Ambigu

maybeEntah udah yang keberapa kali nulis kalimat pembuka buat tulisan ini, kemudian dihapus lagi. Nulis lagi, apus lagi, gitu aja terus sampe matahari terbit. Aku jadi kehilangan rasa percaya diriku buat nulis gara-gara revisi draft tesis dari dosen pembimbingku benar-benar penuh dengan coretan merah. Full dengan tinta merah hampir di setiap halamannya terutama halaman-halaman awal. Awalnya aku tidak merasakan apa-apa, seakan-akan mati rasa. Tapi, setelah kembali ku cermati, tulisanku memang sengasal itu, banyak kalimat yang tidak lengkap, berputar-putar, dan ambigu. Aku mengibaratkan nulis tesis sama seperti nulis di blog yang seenak jidat, padahal kan beda banget. Nulis tesis tuh harus jelas, sistematis, dan menggunakan Bahasa ilmiah. Kemarin malam aku dibantu dua orang temanku mengedit tulisanku hingga lewat tengah malam. Tulisanku yang awalnya begitu panjang dan berputar-putar, menjadi singkat, padat, dan sistematis. Terimakasih teman-teman baikku. Itu hikmah positif dari banyaknya revisi penulisan draft tesis, aku menjadi lebih aware dan nggak seenak jidat pas lagi nulis. Tapi, ada dampak negatifnya juga lho, aku jadi insecure kalau mau nulis, nggak percaya diri (PD), dan selalu ngerasa salah. Pas mau nulis tulisan ini juga, rasanya berat banget dan ngerasa gaya tulisannya nggak gue banget. Tapi aku tetep paksa soalnya aku lagi mandeg banget buat nulis bab pembahasan. Bahkan hingga jam segini pun (23.51) belum ada progress berarti yang ku tulis di halaman pembahasan, padahal aku telah berada di tempat ini sejak jam 19.15. Ya mau gimana lagi ya, namanya juga stagnan. Kayak kita lagi jalan di labirin tapi nemuin jalan buntu terus. Mending aku alihin ke hal lain aja dulu.

              Ngomong-ngomong masalah ambigu, aku mengalami beberapa hal ambigu akhir-akhir ini. Lebih tepatnya satu hal ambigu yang ku alami sendiri dan dua kejadian ambigu yang dialami dua orang terdekatku. Satu hal ambigu yang ku alami adalah tentang keambiguan penafsiran yang ku lakukan terhadap orang yang dulu pernah menarik di mataku. Aku ambigu memaknai perbuatannya yang ternyata bermakna sebaliknya. Aku memaknai kalimat denotasi yang dia sampaikan sebagai kalimat konotasi. Padahal dia benar-benar hanya sekedar bertanya, tak ada maksud lain di baliknya. Nah, aku justru mencari makna di balik kalimat itu dengan prasangka ‘jangan-jangan dia modus ke gw’, padahal mah nggak sama sekali. Begitulah kalau berinteraksi sama orang yang kita suka, kalimat biasa aja bakalan diartiin macem-macem padahal aslinya cuma satu macem. Ini termasuk ambigu nggak sih? Mboh lah, aku cuma pengen nulis cerita ini aja walaupun nggak detail-detail amat. Intinya aku salah paham aja sebenernya.

              Kejadian ambigu selanjutnya dialami teman kosku yang menurutku kocak banget. Udah pada tau kan kalau di kosku tuh ada meja halal yang biasanya akan terisi penuh ketika para penghuni kosan baru kembali dari kampung halaman masing-masing. Penghuni kos yang berniat menaruh panganan di meja halal biasanya akan mengirim foto panganan yang mereka bawa ke grup whatsapp kosan. Hari itu, ada satu foto yang dikirimkan temanku ke grup kosan disertai dengan pesan yang bertuliskan,

“yang mau sale mangga ya di bawah tipi”

Beberapa penghuni kosan membalas pesan tersebut dengan ucapan antusias dan tak lupa ucapan terimakasih. Aku pun begitu. Temanku yang mengirimkan foto tersebut berasal dari cilacap dan udah terbiasa bawa panganan berupa sale pisang, jadi nggak ada yang janggal. Hal di luar dugaan justru terjadi ketika temanku yang berasal dari lampung beru kembali dari kampung halamannya dan langsung menagih oleh-oleh yang temanku bawa, si sale pisang tadi. Aku rada aneh aja, tumben nih anak minat banget sama sale pisang padahal kan daerah dia tuh terkenal dengan sentra oleh-oleh berbahan dasar pisang, termasuk si sale pisang. Dengan begitu antusias dia langsung nanya,

