Sederhananya Sebuah Peran

cucian-piringLagi di kereta nih, perjalanan pulang ke Bandung. Pulang? Ini yang aku takutkan. Aku mulai merasa ‘balik’ ke Bandung sebagai ‘pulang’. Emang apa bedanya ‘pulang’ dan ‘balik’? Beda lah, coba baca postingan sebelum tulisan ini, lantas kamu akan mengerti perbedaan keduanya. Mulai begitu nyamankah Bandung? Iya, can’t lie myself. Karena? Karena banyak hal, nggak harus ku rinci satu-satu kan. Di sampingku sekarang duduk seorang ibu muda dengan bayi mungil lucunya. Mereka berdua sedang tertidur pulas. Sebenarnya aku berniat untuk membuka laptop di ruang restorasi, tapi berhubung aku di gerbong 4, sedangkan ruang restorasinya ada di depan gerbong 1. Kebayang dong aku harus berjalan sejauh apa, ya udah aku putuskan ngetik di tempat dudukku saja, begitulah aku dan segala kemageranku.

              Perjalanan ke Bandung dari Surabaya artinya aku telah melakukan perjalanan arah sebaliknya, Bandung-Surabaya. Iya emang. Perjalanan kali ini sangat amat singkat dan cukup membuat badanku remuk redam. Gimana nggak, berangkat dari Bandung menuju Jakarta jam 04.20 karena tiket keretanya jam 04.50. Meminta bapak grabride buat ngebut karena udah mepet banget, nyampe Jakarta jam 09.00 di Jatinegara. Terus nunggu kereta yang ke senen yang ternyata luamaaa pisan. Untungnya kereta ke surabayanya jam 10.15. Nyampe senen langsung nyetak tiket dan ketemuan sama saudara kembarku yang punya ide agar aku berangkat dari Jakarta saja, yang tentunya tak akan aku lakukan lagi karena ternyata sangat melelahkan dan mendebarkan. Naik kereta eksekutif yang ternyata nempel di kereta ekonomi, jadinya jalannya lambat khas kereta ekonomi walaupun tempat duduknya khas eksekutif. Menurut prediksi kami berdua, gerbong ini adalah gerbong tambahan karena tingginya paermintaan, makanya cuma ada dua gebong eksekutif di belakang kereta ekonomi. Nyampe Surabaya jam 01.30 dan kami istirahat di rumah kakak perempuan kami. Udara panas khas Surabaya langsung menyeruak membuat keluhan tak henti-hentinya keluar dari hati dan terkadang keluar juga dari mulut wkwkwk. Puanas bin gerah, nggak ada AC, adanya kipas. Huh hah. Sejenak langsung kangen kamu Bandung. Di rumah kakak perempuanku telah ada rombongan keluarga inti dari Madura, kami akan Bersama-sama ke Malang untuk menghadiri silaturaahim keluarga besar Absari-Sarito yang memang rutin dilaksanakan tiap tahun. Kebetulan acaranya tahun ini di Batu-Malang, padahal awalnya di Banyuwangi.

              Aku benar-benar tidak sabar ingin segera sampai di Batu-Malang karena menurutku udara di sana 11 12 Bandung. Aku ingin segera keluar dari kegerahan ini. Akhirnya sampailah kami di tempat kami menginap jam 18.00 dan betapa bahagianya karena di sana ada kolam renangnya juga. Sebenarnya aku tahu badanku akan bermasalah kalau memaksakan diri mandi dengan kondisi yang begitu ekstremnya, dari Surabaya yang panas dan gerah menuju Batu yang sejuk dan dingin, semacam heatshock. Tapi aku udah bodo amat, aku ingin segera merasakan kesejukan air kolam renang. Sehabis isya, aku dan sepupu-sepupuku yang lain menceburkan diri ke kolam yang memang cukup membuat menggigil pada awalnya. Kegaduhan yang kami buat membuat anak-anak bocah yang dilarang ibunya untuk berenang tak bisa lagi diredam. Beberapa di antara mereka akhirnya menceburkan diri ke kolam wkwkwk. Setelah puas, ku putuskan untuk naik dan membersihkan diri. Makan malam lantas tidur dan benar saja. Tengah malam kepalaku mulai menunjukkan reaksi tidak enak. Separuh kepalaku mulai berat, terasa ada yang menggeliat, dan setelah ku analisa sepertinya aku migrain. Separuh kepakau benar-benar sakit tak karuan. Keindahan Batu di malam hari tak bisa ku nikmati karena kepalaku benar-benar sakit, mual, dan tak enak. Rasa ini sering ku alami ketika habis olahraga atau masuk angin. Sepertinya ada yang salah di badanku ini tapi aku belum siap untuk mengetahui apa gerangan penyebabnya walaupun teman-temanku banyak yang menyarankanku untuk medical check up karena ya aneh aja, masak abis olahraga malah pusing.

