Kemantapan Berkomitmen

745            Pulang ketika menjelang lebaran artinya bersiap untuk mendatangi banyak kondangan. Syawal halal istilah bekennya. Hampir setiap hari ketika bulan syawal menghadiri kondangan nikahan menjadi rutinitas harian. Ada dua teman dekatku yang telah menikah dan akan menikah di bulan Syawal ini. Sepupu yang umurnya jauh lebih muda dariku, beberapa hari yang lalu telah menggenapkan separuh agamanya. Alhamdulillah wa syukurillah. Beberapa adik kelas yang merupakan tetanggaku juga akan melangsungkan pernikahan. Para orang tua mereka ku lihat mendatangi ibuku untuk mengundang secara langsung. Undangan seperti ini jauh lebih dihargai di desa tempatku tinggal daripada diundang menggunakan kertas undangan. Sedikit tidak efektif dan efisien sih tapi rasa penghargaan yang timbul berkat undangan langsung inilah yang mungkin tak bisa dibayarkan dengan apapun. Ponakan sepupuku juga kemarin telah melangsungkan pernikahan tapi karena hanya mengundang menggunakan kertas ke rumah, maka orang rumah sedikit tidak respect terhadap undangan yang mereka berikan. Jadilah mereka datang dan memberikan sumbangan seadanya. Sebegitu rumitnya hubungan silaturrahim di desa tapi mau tidak mau aku harus mulai mempelajarinya karena dimana kaki dipijak di situ langit dijunjung.

            Tetangga yang rumahnya paling dekat dengan rumah orang tuaku, beberapa hari lagi anaknya akan melangsungkan pernikahan. Aku agak sedikit terkejut dengan kabar ini karena masih sangat segar di ingatan, si adek ini dulu masih sangat kecil. Mungkin umurnya berbeda 10 tahun dengan umurku. Masih sangat muda untuk memegang sebuah komitmen seberat pernikahan menurut kacamataku. Aku selalu bertanya-tanya, rasa siap seperti apakah yang membuat seseorang berani untuk melangkah ke jenjang pernikahan? Karena menurutku, menikah itu berat, komitmennya harus kuat, dan masalah besar siap mengahadap. Walaupun tak dapat dipungkiri, rasa bahagianya pun tak bisa dibayangkan hanya dengan melihat harus langsung terlibat agar tak hanya bermain dengan persepsi yang datang sekelebat. Ketika si adek ini bertamu ke rumahku untuk bersalaman dengan membawa calon istrinya, terlihat jelas rona bahagia yang tak bisa disembunyikan dari wajah mereka berdua. Aku melihat mereka telah mantap untuk berkomitmen mambangun rumah tangga bersama. Bahagia sekali melihat pasangan yang sebentar lagi akan berstatus pasangan halal.

            Ada lagi seorang teman mainku dulu yang akan menikah sebentar lagi. Umurnya jauh lebih muda dariku. Aku ini hampir menjadi kakak perempuannya, tapi nggak jadi, kok bisa gitu? Iya… Soalnya aku hampir diangkat jadi anak sama ibunya dia. Ibunya dia tuh pengen banget punya anak perempuan soalnya dua anaknya laki-laki semua. Kebetulan ibuku lahir anak kembar perempuan dan semua anak ibuku perempuan. Tapi, tak berapa lama kemudian ibu temanku ini hamil si adik yang ku ceritakan ini dan laki-laki lagi. Jadinya aku dibalikin lagi ke ibuku. Begitu katanya ceritanya. Aku sendiri pun tak ingat detail kejadiannya. Si adik ini sekarang sudah besar, mandiri, dan sudah punya pekerjaan tetap. Nah parameter yang terakhirlah yang menguatkan para pemuda di desaku untuk mantap berkomitmen.

Ketika bercerita tentang tunangannya pada kami, si adik itu bercerita dengan ringannya dan begitu bahagianya. Aku yang memperhatikannya sedikit kagum saja dengan kemantapan komitmen yang dia tunjukkan. Sebenarnya bukan mereka yang terlalu muda tapi akunya yang sedikit terlambat untuk meyakinkan diri bahwa membangun komitmen pernikahan itu tidak semenakutkan dan serumit yang aku pikirkan. Make it simple and easy, karena apa yang kita prasangkakan maka itulah yang akan terjadi. Ya Allah… kenapa aku harus punya pemikiran serumit ini? Karena menurutku menikah itu bukan hal sederhana dan bisa dianggap sepele. Menikah itu awal mula kebahagiaan dan kesengsaraan yang akan kita jalani kedepannya, jadi nggak bisa asal gambling untuk memulainya. Tuh kan mulai rumit lagi wkwkwk. Intinya mah, kalau ada yang ngajakin berkomitmen menuju pernikahan, hayuk aja lah bang, asal visi dan misinya jelas mau ngapain ke depannya. Visi misi yang tak hanya sebatas urusan dunia tetapi harus tawazun (seimbang), dunia dan akhirat. Kalau memang mau berat ke salah satunya, aku akan pilih berat ke akhiratnya saja karena di sana kehidupan lebih abadi sedangkan dunia hanya tempat singgah semata. Maafkan tulisan yang asal ini karena bingung mau ngapain di waktu siang yang senggang wkwkwk.

