Pada Hari Senin di Stasiun Senen

seninMari ku ceritakan senin kemarin yang ku alami, tepatnya tanggal 7 Maret 2016. Pulang kampung yang tak aku agendakan sebelumnya. Tetiba saja mengharuskan diri ini untuk pulang karena keadaan yang benar-benar di luar dugaan dan prediksi. Bapakku sakit, sudah cukup sampai di situ saja, bukan perihal inilah yang mau aku ceritakan panjang lebar di sini. Ku siapkan diri untuk berangkat dari kosan menuju stasiun Bekasi jam 6 pagi. Terlalu pagi memang untuk ukuran jam keberangkatan kereta jam 12 siang. Tapi tak apalah, aku sudah cukup sekali saja merasakan nelangsanya ketinggalan kereta. Tak apa menunggu lama asal yang ditunggu sudah pasti kedatangannya. Sampai di stasiun Bekasi sekitar jam set.7 pagi dan ku lihat gerombolan orang yang berjalan cepat menuju sumber yang sama, stasiun Bekasi. Aku menelan ludah pelan, sudah terbayang dengan jelas bagaimana sesaknya comuter nanti. Tak apalah, hidup kan memang perjuangan, kali ini perjuangannya berdesak-desakan di comuter. Pas tap di pintu masuk menuju comuter aku memilih kereta yang berangkatnya belakangan, nggak buru-buru ini. Ku pilih gerbong khusus perempuan di gerbong paling ujung, biasanya sih masih ada tempat duduk. Pengorbanan tak sia-sia, ternyata benar ada kursi kosong dengan sedikit meminta penumpang lain untuk menggeser tempat duduk mereka. Masih ada sekitar 10 menit sebelum kereta diberangkatkan dan kereta tiba-tiba menjadi begitu sesak hingga ke ujung gerbong yang aku tempati. Ada seorang ibu-ibu yang sudah agak berumur memasuki gerbong, aku pun langsung mempersilahkan si ibu duduk karena memang itu hak beliau. Iya kan? Suka gemes sendiri liat mbak-mbak yang masih muda dengan acuhnya ngebiarin ibu-ibu atau nenek-nenek yang berdiri sedangkan yang bersangkutan duduk, apa nggak kebayang sama ibu atau nenek mereka di rumah ya, tak taulah.

            Berdiri bukan masalah tapi semuanya berubah horror ketika kereta berhenti di stasiun Kranji, satu stasiun setelah stasiun Bekasi. Segerombolan pekerja meringsek masuk, aku berpegangan pada besi penyangga kursi dengan sekuat tenaga biar tak terbawa arus. Berhenti di stasiun berikutnya penumpang makin banyak, tekanan dari sana-sini mulai mengganas. Aku harus bertahan dengan semua tekanan itu. Aku sampai tergencet hingga besi di depanku benar-benar terasa mengenai badan. Sesampainya di stasiun jatinegara aku berusaha sekuat tenaga untuk turun dengan bawaan yang cukup bikin ribet. Satu tas ransel yang isinya cukup bikin pegel, satu tas jinjing yang tak bisa dibilang ringan, dan satu plastik yang isinya snack untuk menemani perjalananku menuju Surabaya nanti. Pas mau keluar tas ku nyangkut, dengan sekuat tenaga ku tarik dan aku agak terpelanting ketika tas yang nyangkut tadi berhasil menemukan celah untuk keluar, untung pegangannya nggak putus. Langsung saja ku edarkan pandangan dan melihat comuter manakah yang bisa mengantarkanku ke tujuan, stasiun senen. Setelah yakin, masuklah diriku ke dalam comuter yang jauh lebih manusiawi dengan tempat duduk. Ku duduk dengan nyaman dan turun ketika telah sampai di stasiun senen, masih cukup lengang, maklum masih pagi, jam 08.30 masih ada tiga setengah jam lagi untuk jam keberangkatan kereta. Mbak Dila juga tak ada tanda-tanda akan cepat sampai di stasiun senen. Pada hari senin di hari senen, entah kebetulan atau gimana, hari dan stasiunnya kebetulan sama. Apa spesialnya? Ya nggak spesial-spesial amat sih, lucu aja, bisa pas gitu ya. Akhirnya ku putuskan untuk menunggu di ruang tunggu penumpang. Di sana banyak sekali orang-orang yang menunggu jam keberangkatan kereta jarak jauh yang ingin mereka tumpangi. Aku memulih kursi yang paling depan, dekat dengan pintu masuk, dekat dengan TV yang sedang menyala dan dekat dengan mesin penjual minuman otomatis yang sering ku lihat di drama-drama itu. Cukup masukkan uang, tekan minuman yang diinginkan, dan secara otomatis minuman akan keluar. Bukan kali pertama aku melihat mesin ini tapi kali ini menjadi lebih spesial karena cerita yang akan aku ceritakan setelah ini.

