Dimana Letak Keadilan?

inilah-macam-macam-jenis-keadilan-menurut-para-ahliMasih tentang kehidupan di Jakarta. Selama tinggal di Jakarta, aku banyak melihat ketidakadilan meraja lela. Di satu sisi aku melihat orang yang begitu nyaman tinggal di gedung megah, sejuk berAC, dan makanan melimpah ruah. Tapi, di sisi lain, aku melihat orang yang merasa cukup hanya dengan tinggal di gerobak dengan anak-anaknya yang banyak.  Lalu aku bertanya, dimana letak keadilan?

            Selama tinggal di Jakarta, aku ngekos di sebuah kosan tak terlalu jauh dari tempatku magang. Kamarku berada di posisi paling depan sehingga sangat dekat dengan gerbang kosan. Di depan gerbang kosan, di seberang jalan gang lebih tepatnya, ada tempat sampah yang biasa digunakan oleh pada penghuni kosan untuk membuang sampah harian. Entah karena terlalu tertutup atau gimana, ketika ku masuk ke dalam kamar kosan maka secara otomatis sinyal internet di HPku akan hilang. Sebagai generasi milenial yang tidak bisa lepas dari gadget terutama HP, kondisi ini menjadi salah satu penyebab makin minusnya kosan ini di mataku. Oleh karena itu, mau tak mau ku harus rela nongkrong di depan gerbang untuk mengembalikan sinyal di HPku. Berasa hidup di gunung bukan di Jakarta, masa masalah sinyal aja pake harus nongkrong depan gerbang kosan. Astaghfirullah, terlalu banyak mengeluhnya saya. Jadilah setiap pulang dari magang, bisa dipastikan ku akan nongkrong di depan gerbang sampai waktu yang tak bisa ditentukan. Sampe sebosennya aja, jadinya lama banget sih soalnya kalau main HP tuh nggak ada bosennya. Kejadian nongkrong ini tentunya bukan kebetulan sih, pasti ada maksud di baliknya dan beneran dong.

            Suatu malam, entah malam ke berapa, ku nongkrong di depan gerbang kosan buat nyari jodoh sinyal. Malam itu hujan, aku bersyukur sudah sampai di kosan sebelum hujan turun. Tak lama nongkrong di gerbang kosan, ada suara yang mengusikku. Ku dongakkan wajah dan tertujulah pada seorang bapak-bapak yang sedang ngorek-ngorek sampah sambil membawa sepeda. Wajahnya terlihat sumringah ketika melihat keberadaanku. Ya Allah, hamba sedih melihat bapak itu, lalu dimanakah letak keadilan? Di saat manusia yang lain mempunyai banyak pilihan untuk bersantai di rumahnya untuk menghindari hujan, bapak itu justru terkena hujan sambil mencari barang sisa di tumpukan sampah. Di malam yang lain ku kembali melihat seorang bapak yang juga sedang mengorek sampah di tempat sampah seberang kosan. Kali ini bapaknya berbeda dari sebelumnya, tidak memakai sepeda tetapi berjalan. Mebawa plastik besar di kedua tangannya. Ketika selesai mengambil barang yang diinginkan, bapaknya pun berjalan. Barulah ku lihat sesuatu yang membuatku makin mempertanyakan dimana letak keadilan. Ternyata si bapak (mohon maaf) cacat dari lahir. Bentuk tangan dan kakinya tidak sempurna. Tangannya bengkok sehingga tidak bisa membawa beban berat, sedangkan kaki beliau juga bengkok sehingga cara berjalannya lambat dan membuat badannya bergoyang seluruhnya ketika berjalan. Ya Allah… Bahkan orang cacat pun di Jakarta ini harus mencari nafkah. Saya pribadi sangat mengapresiasi si bapak karena tidak memanfaatkan kekurangan pada badannya untuk meminta belas kasihan orang lain. Tapi, pertanyaan dalam diri kembali hadir. Jadi, sebenarnya dimana letak keadilan? Bapak itu tidak pernah meminta untuk dilahirkan cacat. Kalau boleh memilih, mungkin beliau ingin terlahir normal, hidup normal, menikah, dan mencari nafkah yang halal untuk keluarganya.

