Kemandirian yang Haqiqi Hingga Puncak Tertinggi

IMG-20190206-WA0062Udah lama mau nulis cerita ini tapi terlalu banyak halangan, rintangan membentang yang jadi masalah dan jadi beban pikiran wkwkwk (ini sountrack kera sakti dengan sedikit modifikasi, kalau ngeh berarti kita seumuran haha). Pengalaman yang mau aku ceritain ini benar-benar meningkatkan pride aku sebagai seorang perempuan dengan kemandirian yang haqiqi hingga ke puncak tertinggi hahaha. Gimana nggak coba, aku ngurus pajak motor 5 tahunan sendiri, aku tekankan lagi SENDIRI. Cool banget nggak sih, anak gadis lugu dan pendiam kayak aku ngurus hal beginian sendiri. Iya SENDIRI. Ini kan urusan yang nggak sederhana lho, biasanya kan bapak-bapak atau mas-mas yang ngurus hal beginian. Aku udah bisa jadi icon kartini masa kini nggak sih? Atau aku aja yang berlebihan? Apa yang aku lakuin ini biasa-biasa aja? Hahahah. Tapi seriusan, aku sebegitu bangganya sama diri sendiri setelah melakukan kegiatan ini. Gimana nggak coba, aku prediksi 7 dari 10 orang yang baca tulisan ini dipastikan belum pernah melakukannya. Bahkan lebih ekstremnyam, 3 dari 5 laki-laki yang membaca tulisan ini dipastikan belum pernah bayar pajak motor 5 tahunan dan 5 dari 5 wanita yang membaca tulisan ini belum pernah atau bahkan belum tahu kalau motor itu ada pajak 5 tahunannya hahahahah. Udah ah, aku capek jumawa terus wkwkwk.

              Dulu pas awal-awal kuliah di Bandung, aku emang udah niat bakalan ngekos yang agak jauh dari kampus. Ada 3 hal yang aku pertimbangkan, kebersihan, jarak, dan harga sewa. Maunya yang bersih, deket, dan sewanya murah. Tapi ya mana ada, harus ada salah satu yang dikorbankan dan satu hal yang bisa aku tolerir adalah jarak. Nggak mama papa lah jauh yang penting hatinya deket #apasih. Konsekuensi dari pilihan yang ku pilih ini adalah aku harus punya alat transportasi yang bisa memudahkan mobilitasku dari kampus ke kosan atau kemanapun yang aku tuju di bandung dan sekitarnya. Awalnya mau beli mobil tapi ya mimpi aja lu wkwkwk sokay (sok kaya). Jadilah berujung pada keputusan untuk beli motor di bandung aja karena ngirim motor dari rumah bebannya sama beratnya, ongkos kirimnya 1 juta, belum nanti kalau motornya kena baret sana sini. Tau sendiri kan parkiran di kampus tuh sebegitu berdempetannya antara motor yang satu dengan yang lain. Sayang aja kan, mending beli motor yang nggak terlalu bagus, jadi kalau pun baret-baret nggak segitu sakit hati rasanya wkwkwk.

Jadilah aku browsing-browsing di OLX dan jatuhlah pilihanku pada sebuah motor dengan surat-surat lengkap dan pajak motor 5 tahunan yang masih berlaku hingga tahun 2019, aku belinya tahun 2017. Prediksi awalnya adalah aku akan selesai studi dua tahun sehingga pas banget tuh, studiku selesai, pajak motornya juga jatuh tempo. Jadinya kan aku nggak perlu ngurusin pajaknya gitu. Aku udah janjian sama bapak tempatku beli motor itu kalau aku bakalan jual motornya lagi ke bapaknya biar nggak rempong ngurus pajaknya. Si bapak ini semacam makelar gitu, beliau punya bengkel yang ngejual motor-motor bekas. Aku beli motor ini dianterin sama temen SMAku yang juga menetap di bandung bersama istrinya. Temenku ini baik banget dan udah aku anggep kayak saudara sendiri tapi nggak tau dia nganggep aku saudara juga apa nggak wkwkwk. Saudara lah, saudara seiman dan sedaerah haha, tau sendiri kan tali persaudaraan sesama orang madura di tanah rantau itu sekuat itu. Status antar orang madura di tanah rantau adalah taretan dhibi’ (saudara sendiri).

              Sayangnya, masa studiku ternyata tak sesuai dengan prediksi awal, bahkan sampai tulisan ini dibuat pun aku belum menyelesaikan studiku. Dikit lagi, tinggal sidang aja, doain ya. Jadinya aku harus ngurus tuh yang namanya pajak motor 5 tahun yang udah jatuh tempo. Untungnya aku masih menyimpan no.hp si bapak yang dulu jual nih motor ke aku dan sempat menyanggupi untuk membantu proses perpanjangan pajak jikalau sudah jatuh tempo. Setelah ku hubungi beliau, ternyata beliau masih ingat dan memintaku untuk membawa BPKB, STNK, dan motorku ke bengkel beliau. Aku merasa lega dengan kemudahan yang beliau tawarkan tetapi setelah aku tanya biayanya, rasa lega itu seketika lenyap. Beliau memintaku untuk membawa uang 1.1 juta. Sebelum bertanya ke beliau aku udah browsing terkait biaya pajak motor 5 tahunan dan biayanya hanya separuh dari yang beliau minta ke aku. Aku baru sadar peran si bapak ini, beliau ini calo. Aku bukannya nggak punya uang buat bayar tapi emang nggak punya wkwkwk. Aku malu aja sama strata pendidikan yang melekat padaku kalau untuk urusan ginian aja maunya pake calo. Egoisme yang muncul ini mau nggak mau menimbulkan konsekuensi yang tentunya harus diikuti dengan solusi. Ku putuskan untuk mengurusnya sendiri sebagai perwujudan kemandirian yang haqiqi.

