Kemantapan Berpisah?

Casciscus-Broke-UpSudah terhitung hari ke-4 karantina mandiri, masih sangat jauh dari total 14 hari yang harus dijalani. Aktivitas di desaku masih normal-normal aja sepertinya, soalnya dari depan rumahku aja orang-orang masih dengan normalnya lalu lalang menggunakan mobil, motor, maupun jalan kaki. Sepertinya yang agak berbeda itu di sekitar kabupaten kota. Alun-alun kota ditutup, tempat-tempat ibadah ditutup, tempat yang bisa mengumpulkan orang banyak ditutup, bahkan beberapa pedagang di sekitar alun-alun mau tidak mau harus tutup. Bosan? Nggak juga sih, soalnya aku emang anak rumahan bukan ali topan -anak jalananan wkwkwk-. Lagian mau main kemana juga, temen-temenku udah pada punya mainan sendiri -read, anak- wkwkwk. Nah, tulisan ini emang ditulis sebagai antitesis terhadap tulisanku sebelumnya, yang judulnya Kemantapan Berkomitmen. Tulisan ini belum genap setahun aku tulis tetapi beberapa orang yang aku ceritakan di dalamnya telah berkomitmen untuk berpisah. Sedih nggak sih? Aku aja kaget bukan main ketika mendengar cerita mereka. Gimana nggak, pas denger kalau mereka mau nikah aja aku kaget banget, perasaan masih bocah banget, masih kebayang tubuh mungil dan bocah mereka beberapa tahun yang lalu. Terus, kaget untuk kedua kalinya karena ternyata pernikahan yang memang terlalu dini untuk dibagun itu, ternyata terlalu dini pula untuk diakhiri. Tulisan ini bukan mau menghakimi kelompok-kelompok yang pro dengan nikah muda, aku juga pro kok sama nikah muda, tapi belum ada yang mau ngajak nikah aja wkwkwk. Pun demikian bukan mau mengagung-agungkan yang memilih untuk nunda nikah, aku nggak mau nunda kok, cuma belum ada yang mau ngajak nikah aja wkwkwk #apasih.

              Seperti layaknya anak perantauan lainnya, masa pulang kampung yang sebentar biasanya ku manfaatkan untuk membicarakan banyak hal dengan orang tuaku. Biasanya topiknya tak menentu, mulai dari kabar keluarga, tetangga, kabar dunia, apapun lah diomongin intinya. Berhubung pulang kampung sekarang nih agak panjang –you know lah kenapa, iya aku pengangguran-, jadinya panjang juga obrolannya. Pas lagi bahas sesuatu, teringatlah aku dengan anak tetanggaku yang tahun kemarin baru menikah yang hajatannya tiga hari tiga malam, ramai bukan kepalang sampe bikin aku susah tidur. Terus, nenekku dengan gampangnya bilang,

“dia kan udah pisah” ringan banget ngomongnya.

“APAAA???” jawabku kaget bukan kepalang.

              Kaget banget dong, belum genap setahun lho itu. Alasannya pun menurutku terlalu childish, ya mungkin karena mereka berdua memang masih sangat terlalu muda. Aku nggak bisa menjabarkan alasannya di sini, intinya alasan itu menurutku masih bisa didiskusikan seandainya mereka mau berpikir dewasa. Umur emang bukan parameter kedewasaan sih, tapi orang yang dewasa biasanya berumur wkwkwk. Tetanggaku ini amat sangat masih dedek-dedek banget, jadi nggak heran aja kalau pemikirannya belum matang. Aku menyayangkan aja ke orang tua mereka yang terlalu buru-buru menikahkan anak mereka, padahal tetanggaku ini pihak laki-laki. Denger-denger dari ibuku katanya si dedek ini belum pengen nikah sebenernya tapi orang tuanya aja yang kepengen dia cepet nikah. Sedih ya, kalau udah gini kan kasian masa depan keduanya. Walaupun takdir mereka udah ada jalannya masing-masing. Tapi, kejadian kayak ini -yang menurutku adalah jalan hidup yang berat banget- pasti bakalan meninggalkan luka tersendiri yang entah kapan bisa sembuh. Sembuh sih pasti, tapi bakalan ada bekas juga.

              Tak berhenti di situ aja kakagetanku, belum selesai mengontrol rasa kaget yang barusan ku alami, kembali nenekku mengeluarkan kalimat berat dengan entengnya,

“Si itu juga udah pisah”

“APAAAA???? DIA JUGA? KENAPAAA???” tanyaku kembali dengan rasa kaget yang lebih berkali berlipat.

