Probabilitas yang Sama

download.jpgAlhamdulillah magang di Jakarta Pusat telah usai. Terhitung sangat singkat ketika diingat-ingat tapi terasa begitu lambat ketika dijalani. Jujur, aku suka sekali magang di tempatku magang tetapi sangat tidak suka Jakarta dengan semua hingar bingar yang ditawarkannya. Nggak tau kenapa ya, aku merasa sangat tidak betah. Banyak sekali pelajaran yang kudapatkan selama di magang di Jakpus, mulai dari metode penelitian yang menjadi terang benderang hingga pelajaran hidup yang bisa diambil hikmahnya. Kali ini aku akan bercerita tentang sebuah kisah yang ku alami di tempat magang yang terhitung sangat singkat itu, yaitu hanya 5 hari. Ada sebuah kisah yang sepertinya sangat menarik untuk aku bagi, sembari menunggu aku lelah hingga mudah tertidur malam ini. Sudah terhitung dua hari aku susah sekali tidur cepat di malam hari. Daripada maksain tidur tapi sebenernya nggak bisa bisa, mending nulis dulu biar capek terus langsung bisa tidur.

            Lembaga penelitian tempatku magang bergerak di bidang biologi molekuler. Aku kurang tau pasti ada berapa lab yang ada di sana, tetapi yang pasti ada beberapa lab yang menerima jasa diagnosa untuk mendeteksi penyakit kelainan genetik. Kebetulan lab yang aku tempati mendiagnosa kelainan pada tingkat kromosom. Salah satu penyakit kelainan genetik yang ku ketahui dipelajari di Lembaga penelitian ini adalah thallasemia. Thallasemia adalah penyakit kelainan genetik yang terjadi pada hemoglobin darah. Hemoglobin merupakan komponen dalam darah yang berfungsi untuk membawa oksigen ke seluruh bagian tubuh. Seseorang yang mengalami thallasemia akan mengalami kekurangan oksigen pada tubuhnya karena hemoglobinnya mengalami kelainan atau mutasi, Nah, apa dampaknya? Orang yang mengidap thallasemia akan mudah lelah, mengalami penyakit kuning, kegagalan jantung, bahkan kematian. Thallasemia dibagi menjadi dua jenis, minor dan mayor. Seseorang yang mengalami thallasemia mayor harus selalu waspada dengan kondisi hemoglobin dalam darahnya dan harus melakukan transfusi darah tiap bulan. Alhamdulillahnya, thallasemia telah menjadi perhatian pemerintah sehingga transfusi darah bagi penderita thallasemia tidak dipungut biaya alias gratis. Sedangkan penderita thallasemia minor biasanya tidak perlu pengobatan khusus, hanya akan mudah lelah saja. Setelah aku baca dari beberapa sumber, menurut WHO Indonesia adalah negara dengan persentase penderita thallasemia tertinggi di dunia. Aku terkaget kaget dan terheran heran membacanya, dari sini aku baru menyadari pentingnya Lembaga biologi molekuler di Indonesia.

            Para penderita thallasemia biasanya kurang bisa diterima untuk dijadikan pekerja karena kondisi fisik mereka yang lemah, mudah lelah, dan pemeriksaan rutin yang perlu mereka lakukan yang tentunya kurang menguntungkan bagi perusahaan yang menjujung tinggi produktivitas para pegawainya. Kalaupun mereka telah lulus seleksi tes, kemungkinan besar mereka akan gugur di tes medical check up yang sudah umum dilakukan oleh perusahaan. Nah, di sinilah letak kekagumanku pada tempat magangku ini karena ternyata ada beberapa orang pengidap thallasemia yang sengaja dipekerjakan di sini. Aku seringkali bertemu mereka ketika mereka memberikan file terkait data pasien ke ruangan tempatku magang. Bahkan, salah satu mbak ini sangat akrab dengan para peneliti di ruanganku. Ketika aku sedang menunggu waktu pulang, ku sempatkan duduk di lobi kantor. Ku perhatikan pintu otomatis yang dilewati oleh orang-orang, salah satunya mbak pengidap thallasemia yang sering berkunjung ke ruanganku itu. Si mbaknya terlihat ke luar kantor dengan membawa file, terus berjalan memunggungiku. Tak tau kenapa aku merasa tertarik memperhatikan mbaknya, beliau terlihat berjalan sambil menyeret salah satu kakinya. Mungkin sakit atau keseleo pikirku kala itu. Setelah siap pulang, ku putuskan segera memesan ojek online dan pulang. Aku berniat untuk berangkat pagi keesokan harinya karena ada metode yang akan diajarkan padaku.