            Karena bosan dan tak tahu harus ngapain, ku buka snack yang ku bawa, ku makan sediki demi sedikit. Lama kelamaan kok rasanya haus ya dan kebetulan di depanku ada mesin penjual minuman otomatis itu. Pengen sih beli tapi kok ya males yang mau beranjak ditambah lagi tas yang ku bawa berat banget, akhirnya ku urungkan, biarlah nanti kan bisa minum kalau mbak Dila udah dateng. Entah sudah yang keberapa kalinya di sebelahku berganti orang hingga sebuah keluarga datang dan duduk di sampingku. Keluarga kecil, bapak yang bersahaja, ibu yang penyabar tetapi tegas, dan anak yang ceria. Anak ini rajin sekali meminta uang pada orang tuanya untuk membeli jajanan. Ibunya tidak terlalu menghiraukannya tapi si bapak sepertinya sangat memanjakan si anak. Setelah mendapatkan uang dari si Bapak, si anak pun dengan riangnya keluar menuju supermarket terdekat. Sekembalinya dia akan menjelaskan rincian barang yang dibeli berikut harganya. Tak berapa lama si anak seperti merengek pada si bapak untuk membeli minuman di mesin otomatis, si bapak pun mengiyakan. Berjalanlah mereka berdua kea rah mesin, membaca instruksinya, dan memilih minuman yang diinginkan, setelah itu kembali duduk. Ketika akan berniat meminum minuman yang baru dibeli, si anak dengan polosnya bertanya pada si bapak,

Anak: yah, itu bacanya gimana ya? (tanyanya sambil menunjuk mesin penjual minuman otomatis. Di sana tertera tulisan for earth, for life)

3VFbbOAP

Bapak: itu bacaannya, for…for… (jawab si ayah ragu, bisa ku tebak si bapak ini sepertinya tak bisa berbahas inggris)

Anak: for… for… apa yah? (tanya si anak makin penasaran)

Bapak: itu bacanya for… for… earet… eaaareeeet

Anak: earet? Eaaareeet…. (si anak menirukan cara pengucapan si ayah)

Anak dan bapak: eaaareeeet…eaaareeeet (mereka berdua melafalkan itu bersama-sama lantas tertawa bersama-sama)

            Benar-benar kejadian lucu sekaligus hangat bukan? Aku terharu sekali melihatnya. Betapa polosnya si anak dan betapa apa adanya si bapak. Bapak yang selalu ingin merasa bisa di depan anaknya. Kesalahan dan keasalan yang mereka lakukan menjadi begitu manis untuk dikenang bahkan bagiku yang hanya berperan sebagai pengamat di sini. Mungkin bagi mereka ini hal biasa dan kecil tetapi tidak bagiku yang kala itu sendirian, bosan, dan butuh hiburan. Pada hari senin di stasiun senen. Terimakasih dek, terimakasih pak, tingkah pola kalian benar-benar melekat diingatan, sayang sekali jika hanya saya yang merasakan. Ku tuliskan saja agar yang lain juga merasakan kehangatan yang sama. Ini foto yang ku ambil dengan sengaja layaknya paparazzi artis gitu, foto tanpa sepengetahuan yang bersangkutan, candid gitu ceritanya hehe.

