Menyepelekan

getty_184437744_237511Malam ini udah jam 21.55, sudah sangat larut untuk ukuran desa seperti di desaku. Jam 21.00 rasanya semua orang sudah beranjak untuk tidur setelah seharian penuh berkutat dengan aktivitas harian mereka, entah itu bertani, berdagang, atau aktivitas lainnya. Aku berasa hidup di dunia lain tinggal di sini karena kepanikan akibat pandemi covid-19 benar-benar tidak terasa di sini, padahal aku dengar tetanggaku yang mungkin hanya 10-15 menitan dari rumah telah dinyatakan positif terjangkit virus ini. Orang-orang masih asik beraktivitas seperti biasa, seakan-akan desa ini jauh dari jangkauan virus corona. Dampak seriusnya pandemi ini baru ku rasakan setelah membuka sosmed seperti twitter dan live count dunia jumlah pasien yang terjangkit virus ini yang ternyata telah mencapai 1 juta lebih. Pandemi ini bukan main-main tapi entah mengapa di sini benar-benar tak terasa keseriusan dampak dari pandemic ini. Entah karena murni tidak tahu atau memang sengaja menyepelekan. Aku yang telah 1 minggu berada di sini sedikit banyak terpengaruh dengan budaya menyepelekan ini. Aku yang awalnya di kamar saja, telah berani keluar kamar dan berinteraksi dengan orang rumah. Bahkan tadi sore aku bersepeda keliling desa dengan memakai masker tentunya. Ketika melintasi sebuah rumah, ada anak yang terlihat tertarik dengan penampilanku dan dengan polosnya berteriak,

“Corona… Corona… Corona” teriaknya cukup kencang karena melihatku memakai masker sehingga membuat orang tuanya menghentikannya agar tak memanggilku demikian.

Kekhawatiran benar-benar menguasaiku malam ini karena mbakku yang seorang perawat masuk ke dalam tim perawat pasien corona dan diprediksi tidak akan bisa pulang hingga lebaran yang akan datang. Bahkan mbakku tak bisa sama sekali pulang untuk mengurus suaminya, benar-benar 24 jam di rumah sakit karena berada di ruang isolasi. Untungnya anaknya tinggal bersama ibuku di rumah. Sesekali kami telponan dan video call untuk bertukar kabar. Kabar dia yang lebih mengkhawatirkan sebenarnya, semoga selalu sehat dan tetap dalam lindungan Allah, aamiin. Aku selalu menekankan padanya untuk tak banyak memikirkan apapun, cukup fokus pada tugas dan kesehatannya saja. Urusan yang lain biar orang yang ada di luar ruang isolasi yang memikirkannya. Kalau sudah begini, apa iya pandemi ini bisa dianggap sepele? Menyepelekan hal sangat serius begini sungguh tak bijak. Sebenarnya bukan hanya terkait virus corona yang ingin aku ceritakan di sini, ada lagi satu cerita yang membuatku sedikit mangkel karena sikap acuh tak acuh orang lain yang dengan gampangnya menyepelekan perbuatannya yang sebenanya tak sepele, menurutku.

Di awal tadi aku udah bilang kan kalau di desa itu jam 21.00 sudah terhitung sangat larut dan tentunya waktu untuk istirahat. Tapi, hingga jam 22.18 -jam ketika aku ngetik tulisan ini-, tetangga sebelah rumahku dengan entengnya karaokean dengan suara sound system maksimal, bener-bener kenceng kedengeran hingga rumahku. Asli sih ini menurutku pake volume maksimal soalnya rumah di desa itu kan rada lebar-lebar, jarak dia ke rumahku ya sekitar 5 meteran, nggak dempet-dempetan kayak di kota, tapi suaranya banter banget ke rumahku. Aku sebenarnya nggak terlalu terganggu tapi ya kok kurang elok aja udah malem gini masih muter lagu kenceng-kenceng gini. Sebagai orang yang tidak terima dengan berbagai jenis penindasan dalam bentuk apapun, aku yang dengan sadar punya jiwa pembela kebenaran dan keadilan, serta pejuang persamaan hak bagi semua insan, tapi rada penakut juga buat ngelabrak orang yang nggak punya tata krama, langsung menghampiri ibu dan nenekku untuk minta izin buat negor tetangga nggak jelas ini. Ditambah lagi ibuku juga lagi pusing dari pagi dan menurutku suara bising ini cukup memberikan andil meningkatkan rasa pusing yang diderita beliau,

“Mak, aku mau negor mereka ya? Emak keganggu kan?” tanyaku udah mau siap-siap berangkat kalau restu udah di tangan.