Imam Lelangan

islam-clipart-sholat-9Berhubung suasana Ramadhan masih hangat-hangatnya di ingatan. Ingin rasanya sedikit mengenang momennya dalam bentuk tulisan. Sayang rasanya kalau hanya melayang di angan-angan. Mending aku bagikan, kan lumayan buat nambah-nambah postingan wkwkwk. Ramadhan memang selalu memberikan kenangan manis di ingatan. Entah sudah berapa kali berangan-angan, kenapa 11 bulan lainnya tidak seperti Ramadhan yang penuh dengan hingar bingar ibadah dan jajanan menggiurkan. Justru di sanalah letak keistimewaannya kawan, menjadi spesial karena jarang dan hanya sekali setahun sehingga sangat dinantikan. Ramadhan kali ini menjadi sangat indah untuk dikenang karena dilalui dengan melakukan tarling (tarawih keliling) bersama kawan-kawan.

            Ramadhan tahun ini adalah Ramadhan keduaku di Bandung. Tapi tahun ini agak sedikit berbeda karena proporsi Ramadhan kali ini aku lebih banyak di Bandung daripada di kampung halaman. Sedangkan tahun sebelumnya banyak ku lalui di rumah dibandingkan di Bandung. Ngapain lama-lama di bandung? Ya banyaklah, penelitian, kajian, dan mangkir dari rutinitas di rumah yang pasti bakalan banyak kerjaan menuju lebaran wkwkwk (yang terakhir jangan bilang sapa-sapa ya hahaha). Sehari sebelum Ramadhan, aku main badminton bersama teman-teman satu fakultas. Sungguh sangat menyenangkan karena ada adik kelas yang mau aku comblangin xixixi. Aku sengaja mempertemukan mereka berdua tanpa sepengetahuan mereka, seru banget kan. Semoga berjodoh ya mereka biar aku bisa membangun paviliun di surga, aaamiiin. Bact to the main topic, setelah main badminton tiba-tiba ada seorang teman yang ngajakin buat tarling, benar-benar dadakan dan tanpa babibu langsung aku iyakan. Soalnya aku pengen punya pengalaman tarling, kan nggak ada yang tau Ramadhan tahun depan masih dikasih umur panjang atau tidak. Nanti aku mau upload juga video kompilasi foto yang aku ambil selama melakukan tarling. Semoga sinyalnya mendukung ya soalnya aku lagi di kampung, rada-rada susah sinyal di sini.

            Salah satu pengalaman tarling unik yang mau ceritakan kali ini adalah tarawih di masjid Al-Imtizaj. Masjid Al-Imtizaj adalah masjid yang arsitektur bangunannya sangat unik, mirip klenteng, ala-ala tionghoa gitu. Setelah aku browsing tadi memang masjid ini sengaja dibangun pada tanggal 6 Agustus 2010 oleh Gubernur Jawa Barat untuk menfasilitasi orang-orang tionghoa muslim yang memang banyak berdagang di sekitar masjid ini. Masjid ini dibangun di bekas Gudang gedung perbelanjaan yang terbilang besar pada zamannya yang banyak orang tionghoa berdagang di sana. Nama Al-Imtizaj pun diambil karena mempunyai arti pembauran, harapannya bisa terjadi pembauran antara masyarakat tionghoa dengan masyarakat setempat dalam beribadah. Desain arsitekturnya yang unik membuat setiap orang yang melewati masjid ini ingin sekali berkungjung, termasuk diriku. Setiap melewati masjid ini ingin rasanya sholat di tempat ini tapi sebelum-sebelumnya belum ada kesempatan. Ketika ada tarling ini, makin semangatlah aku karena bisa ku pastikan masjid ini akan menjadi salah satu destinasi karena keunikannya.