              Bangun pagi untuk sholat subuh kepalaku benar-benar makin beraat sehingga ibuku menjadi benar-benar khawatir dan mencoba berbagai jurus pijatan yang beliau punya untuk menyembuhkanku. Saudara kembarku menyarankanku untuk minum kopi hitam karena cara ini cukup ampuh ketika dia mengalami hal yang sama denganku. Ku segera ke dapur dan mendapati orang-orang sedang sibuk menyiapkan sarapan. Aku akhirnya menunggu saja untuk dibikinkan kopi hitam yang dimaksud. Setelah menunggu cukup lama, datanglah si kopi hitam yang ditunggu. Setelah minum kopi, aku tidak tambah sembuh tetapi malah makin mual dan muntah pun tak bisa dihindari. Setelah muntah, sedikit merasa lebih enteng sih. Apa ini metode penyembuhan menggunakan kopi hitam yang saudara kembarku maksud, entahlah. Setelah semua isi perut terkuras, ku paksakan diri ke bawah untuk sarapan soto, lumayan untuk mengisi perutku yang kosong dengan sesuatu yang hangat dan enak. Ku makan soto pelan-pelan dan Alhamdulillah, pusing yang kurasakan pelan-pelan hilang. Aku benar-benar bahagia merasakan kepalaku yang kembali normal dan tidak pusing. Sebagai wujud rasa syukurku karena pusingku yang hilang akhirnya ku putuskan untuk mengambil peran yang sederhana di liburan kali ini. Apa itu? Nyuci piring wkwkwk. Fyi (for your information), aku adalah orang yang paling males nyuci baju, nyuci piring, nyetrika, dan ngepel. Mengambil peran di sektor yang tidak aku suka adalah sebuah gebrakan luar biasa hahaha.

              Nyuci piring kemarin benar-benar meyenangkan dan rasanya senangnya masih ku rasakan sampai tulisan ini dibuat. Kenapa bisa berubah sedrastis itu ya? Dari sesuatu yang paling tidak ku suka, menjadi sebuah sumber kesenangan. Jawabannya adalah karena aku merasa keberadaanku mempunyai sebuah peran. Ketika badanku benar-benar tak enak, aku merasa diriku hanyalah sebuah beban. Bagaimana tidak? Ketika yang lain bisa bersenda gurau bersama, aku hanya berkutat dengan badanku dan merepotkan orang-orang di sekitarku. Ternyata peran sesederhana itu bisa membuat seseorang menjadi begitu berharga. Aku jadi teringat banyak kejadian di hidupku yang terkadang ku pandang dari kacamataku sendiri, ku takar berdasarkan takaranku sendiri. Setiap ada hajatan di rumah, ibuku selalu meminta seseorang untuk membantu beliau mencuci piring. Sebagai pribadi yang tidak suka nyuci piring, aku selalu kasian melihat mereka nyuci piring tapi herannya wajah mereka tak pernah sedih, malah dengan ramah dan wajah berseri menerima piring kotor dariku dan dari orang-orang yan lain. Begitu pula ketika ku pergi ke sebuang undangan pernikahan dan pergi mengambil makanan, aku selalu memikirkan betapa beratanya pekerjaan mencuci piring setelahnya. Entahlah, aku selalu menaruh empati yang sangat besar tarhadap sebuah perkerjaan yang tak ku suka tapi dikerjakan oleh orang lain. Tapi, setelah kejadian mencuci piring di penginapan yang ku lakukan, aku tak lagi memandang seseorang yang nyuci piring atau melakukan pekerjaan lain yang tidak ku suka sebagai sebuah beban dan pekerjaan yang tak menyenangkan. Karena apapun itu, pekerjaan yang kita lakukan sekarang hanyalah sebuah peran kecil yang kita ambil untuk membuat hidup kita terasa lebih berharga. Bukankah menjadi berharga adalah awal dari kebahagiaan? Karena kita tahu keberadaan kita tak hanya menjadi beban tetapi punya peran, dan perlu diingat peran apapun tak perlu dipermasalahkan, sesederhana  dan sekecil apapun itu. Kini, caraku memandang sesuatu tak akan sama lagi, tak akan memakai porsi, kacamata, dan takaran pribadiku lagi. Dalem banget ya pelajaran yang didapat dari nyuci piringnya. Iya dong, kan setiap jengkal dari kehidupan kita adalah sebuah pelajaran #DitaEdisiBijakAkhirTahun wkwkwk.