“mbak aku disisain kan oleh-olehnya?” tanyanya memastikan

“iya tenang, masih ada tuh di kamar” jawab temanku yang bawa oleh-oleh sale pisang

“asiiik, aku penasaran banget sama sale mangga”

              Jawabannya langsung memancing huru hara di kamarku yang kala itu dijadikan tempat berkumpul,

“Sale MANGGAAAA??? Sale PISAAAANG, HAHAHAHAHA” Jawab kami serentak diikuti gelak tawa yang mampu kami tahan

Ternyata tuh bocah keliru meletakkan tanda baca yang membuat kalimatnya menjadi begitu beda arti. Pesan yang temanku tulis emang ambigu sih, tapi ya kok bisa-bisanya kapikiran ada sale mangga. Kalimat yang harusnya dibaca,

“yang mau sale, mangga ya di bawah tipi” malah jadi “yang mau sale mangga ya, di bawah tipi”

Pantesan doi langsung japri temanku yang bawa oleh-oleh buat disisain tuh sale, padahal biasanya dia nggak berminat sama yang namanya sale. Ya iyalah, secara lampung kan sentra oleh-oleh berbahan dasar pisang. Eh tapi, ini bisa jadi inovasi baru lho, siapa tau mangga bisa dijadiin sale beneran. Terus aku iseng-iseng browsing dan beneran ada lho sale mangga alias mangga kering. Nih buktinya wkwkwk.

Hot-Sale-BELI-5-GRATIS-1-Buah-Kering-mangga-Filipina-7d-Impor-Instan-Permen-Makanan-Snack

              Kejadian ambigu selanjutnya terjadi ketika liburan ke malang kemarin. Jadi ceritanya, rombongan keluargaku dari madura yang akan berlibur ke malang itu ada tiga rombongan mobil. Satu mobil telah berada di Surabaya dan dua sisanya akan berangkat keesokan harinya. Kami berencana untuk berangkat Bersama dari Surabaya menuju malang. Penanggung jawab masing-masing mobil yang kami tunggu adalah Nuri dan Udin. Rombongan Nuri tetap sepakat dengan ketentuan awal, nyamperin kami yang berada di Surabaya lantas berangkat Bersama ke Malang. Tetapi rombongan Udin mengubah rencana, mereka akan langsung berangkat ke Malang agar bisa segera sampai. Jadilah rombongan kami hanya menunggu rombongan Nuri. Saudara kembarku (Mbak Dila) sangat intens berkomunikasi dengan nuri untuk memastikan dimana posisi terkini rombongan itu. Berikut komunikasi mereka lewat chat ada yang ambigu dan memancing huru hara,

“mbak, apa rombongan Surabaya udah siap berangkat? Jadi bareng kan?” tanya si Nuri

“iya, udin siap berangkat” jawab mbk dila. ‘Udin’ di sini analog artinya sama ‘udah’, “iya, udah siap berangkat”

Tapi si Nuri malah memaknai berbeda, dia ngiranya “iya, udin (bareng udin) siap berangkat” yang ngebuat di nuri jadi emosi dan ngerasa ditinggalin sendiri padahal awalnya kita bakalan bareng berangkat ke malang

“mbak gimana sih? Katanya mau bareng kita berangkatnya, kok malah bareng udin?” tanyanya tak bisa menahan emosi.

Aku dan mbk dila langsung ketawa terpingkal-pingkal ngebaca balesan chatnya dong. Gimana nggak, bisa kebetulan gitu ya, udin (read: udah) bisa ambigu ke nama orang yang kebetulan namanya juga udin wkwkwk.

Hikmah dari kejadian ini adalah kurang-kurangin lah ngelakuin hal dan nulis sesuatu yang ambigu. Iya kalau ambigunya mengarah ke hal yang yang kocak dan bisa dijadikan bahan candaan, tapi kalau ambigunya berhubungan dengan perasaan kan nggak lucu. Karena salah memaknai sesuatu yang kaitannya dengan perasaan nggak sebecanda itu wkwkwk.

10 thoughts on “Ambigu

  1. Revisi itu uniknya kayak ga pernah ada habisnya ya haha.

    Semangat Mba Dita. Kalau kata ust Adi, setiap kondisi yang diberikan ke kita itu adalah utk meningkatkan kualitas kita. Biar tulisannya makin bagus lagi. Itu hiburanku juga ketika revisi dosen ke tesisku: cara menulisku rumit. Tapi aku jadi belajar ~

    Semangat revisiii!

    Anyway tanda baca dan komunikasi itu memang penting ya haha

    • makasih banyak mbk, revisi mmg terasa tiada akhir, taoi saya percaya ini akan segera berakhir wkwkwk

      bangeet, tanda baca pnting apalagi kalimatnya bs bermakna ganda begini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s