mereka nggak jual eceran. Jadilah dengan berat hati karena benar-benar butuh tuh tube, akhirnya ku putuskan kembali ke tempat awal, yaitu Sakura. Jaraknya juaauuuhhh. Sesampainya di Sakura aku langsung beli tuh tube dan kembali ke kampus dengan perasaan campur aduk, capek iya, kesel iya, merasa oneng iya, benar-benar merasa konyol untuk kesekian kalinya. Sangat beresiko sekali memang ya, bertindak tanpa berpikir matang terlebih dahulu.

Ketiga, kejadian ini baru kemarin lusa aku alami, kejadian yang terjadi karena sok ideku yang lagi-lagi bertindak tanpa berpikir. Bermula ketika printerku bermasalah, cartridge nya yang warna rusak. Printerku ini agak rewel ya, ketika tintanya abis, maka dia harus diganti cartridge nya yang harganya lumayan mahal. Aku pun berniat untuk memodifikasi printerku ini jadi infus aja biar nggak ribet dan lebih hemat. Tanpa berpikir panjang, ku bawalah dengan susah payah tuh printer ke BEC (Bandung Elektronik Center) yang memang tempatnya servis atau modif alat elektronik. Aku ingat kalau cartridge yang warna sudah aku lepas dari printernya, ‘ah… palingan nggak kepake juga’ pikirku kala itu. Aku bopong tuh printer ya, keliling-keliling mall kayak orang bingung bawa-bawa printer yang lumayan bikin pegel. Ketemulah sama sebuah toko servis yang katanya bisa modif jadi infus. Tapi kata mereka cartridge nya harus lengkap yang hitam sama yang warna. ‘Allahu robbi… kenapa tadi nggak dibawa aja ya” kataku dalam hati. Kalau beli baru berapa mas? aku sok-sokan nanya. Harganya lumayan dong, 135 rebu. Biaya modifnya 350k, kalau beli baru semua cartridge nya berarti 270k. Jadi kalau ditotal semua jadinya 620k. Padahal harga printernya aja 550k. Apa-apaan coba…. eeeergggghhhhh. Ngapain sih sok ide banget langsung bawa printernya, kenapa nggak survey harga dulu, kenapa nggak nanya-nanya orang dulu, atau seenggaknya browsing gitu di internet. Akhirnya ku bawa balik tuh printer ke kampus. Sesampainya di kampus aku bingung mau naro tuh printer dimana. Seketika terlintas sekre KAMIL di Masjid Salman ITB, nanti pulang ngelab aku ambil lagi. Eh… udah jauh-jauh jalan ke sekre, ternyata di dalemnya lagi ada rapat. Jadilah aku bawa lagi tuh printer yang beratnya lumayan. Karena haus, aku beli thai tea, eh… pas minta plastic, ternyata plastiknya abis. Bener-bener bikin emosi memuncak nih mas-masnya. Dia nggak liat apa, aku bawa apaan… ya kali bawa printer sampel megang cup besar thai tea tanpa plastic. Emang sekate-kate nih masnya. Aku mencoba untuk menahan emosi. Aku memutar otak dan akhirnya aku taroh tuh cup thai tea di tempat botol di tas ranselku. Terus printernya aku titipin di tempat penitipan helm di parkirn resmi kampus. Akhirnya aku terbebas dari gotong-gotong printer. Benar-benar hari yang sangat melelahkan dan mengesalkan, buah dari kepayahanku dalam bertindak tanpa berpikir panjang.

Hikmah dari kejadian-kejadian ini adalah berpikirlah sejenak sebelum bertidak, buat analisis-analisis kecil akan tindakan yang akan dilakukan, perbanyak membaca dan bertanya pada orang lain yang lebih berpengalaman. Awalnya aku merasa sangat payah dan konyol mengalami kejadian-kejadian ini tetapi setelah ku tulis kembali, aku merasa terkadang manusia harus melalu tahapan-tahapan payah dan konyol untuk menjadi lebih mawas diri dan dewasa. Tak apalah mengalami hal-hal payah dan konyol, yang terpenting dari semua itu adalah kita bisa mengambil pelajaran dari setiap kejadian yang telah terjadi dalam kehidupan. Karena hidup memang tempatnya belajar bukan?

3 thoughts on “Resiko Bertindak Tanpa Berpikir

  1. Aku terkekeh berkali-kali bacanya hhehe. Tapi aku suka sikap mba, mba bisa menertawakan sikap konyol mba atau setidaknya berani dituliskan. Kalah aku malah kesel sama diri sendiri 😂

    • hahaha… pas ngalaminnya kesel sih tapi pas diinget inget kok rada kocak, sayang aja kalau cuma diinget doang tapi nggak ditulis, siapa tau bisa jadi ladang pahala karena bikin org ketawa wkwkw

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s