Kebohongan si Bapak

20Bebarapa bulan yang lalu tepatnya di bulan November aku memutuskan untuk pulang kampung. Ngapain? Lamaran ya? Banyak yang menyangka begitu tetapi sesungguhnya aku pulang bukan karena itu, aku pulang karena orang rumah akan mengadakan pengajian. Pengajian buat lamaran ya? Pasti ada aja yang ngejar sampai segitunya, masih belum percaya kalau aku memang pulang bukan untuk itu. Sungguh, aku pulang bukan untuk itu, tapi untuk lamaran #eh hahaha. Orang rumah telah mewanti-wanti aku dan saudaraku untuk mengurus izin pada bulan November, katanya mau ada pengajian dan orang tuaku berharap semua anaknya berkumpul pada hari itu. Kurang afdhol katanya kalau kurang satu dua orang. Jadilah aku sudah mengurus surat ijin sejak bukan oktober dan sedikit pergulatan pendapat akhirnya aku diperbolehkan untuk pulang. Lega.

            Sesampainya di rumah aku benar-benar tak bisa istirahat, padahal bayanganku yang namanya pulang kampung itu berarti istirahat pol. Lah ini, dari pagi ampe malem kerjaannya bikin kue, masak ini, masak itu, untuk keperluan aqiqah keponakanku dan pengajian yang hajatannya disatukan. Di rumahku tak ada ceritanya pesen catering-cateringan, semuanya dimasak sendiri. Lebih hemat dan lebih kekeluargaan katanya. Tapi jujur, cuapek banget. Padahal kerjaanku nggak ribet-ribet amat sih, paling cuma ngupas, motong, bungkus. Nggak kayak ibu sama mbahku yang mondar-mandir, ngasih bumbu ini, ngasih bumbu itu, mencampur yang ini, mencampur yang itu. Sejauh yang aku inget, tiap kali ada hajatan tak pernah sekalipun pesen catering, pasti masak sendiri, sebesar apa pun hajatannya. Pas mbak ku yang pertama dan kedua menikah, mulai dari kue ringan, kue berat, menu daging, menu ayam, nasi, semuanya dibuat sendiri. Kebayang dong gimana rieweuh-nya. Misal mau bikin semur aja, undangannya kan beratus-ratus orang (di desa emang gitu), maka ibuku akan memprediksi berapa daging yang harus dibeli, berapa kelapa yang dibutukan (kelapa yang dibeli masih dalam batok kelapanya, jadi harus dikupas dulu), berapa bawang putih yang harus dikupas, semuanya dimulai dari awal dan dibikin sendiri. Salut deh sama orang rumah terutama ibuku kalau dalam hal masak memasak.

            Ibuku memang terkenal jago masak, hampir semua orang desaku tahu itu. Lihat saja tiap kali lebaran, pasti banyak sekali yang datang ke rumah untuk memesan kue kering. Aku kadang bosan karena merasa terlalu capek tapi seiring bertambahnya usia aku jadi mengerti, semua yang ibuku lakukan tak lain dan tak bukan hanyalah untuk anak-anaknya. Ibuku selalu menggunakan bahan-bahan terbaik, makanya orang-orang suka memesan kue atau makanan ke ibuku walaupun harganya lebih mahal dari yang lain tapi mereka sudah tahu kualitasnya tak akan mengecewakan. Semuanya mengakui jikalau masakan ibuku enak, aku pun begitu. Tiap kali pulang kampung ibuku selalu bertanya mau dimasakin apaan. Bakalan banyak menu berderet yang aku sebutkan. Program diet yang ku lakukan akan gagal total kalau pulang kampung tiba. Perbaikan gizi benar-benar terlaksana, bahkan kalau dibiarkan bisa overweight. Ibuku itu suka sekali masak, tapi anehnya tak suka makan. Kalau di rumah sedang tak ada aku dan mbak Dila, ibuku jadi malas masak karena orang rumah pada malas makan. Nafsu makan mereka seolah-olah disatukan padaku dan mbak Dila. Bisa dibilang masakan ibuku telah mendapatkan pengakuan ‘enak’ hampir dari semua orang tapi tidak dari satu orang. Siapa dia? Dialah bapakku.