Tragedi BreadTalk

roti-breadtalk.jpgNulis kejadian ini rada mempertaruhkan masa depan sih. Kenapa gitu? Ya gimana nggak, nulis ini disela-sela ngerjain draft tesis dan bikin slide presentasi buat seminar hasil penelitian tesisku. Kapan gitu seminarnya? Ih, kepo deh. Tiga hari lagi lho ini dan aku belum bikin slide yang fix. Jangankan slide, draft tesis aja baru selesai bab III dan IV, itu juga seadanya. Tapi, aku yakin ini akan selesai pada waktunya. Satu hal sih yang aku punya dan nggak semua orang punya adalah, keyakinan. Ya apalagi coba yang harus aku andalkan selain keyakinan. Yakin bahwa Allah akan mengarahkanku dan menuntunku ke tujuan yang aku tuju. Keyakinan ini pula yang membuatku dapat meredam segala kekhawatiran yang muncul dalam hidup sehingga aku tumbuh menjadi pribadi yang seolah-olah santai kayak di pantai dan selow kayak di pulau. Kayakinan ini menjadi dua mata pisau yang kadang bisa membantuku menghadapi persoalan hidup dan melukaiku ketika aku secara tidak sadar salah kaprah memaknainya. Kayakinan ini membantuku tatkala aku merasa khawatir memikirkan masa depan, terutama terkait rezeki Aditya wkwkwk (suami orang woy). Siapa sih yang nggak pernah khawatir mikirin rezeki, siapa? Orang yang udah kaya raya tujuh turunan dan tanjakan menurutku pasti pernah khawatir akan rezeki mereka. Bedanya sama kita mungkin, kalau kita bingung nyari rezekinya kemana, tapi kalo mereka mungkin bingung ngabisinnya kemana hahaha. Sama-sama khawatir kan hahaha. Tatkala khawatir memikirkan rezeki, alam bawah sadarku akan membawaku menemui keyakinan yang ku pegang erat-erat itu. Lantas, dia akan berkata ‘tenang aja, yakinlah kalau tuhanmu maha kaya. Rezekimu sudah diatur sedemikian rupa, Dia akan mengirimkan rezeki buatmu dari arah yang tak pernah kamu sangka’. Lantas aku pun tenang. Bukankah, awal lahirnya solusi dari sebuah permasalahan adalah pikiran yang tenang? Jadi, bisa dibilang nih ketika kita tenang menghadapi sebuah permasalahan, berarti kita telah mendapatkan separuh dari solusi yang kita cari tanpa kita sadari. Itu menurutku ya. Nah, mata pisau yang melukaiku ini ketika keyakinan ini muncul tatkala aku sedang mengahadapi ujian atau ngerjain tugas. Aku selalu marasa yakin bahwa aku pasti bisa mengerjakan dan menyelesaikannya, padahal secara hitung-hitungan perasaan dan logika itu nggak masuk sama sekali. Parahnya, keyakinan ini sering muncul di masa studi pascaku. Termasuk nulis blog ini juga termasuk salah satu bentuk keyakinanku bahwa draft tesis dan slideku akan selesai walaupun ada sedikit waktu yang ku alihkan untuk menulis curhatan ini. Nggak papa lah ya, soalnya kalau nunggu ntar-ntar takutnya feelnya jadi beda dan kurang berasa gitu ceritanya wkwkwk.