            Benar saja, aku berangkat pagi-pagi sekali. Sampai di kantor baru jam 7.00, benar-benar sangat pagi. Baru ada beberapa pegawai. Bahkan lab tempatku magang belum dibuka. Ku lihat seorang mbak peneliti di lab ku yang sepertinya akan membukakan lab sambil ngobrol sama pak sekuriti. Tapi, ada yang aneh di sana. Si mbaknya ngobrol sambil nangis dengan air mata yang masih banyak menggenang di matanya. Aku melangkahkan kaki untuk mendekat dan ingin tahu hal apa yang sedang terjadi. Setelah ku dengarkan sejenak percakapan mereka barulah aku mengerti. Ternyata ada pegawai yang meninggal dan beliau adalah mbak pengidap thallasemia yang hari sebelumnya aku perhatikan cara jalannya itu. Iya, beliau meninggal, tergolong sangat mendadak. Si mbaknya memang terlihat berbeda, lemes dan kurang bersemangat hari kemarin menurut para pegawai di sana. Padahal beliau dikenal sebagai sosok yang ceria dan suka berinteraksi dengan para pegawai yang lain. Ketika ditanyakan terkait kadar hemoglobinnya, beliau bilangnya sudah periksa dan kadarnya normal.

            Aku kaget bukan main. Si mbaknya yang kemarin masih sehat-sehat saja, keesokan harinya telah mengahadap sang pencipta. Benar-benar umur tak ada yang tahu. Semua pegawai di tempatku magang merasa sangat kehilangan karena kematian si mbaknya, merasa belum percaya, dan benar-benar tak menyangka. Si mbaknya terkenal dengan kinerjanya yang sangat baik, rajin, dan suka menolong rekan kerjanya. Benar-benar sosok yang baik hati dan suka menolong orang lain katanya. Menurut informasi, beliau ini adalah pegawai ketiga pengidap thallasemua yang meninggal. Bagian administrasi di tempatku magang memang sengaja menempatkan para penderita thallasemia, maka pengganti si mbaknya juga harus penderita thallasemia. Ketika sedang mengobrol tentang kematian si mbaknya, salah seorang pegawai di lab ku berkata,

“Temennya dia yang sama-sama punya thallasemia ngerasa was was nggak ya? Ngerasa kematian begitu dekat dengan mereka” Katanya.

            Aku dalam hati menjawab, “Mbak, jangan salah lo, kita semua yang sehat ini juga punya probabilitas yang sama untuk meninggal”

            Iya kan? Setiap orang yang hidup harus menerima kenyataan bahwa kematian adalah sebuah kewajiban. Jadi, kematian itu tidak hanya perlu dikhawatirkan oleh orang yang punya penyakit saja tetapi juga oleh semua orang yang bernyawa. Justru menurutku, orang yang tahu bahwa dirinya sakit semacam ‘diuntungkan’ untuk senantiasa mengingat mati sehingga senantiasa meningkatkan ibadah untuk memperbanyak bekal untuk kembali kepadaNya. Nah, kita-kita yang sehat ini yang selalu merasa ‘aman’ dari kematian akan cenderung melalaikan ibadah karena merasa kematian sangatlah jauuuh. Padahal kita mempunyai probabilitas yang sama untuk meninggal.

9 thoughts on “Probabilitas yang Sama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s