20160319194802

Advertisements

Aneh

danbo-sleepSebelum memejamkan mata, ijinkan aku bercerita. Sebelum aku tidur, izinkan aku ngelantur. Aneh rasanya jika hal-hal aneh yang ku alami hari ini hanya ku nikmati sendiri, ingin ku berbagi agar keanehan ini tak terpendam dalam hati, yang nantinya akan ku bawa mati. Apa sih? Aneh banget. Lah… emang judulnya aneh. Aku akan memulai cerita dengan alur mundur biar kesan anehnya makin menjadi-jadi. Barusan tadi aku baru nonton film yang aneh, gaje (ga jelas) pake banget, dan rasanya rugi banget. Kok ada gitu ya film kayak gitu, kok bisa gitu ya ada orang yang mau bikin film kayak gitu, dan lebih anehnya lagi kok ada gitu ya yang mau nonton film itu, ampe akhir lagi, ampe selesai, dan orang itu aku. Beneran deh, kalau kalian nemuin film Jepang dengan judul “Afro Tanaka” pleaseee… jangan tonton, itu film ga bagus, ga ngerti kenapa ada film itu, gaje segaje-gajenya, rugi banget luangin waktu buat nonton film kayak gitu. Apa film itu dibuat biar orang yang nonton ngerasa rugi ya? kalau emang itu tujuannya, mereka sukses besar, karena aku ngerasa rugi, ampe ga abis pikir kenapa bisa nonton tuh film. Pasti pada penasaran, segaje apa sih filmnya? Mending jangan nonton deh, filmnya itu isinya orang aneh yang mau nyari pacar gitu soalnya udah janji sama temen-temen satu gengnya buat bawa pasangan ketika salah satu dari mereka nikah. Tapi prosesnya itu loh gaje banget. Aku spoiler aja udah ngerasa rugi, beneran deh, aku nggak pernah tuh seumur-umur nonton film sekosong, sekopong itu. Nggak ada pelajaran yang bisa diambil, nggak ada pengetahuan baru yang bisa ditiru, atau apa kek gitu. Beneran film yang kosong melompong. Pas filmnya udah selesai, dijamin kalian bakalan ngomong kayak gini ‘apa sih maksudnya?’, seriusan deh, nggak boong.

            Sebelum film itu, aku nonton sebuah film Korea ‘Always’ yang genrenya romance, romance gagal menurutku sih. Tapi ya nggak segaje ‘Afro Tanaka’ tadi. Kenapa gagal? Ya karena ceritanya ketebak banget, udah umum cerita kayak gitu. Seorang laki-laki yang berkorban demi pacarnya yang buta biar si pacar bisa ngeliat lagi si cowoknya kembali ke dunia boxing yang udah lama dia tinggalkan. Pas ceweknya udah dioperasi, si cowoknya menghilang biar si cewek selamat dari ancaman mafia yang menaungi dirinya. Singkat cerita si ceweknya udah sukses jadi pengrajin gerabah gitu, nah si cowoknya masuk rumah sakit karena ditusuk sama satu gengnya yang nggak seneng si cowok ini menang. Eh… di rumah sakit ketemu si cewek yang ternyata relawan di rumah sakit itu. Si cewek nggak ngenalin dong kan dulu dia buta. Akhirnya tak berapa si cowok keluar dari rumah sakit dan ke gerai gerabahnya si cewek tapi ceweknya nggak ada. Ternyata mereka ketemu di jalan karena ternyata anjingnya si cewek (yang dulu di kasih sama si cowok) ngenalin si cewek. Tapi ceweknya nggak ngeh. Pas dia balik ke gerainya si anjing masih ngegonggong gitu. Akhirnya si cewek sadar dan ngejar si cowok sambil nangis-nangis. Akhirnya mereka ketemu di danau yang dulu pernah mereka datangi. Dan ceritanya selesai, udah gitu aja. Bener-bener flat dan nggak ada klimaksnya sama sekali, nontonnya ya gitu datar. Aigooo… ngerasa rugi dikit, niatnya sih mau nonton lagi biar sedikit terobati rasa ruginya. Eh… pas nonton ‘Afro Tanaka’ malah makin ngerasa rugi seubun-ubun.

