Menghargai Pemberian

Give, Donate, Charity

Tulisan ini ditulis ketika diriku berada di lab memperhatikan orang berlalu lalang dengan kesibukan mereka masing-masing. Sedangkan diriku? Hanya duduk berdiam diri memperhatikan mereka satu per satu sambil menyibukkan diri di depan laptop. Benci sekali rasanya tidak mengerjakan apa-apa, sedangkan yang lain terlihat sibuk atau mungkin menyibukkan diri. Ku pasang headset, buka laptop, cari jurnal, baca sekilas, lantas kembali bingung mau ngapain lagi. Akhirnya ku putuskan untuk menulis agar ada setidaknya satu karya yang ku hasilkan hari ini. Agar aku bisa tau bahwa aku pernah mengalami masa ini, masa-masa galau dan bingung mau dibawa kemana kiranya penelitian ini. Aku percaya semua ini akan ada ujungnya, jalani saja dulu, yakinlah akan selesai kemudian. Mau cerita apa ya? Oya kan udah ada judulnya tuh, pastinya udah kebayang dong mau cerita apaan. Iya sih, iseng aja nanya biar keliatan komunikatif gitu wkwkwk.

            Jadi gini ceritanya. Suatu hari seorang teman sejurusanku yang juga teman kosanku, yang kamarnya sebelah kamarku, memberikan sebuah kabar gembira.

“Mau nonton bioskop gratis nggak? Aku punya 8 tiket gratis nih buat nonton film X di semua bioskop di Bandung di hari kamis besok” katanya mengabariku lewat whatsapp.

“seriusan nih? maooooo” jawabku tanpa berpikir panjang.

“tapi belinya lewat aplikasi TIX ID, mbak punya aplikasi itu kan?” tanyanya.

“iya masih tapi harus top up dulu” jawabku.

“oke, nanti pesen tiketnya 8 ya” katanya.

“banyak banget, emang mau ngajakin siapa aja?” tanyaku.

“ngajak orang mah gampang kalau gratisan” jawabnya.

“iya juga sih” jawabku mengiyakan.

            Jadilah kami berdua membeli banyak tiket, tidak hanya 8 tetapi hingga berpuluh puluh tiket, totalnya ada 68 tiket (kalau tidak salah hitung) dan semuanya gratis. Banyak respon orang-orang yang kami temukan ketika membagi-bagikan tiket ini, ada yang senang bukan main, berterimakasih tak henti-henti, dan diikuti rasa penasaran dari mana gerangan tiket gratis ini karena sungguh tidak mungkin aku dan temanku yang notabene masih mahasiswa ini membagi-bagikan tiket nonton bioskop yang tidaklah murah. Ada juga yang nerima aja tanpa babibu ingin tahu ini itu, cukuplah bagi mereka tiket gratis itu, golongan ini adalah golongan modis (modal diskon). Ada golongan yang agak jual mahal padahal sebenernya ingin dan ada pula yang menulis list nama tapi ternyata tidak hadir ketika pemutaran filmnya berlangsung, golongan terakhir inilah yang sedikit banyak akan aku bahas dalam tulisan ini.

            Golongan yang terakhir itu -golongan yang ingin tapi sebenarnya tak ingin- memberiku banyak pelajaran tentang pentingnya menghargai sebuah pemberian. Jujur, aku sedikit kecewa dengan sikap mereka, kalau tidak salah hitung ada 3 tiket gratis sia-sia yang dibeli tanpa ada si empunya tiket pas filmnya diputar. Aku sayang aja gitu ya, walaupun toh tiket itu gratis, tolonglah dihargai. Ada sedikit goresan kekecewaan yang walaupun tak aku tampakkan tapi aku rasakan, rasanya cekit-cekit. Rada aneh sih ya, padahal aku lo nggak keluar uang sepeser pun, nggak rugi serupiah pun, lantas apa sih yang ngebuat aku sampe sebegitu kecewanya. Nggak tau ya, kecewa aja gitu ya. Pas lagi mau mulai nonton, mbak di sebelahku yang juga tau sebab akibat tiket itu terbuang sia-sia hanya bisa berbisik,

“nggak papa, seenggaknya kamu belajar sesuatu dari peristiwa ini”

“iya mbak, makasih ya” jawabku.

            Pulang dari bioskop aku benar-benar tidak bisa menahan emosi, aku benar-benar nangis di atas motor. Air mata bercampur dengan rintikan air hujan yang turun ikut membaur. Aku jadi mengingat banyak hal dan satu yang benar-benar aku tangisi kala itu adalah aku sangat merasa bersalah pada Allah yang selama ini memberikan segalanya kepadaku, mencukupi kebutuhanku, menghidupkanku, menyehatkanku, mambahagiakanku, dan memberikan semuanya tanpa aku minta. Lantas sikapku? Sangatlah congkak, sama sekali tak pernah sungguh-sungguh berterimakasih atas semua pemberianNya. Kalau aku saja yang sebegitu kecewanya hanya karena tidak hadirnya temanku atas tiket gratis yang ku berikan -yang notabene aku tak mengeluarkan uang sepeserpun-, lantas bagaimana dengan Allah yang telah memberikan segalanya padaku? Ayo introspeksi diri. Rasa minim syukurku bisa dilihat dari minimnya ibadah yang ku lakukan, sholat yang ditunda-tunda, sedekah yang dinanti-nanti, puasa sunnah yang sangat jarang sekali, lantas kecewamu sungguh tak beralasan jika dibandingkan dengan semua yang ku lakukan selama ini.

            Ya Allah, ampuni hamba yang sungguh benar-benar telah melampui batas. Terimakasih atas pengingat yang engkau berikan bahwa sesungguhnya selama ini hamba begitu jauh dari rasa syukur dan penghargaan atas pemberianmu yang sungguh sangat berharga, kesehatan, keluarga, teman-teman, guru-guru, dan segalanya yang berada di sekitar hamba. Terkadang menghargai sebuah pemberian bukan hanya untuk menyenangkan orang yang memberikannya tetapi juga mehindari kekecewaan yang mungkin akan orang tersebut rasakan jikalau kita menolaknya. Terimakasih teman sudah tidak datang setidaknya dari kamu aku banyak belajar bahwa menghargai pemberian adalah sebuah keharusan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s