              Tragedi ini bisa dibilang tragedi yang bodoh banget sih. Aku cerita dulu ya, nanti di akhir cerita kalau kalian masih ngerasa aku pinter ya aku bisa apa wkwkwk. Jadi ceritanya, di kosanku tuh ada satu meja yang dia tuh selalu memberikan kebahagiaan bagi setiap insan di kosan. Namanya meja halal. Apa pun yang ditaruh di meja itu maka statusnya akan berubah menjadi halal. Halal untuk dimiliki siapa pun tanpa terkecuali, bisa dinikmati tanpa harus izin sana sini. Di atas meja itu ada sebuah TV jadul yang tak pernah diminati. Hubungannya sama cerita ini? Nggak ada sih cuma sekedar berabagi informasi. Udah kebayang dan sepakat ya, apapun yang diletakkan di meja di bawah TV ini akan menjadi milik umum, bukan lagi milik pribadi. Barang sejenis apa sih yang biasanya diletakkan di meja halal ini? Ya macem-macem, tapi sebagian besar adalah makanan dan sesekali obat-obatan. Biasanya meja ini akan terisi sesak dengan makanan ketika ada salah satu atau beberapa anggota kosan yang baru balik dari kampung halaman.

Oya, sebelum cerita lebih jauh, aku ingin berbagi informasi yang sedikit penting terkait penggunaan kata ‘pulang’ dan ‘balik’. Pulang adalah kata yang digunakan ketika kita pergi menuju suatu tempat dimana kita berasal, sehingga ketika kita akan ke kampung halaman maka istilahnya menjadi ‘pulang kampung’ bukan ‘balik kampung’. Misal juga ketika kita meninggal, maka istilahnya menjadi ‘pulang kepada sang pencipta’ bukan ‘balik ke sang pencipta’. Sedangkan kata ‘balik’ adalah kata yang digunakan ketika kita akan menuju suatu tempat dari tempat asal kita. Semisal kita merantau nih, maka ketika tiba saatnya kita harus kembali ke tanah rantau maka yang kalimat yang tepat adalah ‘balik ke tanah rantau’ bukan ‘pulang ke tanah rantau’. Karena istilah pulang adalah istilah yang digunakan ketika kamu sudah pasti akan kembali atau diharuskan untuk kembali tetapi balik tak mengaharuskanmu untuk kembali. Eaaa, dalem banget si, diajarin siapa? Diajarin bapakku wkwkwk. Dulu, pas masih kuliah di bogor, terus aku bilang ‘nanti aku pulang ke bogornya hari minggu ya’, aku bakalan ditegur sama bapakku. Katanya kalau ke Bogor bukan pulang tapi balik, kalau ke rumah baru pulang. Ribet ye, jadi nanti kalau nanya suami jadinya kayak gini,

“mas, nanti pulangnya jam berapa?” (berarti suaminya harus kembali), tapi kalau nanyanya gini,

“mas, nanti baliknya jam berapa?” (berarti suaminya nggak papa nggak kembali) wkwkwk, serem banget dah. Becanda doang ini mah ya, jangan diambil serius wkwkwk.

