Tragedi BreadTalk

roti-breadtalk.jpgNulis kejadian ini rada mempertaruhkan masa depan sih. Kenapa gitu? Ya gimana nggak, nulis ini disela-sela ngerjain draft tesis dan bikin slide presentasi buat seminar hasil penelitian tesisku. Kapan gitu seminarnya? Ih, kepo deh. Tiga hari lagi lho ini dan aku belum bikin slide yang fix. Jangankan slide, draft tesis aja baru selesai bab III dan IV, itu juga seadanya. Tapi, aku yakin ini akan selesai pada waktunya. Satu hal sih yang aku punya dan nggak semua orang punya adalah, keyakinan. Ya apalagi coba yang harus aku andalkan selain keyakinan. Yakin bahwa Allah akan mengarahkanku dan menuntunku ke tujuan yang aku tuju. Keyakinan ini pula yang membuatku dapat meredam segala kekhawatiran yang muncul dalam hidup sehingga aku tumbuh menjadi pribadi yang seolah-olah santai kayak di pantai dan selow kayak di pulau. Kayakinan ini menjadi dua mata pisau yang kadang bisa membantuku menghadapi persoalan hidup dan melukaiku ketika aku secara tidak sadar salah kaprah memaknainya. Kayakinan ini membantuku tatkala aku merasa khawatir memikirkan masa depan, terutama terkait rezeki Aditya wkwkwk (suami orang woy). Siapa sih yang nggak pernah khawatir mikirin rezeki, siapa? Orang yang udah kaya raya tujuh turunan dan tanjakan menurutku pasti pernah khawatir akan rezeki mereka. Bedanya sama kita mungkin, kalau kita bingung nyari rezekinya kemana, tapi kalo mereka mungkin bingung ngabisinnya kemana hahaha. Sama-sama khawatir kan hahaha. Tatkala khawatir memikirkan rezeki, alam bawah sadarku akan membawaku menemui keyakinan yang ku pegang erat-erat itu. Lantas, dia akan berkata ‘tenang aja, yakinlah kalau tuhanmu maha kaya. Rezekimu sudah diatur sedemikian rupa, Dia akan mengirimkan rezeki buatmu dari arah yang tak pernah kamu sangka’. Lantas aku pun tenang. Bukankah, awal lahirnya solusi dari sebuah permasalahan adalah pikiran yang tenang? Jadi, bisa dibilang nih ketika kita tenang menghadapi sebuah permasalahan, berarti kita telah mendapatkan separuh dari solusi yang kita cari tanpa kita sadari. Itu menurutku ya. Nah, mata pisau yang melukaiku ini ketika keyakinan ini muncul tatkala aku sedang mengahadapi ujian atau ngerjain tugas. Aku selalu marasa yakin bahwa aku pasti bisa mengerjakan dan menyelesaikannya, padahal secara hitung-hitungan perasaan dan logika itu nggak masuk sama sekali. Parahnya, keyakinan ini sering muncul di masa studi pascaku. Termasuk nulis blog ini juga termasuk salah satu bentuk keyakinanku bahwa draft tesis dan slideku akan selesai walaupun ada sedikit waktu yang ku alihkan untuk menulis curhatan ini. Nggak papa lah ya, soalnya kalau nunggu ntar-ntar takutnya feelnya jadi beda dan kurang berasa gitu ceritanya wkwkwk.

              Tragedi ini bisa dibilang tragedi yang bodoh banget sih. Aku cerita dulu ya, nanti di akhir cerita kalau kalian masih ngerasa aku pinter ya aku bisa apa wkwkwk. Jadi ceritanya, di kosanku tuh ada satu meja yang dia tuh selalu memberikan kebahagiaan bagi setiap insan di kosan. Namanya meja halal. Apa pun yang ditaruh di meja itu maka statusnya akan berubah menjadi halal. Halal untuk dimiliki siapa pun tanpa terkecuali, bisa dinikmati tanpa harus izin sana sini. Di atas meja itu ada sebuah TV jadul yang tak pernah diminati. Hubungannya sama cerita ini? Nggak ada sih cuma sekedar berabagi informasi. Udah kebayang dan sepakat ya, apapun yang diletakkan di meja di bawah TV ini akan menjadi milik umum, bukan lagi milik pribadi. Barang sejenis apa sih yang biasanya diletakkan di meja halal ini? Ya macem-macem, tapi sebagian besar adalah makanan dan sesekali obat-obatan. Biasanya meja ini akan terisi sesak dengan makanan ketika ada salah satu atau beberapa anggota kosan yang baru balik dari kampung halaman.

Oya, sebelum cerita lebih jauh, aku ingin berbagi informasi yang sedikit penting terkait penggunaan kata ‘pulang’ dan ‘balik’. Pulang adalah kata yang digunakan ketika kita pergi menuju suatu tempat dimana kita berasal, sehingga ketika kita akan ke kampung halaman maka istilahnya menjadi ‘pulang kampung’ bukan ‘balik kampung’. Misal juga ketika kita meninggal, maka istilahnya menjadi ‘pulang kepada sang pencipta’ bukan ‘balik ke sang pencipta’. Sedangkan kata ‘balik’ adalah kata yang digunakan ketika kita akan menuju suatu tempat dari tempat asal kita. Semisal kita merantau nih, maka ketika tiba saatnya kita harus kembali ke tanah rantau maka yang kalimat yang tepat adalah ‘balik ke tanah rantau’ bukan ‘pulang ke tanah rantau’. Karena istilah pulang adalah istilah yang digunakan ketika kamu sudah pasti akan kembali atau diharuskan untuk kembali tetapi balik tak mengaharuskanmu untuk kembali. Eaaa, dalem banget si, diajarin siapa? Diajarin bapakku wkwkwk. Dulu, pas masih kuliah di bogor, terus aku bilang ‘nanti aku pulang ke bogornya hari minggu ya’, aku bakalan ditegur sama bapakku. Katanya kalau ke Bogor bukan pulang tapi balik, kalau ke rumah baru pulang. Ribet ye, jadi nanti kalau nanya suami jadinya kayak gini,

