Antara Aku, Kamu, dan Lift

032912500_1449735789-20151210-Ilustrasi-LiftBerbaring hampir seharian di rumah rasanya bosan merajai tanpa bisa dipungkiri. Langkah menjadi sangat terbatas hingga terkadang ingin rasanya berlarian bebas. Tapi apa daya, jangankan berlari, menapakkan kaki saja rasanya nyeri. Syukuri… kapan lagi bisa memerintah itu dan ini tanpa dimarahi wkwkwk. Pas lagi di rumah gini rasanya pengen banget segera ke Bandung. Giliran lagi di Bandung, pengen segera pulang ke rumah. Manusia memang makhluk yang membingungkan, berhubung aku juga manusia, ya… aku juga membingungkan. Sebenarnya, tiga hari lagi aku dijadwalkan akan kembali ke Bandung. Tapi, berhubung kakiku belum pulih, sepertinya tiket keretaku, ku rencanakan akan ku batalkan. Baru rencana? Iya. Sampai tulisan ini dibuat pun, tiketnya belum ku batalkan karena aku masih berharap ada sebuah keajaiban yang datang dari Allah sehingga kakiku bisa sembuh sebelum tanggal keberangkatanku. Berharap tidak apa-apa kan? Lah iya, bukannya cuma harapan yang menguatkan para kaum jomblo seperti kita (lah apa seeh).

            Ngomongin masalah Bandung, aku mau cerita sebuah kisah yang lokasinya sangat spesifik sekali, iya di lift. Kisah apa? Asmara? Maunya sih gitu tapi sayangnya bukan. Horor? Apalagi ini, nggak sama sekali dan nggak mau juga ngalamin hal ginian. Baca aja sampe akhir ya, nanti kan bisa disimpulkan sendiri, termasuk jenis apa cerita yang akan aku kisahkan sebentar lagi ini. Pertama-tama akan aku ceritakan perihal lift yang merupakan tempat kejadian perkara. Lift yang ku maksud adalah lift yang ada di fakultasku. Gedung Laboratorium tempatku mengerjakan penelitian terletak di lantai 3 sedangkan Gedungnya sendiri ada 4 lantai sehingga keberadaan lift menjadi hal yang sangat dibutuhkan.

            Kejadian pertama terjadi ketika aku dan temanku terburu-buru ingin segera sampai di lantai 3 karena ada lab meeting bersama riset grup dosen pembimbingku. Ketika itu aku juga membawa sebuah proyektor yang akan digunakan untuk presentasi seluruh anggota grup sehingga mau tidak mau aku harus segera sampai di ruangan di lantai 3. Ketika memasuki lift, aku melihat seorang dosen sehingga aku menawarkan kepada beliau akan naik ke lantai berapa sedangkan aku sendiri sudah menekan tombol lantai 3. Percakapan yang terjadi kurang lebih sebagai berikut,

“Lantai berapa bu?” tanyaku dengan nada sopan

“Lantai 4 lah, kalau cuma lantai 2 atau 3 naik tangga aja, biar sehat” jawab beliau dengan nada sinis. Aku tidak siap dengan balasan jawaban semacam ini, sehingga ku jawab saja apa adanya.

“Iya bu, saya lantai 3, naik lift soalnya sedang buru-buru bu”

            Aku rada tidak terima sebenarnya soalnya kan lantai 3 juga termasuk tinggi kan, secara lantai maksimalnya kan lantai 4. Tapi lagi-lagi kan peraturannya ada 2, pertama dosen selalu benar, kedua, kalau dosen salah maka kembali ke peraturan pertama wkwkwk. Karena kejadian itu, mau tidak mau aku mencoba untuk berhati-hati ketika akan menaiki lift. Setelah aku menceritakan kejadian ini, usut punya usust ternyata dosen yang ku temui di lift itu memang suka mengomentari mahasiswa dengan nada sinis. Jadi, yang ku alami adalah hal biasa, biasa beliau lakukan pada banyak mahasiswa.