            Aku awalnya tidak tau nama masjid ini, tapi ketika temanku yang notabene pemegang jadwal tarling memberitahu kalau hari itu akan tarawih di masjid tionghoa. Pikiranku langsung tertuju ke satu tempat, masjid Al-Imtizaj (yang tak ku ketahui Namanya sebelumnya). Semakin bersemangatlah aku dan teman sekosanku ketika sore tiba. Langsunglah kami berdua menaiki motor dan memecah jalanan Bandung yang memang selalu macet ketika sore apalagi di bulan Ramadhan. Ketika melihat nama masjid yang akan kami kunjungi, temanku langsung bilang padaku yang kala itu mengendarai motor kalau nama masjidnya masjid lautze. Kata temanku masjid lautze bukanlah masjid yang bentuknya seperti klenteng yang ingin sekali kami kunjungi. Tetapi memang masjid ini adalah pusat kegiatan islam masyarakat kong hu cu yang ada di Bandung. Bisa dibilang masjid lautze adalah Islamic centernya karena masjid ini memang sangat aktif melaksanakan kegiatan keislaman.

“Bukan masjid yang bentuknya klenteng itu ya qi?” tanyaku memastikan pada temanku yang Namanya Qiqi.

“Iya ternyata bukan, padahal aku pengen banget mbak” Jawabnya

“iya… Aku pengen banget juga” kataku lagi

            Jadilah kami berdua tetap melanjutkan perjalanan ke masjid Lautze walaupun sebenarnya ingin sekali ke masjid Al-Imtizaj. Tapi, berhubung teman-teman kami yang lain sudah di lokasi jadilah kami juga harus ke sana. Sesampainya di sana, ternyata sangat ramai dan para jamaah hingga ke emperan dan hampir ke jalan raya karena memang lokasi masjid lautze pas di pinggir jalan raya. Aku dan Qiqi bingung harus duduk dimana karena sebagian besar jamaah yang hadir adalah laki-laki. Kami pun tetap memberanikan diri ke arah pintu masuk masjid yang kemudian ditanyakan oleh seorang bapak-bapak,

“Mau kemana?” tanya seorang bapak-bapak

“Mau ke masjid” jawabku agak kebingungan. Lantas si bapak manggilin seorang kokoh-kokoh yang sepertinya adalah tetua masjid lautze.

“Oh… mau sholat ashar ya?” tanyanya

“Nggak, nggak, kami mau ikutan buka puasa. Kalau jamaah perempuannya dimana?” tanyaku. Si kokoh-kokoh kemudian mengarahkan kami untuk ke arah ruangan sebelahnya.

            Kami pun berjalan kea rah ruangan yang dimaksud. Ketika sampai di sana ternyata tempat yang beliau tunjuk adalah tempat penyimpanan makanan yang akan dibagikan pada jamaah yang akan buka puasa. Kami bertambah bingung, ditambah lagi ada seorang ibu-ibu yang tiba-tiba bertanya,

“Adek ini dari komunitas apa? Adek ini yang mau nganterin paket makanan bukan?” tanyanya

“Bukan bu, bukan. Kami hanya ingin ikut berbuka puasa” Jawabku gelagapan.

            Akhirnya karena kebingungan, kami putuskan untuk melanjutkan perjalanan saja ke masjid Al-Imtizaj yang memang jaranya tak terlalu jauh dari masjid Lautze. Benar-benar diijabah keinginan kami untuk mengunjungi masjid Al-Imtizaj. Mengungkapkan keinginan secara tulus apalagi di bulan Ramadhan benar-benar langsung dikabulkan oleh Allah. Jadilah kami berdua buka puasa di masjid Al-Imtizaj. Dua orang teman kami yang lain yang sudah terlanjur berada di masjid Lautze akhirnya memutuskan untuk menyusul kami ke masjid Al-Imtizaj setelah berbuka puasa di masjid Lautze. Kami pun tarawih di masjid Al-Imtizaj setelah makan berat di warung makan di seberangnya.

            Ketika Shalat isya telah dilaksanakan, mulailah tetua masjid memberikan ceramah sebelum memasuki shalat tarawih. Ada hal menarik yang tidak kami temukan di masjid-masjid sebelumnya yang kami kunjungi, apakah itu? Yaitu pemilihan imam shalat tarawih yang dilakukan dengan sistem lelang. Aku menyebutnya imam lelangan. Karena pemilihan imamnya secara sukarela, sang tetua memberikan kesempatan kepada para jamaah yang ingin mengajukan diri untuk menjadi imam. Kami pun sangat antusias mengikuti pemilihan imam ini, kami berharap ada salah satu dari teman kami yang mengajukan diri. Tetapi ternyata jauh panggang dari api, tak satu pun dari mereka berdua yang mengajukan diri. Ya sudahlah ya, memang berharap pada manusia sering berakhir dengan kekecewaan wkwkwk. Shalat tarawih di masjid ini sebanyak 11 rakaat, yang terdiri dari 4 rakaat pertama, 4 rakaat kedua, dan 3 rakaat witir sehingga ada tiga imam yang dibutuhkan dari para jamaah yang hadir. Tujuan dari imam lelangan ini adalah untuk mempererat tali silaturrahim antar para jamaah dan pengurus masjid, ini yang aku dengar dari pak tetua yang menyampaikan ceramah.