“mas, nanti pulangnya jam berapa?” (berarti suaminya harus kembali), tapi kalau nanyanya gini,

“mas, nanti baliknya jam berapa?” (berarti suaminya nggak papa nggak kembali) wkwkwk, serem banget dah. Becanda doang ini mah ya, jangan diambil serius wkwkwk.

              Kebiasaan banget dah keluar dari inti cerita, nyampe mana tadi? Oya meja halal. Berhubung sudah terpatri nih di otak, apapun yang ada di meja halal, maka halal untuk diambil dan dinikmati. Maka tinggal masalah siapa cepat dia dapat aja kalau semisal ada makanan di sana. Berhubung ini kosan cewek, jadi nggak bakalan sebar-bar kosan cowok sih. Tapi, berhubung ini kosan cewek tapi ceweknya sejenis aku, jadi rada sedikit bar-bar juga wkwkwk. Jadi ceritanya, pas aku lagi nyuci piring di dapur, ada seorang teman kosan yang teriak-terika dari meja halal yang letaknya di lantai2,

“mbak Dit, ini ada roti breadtalk di meja halal. Mau nggak?” tanyanya bersemangat

“mauuuu, punya siapa? Ada berapa?” tanyaku lagi karena sedikit janggal aja ada yang naroh roti breadtalk terus masih ada gitu ya.

“nggk tau punya siapa, cuma ada dua. Aku ambil satu, mau parohan nggak?” Jawabnya. Ditambah lagi cuma ada dua. Aku sebenernya udah kenyang waktu itu, tapi yang namanya rezeki kan nggak boleh ditolak yah, jadinya aku iyain aja.

“maoooo” jawahku sedikiti berteriak mengiyakan.

              Diberikanlah separoh roti breadtalk itu padaku, ku bawa ke kamar dan ku letakkan begitu saja di kamar tanpa ku sentuh karena memang nggak laper. Ku cowel sedikit sih, sedikit banget soalnya penasaran sama rasanya, varian yang ini memang belum pernah aku beli sebelumnya. Setelah itu ku letakkan kembali karena ku ingin mengecek hpku. Pas lagi cek story wa, tetiba aku terkaget-kaget sama story teman kosanku yang lain yang isinya adalah screen capture percakapan wa antara dia dan temen kosan. Isinnya kayak gini,

ss-wa.png

              Aku langsung kaget dong liat story ini, ya gimana nggak coba. Ternyata roti breadtalk yang kita makan yang awalnya kita sangka halal karena berada di meja halal, ternyata nggak halal. Ya gimana mau halal, orang rotinya ditujukan spesifik buat seseorang di kosanku bukan halal untuk semua penghuni kosan. Aku langsung kirim status temenku ini ke temen yang ngasih tuh roti ke aku dan langsung ku ajak doi ke ciwalk (mall cihalpelas walk) buat beli roti breadtalk dengan varian yang sama persis. Kami berdua ngakak sepanjang jalan dengan kejadian bodoh ini. Untungnya ujan malam itu udah reda jadinya kami bisa langsung cus ke ciwalk. Tau sendiri lah ya, kalau ke ciwalk itu nggak bakalan bisa beli satu macem, mesti lah beli macem-macem. Gagal deh wacana mau hemat, hemat itu kan kayak diet, mulainya besok-besok aja wkwkwk. Lucunya, pas kita nyampe gerai breadtalk, roti dengan varian yang sama seperti yang kita makan cuma tinggal satu-satunya. Alhamdulillah, seenggaknya kami masih bisa ngeganti tuh roti akibat kebodohan yang kami lakukan. Kami nggak sepenuhnya salah sih, cuma ya terlalu bar bar aja liat barang enak di meja halal wkwkwk. Ternyata salah nempatin sesuatu tuh bisa mengubah sesuatu yang seharusnya halal dimiliki dan dinikmati menjadi sebaliknya ya. Sama kayak nempatin hati kita, letakkanlah dia di tempat yang sudah bisa dipastikan kehalalannya bukan hanya sekedar diperkirakan kehalalannya atau bahkan diharapkan kehalalannya soalnya bisa berabe kalau ternyata kenyataannya, tempat yang hati kita tempati ternyata nggak halal. Rada maksa ya analoginya wkwkwk, bangeeet sih.

Selalu ada hikmah dari setiap tragedi sih, apapun itu, cuma perlu sedikit peka aja. Tragedi ini juga bikin aku sama temen bar-barku itu jadi bisa quality time berdua ke ciwalk yang mana belum pernah kami lakuin sebelumnya. Bisa dijamin lah tiap liat gerai breadtalk setalah kejadian ini bakalan selalu keinget sama tragedi bodoh ini, Hahahahahaha.

4 thoughts on “Tragedi BreadTalk

  1. Hahahaa, mbaaa 😂😂

    Alhamdulillah masih sempat liat status itu jd tau kebenarannya ya haha

    Anyway, utk slide mgkn boleh coba cek Slide Go (browse aja d google), slidenya lucu2 nanti kita tinggal isi materinya, good luck utk seminar hasilnya!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s