            Beberapa hari setelah kejadian tersebut, kembali naiklah aku menggunakan lift yang sama. Bedanya adalah aku dan temanku naik duluan sedangkan yang naik terakhir adalah seorang bapak-bapak pegawai yang selalu terlihat ramah dan tersenyum pada semua orang. Berkat keramahannya itulah, beliau menawarkan akan ke lantai berapa kepada kami,

“Lantai berapa?” tanya beliau sambil bersiap untuk menekan tombol di lift.

Aku pun langsung menjawab tanpa melihat beliau karena fokus pada HP yang ku pegang,

“Lantai 4 lah pak, soalnya kalau lantai 2 atau 3 katanya disuruh naik tangga aja” Aku menjawab menirukan kalimat ibu dosen yang kemarin sinis padaku. Sang bapak yang baik hati lantas menjawab sambil tersenyum,

“Saya turun di lantai 2, naik lift soalnya saya sedang sakit lutut” Jawab beliau sambil memegang lutut lantas keluar dari lift karena sudah sampai di lantai 2.

            Semua orang yang ada di lift membatu mendengar percakapan kami. Aku juga tidak menyangka akan terjadi hal bodoh semacam ini. Aku menjawab dengan nada sinis sepertinya. Padahal aslinya aku berniat untuk bercanda tapi sepertinya aku bercanda tidak pada saat yang tepat. Benar-benar timing yang salah. Keluar dari lift aku benar-benar menyesal sampe ke pori-pori. Nyueseeeeeeel aaaasliiiii. Ditambah komentar teman-teman satu labku yang menyayangkan kenapa aku harus bersikap sinis pada bapak yang memang terkenal baik seantero jagad raya fakultas. Ya Allah… mendzolimi orang baik ternyata semenyesal dan semenyakitkan ini. Nggak lagi-lagi deh nyakitin orang baik. Terus, apa kamu nggak nyesel nyakitin aku? (siapa yang nyakitin lu Maemunah wkwkwkw). Cara paling ampuh untuk menghilangkan rasa penyesalan ini adalah meminta maaf kepada beliau secara langsung. Aku rada takut soalnya kan kalau orang baik marah bakalan nyeremin banget. Tapi, berhubung aku harus ngilangin rasa nggak enak ini, mau tak mau harus aku hadapi semua konsekuensi yang menyertai. Baiklah, akhirnya ku beranikan untuk melangkah ke lantai 2 menemui bapaknya.

            Ketika memasuki Lorong di lantai 2, aku bertemu dengan si bapak yang ternyata baru keluar dari ruangannya. Aku rada takut soalnya si bapak tidak menunjukkan senyum ketika melihatku dari kejauhan. Aku pun memberanikan diri memanggil beliau,

“Pak…Pak…Pak” Kataku berkali-kali karena aku tidak memanggil nama beliau sehingga beliau rada nggak ngeh kalau aku memanggil beliau.

“Iya… Kenapa?” jawab beliau sambil tersenyum.

“Maaf pak, saya tadi yang di lift, saya mau minta maaf pak. Tadi saya hanya berniat bercanda” Kataku dengan nada menyesal yang tiada tara.

“Oh…yang mana ya?” jawab beliau mencoba mengingat-ingat

“Yang tadi pak, yang di lift, saya hanya bercanda pak. Maafin saya ya pak” Kataku kembali berkata dengan nada menyesal yang tidak bisa disembunyikan.

“Oh… iya nggak papa, saya orangnya juga suka bercanda, nggak papa, nggak papa, hahaha” Jawab beliau yang membuatku legaaaaa.

            Lantas terjadilah percakapan antara aku dengan si Bapak. Nama beliau adalah pak Juwandi. Pak Juwandi menceritakan pengalaman beliau yang akrab dan sering bercanda hampir dengan semua mahasiswa yang ada di fakultasku. Ya Allah… hina sekali lah diriku ini yang dengan sengaja ngejahatin pak Juwandi yang baiknya nggak ketulungan. Maafkan saya pak, nggak lagi deh becanda tidak pada tempatnya.