            Bapakku enggan sekali atau bisa dibilang jarang sekali memuji masakan ibuku. Ada saja yang dikritik, kurang inilah, kurang itulah. Ibuku sampai kebal dengan kritikan bapakku, sampai-sampai ibuku bilang,

“masakan ibu emang nggak pernah bener di mata bapakmu”

            Aku agak aneh saja, perasaan nih ya, masakan ibuku itu enak-enak aja, bahkan bisa dibilang enak banget. Tapi ya gitu, bapakku terkesan gengsi untuk mengakuinya. Apa semua laki-laki gitu ya? Gengsi untuk memuji pasangannya. Tapi nggak juga kali ya, bapakku aja yang aneh. Bapakku penyuka masakan padang, sukaaa sekali. Menurut dia nih, masakan padang tuh uwenaaak tenan. Aku juga suka sih, tapi ya nggak gitu-gitu amat. Pada suatu ketika, bapakku pernah berkata ketika kita semua sedang makan bareng,

“kok bisa ya, orang padang itu bikin daun singkong jadi seenak itu. Tapi kok ibumu nggak bisa. Ibumu pernah bikin, tapi rasanya nggak bisa ngalahin masakan warung padang” kata bapakku pada suatu hari mencoba menyulut amarah ibuku. Ibuku sih anteng-anteng aja, kritikan seperti itu biasa baginya, ibaratnya udah kenyang.

            Pas aku pulang November kemarin, bapakku sedang sakit. Sakitnya bapakku akan berimbas pada makanan yang dia makan. Dapat dipastikan akan lebih banyak permintaan yang bapakku inginkan. Masakan padang tak bisa dia order karena bapakku terkena kencing manis, tau sendiri kan masakan padang kayak gimana. Ketika beliau sakit, beliau tak mau makan masakan ibuku. Bapakku lebih suka nasi bungkus di pasar, katanya enak. Jadilah setiap pagi hari kita punya tugas untuk membelikan nasi bungkus di pasar. Aku agak aneh saja, perasaan nasi bungkus yang bapakku bilang enak itu jauh banget rasanya kalau dibandingkan dengan nasi bikinan ibuku, beneran deh. Agak males juga sih tiap pagi harus ke pasar yang jaraknya lumayan. Pas hari dimana ada hajatan aqiqah dan pengajian di rumahku, bapakku tetap keukeuh untuk dibelikan nasi bungkus pasar. Padahal di rumah lagi banyak banget makanan dan semua orang sedang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Mbakku yang tertua bertugas untuk menjaga dan memenuhi keperluan bapakku yang kala itu sedang sakit. Ketika jam sarapan, mbakku ini nggak sempet ke pasar buat beli nasi bungkus dan akhirnya punya ide brilian untuk mengatasinya. Dia ambillah bungkus nasi dan meracik sendiri nasi dan lauk serta dibungkus seolah-olah nasi bungkus yang biasa bapakku minta belikan di pasar.

            Setelah dianggap sempurna tanpa celah, masuklah mbakku ke kamar bapakku dan menyuapkan nasi bungkus imitasi itu. Makanlah bapakku suap demi suap tanpa merasa curiga sedikit pun. Tak lama kemudian, bapakku berkata pada mbakku,

“ini nasinya beli dimana? Kok beda rasanya dari biasanya?” selidik bapakku

“kenapa pak?” tanya mbakku, benar-benar tak menyangka kalau dia bakalan ketahuan

“enak, enak banget, beda dari yang kemarin-kemarin. Beli dimana?”

“beli di Ibu Sari (nama ibuku)” jawab mbakku sambil tertawa terbahak-bahak dan bapakku hanya tersenyum malu.

