Imam Lelangan

islam-clipart-sholat-9Berhubung suasana Ramadhan masih hangat-hangatnya di ingatan. Ingin rasanya sedikit mengenang momennya dalam bentuk tulisan. Sayang rasanya kalau hanya melayang di angan-angan. Mending aku bagikan, kan lumayan buat nambah-nambah postingan wkwkwk. Ramadhan memang selalu memberikan kenangan manis di ingatan. Entah sudah berapa kali berangan-angan, kenapa 11 bulan lainnya tidak seperti Ramadhan yang penuh dengan hingar bingar ibadah dan jajanan menggiurkan. Justru di sanalah letak keistimewaannya kawan, menjadi spesial karena jarang dan hanya sekali setahun sehingga sangat dinantikan. Ramadhan kali ini menjadi sangat indah untuk dikenang karena dilalui dengan melakukan tarling (tarawih keliling) bersama kawan-kawan.

            Ramadhan tahun ini adalah Ramadhan keduaku di Bandung. Tapi tahun ini agak sedikit berbeda karena proporsi Ramadhan kali ini aku lebih banyak di Bandung daripada di kampung halaman. Sedangkan tahun sebelumnya banyak ku lalui di rumah dibandingkan di Bandung. Ngapain lama-lama di bandung? Ya banyaklah, penelitian, kajian, dan mangkir dari rutinitas di rumah yang pasti bakalan banyak kerjaan menuju lebaran wkwkwk (yang terakhir jangan bilang sapa-sapa ya hahaha). Sehari sebelum Ramadhan, aku main badminton bersama teman-teman satu fakultas. Sungguh sangat menyenangkan karena ada adik kelas yang mau aku comblangin xixixi. Aku sengaja mempertemukan mereka berdua tanpa sepengetahuan mereka, seru banget kan. Semoga berjodoh ya mereka biar aku bisa membangun paviliun di surga, aaamiiin. Bact to the main topic, setelah main badminton tiba-tiba ada seorang teman yang ngajakin buat tarling, benar-benar dadakan dan tanpa babibu langsung aku iyakan. Soalnya aku pengen punya pengalaman tarling, kan nggak ada yang tau Ramadhan tahun depan masih dikasih umur panjang atau tidak. Nanti aku mau upload juga video kompilasi foto yang aku ambil selama melakukan tarling. Semoga sinyalnya mendukung ya soalnya aku lagi di kampung, rada-rada susah sinyal di sini.

            Salah satu pengalaman tarling unik yang mau ceritakan kali ini adalah tarawih di masjid Al-Imtizaj. Masjid Al-Imtizaj adalah masjid yang arsitektur bangunannya sangat unik, mirip klenteng, ala-ala tionghoa gitu. Setelah aku browsing tadi memang masjid ini sengaja dibangun pada tanggal 6 Agustus 2010 oleh Gubernur Jawa Barat untuk menfasilitasi orang-orang tionghoa muslim yang memang banyak berdagang di sekitar masjid ini. Masjid ini dibangun di bekas Gudang gedung perbelanjaan yang terbilang besar pada zamannya yang banyak orang tionghoa berdagang di sana. Nama Al-Imtizaj pun diambil karena mempunyai arti pembauran, harapannya bisa terjadi pembauran antara masyarakat tionghoa dengan masyarakat setempat dalam beribadah. Desain arsitekturnya yang unik membuat setiap orang yang melewati masjid ini ingin sekali berkungjung, termasuk diriku. Setiap melewati masjid ini ingin rasanya sholat di tempat ini tapi sebelum-sebelumnya belum ada kesempatan. Ketika ada tarling ini, makin semangatlah aku karena bisa ku pastikan masjid ini akan menjadi salah satu destinasi karena keunikannya.

            Aku awalnya tidak tau nama masjid ini, tapi ketika temanku yang notabene pemegang jadwal tarling memberitahu kalau hari itu akan tarawih di masjid tionghoa. Pikiranku langsung tertuju ke satu tempat, masjid Al-Imtizaj (yang tak ku ketahui Namanya sebelumnya). Semakin bersemangatlah aku dan teman sekosanku ketika sore tiba. Langsunglah kami berdua menaiki motor dan memecah jalanan Bandung yang memang selalu macet ketika sore apalagi di bulan Ramadhan. Ketika melihat nama masjid yang akan kami kunjungi, temanku langsung bilang padaku yang kala itu mengendarai motor kalau nama masjidnya masjid lautze. Kata temanku masjid lautze bukanlah masjid yang bentuknya seperti klenteng yang ingin sekali kami kunjungi. Tetapi memang masjid ini adalah pusat kegiatan islam masyarakat kong hu cu yang ada di Bandung. Bisa dibilang masjid lautze adalah Islamic centernya karena masjid ini memang sangat aktif melaksanakan kegiatan keislaman.

“Bukan masjid yang bentuknya klenteng itu ya qi?” tanyaku memastikan pada temanku yang Namanya Qiqi.