“Mau ngapain? Jangan cari musuh, biarin aja. Emak nggak keganggu juga sama suara ini” jawab ibuku yang langsung menyurutkan niatku yang telah menggebu-gebu.

Nah gini nih yang nggak aku suka dari orang-orang di desaku, orang-orangnya nggak peka dan cenderung menyepelekan hal yang sebenernya nggak sepele. Sifat menyepelekan mereka ini makin subur karena didukung oleh pembiaran dari orang-orang di sekitarnya, dalam kasus ini ibuku. Pembiaran ini mereka lakukan karena mau main aman aja hidup bertetangga, biar nggak nambah musuh katanya. Lah justru kalau mereka dibiarin, mereka akan berpikir kalau perbuatan mereka adalah hal yang normal dan lumrah. Proses pembelajaran dan pembentukan karakter pribadi menjadi gagal di sini. Orang desa atau orang kampung akan tetap menjadi kampungan. Aku orang kampung tapi nggak kampungan, karena beda antara orang kampung dan kampungan. Orang kampung hanya terkait geografis tempat tinggal, sedangkan kampungan lebih ke sifat yang cenderung tak punya aturan dan tak berpendidikan. Ngedumel kan jadinya soalnya aku nggak bisa gerak kalau udah dilarang sama ibuku. Langsung ku bergegas ke kamar isolasi dan menuliskan berbagai unek-unek yang ngeganjel malam ini.

Aku jadi teringat salah satu ceramahnya ustadz Oemar Mita terkait sifat menyepelekan ini. Kata beliau kurang lebih seperti ini,

“Bbisa saja sebab masuknya kita ke neraka bukan karena dosa besar yang kita lakukan tapi karena meyepelekan dosa kecil yang sama sekali tak kita anggap”

Kalau kita analogikan dengan kisah yang aku alami malam ini, bisa saja Allah mencatat setiap detik yang tetanggaku gunakan untuk memutar lagu dengan keras sebagai dosa kecil yang bisa saja menjerumuskan dia ke neraka. Bisa gitu? Ya bisa aja, kan doa orang yang terdzalimi dikabulkan Allah dan aku terdzalimi. Kalau semisal aku minta pembalasannya di akhirat dan Allah ngabulin, wkwkwk. Tapi aku nggak segitunya kok, soalnya aku sadar aku pun manusia biasa yang tentunya juga pernah melakukan dosa tanpa ku sadari mungkin telah menyinggung atau menyakiti orang lain dengan perbuatan atau perkataanku. Aku hanya berharap tetanggaku ini dapet hidayah dan mengalami satu momen dalam hidupnya sehingga dia bisa sadar kalau perbuatan dia ini telah mendzalimi banyak orang. Aku pun berdoa semoga aku menjadi pribadi yang senantiasa berhati-hati dalam berucap dan bersikap sehingga tak menyepelekan sesuatu sehingga menghasilkan dosa yang tanpa disadari bisa menjadi penyebab masuknya aku ke dalam neraka, Naudzubillah. Ya Allah hindarkan hamba dari sifat menyepelekan sesuatu karena dalam hidup ini tak ada yang benar-benar sepele karena semuanya akan dimintai pertanggung jawabannya di akhirat kelak. Aamiin.

Kemampuan Bertahan

kuli-5dfd9f5e097f360a6b4555b2Tulisan ini udah lama ditulisnya tapi tetiba kepengen diposting untuk merayakan ijazah online yang hari ini resmi bisa di-download. Ya walaupun hingga tulisan ini diposting, ijazah online-ku belum bisa di-download. Ini salah satu dampak pandemi covid-19 yang menyerang hampir seluruh belahan dunia dan diharapkan bisa segera diatasi dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Prosesi wisuda yang banyak dinanti oleh banyak orang itu jadi tak bisa dilaksanakan, pun demikian dengan ijazah asli tak bisa serta merta diberikan. Aku pribadi merasa senang karena tak perlu melakukan prosesi wisuda. Selain hemat, aku juga tak terlalu suka dengan keramaian, sukanya sama kamu #eh wkwkwk. Udah ah jangan becanda terus, aku kan nggak suka dibecandain sukanya diseriusin #apasih. Maklumin sih, ini sebenernya lagi menghibur diri yang rada-rada ngenes gimana gitu sama ijazah online wkwkwk. Sebenernya ada sih hardcopy-nya, tapi aku berencana ngambilnya setelah pandemi covid-19 benar-benar telah bisa teratasi, jadi nggak perlu was was sana sini.