            Mbakku langsung menceritakan apa yang dia alami ke orang-orang yang ada di dapur dan semuanya langsung tertawa terpingkal-pingkal termasuk diriku. Ternyata selama ini hanyalah kebohongan yang bapakku lontarkan terkait penilaiannya terhadap masakan ibu. Gengsi sih dipupuk-pupuk jadinya gitu kan kena karma hahaha. Ketika bapakku keluar kamar, aku dan mbak Dila langsung menggoda bapakku,

“pak, gimana enak nggak masakan bu Sari?” tanya kita dengan nada meledek. Bapakku hanya tertawa saja. Oh… bapak-bapak… sesulit itukah memuji masakan ibu? Lain kali juju raja ya, kalau nggak jadi malu sendiri kan, wkwkwkw.

Advertisements

Hati-Hati Agar Tak Menyakiti Hati

love-09Memang rumit membahas masalah hati. Karena dari sanalah muara rasa sedih – senang, derita – bahagia yang kadang-kadang datang dari sesuatu yang tak pernah kita duga. Sengaja lawan kata di atas ku bahagiakan di akhir, bukan tanpa alasan, aku adalah penyuka cerita dengan akhir bahagia. Bukankah semua orang juga mendamba hal yang sama, bahagia di akhir cerita. Apa kabar gerangan dengan hati? Sudahkah berhati-hati agar tak menyakiti hati? Kalau hatimu bagaimana? Kamu… iya kamu… yang sering ku doakan agar dekat dengan hatiku jikalau memang harusnya begitu. Kalaupun tidak, aku siap didekatkan dengan hati lain selain hatimu. Tapi mengapa hatiku tak bisa berbalik arah menjauhi hatimu. Mungkin karena ku kurang berhati-hati menjaga hati. Kali ini ku akan berkisah tentang sebuah kisah yang berkaitan dengan hati, hati-hati agar tak menyakiti hati.

            Aku kenal akrab dengan mereka berdua, mawar dan kumbang, bahkan sangat akrab dengan si mawar. Jadi bisa ku pastikan ini bukanlah cerita fiktif belaka karena akan ku sertakan bukti konkret untuk menguatkannya. Mawar adalah seorang perempuan yang belum bertemu dengan jodohnya, sedangkan kumbang telah beranak satu. Keduanya dipertemukan di sebuah tempat kerja yang aku juga ada di dalamnya. Hubungan keduanya sangat akrab, aku bisa melihat itu semua, bahkan sejak pertama kali ku menjadi bagian dari instansi ini, bisa ku lihat jelas keakraban di antara keduanya. Tak ada yang salah dari interaksi mereka berdua, interaksi mereka masih dalam taraf wajar-wajar saja. Keakraban yang terjalin sangatlah wajar karena si mawar merupakan pribadi yang selalu cerah ceria dan berbaur dengan semua orang yang ada. Aku pun juga berpendapat begitu. Candaan pun kerap mereka lontarkan satu dengan yang lain, suasana pun terbangun tanpa rasa canggung dan membuat semua personil yang ada di sana menjadi nyaman.

            Pada suatu hari, ada urusan yang harus segera mawar sampaikan pada kumbang. Memang sudah bukan jam kantor, tetapi karena urusannya begitu urgent, akhirnya si mawar memutuskan untuk menghubungi kumbang melalui whatsapp, seperti biasa candaan pun si mawar lontarkan pada si kumbang. Di akhir percakapan, si mawar mengucapkan rasa terimakasih yang agak kontroversial seperti di bawah ini,

“terimakasih ya mas kumbang yang ganteng” sembari berkata padaku,

“aku ngirim kayak gini bahaya nggak ya mbak, takutnya istrinya marah. Tapi, nggak mungkin sih, lagian istrinya kan lagi jauh di luar kota” ucapnya padaku yang ku tanggapi dengan senyuman saja sambil berkata “awas lo… ntar istrinya tau”.