            Kejadian selanjutnya terjadi di sebuah lift di Gedung nanosains, berbeda Gedung dengan lift yang sebelumnya. Lift yang ini lebih modern karena berada di Gedung yang terbilang baru. Lantainya pun lebih banyak, sampai lantai 8 kalau tidak salah. Terdapat dua lift yang bersebelahan, kanan dan kiri. Kala itu aku berniat turun dari lantai 2 setelah melakukan sholat dzuhur di mushola yang terletak di lantai yang sama. Aku benar-benar sedang tidak mood untuk menuruni tangga walaupun hanya berjarak satu lantai saja sehingga ku putuskan untuk naik lift. Ketika menekan tombol lift, kedua lift yang bersebelahan itu sama-sama terbuka. Tetapi ku putuskan untuk menaiki yang sebelah kanan karena yang sebelah kiri sepertinya akan ke atas terlebih dahulu. Ketika memasuki lift yang sebelah kanan, ternyata ada seorang bapak-bapak yang berada di dalamnya. Lift ini memang agak besar sehingga terkesan lengang padahal ternyata ada orang di pojokan. Tiba-tiba si Bapak memulai komentarnya,

“Kalau cuma ke lantai 1 naik tangga aja biar sehat” Kata beliau dengan nada sinis. Ya Allah… kenapa ada kejadian gini lagi sih.

“Iya pak, tapi saya nggak tau tangganya dimana” jawabku ngasal soalnya bener-bener lagi nggak mood debat hal receh remeh kayak gini.

“Kalau ada pintu di depan lift itu isinya apaan?” kata beliau tambah sinis

“Oh… yang merah itu ya pak” jawabku, padahal aslinya aku udah tau tapi emang lagi males aja naik tangga ya Allah.

            Aku kira bakalan usai nih percakapan nggak penting macam ini. Tiba-tiba pas nyampe di lantai satu, si bapak malah ngegiring aku ke pintu merah depan lift. Terus beliau buka pintunya sambil ngomong,

“Nih…LIHAT tangganya” Kata beliau sambil nunjukin letak si tangga. Kalau menurutku sih si bapak lebih kepada menghina dibandingkan ngasih info padaku. Aku iyain aja karena emang lagi males banget ngobrol apalagi debat. Ditambah lagi omongan beliau emang bener. Setelah bilang iya aku langsung melangkah meninggalkan si bapak yang merasa puas karena telah menghinaku. Bodo amat.

            Aku tidak habis pikir dengan orang-orang yang suka usil sama orang lain yang menurut pandangan mereka tidak seharusnya menggunakan lift. Lah… lift itu kan fasilitas to. Kalau memang naik atau turun lift dari laintai 2 atau 3 tidak seharusnya dilakukan, kenapa harus ada tombol lantai 2 atau 3? Kenapa nggak langsung aja lantai 4 dan seterusnya biar nggak ada kesalahpahaman macam ini. Suka sekate-kate emang. Atas dasar peduli dengan kesehatan orang lain aku rasa juga kurang tepat karena yang tahu kadar kesehatan seseorang ya orang yang bersangkutan. Tak usahlah terlalu peduli dan mencampuri urusan kesehatan orang lain lantas melarang mereka menaiki lift atas dasar biar lebih sehat. Lagi pula, orang yang negur aku juga menggunakan fasilitas lift. Akan sangat bijak rasanya jika beliau-beliau juga tidak menggunakan lift sehingga nasehat beliau akan lebih universal. Duh… jadi emosi gini kan akunya wkwkwk. Antara aku, kamu, dan lift mengajarkanku bahwa kejadian apapun bisa terjadi bahkan di waktu yang singkat, sesingkat naik lift dari lantai 1 hingga lantai 2 atau 3. Jadi, jenis kisah apakah yang aku alami selama di lift ini? Ya benaaar, menjengkelkan.

2 thoughts on “Antara Aku, Kamu, dan Lift

  1. Lekas sembuh ya mba Pradita…

    Hehe tiap manusia beda2 responnya ya mbaak :”
    Positif aja mungkin ybs lg buru2 naik lift, ngomong begitu karena ga pgn kesela jeda antar lantai wkwk

    Btw kebalikan, kalau mbaknya disuruh naik tangga aja, aku malah langganan disuruh naik lift aja ( ke lt 3 dst), karena justru selalu milih naik tangga wkwk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s