            Kemudian tadi malam aku benar-benar terharu dan menangis tanpa bisa dibendung. Diawali oleh kiriman video dari seorang teman tentang seorang anak bernama Yuda yang marawat bapaknya yang sedang sakit kanker otak seorang diri. Bayangin dong, Yuda yang masih umur 12 tahun harus merawat ayahnya yang sakitnya bukan sakit sembarangan, sakit kanker otak. Selama menjalani perawatan di rumah sakit Hasan Sadikin Bandung, Yuda dan ayahnya tinggal di rumah teduh sahabat iin Bandung. Hal yang membuatku makin sedih, ayah Yuda mengalami kejang-kejang tengah malam. Yuda tidak enak membangunkan petugas rumah teduh di tengah malam, dia hanya bisa menunggui ayahnya sambil memijat ayahnya yang sedang kejang sampai adzan subuh berkumandang. Setelah itu barulah ayah Yuda dirujuk ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan. Betapa tak teriris hati ini mendengar cerita Yuda, terlebih ayah Yuda yang harus menahan rasa sakit berjam jam. Aku aja sakit kepala biasa sampe nelpon orang rumah dan nangis sesenggukan, gimana ayah Yuda yang harus nahan sakit kanker sampai kejang-kejang. Yuda pun tak bisa istirahat hingga pagi karena dia nungguin ayahnya sampe dapet penanganan dokter. Anak sekecil itu bebannya bisa seberat itu, di saat teman sebayanya masih sibuk bermain. Lantas dimana letak keadilan?

            Tak berhenti sampai di situ, kisah Yuda akhirnya viral dan membuatnya diundang di hitam putih. Ketika diwawancarai, tak henti-hentinya Yuda mengeluarkan air mata sehingga beberapa kali pernyataan yang harusnya Yuda keluarkan digantikan oleh host hitam putih. Kala itu yang diundang ke sana bukan hanya Yuda tetapi juga pemilik Yayasan sosial rumah teduh sahabat iin yang bernama lengkap Iraningsih. Beliau sungguh sangat baik menurutku. Bagaimana tidak, di saat yang lain berlomba-lomba membangun properti pribadi atau kos-kosan untuk mendapatka passive income, beliau malah mendirikan rumah teduh sahabat iin. Rumah teduh ini adalah rumah singgah yang dapat digunakan oleh para pasien dan keluarganya ketika melakukan pengobatan atas penyakit yang mereka derita. Rumah teduh ini tentunya sangat bermanfaat bagi para pasien dengan tingkat ekonomi pas pasan. Sudah menjadi rahasia umum kalau penyakit kanker membutuhkan pengobatan yang bertahap dan panjang sehingga akomodasi menjadi hal utama yang harus dipikirkan dan tentunya juga membutuhkan biaya mahal. Sebagian besar yang tinggal di rumah teduh itu adalah orang-orang dengan penghasilan minim dan bahkan harus meninggalkan pekerjaan serta keluarga mereka di kampung halaman. Rumah teduh ini tidak hanya menfasilitasi akomodasi tetapi juga transportasi dan administrasi rumah sakit yang terkenal ribet dan tidak bersahabat bagi orang yang tak beruang. Sungguh mulia pendiri, pengurus, pengelola, dan donatur rumah teduh ini. Hati mereka benar-benar lembut sehingga terketuk untuk menolong orang-orang yang benar-benar membutuhkan. Rumah teduh sahabat Iin sudah dibuka yang ke-12 kalau tidak salah, masyaAllah.