            Setelah pulang pun, topik tentang imam lelangan ini masih menjadi menu utama obrolan kami. Qiqi pun nyeletuk,

“Nanti kalau punya calon ajakin ke sini ah, mau lihat dia ngajuin diri jadi imam apa nggak. Kalau nggak ngajuin diri langsung dicoret” katanya berkelakar.

Iya sih, kan dites bisa jadi imam shalat apa nggak. Kalau nggak ngajuin diri tapi udah sayang gimana dong wkwkwk. Tapi kan nggak ngajuin diri bukan berarti nggak bisa jadi imam shalat, bisa aja si doi nggak mau riya wkwkwk (bisa aja lu ngelesnya Bambang). Benar-benar pengalaman yang menyenangkan dan tak kan terlupakan. Terimakasih ya Allah telah mempertemukan hamba dengan Ramadhan di tahun ini, semoga bisa berjumpa kembali dengan bulan yang sungguh mulia ini di tahun depan dan tentunya dengan pengalaman baru yang akan terus menempel di ingatan, aamiin.

Berikut aku sertakan beberapa foto yang aku ambil dari tempat sholat masjid Al-Imtizaj yang nuansa orientalnya sangat terasa. Diikuti dengan video kompilasi foto dari kagiatan tarling yang telag kami lakukan, happy watching. Ternyata nggak bisa upload video soalnya kalau worpress yang free harus diupgrade dulu. Yah,,, sayang sekali, jadinya upload foto masjidnya doang deh, nggak papa ya.

 

Antara Aku, Kamu, dan Lift

032912500_1449735789-20151210-Ilustrasi-LiftBerbaring hampir seharian di rumah rasanya bosan merajai tanpa bisa dipungkiri. Langkah menjadi sangat terbatas hingga terkadang ingin rasanya berlarian bebas. Tapi apa daya, jangankan berlari, menapakkan kaki saja rasanya nyeri. Syukuri… kapan lagi bisa memerintah itu dan ini tanpa dimarahi wkwkwk. Pas lagi di rumah gini rasanya pengen banget segera ke Bandung. Giliran lagi di Bandung, pengen segera pulang ke rumah. Manusia memang makhluk yang membingungkan, berhubung aku juga manusia, ya… aku juga membingungkan. Sebenarnya, tiga hari lagi aku dijadwalkan akan kembali ke Bandung. Tapi, berhubung kakiku belum pulih, sepertinya tiket keretaku, ku rencanakan akan ku batalkan. Baru rencana? Iya. Sampai tulisan ini dibuat pun, tiketnya belum ku batalkan karena aku masih berharap ada sebuah keajaiban yang datang dari Allah sehingga kakiku bisa sembuh sebelum tanggal keberangkatanku. Berharap tidak apa-apa kan? Lah iya, bukannya cuma harapan yang menguatkan para kaum jomblo seperti kita (lah apa seeh).

            Ngomongin masalah Bandung, aku mau cerita sebuah kisah yang lokasinya sangat spesifik sekali, iya di lift. Kisah apa? Asmara? Maunya sih gitu tapi sayangnya bukan. Horor? Apalagi ini, nggak sama sekali dan nggak mau juga ngalamin hal ginian. Baca aja sampe akhir ya, nanti kan bisa disimpulkan sendiri, termasuk jenis apa cerita yang akan aku kisahkan sebentar lagi ini. Pertama-tama akan aku ceritakan perihal lift yang merupakan tempat kejadian perkara. Lift yang ku maksud adalah lift yang ada di fakultasku. Gedung Laboratorium tempatku mengerjakan penelitian terletak di lantai 3 sedangkan Gedungnya sendiri ada 4 lantai sehingga keberadaan lift menjadi hal yang sangat dibutuhkan.

            Kejadian pertama terjadi ketika aku dan temanku terburu-buru ingin segera sampai di lantai 3 karena ada lab meeting bersama riset grup dosen pembimbingku. Ketika itu aku juga membawa sebuah proyektor yang akan digunakan untuk presentasi seluruh anggota grup sehingga mau tidak mau aku harus segera sampai di ruangan di lantai 3. Ketika memasuki lift, aku melihat seorang dosen sehingga aku menawarkan kepada beliau akan naik ke lantai berapa sedangkan aku sendiri sudah menekan tombol lantai 3. Percakapan yang terjadi kurang lebih sebagai berikut,

“Lantai berapa bu?” tanyaku dengan nada sopan

“Lantai 4 lah, kalau cuma lantai 2 atau 3 naik tangga aja, biar sehat” jawab beliau dengan nada sinis. Aku tidak siap dengan balasan jawaban semacam ini, sehingga ku jawab saja apa adanya.