            Kejadian itu benar-benar sudah ku lupakan, hingga si mawar pada suatu pagi menghampiriku dengan raut wajah yang berbeda,

“mbak, aku mau cerita sesuatu, tapi jangan bilang-bilang ya” ucapnya penuh rasa was-was.

“ya udah cerita aja” kataku dengan nada suara datar padahal aslinya penasaran banget sama ceritanya. Dia pun langsung mengeluarkan HP nya dan menunjukkan chat dari mas kumbang,

20151206214520

20151206214529

Aku pun membelalakkan mata,

“Hah? Seriusan ini?” tanyaku seakan-akan tak percaya

“Iya mbak beneran, aku bingung banget pas dikirimin chat ini. aku gemeteran, nggak nyangka aku bakalan dimaki-maki sama mas kumbang kayak gini. Makanya cuma aku bales emot nangis. Tapi setelah aku pikir-pikir, ini kayaknya dari istrinya mas kumbang deh mbak. Tapi aku tuh nggak ngerti, aku emang salah apa. Aku juga nggak pernah chat.an sama mas kumbang kecuali kaitaannya sama kerjaan dan itu pun jarang banget” ceritanya berpanjang lebar.

“oh… jangan-jangan karena chat mbak yang kemarin itu loh mbak yang bilang mas kumbang ganteng” jawabku mencoba flashback.

“iya kali ya mbak, aku juga sempet kepikiran ke chat yang itu. aduh… kok bisa kayak gini ya” kata si mawar

“hahahaha… makanya hati-hati kalau ngomong, padahal kemarin udag nyadar bakalan kayak gini, eh… malah tetep dilakuin, rasain akibatnya sekarang” jawabku sambil terus tertawa

            Benar-benar harus hati-hati bukan? Hati-hati agar tak menyakiti hati. Mungkin bagi kita hal sederhana tapi tidak bagi hati yang lain. Tidak lah salah jika makian justru yang kita dapat karena hal yang kita lakukan tanpa kehati-hatian. Begitulah hati ketika telah tersakiti, akan mengeluarkan segala cara agar si hati yang menyakiti mendapatkan balasan yang setara dengan rasa sakit yang dialami. Aku pribadi sih tak menyalahkan akan sikap si istri mas kumbang karena sangatlah lumrah ketika pujaan hati digoda oleh hati yang lain. Hati siapa coba yang tak sakit hati ketika melihat tanda-tanda ketika si pujaan hati mempunyai gelagat untuk pindah ke lain hati. Ku harap kamu tak kan begitu, kamu iya kamu. Hati-hati ya jaga hati, aku pun begitu, akan selalu mejaga hati hingga bertemu kamu nanti.

Sekarang Aku Suka

380508_10150478978223600_81428978599_8926950_1289811075_nKatanya sih, jangan ‘terlalu’ kalau suka atau nggak suka sama sesuatu. Soalnya bisa jadi akan terjadi kebalikannya di kemudian hari. Terlalu suka akan jadi nggak suka dan terlalu nggak suka akan jadi suka. Makanya dari itu, aku selalu menjaga agar diri ini hanya terbatas pada kata biasa-biasa saja. Suka ya sukanya biasa aja, nggak suka ya nggak sukanya juga biasa-biasa bae. Tapi yah, yang namanya perasaan, mana bisa diatur. Misalkan bisa diatur nih ya, nggak bakalan tuh temenku suka sama orang yang dulu bikin dia jengkel setengah mati, nggak bakalan juga sepupuku bakalan suka sama temennya yang sukanya manfaatin dia, nggak bakalan juga tuh temenku suka sama mantannya yang playboy-nya nauudzubillah, dan nggak bakalan juga aku suka sama kamu yang rasa-rasanya ‘mungkin nggak ya suka juga sama aku?’ #eaaa. Kalau bisa diatur mah nggak bakalan ada tuh ceritanya drama-drama yang kisah cintanya bakalan njilimet kayak gitu dan nggak bakalan ada pula tontonan favorit akuh, drama atau movie romance yang kisah cintanya tragis. Ok, udah kita sepakati dan ketahui bersama ya bahwa yang namanya perasaan tak bisa kita atur sesuka hati kita. Tiba-tiba aja suka sama sesuatu dan tanpa disadari ternyata rasa suka itu udah dalem dan udah telat banget buat ngedangkalinnya. Jalan keluarnya? Biarkan saja, karena hati akan punya caranya sendiri untuk mengatasinya. Ini bisa disebut jalan keluar nggak sih? Nggak juga sih, tapi ya mau gimana lagi, aku juga nggak punya saran yang lebih baik dari ini.