            Setelah ku dapatkan sekilas informasi tentang rumah teduh sahabat IIn ini, akhirnya ku putuskan untuk melihat lebih jauh ke akun Instagram mereka yaitu @rumah_teduh_sahabat_iin. Mulailah ku scroll dari atas ke bawah. Ternyata kisah Yuda hanyalah satu dari sekian ratus kisah pasien penderita kanker yang ada di rumah teduh ini. Berbagai macam jenis kanker diderita oleh pasien di sana, mulai dari kanker gertah bening, kanker darah, kanker tulang, kaker mata, kanker otak, dan bahkan kanker yang telah menyebar ke berbagai organ tubuh. Melihat kisah mereka membuatku semakin menyadari betapa kurang bersyukurnya diriku selama ini atas nikmat sehat yang diberi tanpa harus meminta. Permasalahan yang mereka hadapi tidak hanya menahan rasa sakit karena terkena kanker tetapi juga permasalah hidup terkait perekonomian keluarga yang tentunya tak kalah memberikan beban berat pula. Sebagian atau mungkin seluruh pasien yang ada di sana berasal dari keluarga yang kekurangan dari hal ekonomi. Dari sini aku kembali bertanya, dimana letak keadilan? Ketika di saat yang sama, ada orang yang ditimpa musibah bertubi tubi mulai dari penyakit hingga masalah ekonomi yang sangat sulit, tetapi di sisi yang lain ada orang-orang yang sehat wal afiat dengan perekonomian yang terus menggeliat. Dimana letak keadilan ketika di satu sisi ada yang diberi kesakitan dan kesulitan di saat yang bersamaan, sedangkan di sisi lain ada yang dianugerahi kesehatan dan kemudahan dalam hidup.

            Setelah merenungkannya sejenak, akhirnya ku menemukan muara atas semua pertanyaan yang terus terngiang, sebenarnya dimanakan letak keadilan? Iya dimana? Kalau menurutku, letaknya di akhirat. Kehidupan yang abadi setelah kematian. Dari perenungan di atas, maka tak ada alasan untuk tak mengimani adanya akhirat. Seandainya tidak ada akhirat, maka dunia ini menjadi tempat atas berjalannya praktek ketidakadilan. Bagaimana tidak? Dari kisah-kisah di atas, tidak adanya akhirat akan membuat orang-orang yang terkena penyakit dan berbagai kesulitan hidup akan merasa Allah sungguh tak adil akan hidup yang mereka jalani. Apa bedanya mereka dengan manusia yang lain, kenapa harus mereka yang terkena penyakit dan kesulitan hidup semacam itu, kenapa yang lain tidak?

Oleh karena itu, kita semua perlu sadar bahwa akan selalu ada konsekuensi atas segala hal yang terjadi pada diri kita. Jadi, tak perlu berlampau bersedih bagi yang sedang mengalami kesusahan dan tak perlu terlampau bahagia bagi yang dianugerahi kemudahan dalam hidupnya, karena semua ada konsekuensinya. Seringkali, setiap pulang ke kosan, tidur di kamar yang enak, berselimutkan selimut yang hangat, makan tanpa harus membanting tulang terlalu keras, tiba-tiba timbullah pertanyaan dalam diri. Apa bedanya aku dengan mereka yang hidup di jalanan, tak punya rumah, tak punya selimut, kepanasan, digigit nyamuk, makan kalau ada. Kami sama-sama manusia, lantas apa bedanya? Maka pada saat yang bersamaan, hatiku akan berbisik, akan ada konsekuensi yang harus kamu pertanggungjawabkan atas semua kenyamanan, kemudahanm dan kenikmatan yang kamu rasakan. Pun demikian akan ada pula konsekuensi atau balasan yang akan mereka dapatkan atas penyakit, kesulitan, kesusahan, dan kesedihan yang mereka rasakan ketika di dunia ini. Menulis seperti ini membuatku merasa bahwa dunia ini hanya panggung sandiwara belaka, tempat bersinggah sementara, tempat dimana keadilan banyak dipertanyakan, menuju akhirat dimana jawaban tentang dimana letak keadilan akan terjawabkan tanpa perlu dipertanyakan.

One thought on “Dimana Letak Keadilan?

  1. Ini saya ada pertanyaan penting, Pradita. Tentang letak keadilan sejati ada di akhirat itu, bagaimana dengan sila ke-5 dari Pancasila itu? Apakah perwujudan sila ke-5 itu ada di akhirat, ataukah kita akan melihatnya di Indonesia?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s