“Iya bu, saya lantai 3, naik lift soalnya sedang buru-buru bu”

            Aku rada tidak terima sebenarnya soalnya kan lantai 3 juga termasuk tinggi kan, secara lantai maksimalnya kan lantai 4. Tapi lagi-lagi kan peraturannya ada 2, pertama dosen selalu benar, kedua, kalau dosen salah maka kembali ke peraturan pertama wkwkwk. Karena kejadian itu, mau tidak mau aku mencoba untuk berhati-hati ketika akan menaiki lift. Setelah aku menceritakan kejadian ini, usut punya usust ternyata dosen yang ku temui di lift itu memang suka mengomentari mahasiswa dengan nada sinis. Jadi, yang ku alami adalah hal biasa, biasa beliau lakukan pada banyak mahasiswa.

            Beberapa hari setelah kejadian tersebut, kembali naiklah aku menggunakan lift yang sama. Bedanya adalah aku dan temanku naik duluan sedangkan yang naik terakhir adalah seorang bapak-bapak pegawai yang selalu terlihat ramah dan tersenyum pada semua orang. Berkat keramahannya itulah, beliau menawarkan akan ke lantai berapa kepada kami,

“Lantai berapa?” tanya beliau sambil bersiap untuk menekan tombol di lift.

Aku pun langsung menjawab tanpa melihat beliau karena fokus pada HP yang ku pegang,

“Lantai 4 lah pak, soalnya kalau lantai 2 atau 3 katanya disuruh naik tangga aja” Aku menjawab menirukan kalimat ibu dosen yang kemarin sinis padaku. Sang bapak yang baik hati lantas menjawab sambil tersenyum,

“Saya turun di lantai 2, naik lift soalnya saya sedang sakit lutut” Jawab beliau sambil memegang lutut lantas keluar dari lift karena sudah sampai di lantai 2.

            Semua orang yang ada di lift membatu mendengar percakapan kami. Aku juga tidak menyangka akan terjadi hal bodoh semacam ini. Aku menjawab dengan nada sinis sepertinya. Padahal aslinya aku berniat untuk bercanda tapi sepertinya aku bercanda tidak pada saat yang tepat. Benar-benar timing yang salah. Keluar dari lift aku benar-benar menyesal sampe ke pori-pori. Nyueseeeeeeel aaaasliiiii. Ditambah komentar teman-teman satu labku yang menyayangkan kenapa aku harus bersikap sinis pada bapak yang memang terkenal baik seantero jagad raya fakultas. Ya Allah… mendzolimi orang baik ternyata semenyesal dan semenyakitkan ini. Nggak lagi-lagi deh nyakitin orang baik. Terus, apa kamu nggak nyesel nyakitin aku? (siapa yang nyakitin lu Maemunah wkwkwkw). Cara paling ampuh untuk menghilangkan rasa penyesalan ini adalah meminta maaf kepada beliau secara langsung. Aku rada takut soalnya kan kalau orang baik marah bakalan nyeremin banget. Tapi, berhubung aku harus ngilangin rasa nggak enak ini, mau tak mau harus aku hadapi semua konsekuensi yang menyertai. Baiklah, akhirnya ku beranikan untuk melangkah ke lantai 2 menemui bapaknya.

            Ketika memasuki Lorong di lantai 2, aku bertemu dengan si bapak yang ternyata baru keluar dari ruangannya. Aku rada takut soalnya si bapak tidak menunjukkan senyum ketika melihatku dari kejauhan. Aku pun memberanikan diri memanggil beliau,

“Pak…Pak…Pak” Kataku berkali-kali karena aku tidak memanggil nama beliau sehingga beliau rada nggak ngeh kalau aku memanggil beliau.

“Iya… Kenapa?” jawab beliau sambil tersenyum.

“Maaf pak, saya tadi yang di lift, saya mau minta maaf pak. Tadi saya hanya berniat bercanda” Kataku dengan nada menyesal yang tiada tara.

“Oh…yang mana ya?” jawab beliau mencoba mengingat-ingat

“Yang tadi pak, yang di lift, saya hanya bercanda pak. Maafin saya ya pak” Kataku kembali berkata dengan nada menyesal yang tidak bisa disembunyikan.

“Oh… iya nggak papa, saya orangnya juga suka bercanda, nggak papa, nggak papa, hahaha” Jawab beliau yang membuatku legaaaaa.

            Lantas terjadilah percakapan antara aku dengan si Bapak. Nama beliau adalah pak Juwandi. Pak Juwandi menceritakan pengalaman beliau yang akrab dan sering bercanda hampir dengan semua mahasiswa yang ada di fakultasku. Ya Allah… hina sekali lah diriku ini yang dengan sengaja ngejahatin pak Juwandi yang baiknya nggak ketulungan. Maafkan saya pak, nggak lagi deh becanda tidak pada tempatnya.