Memasuki semester 6 di masa studi yang normalnya diselesaikan dalam 4 semester memberikan banyak pengalaman tersendiri. Mulai dari introspeksi diri hingga menyalahkan diri sendiri. Menjalankan studi magister dengan beasiswa penuh selama 2 tahun membuatku sangat percaya diri bahwa semua akan baik-baik dan lancar-lancar saja. Sudah ku bulatkan tekad untuk membangun jejaring seluas-luasnya dan pengalaman sebanyak-banyaknya ketika menempuh studi di kampus gajah ini. Benar saja, ku ikuti dua organisasi bahkan mungkin tiga (yang ketiga ini tingkat jurusan dan hitungannya aku hanya anggota pasif) yang cukup menyita banyak waktu belajarku. Beberapa kali ku alami, urusan akademik yang seharusnya ku prioritaskan justru ku nomor duakan dengan dalih aku akan mengerjakkannya ketika deadline pengumpulan. Prinsip jelekku adalah ‘tugas pasti selesai pada waktunya’ tapi aku lupa, memang mereka akan selesai pada waktunya tapi hasilnya ya apa adanya. Ditambah dengan karakter perfeksionisku yang terkadang memilih telat mengumpulkan daripada tepat waktu tapi berantakan. Bayangkan saja, suka menunda tapi ingin hasil yang sempurna, hasilnya ya sudah pasti telat pengumpulannya. Beberapa mata kuliah berhasil ku lalui dengan metode ini tapi sebagian besar lainnya tentunya tidak. Ketika transkrip nilai semester pertama keluar, aku merasa dunia runtuh di atas kepala. Bagaimana mungkin nilai segini bertengger di catatan transkrip masa studi yang awalnya ku prediksi akan lancar bak tol cipali. Kembali ku lakukan introspeksi diri dan tentunya menyalahkan diri sendiri yang memang tak tahu mengukur kemampuan diri. Hikmah dari kejadian ini adalah jangan terlalu percaya pada diri sendiri yang terkadang menjurumuskan diri dengan prediksi yang terkadang melambung tinggi tanpa diiringi usaha dan doa yang tak putus-putus dari hari ke hari.

