Menyepelekan

getty_184437744_237511Malam ini udah jam 21.55, sudah sangat larut untuk ukuran desa seperti di desaku. Jam 21.00 rasanya semua orang sudah beranjak untuk tidur setelah seharian penuh berkutat dengan aktivitas harian mereka, entah itu bertani, berdagang, atau aktivitas lainnya. Aku berasa hidup di dunia lain tinggal di sini karena kepanikan akibat pandemi covid-19 benar-benar tidak terasa di sini, padahal aku dengar tetanggaku yang mungkin hanya 10-15 menitan dari rumah telah dinyatakan positif terjangkit virus ini. Orang-orang masih asik beraktivitas seperti biasa, seakan-akan desa ini jauh dari jangkauan virus corona. Dampak seriusnya pandemi ini baru ku rasakan setelah membuka sosmed seperti twitter dan live count dunia jumlah pasien yang terjangkit virus ini yang ternyata telah mencapai 1 juta lebih. Pandemi ini bukan main-main tapi entah mengapa di sini benar-benar tak terasa keseriusan dampak dari pandemic ini. Entah karena murni tidak tahu atau memang sengaja menyepelekan. Aku yang telah 1 minggu berada di sini sedikit banyak terpengaruh dengan budaya menyepelekan ini. Aku yang awalnya di kamar saja, telah berani keluar kamar dan berinteraksi dengan orang rumah. Bahkan tadi sore aku bersepeda keliling desa dengan memakai masker tentunya. Ketika melintasi sebuah rumah, ada anak yang terlihat tertarik dengan penampilanku dan dengan polosnya berteriak,

“Corona… Corona… Corona” teriaknya cukup kencang karena melihatku memakai masker sehingga membuat orang tuanya menghentikannya agar tak memanggilku demikian.

Kekhawatiran benar-benar menguasaiku malam ini karena mbakku yang seorang perawat masuk ke dalam tim perawat pasien corona dan diprediksi tidak akan bisa pulang hingga lebaran yang akan datang. Bahkan mbakku tak bisa sama sekali pulang untuk mengurus suaminya, benar-benar 24 jam di rumah sakit karena berada di ruang isolasi. Untungnya anaknya tinggal bersama ibuku di rumah. Sesekali kami telponan dan video call untuk bertukar kabar. Kabar dia yang lebih mengkhawatirkan sebenarnya, semoga selalu sehat dan tetap dalam lindungan Allah, aamiin. Aku selalu menekankan padanya untuk tak banyak memikirkan apapun, cukup fokus pada tugas dan kesehatannya saja. Urusan yang lain biar orang yang ada di luar ruang isolasi yang memikirkannya. Kalau sudah begini, apa iya pandemi ini bisa dianggap sepele? Menyepelekan hal sangat serius begini sungguh tak bijak. Sebenarnya bukan hanya terkait virus corona yang ingin aku ceritakan di sini, ada lagi satu cerita yang membuatku sedikit mangkel karena sikap acuh tak acuh orang lain yang dengan gampangnya menyepelekan perbuatannya yang sebenanya tak sepele, menurutku.

Di awal tadi aku udah bilang kan kalau di desa itu jam 21.00 sudah terhitung sangat larut dan tentunya waktu untuk istirahat. Tapi, hingga jam 22.18 -jam ketika aku ngetik tulisan ini-, tetangga sebelah rumahku dengan entengnya karaokean dengan suara sound system maksimal, bener-bener kenceng kedengeran hingga rumahku. Asli sih ini menurutku pake volume maksimal soalnya rumah di desa itu kan rada lebar-lebar, jarak dia ke rumahku ya sekitar 5 meteran, nggak dempet-dempetan kayak di kota, tapi suaranya banter banget ke rumahku. Aku sebenarnya nggak terlalu terganggu tapi ya kok kurang elok aja udah malem gini masih muter lagu kenceng-kenceng gini. Sebagai orang yang tidak terima dengan berbagai jenis penindasan dalam bentuk apapun, aku yang dengan sadar punya jiwa pembela kebenaran dan keadilan, serta pejuang persamaan hak bagi semua insan, tapi rada penakut juga buat ngelabrak orang yang nggak punya tata krama, langsung menghampiri ibu dan nenekku untuk minta izin buat negor tetangga nggak jelas ini. Ditambah lagi ibuku juga lagi pusing dari pagi dan menurutku suara bising ini cukup memberikan andil meningkatkan rasa pusing yang diderita beliau,