            Awal dari kejadian aneh yang kualami adalah kejadian tadi pagi. Aku pergi ke kampus dan melihat banyak perubahan yang terjadi di sana. Kantin kampus sekarang udah kayak mall. Kulihat banyak orang berpakaian layaknya mau pergi ke mall bukan mau kuliah. Karena merasa lapar, ku putuskan untuk masuk ke kantin yang memang dari dulu ku anggap kantin paling elite di kampus. Ku pesan mashed potato dan dua kentang rebus yang ukurannya besar, entah apa yang ada di pikiranku, kenapa semua yang ku pesan kentang. Aku penyuka kentang sih, jadi nggak ada yang aneh, yang aneh justru kejadian selanjutnya. Ku langkahkan kaki ke kasir untuk membayar, ku ingat uang di dompetku masih tersisa 100.000 jadi masih aman buat beli makanan di sini. Pas nyampe di kasir, mbak kasirnya pun menjumlah harga makanan yang ku ambil.

“totalnya jadi 423.000 mbak” ucap si mbak kasir yang menurutku penampilannya agak aneh karena pakaiannya cukup seksi, kok bisa ya di kampus pake pakaian kayak gini.

“hah? Kok bisa semahal ini mbak, perasaan saya pesennya cuma ini” jawabku kaget bukan kepalang. Ya kali… di daerah kampus kok jualan makanan semahal ini.

“iya mbak, emang segini harganya, kemarin aja malah ada mahasiswa yang abisnya sampe sejuta.an” kata mbaknya nanggepin komentarku

“saya cuma punya uang segini mbak” ucapku menunjukkan uang satu lembar 100.000 yang aku punya. Si mbaknya langsung ngambil uangnya sambil ngomong,

“mahasiswa yang kemarin uangnya juga nggak cukup kayak mbak, terus dia ninggalin KTP dan besoknya langsung dilunasin” jawabnya panjang lebar seakan memberikan solusi atas kebingunganku.

“kalau gitu saya nggak jadi aja mbak, sini uang saya yang tadi” jawabku. Ya kali makan makanan gitu doang ampe ratusan ribu.

“wah… di sini nggak bisa mbak, kalau udah pesen nggak bisa dibalikin lagi” jawabnya memaksa. Bersamaan dengan jawabannya keluarlah seorang perempuan yang sepertinya manager kantin di sana.

“iya mbak di sini kalau udah pesen nggak bisa dibalikin lagi” jawabnya menguatkan pendapat si mbak kasir.

“ya nggak bisa gitu dong mbak, ini namanya pemerasan dan penipuan. Masak menunya nggak ada harganya, saya kan nggak tahu kalau harganya semahal ini, tau gitu kan nggak beli di sini. Masak makanan gini aja mahal banget, mahal banget” kataku sedikit berteriak agar orang yang baru masuk nggak tertipu kayak aku. Tamu-tamu yang datang menoleh padaku dan melihatku dengan tatapan aneh. Aku nggak habis pikir, kenapa pengunjungnya masih rame-rame aja ya, padahal makanannya mahal banget. Apa mereka sekaya itu.