            Semester 1 yang dilalui dengan percaya diri tetapi hasilnya jauh dari prediksi membuatku diri menjadi realistis tanpa disadari. Memasuki semester 2 dengan personil teman seangkatan yang beberapa mulai hengkang kaki karena tak melanjutkan studi. Banyak alasannya, ada yang diterima jadi PNS (Pegawai Nageri Sipil) hingga alasan pribadi yang aku dan teman-teman seangkatanku pun tak mendapatkan jawaban pasti dan presisi yang bisa aku ceritakan di sini. Semester dua adalah masa dimana ku mulai rajin datang ke lab (laboratorium) untuk sekedar menampakkan diri dan memberitahu bahwa aku ada. Sebenarnya tak bisa dibilang rajin juga karena ku hanya datang sesekali lantas segera pergi karena suasana lab yang ku rasa kurang bersahabat, sungguh sedih sekali. Dosenku yang sangat peduli sering melakukan sidak lab untuk melihat dan mengawasi, apakah anak bimbingannya rajin datang ke lab atau tidak. Sialnya, beliau datang sidak ketika aku sedang tak berada di lab sehingga ketika labmeet aku sering dimarahi karena dianggap pemalas. Aku tidak terima dengan cap pemalas ini walaupun sebagian hatiku membenarkan, aku memang malas tapi aku datang ke lab di hari yang tak beliau datangi. Bertahan di lingkungan yang tak bersahabat dengan dosen yang mispersepsi (salah paham) membuat semuanya terasa serba sulit. Tetapi telah ku Azzam-kan dalam diri, lari bukanlah solusi. Intensitas datang ke lab ku tambah bahkan bisa dibilang hampir setiap hari hingga rasa memiliki mulai hadir tanpa disadari. Rekan-rekan lab yang awalnya tak banyak berinteraksi sedikit demi sedikit mulai membaur karena percakapan-percakapan kecil yang dilontarkan untuk sekedar menghilangkan suasana sunyi. Komunikasi yang awalnya terbangun karena asas kepentingan pribadi, menjadi kebutuhan karena telah timbul rasa sayang yang entah sejak kapan menguasai diri. Tanpa disadari dosen pembimbingku telah berhasil membuatku kecanduan datang ke lab dan merasa berdosa ketika satu hari saja tak datang walaupun sebenarnya tak ada yang dikerjakan. Suasana lab berubah sangat signifikan, percakapan yang awalnya sangat kaku dan terkesan basa basi, menjadi bully-an yang ku percaya sebagai ungkapan rasa sayang yang tentunya akan ku rindukan ketika kami sudah tak bisa lagi berpapasan. Bully-an sebagai ungkapan rasa sayang? Mana ada, mungkin kalian akan berpikir demikian. Tapi percayalah, keakraban suatu hubungan akan terilihat ketika sekat komunikasi tak lagi baku dan basa basi. Bahasa ‘kasar’ bagi sebagian besar orang merupakan parameter kedekatan emosional ketika diungkapkan pada rekan tanpa ada rasa ketersinggungan. Ya tentunya jangan coba-coba diterapkan pada orang yang baru kamu kenal, hanya gunakan pada mereka yang kamu rasa telah dekat secara emosional.  Menuliskan cerita ini pun, rasa rindu pada mereka (rekan-rekan lab ku) sangat terasa hingga ke kalbu. Bayangkan saja jika aku tak bertahan, akankah pengalaman seberharga ini ku dapatkan? Kemampuan bertahan memang tak semudah membalikan telapak tangan tapi tak mudah bukan berarti tak bisa dilakukan bukan? Aku sama sekali tak bermaksud menyalahkan orang-orang yang tak mampu atau mungkin tak bersedia bertahan, tapi ini hanya opini pribadi yang tak harus sepenuhnya diikuti.

            Suasana lab yang berubah menyenangkan ternyata tak berbanding lurus dengan penelitian yang ku lakukan. Sempat pesimis dengan topik penelitian yang ditawarkan dosenku membuatku frustasi tanpa bisa dihindari. Ketika merasa buntu dengan topik penelitian yang sulit ku pahami, dosen pembimbingku memberikan angin segar dengan menawarkan topik penelitian baru yang merupakan proyek kerjasama lintas fakultas. Aku yang merasa jenuh dan mumet dengan topik penelitian yang awal menjadi sangat berbinar-binar ketika dosenku menawarkanku topik yang baru ini. Tanpa ba bi bu, ku anggukkan saja pertanda aku sangat mau menjalankan proyek ini. Bayangkan saja kalian di posisiku, telah jenuh dengan satu topik kemudian ditawarkan sesuatu yang baru yang ‘terlihat’ lebih mudah dan memberikan harapan baru. Padahal kan tidak semua yang ‘terlihat’ mudah, akan benar-benar mudah ketika dijalani. Bisa saja malah menjadi lebih sulit, terjal, dan berliku. Benar saja saudara-saudara, topik penelitian yang baru ini benar-benar tidak mulus, banyak bongkahan batu yang menghalangi bukan lagi kerikil yang mengganjal di alas kaki. Ditambah lagi di lab-ku tidak ada yang mengerjakan topik serupa sehingga aku tak punya teman diskusi. Jika terkait teori mungkin aku bisa berdiskusi dengan mereka tetapi untuk urusan teknis aku harus mencari sumber sendiri. Labmeet yang dilaksanakan tiap minggunya juga menjadi pressure tersendiri bagiku karena progress penelitian yang ku sampaikan hanya sebatas optimasi yang belum menunjukkan hasil berarti. Optimasi membuatku berkali-kali ingin menyerah saja tetapi lagi-lagi, lari bukanlah solusi. Hampir satu tahun ku berkutat dengan satu metode yang ku lakukan optimasi sana sini, tetapi hasilnya tak memuaskan sama sekali. Progress ada tapi seperti hanya bergeser satu satuan padahal rekan-rekan yang lain mungkin mencapai ribuan. Bayangkan saja kalian mengerjakan suatu metode berulang-ulang dengan kegagalan yang sudah terbayang sedari awal. Salahku juga, kurang baca dan belajar dari kesalahan sehingga proses optimasi ini menjadi seakan-akan tak berkesudahan.