“Iya ternyata bukan, padahal aku pengen banget mbak” Jawabnya

“iya… Aku pengen banget juga” kataku lagi

            Jadilah kami berdua tetap melanjutkan perjalanan ke masjid Lautze walaupun sebenarnya ingin sekali ke masjid Al-Imtizaj. Tapi, berhubung teman-teman kami yang lain sudah di lokasi jadilah kami juga harus ke sana. Sesampainya di sana, ternyata sangat ramai dan para jamaah hingga ke emperan dan hampir ke jalan raya karena memang lokasi masjid lautze pas di pinggir jalan raya. Aku dan Qiqi bingung harus duduk dimana karena sebagian besar jamaah yang hadir adalah laki-laki. Kami pun tetap memberanikan diri ke arah pintu masuk masjid yang kemudian ditanyakan oleh seorang bapak-bapak,

“Mau kemana?” tanya seorang bapak-bapak

“Mau ke masjid” jawabku agak kebingungan. Lantas si bapak manggilin seorang kokoh-kokoh yang sepertinya adalah tetua masjid lautze.

“Oh… mau sholat ashar ya?” tanyanya

“Nggak, nggak, kami mau ikutan buka puasa. Kalau jamaah perempuannya dimana?” tanyaku. Si kokoh-kokoh kemudian mengarahkan kami untuk ke arah ruangan sebelahnya.

            Kami pun berjalan kea rah ruangan yang dimaksud. Ketika sampai di sana ternyata tempat yang beliau tunjuk adalah tempat penyimpanan makanan yang akan dibagikan pada jamaah yang akan buka puasa. Kami bertambah bingung, ditambah lagi ada seorang ibu-ibu yang tiba-tiba bertanya,

“Adek ini dari komunitas apa? Adek ini yang mau nganterin paket makanan bukan?” tanyanya

“Bukan bu, bukan. Kami hanya ingin ikut berbuka puasa” Jawabku gelagapan.

            Akhirnya karena kebingungan, kami putuskan untuk melanjutkan perjalanan saja ke masjid Al-Imtizaj yang memang jaranya tak terlalu jauh dari masjid Lautze. Benar-benar diijabah keinginan kami untuk mengunjungi masjid Al-Imtizaj. Mengungkapkan keinginan secara tulus apalagi di bulan Ramadhan benar-benar langsung dikabulkan oleh Allah. Jadilah kami berdua buka puasa di masjid Al-Imtizaj. Dua orang teman kami yang lain yang sudah terlanjur berada di masjid Lautze akhirnya memutuskan untuk menyusul kami ke masjid Al-Imtizaj setelah berbuka puasa di masjid Lautze. Kami pun tarawih di masjid Al-Imtizaj setelah makan berat di warung makan di seberangnya.

            Ketika Shalat isya telah dilaksanakan, mulailah tetua masjid memberikan ceramah sebelum memasuki shalat tarawih. Ada hal menarik yang tidak kami temukan di masjid-masjid sebelumnya yang kami kunjungi, apakah itu? Yaitu pemilihan imam shalat tarawih yang dilakukan dengan sistem lelang. Aku menyebutnya imam lelangan. Karena pemilihan imamnya secara sukarela, sang tetua memberikan kesempatan kepada para jamaah yang ingin mengajukan diri untuk menjadi imam. Kami pun sangat antusias mengikuti pemilihan imam ini, kami berharap ada salah satu dari teman kami yang mengajukan diri. Tetapi ternyata jauh panggang dari api, tak satu pun dari mereka berdua yang mengajukan diri. Ya sudahlah ya, memang berharap pada manusia sering berakhir dengan kekecewaan wkwkwk. Shalat tarawih di masjid ini sebanyak 11 rakaat, yang terdiri dari 4 rakaat pertama, 4 rakaat kedua, dan 3 rakaat witir sehingga ada tiga imam yang dibutuhkan dari para jamaah yang hadir. Tujuan dari imam lelangan ini adalah untuk mempererat tali silaturrahim antar para jamaah dan pengurus masjid, ini yang aku dengar dari pak tetua yang menyampaikan ceramah.

            Setelah pulang pun, topik tentang imam lelangan ini masih menjadi menu utama obrolan kami. Qiqi pun nyeletuk,

“Nanti kalau punya calon ajakin ke sini ah, mau lihat dia ngajuin diri jadi imam apa nggak. Kalau nggak ngajuin diri langsung dicoret” katanya berkelakar.

Iya sih, kan dites bisa jadi imam shalat apa nggak. Kalau nggak ngajuin diri tapi udah sayang gimana dong wkwkwk. Tapi kan nggak ngajuin diri bukan berarti nggak bisa jadi imam shalat, bisa aja si doi nggak mau riya wkwkwk (bisa aja lu ngelesnya Bambang). Benar-benar pengalaman yang menyenangkan dan tak kan terlupakan. Terimakasih ya Allah telah mempertemukan hamba dengan Ramadhan di tahun ini, semoga bisa berjumpa kembali dengan bulan yang sungguh mulia ini di tahun depan dan tentunya dengan pengalaman baru yang akan terus menempel di ingatan, aamiin.

Berikut aku sertakan beberapa foto yang aku ambil dari tempat sholat masjid Al-Imtizaj yang nuansa orientalnya sangat terasa. Diikuti dengan video kompilasi foto dari kagiatan tarling yang telag kami lakukan, happy watching. Ternyata nggak bisa upload video soalnya kalau worpress yang free harus diupgrade dulu. Yah,,, sayang sekali, jadinya upload foto masjidnya doang deh, nggak papa ya.

 

One thought on “Imam Lelangan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s