Kemantapan Berkomitmen

745            Pulang ketika menjelang lebaran artinya bersiap untuk mendatangi banyak kondangan. Syawal halal istilah bekennya. Hampir setiap hari ketika bulan syawal menghadiri kondangan nikahan menjadi rutinitas harian. Ada dua teman dekatku yang telah menikah dan akan menikah di bulan Syawal ini. Sepupu yang umurnya jauh lebih muda dariku, beberapa hari yang lalu telah menggenapkan separuh agamanya. Alhamdulillah wa syukurillah. Beberapa adik kelas yang merupakan tetanggaku juga akan melangsungkan pernikahan. Para orang tua mereka ku lihat mendatangi ibuku untuk mengundang secara langsung. Undangan seperti ini jauh lebih dihargai di desa tempatku tinggal daripada diundang menggunakan kertas undangan. Sedikit tidak efektif dan efisien sih tapi rasa penghargaan yang timbul berkat undangan langsung inilah yang mungkin tak bisa dibayarkan dengan apapun. Ponakan sepupuku juga kemarin telah melangsungkan pernikahan tapi karena hanya mengundang menggunakan kertas ke rumah, maka orang rumah sedikit tidak respect terhadap undangan yang mereka berikan. Jadilah mereka datang dan memberikan sumbangan seadanya. Sebegitu rumitnya hubungan silaturrahim di desa tapi mau tidak mau aku harus mulai mempelajarinya karena dimana kaki dipijak di situ langit dijunjung.

            Tetangga yang rumahnya paling dekat dengan rumah orang tuaku, beberapa hari lagi anaknya akan melangsungkan pernikahan. Aku agak sedikit terkejut dengan kabar ini karena masih sangat segar di ingatan, si adek ini dulu masih sangat kecil. Mungkin umurnya berbeda 10 tahun dengan umurku. Masih sangat muda untuk memegang sebuah komitmen seberat pernikahan menurut kacamataku. Aku selalu bertanya-tanya, rasa siap seperti apakah yang membuat seseorang berani untuk melangkah ke jenjang pernikahan? Karena menurutku, menikah itu berat, komitmennya harus kuat, dan masalah besar siap mengahadap. Walaupun tak dapat dipungkiri, rasa bahagianya pun tak bisa dibayangkan hanya dengan melihat harus langsung terlibat agar tak hanya bermain dengan persepsi yang datang sekelebat. Ketika si adek ini bertamu ke rumahku untuk bersalaman dengan membawa calon istrinya, terlihat jelas rona bahagia yang tak bisa disembunyikan dari wajah mereka berdua. Aku melihat mereka telah mantap untuk berkomitmen mambangun rumah tangga bersama. Bahagia sekali melihat pasangan yang sebentar lagi akan berstatus pasangan halal.

            Ada lagi seorang teman mainku dulu yang akan menikah sebentar lagi. Umurnya jauh lebih muda dariku. Aku ini hampir menjadi kakak perempuannya, tapi nggak jadi, kok bisa gitu? Iya… Soalnya aku hampir diangkat jadi anak sama ibunya dia. Ibunya dia tuh pengen banget punya anak perempuan soalnya dua anaknya laki-laki semua. Kebetulan ibuku lahir anak kembar perempuan dan semua anak ibuku perempuan. Tapi, tak berapa lama kemudian ibu temanku ini hamil si adik yang ku ceritakan ini dan laki-laki lagi. Jadinya aku dibalikin lagi ke ibuku. Begitu katanya ceritanya. Aku sendiri pun tak ingat detail kejadiannya. Si adik ini sekarang sudah besar, mandiri, dan sudah punya pekerjaan tetap. Nah parameter yang terakhirlah yang menguatkan para pemuda di desaku untuk mantap berkomitmen.

Ketika bercerita tentang tunangannya pada kami, si adik itu bercerita dengan ringannya dan begitu bahagianya. Aku yang memperhatikannya sedikit kagum saja dengan kemantapan komitmen yang dia tunjukkan. Sebenarnya bukan mereka yang terlalu muda tapi akunya yang sedikit terlambat untuk meyakinkan diri bahwa membangun komitmen pernikahan itu tidak semenakutkan dan serumit yang aku pikirkan. Make it simple and easy, karena apa yang kita prasangkakan maka itulah yang akan terjadi. Ya Allah… kenapa aku harus punya pemikiran serumit ini? Karena menurutku menikah itu bukan hal sederhana dan bisa dianggap sepele. Menikah itu awal mula kebahagiaan dan kesengsaraan yang akan kita jalani kedepannya, jadi nggak bisa asal gambling untuk memulainya. Tuh kan mulai rumit lagi wkwkwk. Intinya mah, kalau ada yang ngajakin berkomitmen menuju pernikahan, hayuk aja lah bang, asal visi dan misinya jelas mau ngapain ke depannya. Visi misi yang tak hanya sebatas urusan dunia tetapi harus tawazun (seimbang), dunia dan akhirat. Kalau memang mau berat ke salah satunya, aku akan pilih berat ke akhiratnya saja karena di sana kehidupan lebih abadi sedangkan dunia hanya tempat singgah semata. Maafkan tulisan yang asal ini karena bingung mau ngapain di waktu siang yang senggang wkwkwk.

3 thoughts on “Kemantapan Berkomitmen

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s