Rebahan Selama Lebaran

Kartun tidur aTulisan perdana setelah sekian purnama. Lahirnya pun bukan karena strong willingness dari diri tapi lebih karena kegabutan selama libur lebaran yang entah sudah hari keberapa. Gabutnya pun bukan tanpa alasan, eh gabut juga ada alasannya yak wkwkwk. Lah iya lah. Alesannya pun bukan sembarangan alasan, bukan kaleng-kaleng kalo kata anak sekarang. Aku kecelakaan gaes, kecelakaan tunggal, motor yang ku kendarai nabrak motor yang lagi parkir di pinggir jalan. Kan geblek. Kok? Nah gini ceritanya, ambil cemilan, bakalan lama nih soalnya ceritanya wkwkwk. Sore-sore syahdu gitu, ibuku nyaranin aku sama kembaranku buat jenguk ayah temenku yang lagi sakit. Jenguk orang sakit apalagi lagi bulan Ramadhan akan berlipat-lipat pahala yang bakalan didapat. Aku iyain lah, sebagai anak yang taat pada orang tua dan tergiur akan pahala, lagi pula hari itu aku sedang tidak berpuasa. Berangkatlah kami berempat dengan satu motor, aku, mbak Dila, dan dua ponakanku.

            Suasana sore itu begitu menyenangkan. Cahaya matahari yang masih terang tapi tak terik memberikan kemewahan daya tarik. Bersama dua bocil yang masih polos yang banyak bertanya ini itu membuatku bahagia walaupun masih sendiri wkwkwk. Aku langsung punya rencana pengen ngajakin dua bocil itu ke pantai di hari selanjutnya, berhubung pantai tak terlalu jauh dari rumahku, pasti bakalan nyenengin banget. Rencana hanyalah rencana, Allah lah yang menentukan apakah sebuah rencana akan terlaksana atau tidak. Lantas, bagaimana dengan rencanaku? Ya… Sepertinya belum mendapatkan persetujuan untuk terlaksana karena sepulang dari menjenguk ayah temanku, kami kecelakaan. Innalillah wal hamdulillah. Innalillah karena ini adalah musibah yang membuat kaki kiriku retak dan bengkak bak kaki gajah. Alhamdulillah karena kakiku tidak sampai patah dan hanya aku yang cidera sedangkan yang lain selamat. Mau tau kronologinya nggak? Nggak ya, tapi aku tetep mau cerita wkwkwk.

            Pas perjalanan pulang, ponakanku yang perempuan duduk di depan, sedangkan yang laki-laki di belakang. Nah ponakanku yang perempuan ini gampang banget tidur kalau kena angin. Pas dia tidur gitu, aku mencoba membangunkannya. Mbak Dila mengingatkanku jangan terlalu berfokus pada ponakanku yang tidur karena akan sangat membahayakan, takutnya nabrak. Tapi, karena jiwa keibuanku memberontak, pas di belokan pertigaan aku naikkan kepalanya biar nggak jatuh, dengan fokus pandangan hanya pada ponakanku tidak pada jalan raya dan tiba-tiba BRUUUUKKKK!!!!. Motor yang ku kendarai menghantam motor yang sedang diparkir di pinggir jalan dengan bunyi keras sekali. Semua orang yang ada di sana mengahampiri kami. Aku sempat melihat orang-orang panik menghampiri kami. Aku mengkhawatirkan kondisi ponakanku yang kecil-kecil, masa depan mereka masih panjang, aku akan sangat merasa bersalah jika ada apa-apa dengan mereka karena perbuatanku. Aku melihat sekilas pada mereka berdua, Alhamdulillah mereka tidak apa-apa, mereka baik-baik saja, hanya terlihat raut terkejut yang tidak bisa disembunyikan dari wajah mereka.

            Seorang bapak-bapak yang menghampiri kami memegang stir motor kami kemudian beliau gerak-gerakkan, beliau mengira stir motor yang ku kendarai tidak berfungsi dengan baik. Masuk akal sih, karena ketika terjadi kecelakaan seolah-olah stir motorku hanya bisa lurus dan tidak bisa dibelokkan, padahal itu terjadi karena fokusku yang terpusat pada ponakanku tidak pada jalan. Aku merasakan ada hal yang tidak beres terjadi pada kakiku, seketika kakiku tidak bisa digerakkan dan rasanya kesemutan, mati rasa. Benar-benar tidak bisa digerakkan sehingga aku hanya berdiri di atas motorku tanpa bisa bergerak walaupun banyak orang menghampiri kami. Ku lihat kakiku sudah bengkak memenuhi volume sepatuku. Mbak Dila membantuku untuk berjalan dan duduk di dekat motor yang ku kendarai. Ku buka dengan susah payah sepatu dari kakiku dan seketika dapat ku lihat bengkak yang membuat kakiku layaknya kaki gajah.