            Kejadian selanjutnya terjadi di sebuah lift di Gedung nanosains, berbeda Gedung dengan lift yang sebelumnya. Lift yang ini lebih modern karena berada di Gedung yang terbilang baru. Lantainya pun lebih banyak, sampai lantai 8 kalau tidak salah. Terdapat dua lift yang bersebelahan, kanan dan kiri. Kala itu aku berniat turun dari lantai 2 setelah melakukan sholat dzuhur di mushola yang terletak di lantai yang sama. Aku benar-benar sedang tidak mood untuk menuruni tangga walaupun hanya berjarak satu lantai saja sehingga ku putuskan untuk naik lift. Ketika menekan tombol lift, kedua lift yang bersebelahan itu sama-sama terbuka. Tetapi ku putuskan untuk menaiki yang sebelah kanan karena yang sebelah kiri sepertinya akan ke atas terlebih dahulu. Ketika memasuki lift yang sebelah kanan, ternyata ada seorang bapak-bapak yang berada di dalamnya. Lift ini memang agak besar sehingga terkesan lengang padahal ternyata ada orang di pojokan. Tiba-tiba si Bapak memulai komentarnya,

“Kalau cuma ke lantai 1 naik tangga aja biar sehat” Kata beliau dengan nada sinis. Ya Allah… kenapa ada kejadian gini lagi sih.

“Iya pak, tapi saya nggak tau tangganya dimana” jawabku ngasal soalnya bener-bener lagi nggak mood debat hal receh remeh kayak gini.

“Kalau ada pintu di depan lift itu isinya apaan?” kata beliau tambah sinis

“Oh… yang merah itu ya pak” jawabku, padahal aslinya aku udah tau tapi emang lagi males aja naik tangga ya Allah.

            Aku kira bakalan usai nih percakapan nggak penting macam ini. Tiba-tiba pas nyampe di lantai satu, si bapak malah ngegiring aku ke pintu merah depan lift. Terus beliau buka pintunya sambil ngomong,

“Nih…LIHAT tangganya” Kata beliau sambil nunjukin letak si tangga. Kalau menurutku sih si bapak lebih kepada menghina dibandingkan ngasih info padaku. Aku iyain aja karena emang lagi males banget ngobrol apalagi debat. Ditambah lagi omongan beliau emang bener. Setelah bilang iya aku langsung melangkah meninggalkan si bapak yang merasa puas karena telah menghinaku. Bodo amat.

            Aku tidak habis pikir dengan orang-orang yang suka usil sama orang lain yang menurut pandangan mereka tidak seharusnya menggunakan lift. Lah… lift itu kan fasilitas to. Kalau memang naik atau turun lift dari laintai 2 atau 3 tidak seharusnya dilakukan, kenapa harus ada tombol lantai 2 atau 3? Kenapa nggak langsung aja lantai 4 dan seterusnya biar nggak ada kesalahpahaman macam ini. Suka sekate-kate emang. Atas dasar peduli dengan kesehatan orang lain aku rasa juga kurang tepat karena yang tahu kadar kesehatan seseorang ya orang yang bersangkutan. Tak usahlah terlalu peduli dan mencampuri urusan kesehatan orang lain lantas melarang mereka menaiki lift atas dasar biar lebih sehat. Lagi pula, orang yang negur aku juga menggunakan fasilitas lift. Akan sangat bijak rasanya jika beliau-beliau juga tidak menggunakan lift sehingga nasehat beliau akan lebih universal. Duh… jadi emosi gini kan akunya wkwkwk. Antara aku, kamu, dan lift mengajarkanku bahwa kejadian apapun bisa terjadi bahkan di waktu yang singkat, sesingkat naik lift dari lantai 1 hingga lantai 2 atau 3. Jadi, jenis kisah apakah yang aku alami selama di lift ini? Ya benaaar, menjengkelkan.

Rebahan Selama Lebaran

Kartun tidur aTulisan perdana setelah sekian purnama. Lahirnya pun bukan karena strong willingness dari diri tapi lebih karena kegabutan selama libur lebaran yang entah sudah hari keberapa. Gabutnya pun bukan tanpa alasan, eh gabut juga ada alasannya yak wkwkwk. Lah iya lah. Alesannya pun bukan sembarangan alasan, bukan kaleng-kaleng kalo kata anak sekarang. Aku kecelakaan gaes, kecelakaan tunggal, motor yang ku kendarai nabrak motor yang lagi parkir di pinggir jalan. Kan geblek. Kok? Nah gini ceritanya, ambil cemilan, bakalan lama nih soalnya ceritanya wkwkwk. Sore-sore syahdu gitu, ibuku nyaranin aku sama kembaranku buat jenguk ayah temenku yang lagi sakit. Jenguk orang sakit apalagi lagi bulan Ramadhan akan berlipat-lipat pahala yang bakalan didapat. Aku iyain lah, sebagai anak yang taat pada orang tua dan tergiur akan pahala, lagi pula hari itu aku sedang tidak berpuasa. Berangkatlah kami berempat dengan satu motor, aku, mbak Dila, dan dua ponakanku.