“makanya mbak kalau makan liat kemampuan, jangan makan di sini kalau nggak mampu” si mbak kasir mulai nyinyir. Aku nggak terima dong digituin, aku langsung nimpalin,

“eh mbak… mbak pikir saya baru pertama kali makan di sini? Dulu pas kuliah saya sering makan di sini. Sekarang aja nih yang aneh nih kantin makanannya mahal banget, mahalnya selangit” jawabku emosi, aku pun melanjutkan,

“sini balikin uang saya yang 100.000, tau gitu dari tadi saya makan di domino’s aja” kataku sambil menunjuk domino’s yang ada di seberang. Tapi si mbaknya tak menghiraukan omelanku dan nggak balikin uangku padahal aku udah laper banget. Di tengah kebingungan yang ku alami, tiba-tiba aku bangun. Ya Allah… ternyata cuma mimpi, pantesan aneh banget. Mimpinya aneh banget kan, pas bangun aku masih mikir, kok bisa ya mimpi kayak gituan. Masih inget lagi detail-detail mimpinya, padahal aku tuh pernah baca artikel katanya setelah seseorang bangun dari mimpi maka dia akan lupa 90% mimpi yang dialami. Nah ini kok bisa sejelas itu ya, benar-benar mimpi yang aneh. Itulah kejadian aneh yang hari ini ku alami, semoga bermanfaat walaupun aku juga nggak tau manfaatnya dimana hehe. Maaf ya ceritanya aneh.

Ikutan Cashtree, Halalkah?

Gini… bahasan kali ini akan sedikit berat, menyangkut halal dan haramnya suatu hal. Jarang-jarang kan bahas bahasan berat di sini. Yuk… mari. Beberapa hari yang lalu setelah sholat dzuhur tanganku ditarik oleh seorang senior yang sepertinya punya urusan yang sedikit penting. Aku langsung menghadapkan diri ke arah badannya untuk tahu lebih lanjut, urusan apakah yang sebenarnya ingin dia bicarakan denganku. Dia langsung mengeluarkan handphonenya dan menunjukkan sebuah aplikasi yang menjadi alasan kenapa dia ingin mengobrol denganku. Dia mengajakku untuk iseng-iseng ikutan cashtree, aplikasi pulsa gratis. Cara kerjanya kayak gini. Setiap kali kita mengajak satu orang untuk menginstall aplikasi cashtree maka secara otomatis orang yang kita ajak akan mendapatkan poin pulsa Rp 1000, nah kita yang ngajakin bakalan dapet 10% dari orang yang kita ajak yang artinya kita mendapatkan poin pulsa Rp 100. Persenan 10% yang kita dapatkan juga akan bertambah ketika orang yang kita ajak melakukan aktifitas yang menghasilkan poin pulsa. Aktifitas semacam apakah? Jadi setiap kali kita unlock screen maka di sana akan tertera poin pulsa yang akan kita dapatkan. Kalau hari biasa biasanya Rp 10 sedangkan kalau weekend Rp 20.

5NeRqt_9

kalau udah unlocked, kita bakalan dapet notifikasi seperti di bawah ini

VEf9VwJ4

Poin pulsa juga bisa kita dapatkan dari beranda cashtree yang kadang menawarkan poin pulsa. Semisal kunjungi link di bawah ini maka kalian akan mendapatkan poin pulsa Rp 150 atau semisal install aplikasi ini maka kita akan mendapatkan poin pulsa Rp 1000. Aku biasanya langsung install aja aplikasinya tapi setelah dapet poin pulsa aku langsung uninstall tuh aplikasinya. Ini penampakan poin pulsanya,

Screenshot_2016-01-27-13-33-27

Poin tersebut bisa kita tukarkan dengan nominal pulsa, poin pulsa Rp 5500 setara dengan pulsa Rp 5000, Rp 11.000 setara dengan Rp 10.000 pulsa, dan seterusnya. Intinya ini semacam beli pulsa menggunakan poin. Ini juga analog dengan bisnis MLM (multi level marketing), makin banyak kita ngajakin orang maka makin banyak pula poin pulsa yang akan kita dapatkan. Orang yang kita ajakin juga ga boleh langsung install di playstore tetapi harus melalui link yang kita share biar orang yang kita ajakin jadi anak buah kita. Kalau ada yang berminat silahkan klik link di bawah ini, kalau berminat nih ya.