            Setelah agak tenang, kami putuskan untuk pulang ke rumah yang jaraknya sebenarnya tak terlalku jauh dengan mbak Dila yang mengendarai motor. Ku tahan rasa nyeri di kakiku yang bengkak karena ingin segera sampai di rumah. Sesampainya di rumah nenekku menyambut dengan wajah sumringah karena kami sampai pas buka puasa. Tapi ekspresi beliau seketika berubah ketika kami menceritakan kejadian yang kami alami dan menjadi lebih histeris ketika melihat kondisi kakiku. Ketika ku tapakkan kakiku di tanah, kakiku rasanya nyeri sekali, kepalaku tiba-tiba pening, berasa mau pingsan, dan aku langsung dipapah untuk duduk di lantai rumah. Aku tiba-tiba merasakan nyeri yang amat sangat pada perut dan pinggangku, kemudian diikuti badanku yang menggigil. Aku langsung meminta selimut dan bantal pada ibuku. Entah itu reaksi jenis apa, aku merasakan nyeri di kaki, pinggang, perut, dan menggigil di sekujur tubuh. Mukaku juga seperti pucat seketika. Aku pun langsung diberikan obat oleh ibuku, entah obat apa, yang ternyata bisa mengurangi rasa sakit yang ku alami. Tak selang berapa lama, kondisiku berangsur mambaik. Aku kembali dipapah untuk dipindah ke tampat yang lebih layak.

            Kekhawatiran besar kembali menghampiriku karena aku sudah bisa memastikan kalau orang rumah akan mendatangkan tukang pijat untuk mengobatiku dan bisa ku banyangkan akan sesakit apa kakiku nanti. Benar saja, tukang pijatnya datang dan memijat kakiku yang bengkak sebesar pepaya. Aku pun berteriak tanpa rasa malu. Rasa sakit yang ku rasakan telah melebihi rasa malu yang ku punya sehingga ku meraung sekencang-kencangnya dan menangis sejadi-jadinya. Bagaimana tidak, kakiku tuh bengkak sebengkak-bengkaknya, dielus-elus aja nyeri, lah ini ditekan, terus diinjak dan ditarik. Gimana nggak teriak-teriak histeris. Rasa nyerinya pun tetap nempel walaupun kaki tukang pijatnya telah tearangkat dari kakiku, nempel bak perangko. Nyueeeeerrrrrri aaaassssli. Kakiku pun dibalut dengan kain kasa dan kardus sebagai penyangga (sangat tradisional bukan, wkwkwk). Alhasil sejak hari itu aku berjalan menggunakan kruk. Ada cerita tersendiri mengenai kruk ini.

            Ketika di Bandung, dosen pembimbingku juga mengalami patah kaki dan harus berjalan menggunakan kruk selama beberapa bulan. Alhamdulillah, sekarang beliau sudah sembuh. Ketika berjalan berdua dengan beliau, kami melihat seorang mahasiswa yang berjalan menggunakan kruk. Seketika beliau teringat masa-masa memakai kruk. Beliau lantas menceritakan pengalaman beliau dan mengajarkanku cara berjalan menggunakan kruk. Aku pun bergumam dalam hati, “kenapa ibu ngajarin cara jalan pake kruk ke aku ya?”. Dan… benar saja, sekarang giliran aku yang berjalan menggunakan kruk. Hikmahnya adalah, terimalah ilmu yang datang kepada kita karena bisa saja itu menjadi isyarat bahwa kita akan membutuhkannya di hari yang akan datang. Selain itu, ada satu lagi cerita terkait kruk. Beberapa jam sebelum kami berangkat, aku masuk ke dalam garasi. Di sana aku melihat kruk yang tergeletak di pojok garasi, aku pun bergumam dalam hati “wah… siapa tuh yang punya kruk, emang ada orang rumah yang pake kruk itu?”. Dan… benar saja, aku lah penghuni rumah selanjutnya yang memakai kruk itu. Hikmahnya adalah jangan menyimpan kruk dalam rumah karena dia akan meminta tuan untuk menggunakannya wkwkwkw (becanda… becanda, ini candaan yang dilontarkan orang-orang di rumah).

            Kesulitan terbesarku ketika menggunakan kruk adalah ketika aku harus ke kamar mandi. Benar-benar sangat merepotkan, tidak hanya merepotkan diri sendiri tetapi juga banyak orang rumah. Sampai di titik ini, aku benar-benar merasa tidak bisa hidup sendiri, aku membutuhkan pasangan wkwkwk. Hikmahnya sesuatu ya. Kesibukan lebaran tahun ini hanyalah rebahan, makan, rebahan, makan, kemudian rebahan lagi. Entah berapa banyak rebahan yang telah ku lakukan hingga hari ke-7 hari ini. Mohon doanya ya teman-teman yang membaca tulisan ini, semoga aku segera diberi kesembuhan agar bisa kembali beraktivitas seperti sedia kala, bisa segera kembali ke Bandung, nyelesain tesis, dan bisa wisuda bulan Oktober 2019. Aamiin. Buat teman-teman yang mengendarai kendaraan bermotor, jangan lupa tetap fokus dan konsentrasi dalam berkendara, karena ketika fokus dan konsentrasi buyar sekejap, konsekuensi dari ringan hingga berat siap menghadap. Pengalaman rebahan selama lebaran yang tak akan pernah terlupakan. Terimakasih ya Allah atas pengalaman yang sangat berharga ini.

One thought on “Rebahan Selama Lebaran

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s