Continue reading

Kucing Elit dan Pemiliknya

anak-kucingCerita ini berawal dari nyasarnya seekor kucing elit ke kosanku malam ini. Warna bulunya putih bersih dan halus. Sangat jelas nih kucing, kucing manja. Terpampang nyata dari penampilan dan tingkah lakunya. Malam ini hujan rintik-rintik jatuh setetes demi setetes. Enggan deras, enggan pula reda. Sisa hujan tadi sore. Halaman kosan jelas basah. Nih kucing manja jelas nggak terbiasa dan nggak mau kebasahan. Jadi dia tanpa persetujuan sang empunya kamar kosan, main nyelonong aja ke dalam kamar tetangga kosanku. Kamarku sih aman, nggak pernah ku biarkan dalam keadaan terbuka jadi nggak bakalan ada makhluk yang masuk tanpa izin, kecuali makhluk halus ya #hiiiSerem. Aku nggak takut sama kucing tapi ya nggak suka juga. Aku sedari kecil tak pernah diajarkan untuk mempunyai keterikatan maupun ketertarikan khusus sama yang namanya binatang peliharaan. Jadi ya kayak gini, just say ‘hi’ sama si kucing elit tatkala ku berniat untuk melihat tuh kucing. Temanku menyarankanku untuk mengelus bulunya yang halus, tapi aku enggan memegangnya, ya karena aku –sekali lagi- tidak punya sense of animal yang baik hehe.

Continue reading

Aku yang Menyebalkan

  Bete          Pernah nggak ngerasain ini, jatuh cinta? Hahaha… nggak nggak bukan masalah cinta, kali ini masalah perasaan. Lah… apa bedanya? Hehe. Pernah nggak sih ngerasa gelisah? Akhir-akhir ini aku gelisah gegara pengen nulis tapi nggak dapet ide buat nulis apaan. Sebenernya ada sih ide, tapi lagi-lagi sepertinya terlalu frontal kalau harus di posting di blog karena aku tahu lambat laun kau juga akan tau. Apaan sih nggak jelas. Intinya gini, aku punya sesuatu yang pengen aku tulis, tapi aku belum siap buat nulis itu karena isinya terlalu… hm… menjurus ke susuatu. Akhirnya setelah perenungan singkat, ku temukan sesuatu yang ingin ku tulis dan yang pasti ‘aman’ untuk aku posting dimana pun. Aku lagi pengen nostalgia, kembali ke masa pake seragam dulu dan ku daratkan ingatanku pada masa SMP dulu.

            Seperti apakah aku kala itu? satu hal yang ku ingat ketika kembali mengingat-ingat. Aku dulu adalah aku yang menyebalkan. Beneran, sungguh. Mungkin banyak yang nggak terima dengan kenyataan ini (yaelah… GR nya :D). Tapi sekali lagi ku iya kan, aku dulu adalah aku yang menyebalkan.

