Korban Hoax Covid-19

isu-warga-desa-bangli-positif-covid-19-hoax-ini-penjelasan-perbekel_m_185157Tulisan ini dibuat untuk mengisi waktu luang selama masa karantina mandiri 14 hari #DiRumahAja. Iya, sekarang aku lagi di rumah di Madura. Pulang kampung dengan membawa dua gelar sekaligus, M.Si. dan ODP (Orang Dalam Pengawasan). Gelar yang kedua ini aku dapatkan karena nekad pulang kampung dari kota dengan status zona merah -Bandung- menuju Pamekasan yang ternyata ketika dalam perjalanan dari bandara Juanda, statusnya juga menjadi zona merah karena ada status positif Covid-19. Sedih rasanya, bahkan daerah seterpencil kabupatenku juga udah terpapar Covid-19. Awalnya aku berniat pulang hari selasa, 31 Maret 2020 tetapi pada hari sabtu pagi -28 Maret- ibuku nelpon dan memintaku untuk pulang segera keesokan harinya. Kalang kabutlah diriku, mana barang-barang di kosan belum dipacking semua, masih dalam keadaan berantakan pake banget. Bahkan pagi itu aku berniat akan tidur lagi habis sholat subuh dan akan menyelesaikan proses packing barang hari minggu serta mengirimnkannya senin. Jadi pas kan, senin ngirim barang terus selasanya pulang. Lah ini jadi berantakan semua jadwalnya karena titah mendadak dari kanjeng mamih. Aku langsung membuang rasa kantukku dan melakukan packing secepat kilat dan langsung menelpon ekspedisi untuk menjemput barang-barangku yang sangat banyak itu di kosanku. Total ada 6 paket barang yang terdiri dari 1 kontainer besar, 1 kontainer kecil, 3 kardus gede banget, dan sepeda lipat. Total berat barangku adalah 158kg, banyak banget ye. Eh ini kok malah ngomongin pindahan yak, ini aslinya mau cerita tentang salah satu hoax yang berhasil meracuni satu keluarga besarku hingga terjaga di tengah malah pada hari rabu kemarin, 25 Maret 2020.

              Kejadiannya ini terjadi pada hari rabu, malam kamis. Entah karena apa, jam tidurku sekarang menjadi sangat berubah. Aku menjadi makhluk nokturnal, malam terjaga, pagi tertidur. Prediksiku sih karena beberapa minggu terakhir aku biasa begadang ngerjain draft tesis, belajar buat seminar, terus belajar buat sidang. Jadilah imbasnya sekarang, kalau malem susah banget buat tidur. Harus lewat tengah malam baru bisa mejamin mata, itu pun karena dipaksa bukan karena benar-benar ngantuk. Bahkan terkadang aku terjaga sampai pagi karena takut bablas sholat subuhnya karena biasanya rasa kantuknya muncul sekitar jam 3an. Jadi, mending nggak tidur sampe sholat subuh takut kebablasan, terus abis itu tidur deh. Nah, hari rabu, malam kamis itu aku maksain banget buat tidur dan akhirnya bisa terlelap jam 12 malem. Tiba-tiba aku terjaga karena HPku bunyi dan ku lihat masih jam 2.00, yang nelpon mbak Dila. Pas aku angkat ternyata itu telpon konferensi, terdiri dari mbak Dila, mbakku yang di Surabaya, sama Nenekku. Aku makin deg-degan dong, apaan nih tumben-tumbenan nelpon jam 2.00. Belum selesai rasa penasaranku, nenekku langsung menyerangku dengan kalimat yang sambung menyambung tak putus-putus,

“Ita (panggilanku di rumah), kamu punya telor kan di kosan? Cepet rebus sekarang terus makan. Katanya ada bayi di Malaysia yang baru lahir dan langsung bisa ngomong, kalau mau selamat dari virus Corona, harus ngerebus telor tengah malem ini dan dimakan”

“iya, cepet rebus telornya, aku udah nih, rebus dua” kata mbak Dila menguatkan.

              Aku masih bingung dengan semua ini, pertama aku masih setengah sadar karena baru bangun, dan yang kedua hal bullshit apalagi sih ini. Aku membiarkan saja ketiga orang itu mengobrol sambil aku mencoba untuk mengumpulkan seluruh kesadaranku. Setelah kesadaranku penuh, langsung ku keluarkan kalimat yang mungkin rada kasar karena memang aku sudah tak tahan lagi dengan hoax yang ini nih, ngeganggu orang tidur aja,

“ini HOAX NGGAK SIH? Awas MUSYRIK percaya sama gini-ginian” kataku angkat bicara.