              Kebiasaan banget dah keluar dari inti cerita, nyampe mana tadi? Oya meja halal. Berhubung sudah terpatri nih di otak, apapun yang ada di meja halal, maka halal untuk diambil dan dinikmati. Maka tinggal masalah siapa cepat dia dapat aja kalau semisal ada makanan di sana. Berhubung ini kosan cewek, jadi nggak bakalan sebar-bar kosan cowok sih. Tapi, berhubung ini kosan cewek tapi ceweknya sejenis aku, jadi rada sedikit bar-bar juga wkwkwk. Jadi ceritanya, pas aku lagi nyuci piring di dapur, ada seorang teman kosan yang teriak-terika dari meja halal yang letaknya di lantai2,

“mbak Dit, ini ada roti breadtalk di meja halal. Mau nggak?” tanyanya bersemangat

“mauuuu, punya siapa? Ada berapa?” tanyaku lagi karena sedikit janggal aja ada yang naroh roti breadtalk terus masih ada gitu ya.

“nggk tau punya siapa, cuma ada dua. Aku ambil satu, mau parohan nggak?” Jawabnya. Ditambah lagi cuma ada dua. Aku sebenernya udah kenyang waktu itu, tapi yang namanya rezeki kan nggak boleh ditolak yah, jadinya aku iyain aja.

“maoooo” jawahku sedikiti berteriak mengiyakan.

              Diberikanlah separoh roti breadtalk itu padaku, ku bawa ke kamar dan ku letakkan begitu saja di kamar tanpa ku sentuh karena memang nggak laper. Ku cowel sedikit sih, sedikit banget soalnya penasaran sama rasanya, varian yang ini memang belum pernah aku beli sebelumnya. Setelah itu ku letakkan kembali karena ku ingin mengecek hpku. Pas lagi cek story wa, tetiba aku terkaget-kaget sama story teman kosanku yang lain yang isinya adalah screen capture percakapan wa antara dia dan temen kosan. Isinnya kayak gini,

ss-wa.png

              Aku langsung kaget dong liat story ini, ya gimana nggak coba. Ternyata roti breadtalk yang kita makan yang awalnya kita sangka halal karena berada di meja halal, ternyata nggak halal. Ya gimana mau halal, orang rotinya ditujukan spesifik buat seseorang di kosanku bukan halal untuk semua penghuni kosan. Aku langsung kirim status temenku ini ke temen yang ngasih tuh roti ke aku dan langsung ku ajak doi ke ciwalk (mall cihalpelas walk) buat beli roti breadtalk dengan varian yang sama persis. Kami berdua ngakak sepanjang jalan dengan kejadian bodoh ini. Untungnya ujan malam itu udah reda jadinya kami bisa langsung cus ke ciwalk. Tau sendiri lah ya, kalau ke ciwalk itu nggak bakalan bisa beli satu macem, mesti lah beli macem-macem. Gagal deh wacana mau hemat, hemat itu kan kayak diet, mulainya besok-besok aja wkwkwk. Lucunya, pas kita nyampe gerai breadtalk, roti dengan varian yang sama seperti yang kita makan cuma tinggal satu-satunya. Alhamdulillah, seenggaknya kami masih bisa ngeganti tuh roti akibat kebodohan yang kami lakukan. Kami nggak sepenuhnya salah sih, cuma ya terlalu bar bar aja liat barang enak di meja halal wkwkwk. Ternyata salah nempatin sesuatu tuh bisa mengubah sesuatu yang seharusnya halal dimiliki dan dinikmati menjadi sebaliknya ya. Sama kayak nempatin hati kita, letakkanlah dia di tempat yang sudah bisa dipastikan kehalalannya bukan hanya sekedar diperkirakan kehalalannya atau bahkan diharapkan kehalalannya soalnya bisa berabe kalau ternyata kenyataannya, tempat yang hati kita tempati ternyata nggak halal. Rada maksa ya analoginya wkwkwk, bangeeet sih.

Selalu ada hikmah dari setiap tragedi sih, apapun itu, cuma perlu sedikit peka aja. Tragedi ini juga bikin aku sama temen bar-barku itu jadi bisa quality time berdua ke ciwalk yang mana belum pernah kami lakuin sebelumnya. Bisa dijamin lah tiap liat gerai breadtalk setalah kejadian ini bakalan selalu keinget sama tragedi bodoh ini, Hahahahahaha.