            Suasana sore itu begitu menyenangkan. Cahaya matahari yang masih terang tapi tak terik memberikan kemewahan daya tarik. Bersama dua bocil yang masih polos yang banyak bertanya ini itu membuatku bahagia walaupun masih sendiri wkwkwk. Aku langsung punya rencana pengen ngajakin dua bocil itu ke pantai di hari selanjutnya, berhubung pantai tak terlalu jauh dari rumahku, pasti bakalan nyenengin banget. Rencana hanyalah rencana, Allah lah yang menentukan apakah sebuah rencana akan terlaksana atau tidak. Lantas, bagaimana dengan rencanaku? Ya… Sepertinya belum mendapatkan persetujuan untuk terlaksana karena sepulang dari menjenguk ayah temanku, kami kecelakaan. Innalillah wal hamdulillah. Innalillah karena ini adalah musibah yang membuat kaki kiriku retak dan bengkak bak kaki gajah. Alhamdulillah karena kakiku tidak sampai patah dan hanya aku yang cidera sedangkan yang lain selamat. Mau tau kronologinya nggak? Nggak ya, tapi aku tetep mau cerita wkwkwk.

            Pas perjalanan pulang, ponakanku yang perempuan duduk di depan, sedangkan yang laki-laki di belakang. Nah ponakanku yang perempuan ini gampang banget tidur kalau kena angin. Pas dia tidur gitu, aku mencoba membangunkannya. Mbak Dila mengingatkanku jangan terlalu berfokus pada ponakanku yang tidur karena akan sangat membahayakan, takutnya nabrak. Tapi, karena jiwa keibuanku memberontak, pas di belokan pertigaan aku naikkan kepalanya biar nggak jatuh, dengan fokus pandangan hanya pada ponakanku tidak pada jalan raya dan tiba-tiba BRUUUUKKKK!!!!. Motor yang ku kendarai menghantam motor yang sedang diparkir di pinggir jalan dengan bunyi keras sekali. Semua orang yang ada di sana mengahampiri kami. Aku sempat melihat orang-orang panik menghampiri kami. Aku mengkhawatirkan kondisi ponakanku yang kecil-kecil, masa depan mereka masih panjang, aku akan sangat merasa bersalah jika ada apa-apa dengan mereka karena perbuatanku. Aku melihat sekilas pada mereka berdua, Alhamdulillah mereka tidak apa-apa, mereka baik-baik saja, hanya terlihat raut terkejut yang tidak bisa disembunyikan dari wajah mereka.

            Seorang bapak-bapak yang menghampiri kami memegang stir motor kami kemudian beliau gerak-gerakkan, beliau mengira stir motor yang ku kendarai tidak berfungsi dengan baik. Masuk akal sih, karena ketika terjadi kecelakaan seolah-olah stir motorku hanya bisa lurus dan tidak bisa dibelokkan, padahal itu terjadi karena fokusku yang terpusat pada ponakanku tidak pada jalan. Aku merasakan ada hal yang tidak beres terjadi pada kakiku, seketika kakiku tidak bisa digerakkan dan rasanya kesemutan, mati rasa. Benar-benar tidak bisa digerakkan sehingga aku hanya berdiri di atas motorku tanpa bisa bergerak walaupun banyak orang menghampiri kami. Ku lihat kakiku sudah bengkak memenuhi volume sepatuku. Mbak Dila membantuku untuk berjalan dan duduk di dekat motor yang ku kendarai. Ku buka dengan susah payah sepatu dari kakiku dan seketika dapat ku lihat bengkak yang membuat kakiku layaknya kaki gajah.