“Mak, aku mau negor mereka ya? Emak keganggu kan?” tanyaku udah mau siap-siap berangkat kalau restu udah di tangan.

“Mau ngapain? Jangan cari musuh, biarin aja. Emak nggak keganggu juga sama suara ini” jawab ibuku yang langsung menyurutkan niatku yang telah menggebu-gebu.

Nah gini nih yang nggak aku suka dari orang-orang di desaku, orang-orangnya nggak peka dan cenderung menyepelekan hal yang sebenernya nggak sepele. Sifat menyepelekan mereka ini makin subur karena didukung oleh pembiaran dari orang-orang di sekitarnya, dalam kasus ini ibuku. Pembiaran ini mereka lakukan karena mau main aman aja hidup bertetangga, biar nggak nambah musuh katanya. Lah justru kalau mereka dibiarin, mereka akan berpikir kalau perbuatan mereka adalah hal yang normal dan lumrah. Proses pembelajaran dan pembentukan karakter pribadi menjadi gagal di sini. Orang desa atau orang kampung akan tetap menjadi kampungan. Aku orang kampung tapi nggak kampungan, karena beda antara orang kampung dan kampungan. Orang kampung hanya terkait geografis tempat tinggal, sedangkan kampungan lebih ke sifat yang cenderung tak punya aturan dan tak berpendidikan. Ngedumel kan jadinya soalnya aku nggak bisa gerak kalau udah dilarang sama ibuku. Langsung ku bergegas ke kamar isolasi dan menuliskan berbagai unek-unek yang ngeganjel malam ini.

Aku jadi teringat salah satu ceramahnya ustadz Oemar Mita terkait sifat menyepelekan ini. Kata beliau kurang lebih seperti ini,

“Bbisa saja sebab masuknya kita ke neraka bukan karena dosa besar yang kita lakukan tapi karena meyepelekan dosa kecil yang sama sekali tak kita anggap”

Kalau kita analogikan dengan kisah yang aku alami malam ini, bisa saja Allah mencatat setiap detik yang tetanggaku gunakan untuk memutar lagu dengan keras sebagai dosa kecil yang bisa saja menjerumuskan dia ke neraka. Bisa gitu? Ya bisa aja, kan doa orang yang terdzalimi dikabulkan Allah dan aku terdzalimi. Kalau semisal aku minta pembalasannya di akhirat dan Allah ngabulin, wkwkwk. Tapi aku nggak segitunya kok, soalnya aku sadar aku pun manusia biasa yang tentunya juga pernah melakukan dosa tanpa ku sadari mungkin telah menyinggung atau menyakiti orang lain dengan perbuatan atau perkataanku. Aku hanya berharap tetanggaku ini dapet hidayah dan mengalami satu momen dalam hidupnya sehingga dia bisa sadar kalau perbuatan dia ini telah mendzalimi banyak orang. Aku pun berdoa semoga aku menjadi pribadi yang senantiasa berhati-hati dalam berucap dan bersikap sehingga tak menyepelekan sesuatu sehingga menghasilkan dosa yang tanpa disadari bisa menjadi penyebab masuknya aku ke dalam neraka, Naudzubillah. Ya Allah hindarkan hamba dari sifat menyepelekan sesuatu karena dalam hidup ini tak ada yang benar-benar sepele karena semuanya akan dimintai pertanggung jawabannya di akhirat kelak. Aamiin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s