Rendah Hati Tak Merendahkanmu

5bcc4a599da181540115033-simakSudah lama tak bertegur sapa dan berkeluh kesah di sini. Banyak hari yang terlewati, banyak pula kisah yang dijalani. Sedang menimbang-nimbang kisah mana yang sekiranya sedikit ‘apik’ untuk dibagikan di sini. Kisah tentang haru biru tesis sepertinya terlalu mainstream walaupun ingin sekali ku ceritakan, seenggaknya kapan-kapan, tidak hari ini. Hari ini adalah hari perdanaku ngelab di laboratorium sitogenetika Fakultas Kedoteran Universitas Padjadjaran (Unpad). Yup, untuk kesekian kalinya aku pindah lab. Semoga ini lab yang terakhir yang akan mengantarkanku untuk memakai toga kampus gajah ini. Aku tidak bisa membohongi diri kalau aku mulai bosan dan ingin menapaki tahapan kehidupan selanjutnya yang pastinya ku percaya akan sangat menyenangkan. Prasangka baik akan mendatangkan kebaikan pula bukan?

              Aku sedikit kaget saja dan tak menyangka jika suasana lab yang sekarang ini sungguh berbeda dibandingkan lab-lab yang sebelumnya ku kunjungi, setidaknya kesan pertamanya. Gimana ya ngejelasinnya, seakan-akan aku udah lama mengenal orang-orang di sana saking ramahnya padahal ketemunya baru ketiga kalinya dan itu pun pertemuan singkat. Tak hanya pegawainya, tapi dokter-dokter di sana pun juga begitu, sangat baik dan ramah. Aku tak mengerti apa memang mereka baik atau akunya yang sudah lama tak diperlakukan dengan baik? Jadinya dibaikin dalam taraf normal un bisa bikin ku terharu sampe segininya Wkwkwkwk. Tapi mereka memang baik kok, seriusan deh. Salah satunya yang paling menarik perhatian adalah yang akan aku ceritakan di tulisan ini.

              Namanya dr. Eko, seorang dokter yang juga seorang doctor. Pertemuanku degan beliau hari ini adalah pertemuan perdana tapi kesan yang beliau tinggalkan sangat melekat dalam benakku bahkan hingga tulisan ini dibuat atau mungkin untuk selamanya. Pertemuan kami pun bukan pertemuan langsung antara aku dengan beliau, aku hanya kebetulan berada satu lab dengan baliau. Ketika aku sedang mengikuti pengarahan dari seorang pegawai di lab sitogenetik, masuklah beliau dengan seorang rekannya. Ketika beliau masuk, aku ngiranya beliau (maap beribu maap) itu bagian pegawai kebersihan gitu. Sungguh aku tak bermaksud mendeskreditkan pekerjaan seorang pegawai kebersihan. Kenapa bisa sebegitunya? Ya karena penampilan beliau yang sangat sederhana dan sikap beliau yang sangat sopan, teramat sopan untuk orang dengan predikat seperti beliau. Beliau seringkali melintarkan kata “maaf ya permisi”, “maaf ya ganggu”, “makasih ya”. Beliau juga tak segan menjelaskan dengan rinci pertanyaan apa pun yang dilontarkan kepada beliau. Ditambah dengan senyum sopan yang tak pernah lepas dari wajah beliau, senyum tulus dan rendah hati. Ketika pegawai yang menemaniku itu memanggil beliau “iya dok”, barulah aku tahu kalau beliau adalah seorang dokter.

              Ketika kegiatanku di dalam lab selesai, ngobrol lah aku dengan para pegawai di sana dan bahasan tentang dr. Eko semakin menambah kakagumanku kepada beliau. Menurut mereka, dr. Eko adalah dokter yang luar biasa. Seorang dokter sekaligus doctor yang masih rajin sekali masuk lab. Ditambah lagi beliau lulusan Todai (Tokyo University) sekaligus seorang dosen di Fakultas Kedokteran Unpad. Kebayang dong kesibukan seorang dosen dengan segala urusan administratif dan perkuliahan yang ada dan beliau masih sempat untuk terjun langsung meneliti di lab. Dedikasinya sungguh tidak bisa diragukan. Sifat beliau yang sungguh ramah dengan berbagai atribut ‘wow’ yang menempel pada beliau juga sangat menginspirasiku. Selama ini aku dihadapkan pada realita dimana orang yang punya pangkat dan keilmuan tinggi cenderung langitan –susah dijangkau wkwkwk (nggak semuanya ya, aku bukan mengeneralisir), sebagian besar orang yang ku temui seperti itu. Pun demikian, orang yang pangkatnya tidak tinggi, mempunyai kepribadian yang sangat ramah, baik, dan mudah tersenyum. Tapi hari ini semuanya runtuh ketika ku bertemu dr. Eko karena beliau adalah sosok dengan pangkat dan keilmuan tinggi tetapi mempunyai kepribadian yang sangat ramah, baik, dan mudah tersenyum. Terimakasih dok, memang benar teladan dengan perbuatan adalah teladan yang tak tergantikan, sama seperti yang telah dokter lakukan. Sekarang aku sadar, bahwa rendah hati benar-benar tak akan merendahkan kita, tidak sama sekali.