            Setelah agak tenang, kami putuskan untuk pulang ke rumah yang jaraknya sebenarnya tak terlalku jauh dengan mbak Dila yang mengendarai motor. Ku tahan rasa nyeri di kakiku yang bengkak karena ingin segera sampai di rumah. Sesampainya di rumah nenekku menyambut dengan wajah sumringah karena kami sampai pas buka puasa. Tapi ekspresi beliau seketika berubah ketika kami menceritakan kejadian yang kami alami dan menjadi lebih histeris ketika melihat kondisi kakiku. Ketika ku tapakkan kakiku di tanah, kakiku rasanya nyeri sekali, kepalaku tiba-tiba pening, berasa mau pingsan, dan aku langsung dipapah untuk duduk di lantai rumah. Aku tiba-tiba merasakan nyeri yang amat sangat pada perut dan pinggangku, kemudian diikuti badanku yang menggigil. Aku langsung meminta selimut dan bantal pada ibuku. Entah itu reaksi jenis apa, aku merasakan nyeri di kaki, pinggang, perut, dan menggigil di sekujur tubuh. Mukaku juga seperti pucat seketika. Aku pun langsung diberikan obat oleh ibuku, entah obat apa, yang ternyata bisa mengurangi rasa sakit yang ku alami. Tak selang berapa lama, kondisiku berangsur mambaik. Aku kembali dipapah untuk dipindah ke tampat yang lebih layak.

            Kekhawatiran besar kembali menghampiriku karena aku sudah bisa memastikan kalau orang rumah akan mendatangkan tukang pijat untuk mengobatiku dan bisa ku banyangkan akan sesakit apa kakiku nanti. Benar saja, tukang pijatnya datang dan memijat kakiku yang bengkak sebesar pepaya. Aku pun berteriak tanpa rasa malu. Rasa sakit yang ku rasakan telah melebihi rasa malu yang ku punya sehingga ku meraung sekencang-kencangnya dan menangis sejadi-jadinya. Bagaimana tidak, kakiku tuh bengkak sebengkak-bengkaknya, dielus-elus aja nyeri, lah ini ditekan, terus diinjak dan ditarik. Gimana nggak teriak-teriak histeris. Rasa nyerinya pun tetap nempel walaupun kaki tukang pijatnya telah tearangkat dari kakiku, nempel bak perangko. Nyueeeeerrrrrri aaaassssli. Kakiku pun dibalut dengan kain kasa dan kardus sebagai penyangga (sangat tradisional bukan, wkwkwk). Alhasil sejak hari itu aku berjalan menggunakan kruk. Ada cerita tersendiri mengenai kruk ini.

            Ketika di Bandung, dosen pembimbingku juga mengalami patah kaki dan harus berjalan menggunakan kruk selama beberapa bulan. Alhamdulillah, sekarang beliau sudah sembuh. Ketika berjalan berdua dengan beliau, kami melihat seorang mahasiswa yang berjalan menggunakan kruk. Seketika beliau teringat masa-masa memakai kruk. Beliau lantas menceritakan pengalaman beliau dan mengajarkanku cara berjalan menggunakan kruk. Aku pun bergumam dalam hati, “kenapa ibu ngajarin cara jalan pake kruk ke aku ya?”. Dan… benar saja, sekarang giliran aku yang berjalan menggunakan kruk. Hikmahnya adalah, terimalah ilmu yang datang kepada kita karena bisa saja itu menjadi isyarat bahwa kita akan membutuhkannya di hari yang akan datang. Selain itu, ada satu lagi cerita terkait kruk. Beberapa jam sebelum kami berangkat, aku masuk ke dalam garasi. Di sana aku melihat kruk yang tergeletak di pojok garasi, aku pun bergumam dalam hati “wah… siapa tuh yang punya kruk, emang ada orang rumah yang pake kruk itu?”. Dan… benar saja, aku lah penghuni rumah selanjutnya yang memakai kruk itu. Hikmahnya adalah jangan menyimpan kruk dalam rumah karena dia akan meminta tuan untuk menggunakannya wkwkwkw (becanda… becanda, ini candaan yang dilontarkan orang-orang di rumah).

            Kesulitan terbesarku ketika menggunakan kruk adalah ketika aku harus ke kamar mandi. Benar-benar sangat merepotkan, tidak hanya merepotkan diri sendiri tetapi juga banyak orang rumah. Sampai di titik ini, aku benar-benar merasa tidak bisa hidup sendiri, aku membutuhkan pasangan wkwkwk. Hikmahnya sesuatu ya. Kesibukan lebaran tahun ini hanyalah rebahan, makan, rebahan, makan, kemudian rebahan lagi. Entah berapa banyak rebahan yang telah ku lakukan hingga hari ke-7 hari ini. Mohon doanya ya teman-teman yang membaca tulisan ini, semoga aku segera diberi kesembuhan agar bisa kembali beraktivitas seperti sedia kala, bisa segera kembali ke Bandung, nyelesain tesis, dan bisa wisuda bulan Oktober 2019. Aamiin. Buat teman-teman yang mengendarai kendaraan bermotor, jangan lupa tetap fokus dan konsentrasi dalam berkendara, karena ketika fokus dan konsentrasi buyar sekejap, konsekuensi dari ringan hingga berat siap menghadap. Pengalaman rebahan selama lebaran yang tak akan pernah terlupakan. Terimakasih ya Allah atas pengalaman yang sangat berharga ini.