Mau dapat pulsa dengan cepat? Ayo gabung di cashtree!
★Download dan dapatkan Rp 1000 secara langsung!★ Install dan buktikan sendiri! Flash Cash: 27 Jan 14:?? WIB (Rp 599) https://invite.cashtree.id/rwswtu

                Aku udah berhasil nukerin pulsa Rp 5000.

Lantas… apa yang membuatku ragu? Ini karena pernyataan seorang rekan, ‘gratis sih gratis…. Masalahnya halal nggak?’ katanya. Aku langsung mikir dong, iya ya, halal nggak ya… padahal hokum MLM juga masih banyak perdebatan. Aku seakan-akan menjadi seseorang yang bertindak tanpa berpikir, berorintasi hasil tanpa dalil. Please… bagi yang mengerti, cashtree… halalkah?

Berjanji

Kenapa harus ada janji kalau memang tak bisa menepati. Seperti itulah, kenapa bisa bilang cinta kalau masih bisa menyakiti. Pas nggak sih analoginya hahaha. Maksa-maksa dikit nggak mama papa lah ya. Pertanyaanku adalah, sudah berapa janji yang tak kau tepati? Tidak ada? Baguslah. Lantas janji denganku apakah kau sudah lupa? Janji untuk membersamaiku hahaha (apaan sih gaje banget). Kali ini aku akan sedikit berbagi pengalaman konyolku terkait janji berjanji. Dulu… dulu sekali, aku sangat gampang mengucapkan janji dan parahnya susah sekali menepati. Ditepati sih… tapi setelah sekian lama. Ini kebiasaa buruk, tapi sekarang nggak lagi kok. Seriusan, seserius aku sama kamu, kamu… iya kamu hahaha (maaf ya banyak becandanya ~.~).

                Janji yang ku ucapkan bukanlah janji pada manusia tetapi pada Allah, biasanya janji seperti ini disebut nadzar. Ingatan tentang nadzar ini masih ada tetapi detailnya sudah agak kabur, samar-samar. Jadi akan ku ceritakan seingatku saja. Banyak sekali keinginan yang ingin sekali ku dapatkan. Tiap kali ku merasa menginginkan sesuatu, maka aku akan memejamkan mata dan berdoa dalam hati, “ya Allah jikalau KAU mengabulakan keinginan hamba, maka hamba akan berpuasa selama 3 hari”. Ya janji (nadzar) seperti itulah yang sering ku panjatkan. Ada beberapa keinginan yang ku janjikan seperti itu dan tiga diantaranya terkabul, alhamdulillah. Apa sajakah itu, kalau tidak salah ya… pertama, keinginanku untuk diterima di SMAku dulu, kedua, keinginanku untuk lolos di sebuah lomba, ketiga, keinginanku untuk ketemu sama kamu (yang ini becanda ya, aku lupa apa yang ketiga). Pokoknya tiga keinginan kalau nggak salah. Setelah keinginanku itu tercapai, apakah gerangan yang ku lakukan? Melupakan janji itu? Tentu tidak. Aku masih ingat, tapi tak kunjung membayarnya hahaha.

                Kelalaianku ini diketahui oleh saudaraku dan nenekku. Beberapa kali mereka mengingatkanku akan janjiku, beberapa kali pula aku mengiyakannya. Tapi lagi-lagi, aku tak kunjung membayarnya. Hingga pada suatu ketika aku kena batunya. Nenekku pernah berpesan, jikalau kita tak segera menepati janji (nadzar) maka kita akan dikejar-kejar ular, katanya. Aku antara percaya tak percaya mendengar perkataan nenekku. Suatu hari ketika aku akan berangkat sekolah menggunakan motor, tak berapa lama setelah aku berangkat di depanku ada seekor ular yang sangaaaat panjang. Panjangnya hampir selebar jalan yang ku lewati. Aku yang kala itu mengendarai motor dengan cukup kencang tak bisa seketika mengerem jadinya dengan reflek aku membelokkan motorku dan melewati kepala si ular sambil berteriak. Untungnya aku tak melindas kepala si ular karena ku lihat dari spion sepertinya si ular baik-baik saja. Menulis cerita ini pun masih mampu membuat buku kudukku berdiri karena jujur aku fobia ular. Aku sangat shock dengan kejadian ini dan sempat terbesit ‘apa ini gara-gara nadzarku yang belum dibayar ya?’. Ya, tapi lagi-lagi, aku tak menyegerakan melunasinya. Niat bayar sih ada, tapi realisasinya ga nyata.