            Melihat progress penelitianku yang seakan-akan stagnan, salah seorang rekan yang merupakan anak bimbingan dosenku menyarankanku untuk magang di lab yang baru saja dia datangi untuk melakukan sebuah uji. Berdasarkan informasi yang dia sampaikan ternyata lab tersebut sudah sangat terbiasa mengerjakan metode penelitian yang ku lakukan dengan hasil yang sangat memuaskan. Boleh aku sebut nama labnya? Boleh lah ya. Namanya adalah Lembaga Biologi Molekuler Eijkman atau Lembaga Eijkman yang letaknya di Jakarta Pusat. Ku beranikan diri meminta ijin pada dosen pembimbingku dan setelah berbagai persyaratan administrasi yang cukup panjang, diterimalah aku magang di sana selama seminggu. Ku manfaatkan kesempatan langka ini dengan sebaik-baiknya, ku catat semua informasi tanpa terkecuali. Ku beri catatan khusus pada detail-detail yang memang perlu diberi perhatian lebih. Melihat hasil mereka yang sama persis dengan hasil di jurnal-jurnal dan diktat-diktat penelitian yang selama ini aku baca membuatku tak sabar ingin melakukannya sendiri di lab kampus. Seminggu magang berhasil ku lalui dengan pengalaman langka yang tak semua orang bisa mengalami. Sesampainya di kampus, ku lakukan kembali metode penelitian sama persis seperti yang ku dapatkan di Eijkman. Aku sempat berujar kepada kepala lab tempatku magang seperti ini,

“Kalau saya bisa dapat hasil sebagus ini, saya bakalan sujud syukur bu” kataku kala itu.

            Si ibu hanya tertawa mendengar perkataanku yang mungkin menurut beliau hanya bercanda saja. Dan taukah kalian? Setelah ku menerapkan teknis pengerjaan metode sama persis seperti Eijkman, aku benar-benar mendapatkan hasil yang sama persis seperti di Eijkman, sama persis seperti hasil di jurnal-jurnal dan diktat-diktat penelitian yang selama ini aku baca. Langsunglah aku lakukan sujud syukur di mushola lab yang sebenarnya adalah gudang yang dialih fungsinkan. Aku masih terngiang-ngiang dengan percakapanku dengan ibu kepala lab yang secara tidak langsung ku sadari sebagai nadzar. Bukan main bahagianya kala itu, hasil yang selama ini ku nanti-nantikan akhirnya menunjukkan keberhasilan. Bagaimana kiranya jikalau aku menyerah kala itu? Apakah mungkin pengalaman seberharga ini bisa ku dapatkan? Ya tentu tidak bukan. Sekali lagi kemampuan bertahan kembali menunjukkan hasil yang tak pernah terpikirkan. Bertahan dan kemampuan bertahan adalah pilihan. Bisa bertahan bukan berarti karena kita kuat tapi kita memilih untuk kuat. Kemampuan bertahan sebenarnya dimiliki oleh setiap insan, hanya saja ada yang memilih dan ada yang meninggalkan. Jadi teringat pesan bapak wakil dekan pascasarjana -Alm. Prof. Iwan Kridasantausa, M.Sc., Ph.D.- ketika penyambutan mahasiswa baru tahun 2017 yang lalu, yang isinya kurang lebih seperti ini (dengan sedikit perubahan kalimat biar terkesan puitis),

Dunia pascasarjana bukan soal kemampuan akademik saja yang bisa meluluskan tetapi tentang siapa yang mempunyai kemampuan bertahan

            Dulu aku merasa terpana dengan kalimat ini tetapi tidak sepenuhnya mengerti makna yang terkandung di dalamnya. Sekarang setelah berada di titik ini, setelah banyak lika liku penelitian dan dunia pascasarjana yang dialami, aku baru mengerti makna dari kalimat ini benar-benar sakti. Oya, tolong kirim doa buat beliau ya. Pas tulisan ini dibuat, beliau belum meninggal tapi pas tulisan ini diposting beliau sudah wafat, Al-fatihah. Lantas, bagaimana kabar penelitianku hari ini? Alhamdulillah tesisku sudah rampung dan aku telah dinyatakan lulus dengan gelar baru per 12 Maret 2020. Rasanya gimana? Kalau boleh jujur biasa aja, tidak se-excited pas berhasil ngelakuin optimasi sepulang dari Eijkman. Bisa dibilang peristiwa itu titik balik perjalanan penelitianku sehingga rasa lega dan bahagianya masih berasa. Sedangkan sidang akhir kan lebih ke kurva landainya, makanya rasanya nggak terlalu berkesan. Kalau sekarang kita ngerasa bosan karena #DiRumahAja, sebenernya kemampuan bertahan kita sedang diuji, dikit lagi kok bentar lagi bakalan ada titik baliknya aamiin.