              Satu-satunya persyaratan yang belum ku punya untuk mengurus pajak motor 5 tahunan adalah KTP asli si pemilik motor alias pemilik pertama yang namanya tertera di STNK. Entah dapat ilham dan keberanian dari mana, ku putuskan untuk mencari alamat si bapak yang namanya tertera di STNK motorku. Padahal aku tahu alamat si bapak itu jauh banget dari kosku. Bermodalkan gmaps dan headset, ku kendarai motor dengan mengikuti instruksi mbak-mbak gmaps dari headset yang tersambung ke HP. Setelah pencarian panjang dan bertanya kesana kemari, akhirnya ku temukan alamat si bapak. Kebetulan banget bapaknya lagi di rumahnya dan nggak kemana-mana, eh nggak ada yang kebetulan ding. Alhamdulillahnya bapaknya nggak kemana-mana. Bapaknya kaget banget karena ada makhluk sejenis aku ujug-ujug bertamu ke rumah beliau. Aku pun memperkenalkan diri,

“pak, saya yang beli motor bapak (sambil nunjukin motorku). Saya berencana memperpanjang pajak 5 tahunan motor ini tapi saya butuh KTP asli bapak. Saya minta tolong ke bapak yang di bengkel, malah saya dimintain uang 1,1 juta pak” kataku berpanjang lebar

“wah… motornya jadi bagus ya sekarang. Mahal banget itu, harusnya nggak sampe segitu kalau pajak motor. Tenang nanti bapak kasih KTPnya. Sebenernya kalau bukan mahasiswa, nggak bakalan bapak kasih KTPnya, tapi berhubung anak bapak juga alumni sana, bapak kasih KTPnya” jawab si bapak

“wah… makasih banyak pak, nanti saya langsung balikin pak kalau udah selesai” jawabku berterimakasih

“tapi bapak minta ktp kamu ya, bukannya bapak nggak percaya, cuma buat jaminan aja” pinta si bapak

“iya pak, ini KTP sama KTM saya. Nanti saya langsung ke sini kalau udah selesai pak” kataku sambil menyodorkan dua kartu identitasku.

              Aku senang bukan kepalang, gimana nggak coba, aku berangkat tanpa ada jaminan dan pulang dengan hasil sesuai harapan. Aku langsung ke samsat ngurus tuh pajak dan tentunya nonton tutorial di yutube. Overall aku puas sih sama pelayanan samsat jabar, cepat, bersih, tidak bertele-tele, dan nggak ada calo (sejauh yang aku perhatiin ya). Jadilah aku punya STNK dan plat nomor motor baru. Puas banget sih ngurus ini sendiri, iya SENDIRI. Aku pas ke samsat ditemenin temenku sih, tapi tetep aja kita berdua perempuan muda gitu. Padahal di tempat tunggu tuh sebagian besar atau mungkin semuanya bapak-bapak yang udah berumur.

              Setelah selesai semua proses, dimulai dari pagi hari dan selesai siang hari. Dilanjutkanlah perjalananku ke rumah si bapak yang KTPnya aku pinjem. Aku berharap bisa ketemu sama anak si bapak, yang katanya alumni kampusku, siapa tau jodoh, kayak di ftv-ftv gt kan ye wkwkwkwk. Sesampainya di rumah beliau dan dipersilahkan masuk, barulah ku ketahui kalau si anak bapak ternyata perempuan gaes, gugurlah harapan punya cerita macam ftv. Emang bener cerita ftv tuh hanya fiktif belaka wkwkwk. Aku ucapkan terimakasih yang tak terhingga sambil ku serahkan buah tangan yang ku bawa. Bapaknya berterimakasih dan bilang nggak perlu ngelakuin hal gituan. Pas aku  mau pulang si bapaknya bilang,

“kalau mau memperpanjang lagi, jangan sungkan-sungkan ke sini lagi. Bapak dengan senang hati minjemin KTP lagi. Berarti 5 tahun lagi ya”

“baik pak, hatur nuhun pak” jawabku, entah harus berterimakasih macam apalagi untuk membalas kebaikan si bapak. Walaupun dalam hati aku ragu, apakah 5 tahun lagi masih di bandung atau tidak. Sepertinya tidak wkwkwk.

              Sebegitu mandirinya lho aku tu, bener-bener sosok perempuan dengan kemandirian haqiqi hingga puncak tertinggi. Aku yakin sih, setiap kebaikan-kebaikan yang aku terima dari orang lain adalah efek dari kebaikan-kebaikan dan doa-doa yang orang tuaku lakukan. Hikmah dari kejadian ini adalah, kalau punya keinginan ya perjuangkan, kalau punya perasaan ya ungkapkan, kalau malu ya lupakan wkwkwk. Sekian cerita malam ini, ditulis di sela-sela ngerjain revisian tesis yang entah sudah berapa kali koreksian tapi masih penuh aja dengan coretan. Tetap semangat ya kamu, kamu iya kamu.

7 thoughts on “Kemandirian yang Haqiqi Hingga Puncak Tertinggi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s