                Kejadian yang kedua jauh lebi menyeramkan dari yang pertama. Siang itu, aku tidur di depan TV. Karena tak ada acara yang menarik akhirnya ku terlelap. Tanganku ku julurkan di atas kepala. Ketika sudag cukup terlelap, antara sadar dan tidak sadar, seperti ada yang melintasi tanganku. Pikiranku masih belum sepenuhnya sadar, tapi terbesit pertanyaan ‘apakah gerangan yang melintasi tanganku? Ah… ini ular’. Langsung saja aku hempaskan yang melintasi tanganku itu walaupun aku tak 100% yakin kalau yang di tanganku itu ular. Aku bangun dan berteriak karena yang ku lemparkan benar-benar ular. Aku langsung lari terbirit-birit dan berteriak sekencang-kencangnya. Orang rumah langsung heboh dan mendatangiku. Aku langsung menunjukkan letak si ular yang sepertinya lari ke pojokan. Sejak saat itu aku langsung melunasi semua hutang janjiku. Aku tak mau lagi bermain-main dengan janji. Kalau memang sekiranya tak bisa menepati, ya tidak usah berjanji. Aku sudah kapok didatengin ular. Aku juga tak bisa membayangkan seperti apa balasannya kalau ditagihnya di akhirat. Jadi, buatlah janji denganku, in shaa Allah aku (pasti) menepatinya.

                Tetiba saja beberapa malam kemarin aku juga teringat janjiku pada seorang teman pas kuliah dulu yang dapat ku pastikan orang yang bersangkutan pasti telah lupa. Tapi entah kenapa tiba-tiba saja aku mengingatnya. Kebetulan sekali hari itu bertepatan dengan hari ulang tahunnya jadi aku punya semacam kalimat ‘basa-bai’ sebelum meminta maaf atas janji yang belum aku tunaikan. Berikut percakapanku dengannya.

wp3

                Aku juga telah berjanji pada teman blogku untuk memosting review blogku tahun 2015, maka aku juga mencantumkannya di sini. Ini dia reviewnya.

wp

Ungkap atau Tak Ungkap

Pernahkah menyimpan rasa? Aku sedang. Pernahkan mengungkap rasa? Aku bimbang. Dibesarkan dari lingkungan yang benar-benar menganggap pacaran adalah sesuatu yang tabu membuatku mau tak mau juga mentabukannya. Masalahnya aku sedikit salah paham, aku mangira pacaran itu sama tabunya dengan perasaan yang mendahuluinya. Bukankah pacaran itu dimulai dari rasa ketertarikan kita akan seseorang, lantas direalisasikan dalam bentuk pacaran karena pilihan menikah sangatlah jauh dari jangkauan. Nah itu, aku menganggap tabu pacaran, benar. Tapi celakanya aku juga menganggap tabu rasa suka yang ku rasakan. Padahal suka dan menyukai itu manusiawi, ya menyukai itu manusiawi. Akibatnya, aku merasa sangat bersalah dan malu luar biasa ketika mendapati diriku tanpa ku sadari telah menyukai seseorang. Jangankan untuk mengungkapkannya pada orang yang bersangkutan, menceritakannya pada teman sendiri aku tak sanggup menanggung malu, bahkan mengaku pada diri sendiri pun aku tak bisa (lebaaaay :D). Tapi seiring berjalannya waktu dan bertambahnya usia, aku sedikit demi sedikit mulai paham dan mengerti. Mulai berani mengakui bahwa aku menyukainya walaupun itu sebatas pada diri sendiri.