              Gimana nggak, pasangan yang ini yang aku kenal adalah pihak perempuannya. Sehari setelah pesta pernikahan, mereka mendatangi rumahku untuk meminta restu ke keluargaku yang memang masih ada silsilah keluarga dengan mereka. Masih teringat dengan jelas raut wajah mereka pas salaman kepadaku yang waktu itu pulang kampung dan mengalamai kecelakaan motor sehingga harus rebahan di rumah selama kurang lebih sebulan. Alasan perpisahan mereka semakin membuatku kaget dan geram karena si suami ternyata melakukan KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga) pada si istri. Sedih banget nggak sih? Si perempuan ini masih kecil banget asli, polos, dan lugu -kayak aku- kok ya tega sampe dipukulin. Katanya sih si suami ini orangnya cemburusan dan ada ciri-ciri psikopat. Lebih sedihnya lagi, pasangan suami istri ini tinggalnya di rumah pihak perempuan. Kebayang nggak sih, kebringasan si suami? Di rumah istrinya aja dia seberani itu lho mukulin istrinya, gimana kalau mereka cuma tinggal berdua? Emang dasar psikopat. Aku berkali-kali bilang,

“Kenapa nggak dilaporin polisi aja? Ini KDRT, HARUS DIPENJARA SUAMINYA” kataku menggebu-gebu.

“biar Allah aja yang bales di akhirat” jawab nenekku.

Aku makin nggak terima dong, ya tau bakalan dibales di akhirat tapi kan nggak nyerah gitu aja. Tapi, ya gitu semuanya diselesaikan secara kekeluargaan dengan jalan pisah. Seperti kebanyakan kasus KDRT lainnya, si istri sebenarnya tidak mau buka mulut terkait kelakuan bejat suaminya, hanya saja adik si peremmpuan ini melihat kejadian ketika kakaknya dipukulin dan langsung berteriak memanggil ibunya. Langsung heboh jadi sedesa karena sang ibu mendobrak kamar yang dikunci menantunya pas lagi mukulin istrinya. Kasih sayang ibu emang nggak ada batesnya. Enak aja anak orang main dipukul seenaknya, orang dari kecil dirawat dan disayang-sayang, eh pas gedenya dijadiin sasak tinju buat dipukulin, kan psiko. Aku denger ceritanya aja geram banget sama suaminya, kok ya ada orang sejahat ini, eh banyak sih. Semoga kita semua dijauhkan dengan orang seperti ini. Amit-amit banget.

Kejadian ini mengajarkanku untuk lebih bijaksana dalam memilih pasangan hidup. Kebijaksanaan dalam memilih pasangan hidup tidak lantas menyelamatkan kita dari prahara masalah dalam berumah tangga. Ya masalah pasti ada, tapi seenggaknya bagian-bagian yang secara nyata punya potensi untuk memunculkan masalah di masa depan sebisa mungkin diminimalisir. Diobrolin gitu sama calon pasangan kita ini dan itunya, setelah sepakat dan sejalan baru berkomitmen. Seandainya di masa depan memutuskan untuk berpisah -naudzubillah- seenggaknya berpisahnya bukan karena hal remeh temeh dan bukan karena KDRT. Menikah muda maupun menunda menikah sama sekali tak ada korelasinya dengan kemantapan berpisah menurutku, tetapi lebih kepada kesiapan kita menjalin komitmen aja. Jangan menikah hanya sekedar mengusir kesepian tapi murni karena kesiapan. Umur muda tapi udah siap berkominten ya silahkan aja nikah, pun demikian udah berumur tapi belum siap berkomitmen ya silahkan juga nunda nikah. Pastinya, nikah sekarang ini adalah waktu yang tepat karena bisa online dan bisa hemat biaya karena nggak perlu resepsi wkwkwk #CandaSayang.

2 thoughts on “Kemantapan Berpisah?

  1. I feel you. Beberapa teman dan orang di dekatku juga punya pengalaman sejenis. Rasa-rasanya baru kemarin sore nikah eh tahu-tahu bercerai. Sedih memang. Hidup orang memang ga ada yang tahu ya.

    Segera menikah bukan artinya segera bahagia, menunda menikah juga bukan artinya ingin menunda jodoh. Emang cuma karena belum dilamar aja #eh 🤭

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s