            Sekolah SMP ku ini sungguh istimewa. Baru dibangun dan baru mempunyai alumni yang jumlahnya puluhan. Aku tak tahu pasti aku angkatan berapa, yang pasti masih di bawah angka sepuluh. Keuntungan bersekolah di sekolah yang baru dibangun adalah semua fasilitasnya serba baru dan kekurangannya adalah semua fasilitas yang ada serba kurang. Sekolahku berdiri megah dan mewah (mepet sawah). Sebenarnya aku berniat mondok kala itu, tapi atas beberapa pertimbangan, keinginan mondok itu tak kesampaian. Jadilah aku murid baru di sebuah SMP yang juga baru.

Continue reading

Pudarnya Sebuah Idealisme

danbo_by_skulladrianortizNamanya pudar. Aku tak tahu darimana dia berasal. Pastinya, ketika dia datang semuanya akan terasa hambar dan tawar. Apalah jadinya ketika sebuah idealisme disandingkan dengan kata ini? Maka yang akan terjadi seperti yang akan aku ceritakan sebentar lagi, pudarnya sebuah idealisme.

              Buset… serius amat bacanya. Judulnya ngeri, bawa-bawa idealisme. Don’t judge an article by its tittle, kalimat ini bener banget. karena aku nggak bakalan ngomongin hal yang serius kali ini. Kapan sih aku pernah serius. Aku kan seriusnya cuma sama kamu, iya… kamu, hahaha. Entah udah berapa kali inget kejadian ini dan selalu sukses bikin ngakak histeris. Agak susah dibedain antara kegirangan sama kesurupan. Cerita kali ini tentang seorang teman yang menurutku idealismenya sungguh tak bisa diragukan lagi. Ibaratnya nih, idealisme dia tuh kayak layangan yang diterbangin di lagit, sedangkan aku layangan yang belum dibuat. Jauh banget kan. Iyalah, aktivis kampus cuy sama aku yang rakyat jelantah, eh rakyat jelata maksudnya.

Continue reading

Ketika Ku Tahu Dia Suka Dia

danbo-reachoutPernah nggak sih kalian pengen tahu siapa yang disukai temen kalian? Entah ini sebuah sindrom atau kelainan, percaya atau tidak, aku suka kepengen tahu siapa yang disukai sama temen-temenku, atau orang-orang yang ada di sekitarku. Biasanya yang ku lakukan adalah mengumpulkan mozaik-mozaik, lantas menyusunnya menjadi sebuah puzzle yang nantinya akan jadi bukti kongkret kalau temeku yang itu ternyata suka sama temenku yang itu. Nggak tau ya, seneng aja gitu kalau aku bisa tahu siapa yang suka sama siapa. Lantas, apa yang aku lakukan dengan semua bukti yang telah ku kumpulkan? Ya… nggak ada. Namanya juga kepengen tau doang. Ya sebatas pengen tau. Kalau udah tau ya udah, tak ada tindak lanjut yag ku lakukan. Ya ngapain juga menindak lanjuti. Ya kali aku harus menyatukan dua insan yang saling suka tapi tak menyatu karena keduanya sama-sama malu untuk mengungkapkan perasaan mereka. Ya nggak lah, ntar aku kecipratan dosanya. Iya kalau langsung nikah, kalau pacaran? Bisa berabe.

            Kebiasaan ini sepertinya muncul ketika aku duduk di bangku SMA. Pas SMP mah belum mikirin hal kayak ginian. Pas waktu SMA aku kan pendiem banget tuh, kayaknya berat banget yang mau ngomong. Ya daripada nggak ada kerjaan mendingan ngumpulin mozaik siapa yang suka siapa. Lantas yang ku dapatkan? banyak teman sekelasku yang ternyata saling suka. Maklum, kesempatan untuk suka sama anak kelas lain minim. Gimana nggak minim, kita di SMA itu tiga tahun nggak dipisah-pisah. Temennya itu lagi itu lagi. Jadi, diem-diem dulu tuh aku udah tahu siapa yang suka sama siapa walaupun mereka sama sekali tak bercerita padaku. Lantas, siapa yang ku suka? Ada deh :P.

Continue reading