Kemantapan Berpisah?

Casciscus-Broke-UpSudah terhitung hari ke-4 karantina mandiri, masih sangat jauh dari total 14 hari yang harus dijalani. Aktivitas di desaku masih normal-normal aja sepertinya, soalnya dari depan rumahku aja orang-orang masih dengan normalnya lalu lalang menggunakan mobil, motor, maupun jalan kaki. Sepertinya yang agak berbeda itu di sekitar kabupaten kota. Alun-alun kota ditutup, tempat-tempat ibadah ditutup, tempat yang bisa mengumpulkan orang banyak ditutup, bahkan beberapa pedagang di sekitar alun-alun mau tidak mau harus tutup. Bosan? Nggak juga sih, soalnya aku emang anak rumahan bukan ali topan -anak jalananan wkwkwk-. Lagian mau main kemana juga, temen-temenku udah pada punya mainan sendiri -read, anak- wkwkwk. Nah, tulisan ini emang ditulis sebagai antitesis terhadap tulisanku sebelumnya, yang judulnya Kemantapan Berkomitmen. Tulisan ini belum genap setahun aku tulis tetapi beberapa orang yang aku ceritakan di dalamnya telah berkomitmen untuk berpisah. Sedih nggak sih? Aku aja kaget bukan main ketika mendengar cerita mereka. Gimana nggak, pas denger kalau mereka mau nikah aja aku kaget banget, perasaan masih bocah banget, masih kebayang tubuh mungil dan bocah mereka beberapa tahun yang lalu. Terus, kaget untuk kedua kalinya karena ternyata pernikahan yang memang terlalu dini untuk dibagun itu, ternyata terlalu dini pula untuk diakhiri. Tulisan ini bukan mau menghakimi kelompok-kelompok yang pro dengan nikah muda, aku juga pro kok sama nikah muda, tapi belum ada yang mau ngajak nikah aja wkwkwk. Pun demikian bukan mau mengagung-agungkan yang memilih untuk nunda nikah, aku nggak mau nunda kok, cuma belum ada yang mau ngajak nikah aja wkwkwk #apasih.

              Seperti layaknya anak perantauan lainnya, masa pulang kampung yang sebentar biasanya ku manfaatkan untuk membicarakan banyak hal dengan orang tuaku. Biasanya topiknya tak menentu, mulai dari kabar keluarga, tetangga, kabar dunia, apapun lah diomongin intinya. Berhubung pulang kampung sekarang nih agak panjang –you know lah kenapa, iya aku pengangguran-, jadinya panjang juga obrolannya. Pas lagi bahas sesuatu, teringatlah aku dengan anak tetanggaku yang tahun kemarin baru menikah yang hajatannya tiga hari tiga malam, ramai bukan kepalang sampe bikin aku susah tidur. Terus, nenekku dengan gampangnya bilang,

“dia kan udah pisah” ringan banget ngomongnya.

“APAAA???” jawabku kaget bukan kepalang.

              Kaget banget dong, belum genap setahun lho itu. Alasannya pun menurutku terlalu childish, ya mungkin karena mereka berdua memang masih sangat terlalu muda. Aku nggak bisa menjabarkan alasannya di sini, intinya alasan itu menurutku masih bisa didiskusikan seandainya mereka mau berpikir dewasa. Umur emang bukan parameter kedewasaan sih, tapi orang yang dewasa biasanya berumur wkwkwk. Tetanggaku ini amat sangat masih dedek-dedek banget, jadi nggak heran aja kalau pemikirannya belum matang. Aku menyayangkan aja ke orang tua mereka yang terlalu buru-buru menikahkan anak mereka, padahal tetanggaku ini pihak laki-laki. Denger-denger dari ibuku katanya si dedek ini belum pengen nikah sebenernya tapi orang tuanya aja yang kepengen dia cepet nikah. Sedih ya, kalau udah gini kan kasian masa depan keduanya. Walaupun takdir mereka udah ada jalannya masing-masing. Tapi, kejadian kayak ini -yang menurutku adalah jalan hidup yang berat banget- pasti bakalan meninggalkan luka tersendiri yang entah kapan bisa sembuh. Sembuh sih pasti, tapi bakalan ada bekas juga.