“iya, aku juga mikirnya gitu” timpal mbakku yang di Surabaya. Dasar plin plan, padahal sebelum aku bilang gitu, mbakku ini percaya sama hoax ini dan kayaknya dia udah ngerebus telor wkwkwk. Nenekku masih tetap teguh dengan pendiriannya kalau berita ini benar dan harus aku kerjain kalau mau selamat dan percakapan kami berakhir dengan kalimat pamungkasku,

“ya kalau emang bakalan MATI, YA MATI AJA” jawabku dan ku tutup telponnya.

Setelah pembicaraan itu selesai, aku benar-benar tak bisa lagi memejamkan mata dan ku putuskan untuk terjaga saja. Ku lihat grup keluargaku juga pada rame dan akhirnya ada yang share berita lanjutan kalau memang rebus telor untuk tangkal Covid-19 itu hanyalah hoax belaka. Akhirnya aku hanya bisa ngakak dan terpingkal aja, keluargaku gampang banget kena hoax ginian. Pagi itu grup keluarga benar-benar rame dengan celetukan dan foto berbagai telor hasil kreasi akibat hoax ini. Aku sih ngirim foto telor juga, tapi punyaku telor ceplok sama sosis sambil bergumam dalam hati “makanya kalau dapet berita tuh jangan ditelen bulat-bulat, sesekali diceplok atau didadar aja” wkkwkwk, nggak lucu ya hahaha.

              Akan tetapi, ada yang mengganjal di dalam hati, sepertinya tadi aku menggunakan kalimat yang kurang pantas untuk mengajukan pendapatku ke nenekku. Bisa-bisa, selamat dari Corona tapi nggak selamat dari kutukan karena jadi anak durhaka wkwkwk. Jadilah aku nelpon nenekku, buat minta maaf,

“nek, maafin yang tadi ya. Soalnya tadi baru bangun dan belum terlalu sadar, makanya ngomongnya gitu. Aku bukannya nggak percaya ke Nenek, tapi nggak percaya ke beritanya” kataku memelas

“apa BEDANYA?” jawab nenekku. Aku langsung ngakak dong denger jawaban nenekku biar suasanya jadi cair, aku takut aja beneran kena kutuk karena durhaka wkwkwk. Untungnya kakak iparku nyahut dari belakang nenekku kalau berita itu cuma hoax dan nenekku jadi berbesar hati untuk memaafkanku yang ceroboh ini hahaha.

              Hikmah dari kejadian ini adalah, jangan mudah mempercayai sesuatu yang tersebar di masyarakat apalagi di jaman yang memang sedang gampang-gampangnya hoax menyebar seperti sekarang ini. Analisis dan kaji kembali, apa iya ini benar? Perbanyak curiga dengan berita yang beredar sangat dibutuhkan agar kita tidak mudah menyebar berita bohong sehingga menyebebkan kepanikan dimana mana. Kedua, ini yang paling penting sih menurutku, kita boleh tidak percaya dengan berita yang disampaikan orang tua tapi jangan pernah gunakan Bahasa kasar untuk membantahnya. Kemampuan kita sehingga seakan akan ‘lebih bisa’ meyaring mana berita hoax maupun berita benar itu juga karena kontribusi yang sangat besar dari orang tua kita. Mereka rela lho ngebuat kita jadi lebih berpendidikan agar bisa jadi bekal hidup kita ke depannya dan tentunya memberikan informasi ‘eksklusif’ yang kita dapatkan dan ternyata tak terakses oleh orang tua kita. Mereka percaya hoax itu juga karena kekhawatiran berlebih terhadap kita yang sangat berharga bagi mereka sehingga tak ada waktu untuk tak percaya. Biar gampang, percaya aja dulu siapa tau beneran berdampak, walaupun ini nggak bener juga. Ya tugas kita lah buat nyampein ini dengan Bahasa yang baik dan bisa dimengerti oleh mereka. Terakhir aku cuma mau nyampein, meri bersama-sama tangkal Covid-19 dengan #DiRumahAja dan tangkal hoax dengan #DiLogikainAja wkwkwk. Stay safe, stay health, and stay sane.