              Tak berhenti di situ aja kakagetanku, belum selesai mengontrol rasa kaget yang barusan ku alami, kembali nenekku mengeluarkan kalimat berat dengan entengnya,

“Si itu juga udah pisah”

“APAAAA???? DIA JUGA? KENAPAAA???” tanyaku kembali dengan rasa kaget yang lebih berkali berlipat.

              Gimana nggak, pasangan yang ini yang aku kenal adalah pihak perempuannya. Sehari setelah pesta pernikahan, mereka mendatangi rumahku untuk meminta restu ke keluargaku yang memang masih ada silsilah keluarga dengan mereka. Masih teringat dengan jelas raut wajah mereka pas salaman kepadaku yang waktu itu pulang kampung dan mengalamai kecelakaan motor sehingga harus rebahan di rumah selama kurang lebih sebulan. Alasan perpisahan mereka semakin membuatku kaget dan geram karena si suami ternyata melakukan KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga) pada si istri. Sedih banget nggak sih? Si perempuan ini masih kecil banget asli, polos, dan lugu -kayak aku- kok ya tega sampe dipukulin. Katanya sih si suami ini orangnya cemburusan dan ada ciri-ciri psikopat. Lebih sedihnya lagi, pasangan suami istri ini tinggalnya di rumah pihak perempuan. Kebayang nggak sih, kebringasan si suami? Di rumah istrinya aja dia seberani itu lho mukulin istrinya, gimana kalau mereka cuma tinggal berdua? Emang dasar psikopat. Aku berkali-kali bilang,

“Kenapa nggak dilaporin polisi aja? Ini KDRT, HARUS DIPENJARA SUAMINYA” kataku menggebu-gebu.

“biar Allah aja yang bales di akhirat” jawab nenekku.

Aku makin nggak terima dong, ya tau bakalan dibales di akhirat tapi kan nggak nyerah gitu aja. Tapi, ya gitu semuanya diselesaikan secara kekeluargaan dengan jalan pisah. Seperti kebanyakan kasus KDRT lainnya, si istri sebenarnya tidak mau buka mulut terkait kelakuan bejat suaminya, hanya saja adik si peremmpuan ini melihat kejadian ketika kakaknya dipukulin dan langsung berteriak memanggil ibunya. Langsung heboh jadi sedesa karena sang ibu mendobrak kamar yang dikunci menantunya pas lagi mukulin istrinya. Kasih sayang ibu emang nggak ada batesnya. Enak aja anak orang main dipukul seenaknya, orang dari kecil dirawat dan disayang-sayang, eh pas gedenya dijadiin sasak tinju buat dipukulin, kan psiko. Aku denger ceritanya aja geram banget sama suaminya, kok ya ada orang sejahat ini, eh banyak sih. Semoga kita semua dijauhkan dengan orang seperti ini. Amit-amit banget.

Kejadian ini mengajarkanku untuk lebih bijaksana dalam memilih pasangan hidup. Kebijaksanaan dalam memilih pasangan hidup tidak lantas menyelamatkan kita dari prahara masalah dalam berumah tangga. Ya masalah pasti ada, tapi seenggaknya bagian-bagian yang secara nyata punya potensi untuk memunculkan masalah di masa depan sebisa mungkin diminimalisir. Diobrolin gitu sama calon pasangan kita ini dan itunya, setelah sepakat dan sejalan baru berkomitmen. Seandainya di masa depan memutuskan untuk berpisah -naudzubillah- seenggaknya berpisahnya bukan karena hal remeh temeh dan bukan karena KDRT. Menikah muda maupun menunda menikah sama sekali tak ada korelasinya dengan kemantapan berpisah menurutku, tetapi lebih kepada kesiapan kita menjalin komitmen aja. Jangan menikah hanya sekedar mengusir kesepian tapi murni karena kesiapan. Umur muda tapi udah siap berkominten ya silahkan aja nikah, pun demikian udah berumur tapi belum siap berkomitmen ya silahkan juga nunda nikah. Pastinya, nikah sekarang ini adalah waktu yang tepat karena bisa online dan bisa hemat biaya karena nggak perlu resepsi wkwkwk #CandaSayang.