                Butuh waktu agak lama untuk memberanikan diri menceritakan perihal rasa pada teman dekat. Setiap kali aku dan teman-temanku berkumpul lantas ngobrol ngalur-ngidul yang ujung-ujungnya bakalan sampai pada bahasan soal rasa, aku selalu mengambil jalan aman, diam. Diamku tak akan menimbulkan curiga bagi yang lain, tau sendiri kan kalau perempuan lagi ngumpul, pasti bakalan ngobrol semua, jadinya aman. Posisi berbahaya itu ketika aku hanya tinggal berdua dengan seorang teman yang kekepoannya sangat tinggi. Kepo (keingintahuan) itu muncul karena aku juga mempunyai rasa kepo yang terlampaui tinggi. Hari yang benar-benar aku takutkan datang. Kala itu, aku sedang sendirian di asrama. Seorang temanku berniat untuk bertandang. Kita pun mengobrol banyak hal dan sampailah pada pertanyaan,

“kamu suka sama siapa Dit?” tanyanya.

“ada, temen SMA kita” jawabku pendek, berharap dia tak akan melanjutkan pertanyaannya lebih lanjut.

                Ternyata sungguh jauh dari dugaan. Dia terus menerus mendesakku. aku memberikan clue dan tak berani menyebutkan namanya, ku berharap dia berhenti karena kau paling tak bisa didesak. Benar saja, dia terus mendesak. Desakannya membuatku guling-guling di kasur asrama, dari ujung yang satu ke ujung yang lain. Aku tak tahan didesak dan tak mampu menyebutkan namanya. Tapi parahnya, dia masih dengan keyakinannya bahwa dia harus tahu siapa yang aku suka. Pertahananku pun runtuh, aku sebutkan namanya, dengan suara lirih. Dia pun tertawa mendengar pengakuanku, tak habis pikir dengan sikapku yang terlalu berlebihan hanya untuk menyebutkan namanya. Ya beginilah aku dengan kelemahanku, lemah dalam hal ungkap mengungkap. Jikalau pilihannya ungkap tak ungkap, ya dapat dipastikan ku pilih tak ungkap. Lebih menarik menyimpan daripada mengungkap karena dengan begitu kita bebas bermain dengan ekspektasi kita sendiri terkait rasa yang kita rasa, itu sih pendapatku yah.

                Keberanianku kala itu menstimulasi keberanian-keberanianku selanjutnya untuk menceritakan perihal orang yang aku suka pada teman yang satu dan teman yang lainnya. Benar-benar akselerasi keberanian. Benar kan, lingkungan benar-benar berpengaruh pada keberanian seseorang untuk melakukan sesuatu. Nah, sekarang aku sedang tinggal satu kosan bersama dengan seseorang yang telah banyak mengalami asam garam dunia suka menyukai. Dia benar-benar seratus delapan puluh derajat berbeda denganku. Dia adalah orang yang sangat terbuka perihal perasaan yang dia rasa. Dia juga pernah bercerita padaku bahwasanya telah beberapa kali dia mengungkapkan rasa yang dia rasa pada orang yang dia suka. Aku tak habis pikir bagaimana dia bisa melakukannya dengan mudah, tak hanya sekali tapi berkali-kali. Penolakan demi penolakan telah dia alami, tapi menurut dia itu tak masalah karena setidaknya dia telah mengetahui apa yang dirasa oleh orang yang dia suka terhadapnya. Dia selalu bercerita pengalamannya dan sesekali menanyakan pengalamanku. Aku bercerita mulanya seadanya tapi lama-lama semuanya termasuk orang yang sekarang ku suka. Seperti dugaanku sebelumnya, dia memberi saran padaku agar mengungkapkan rasa yang ku rasa, dan seperti kau duga aku pasti menolaknya. Tapi dia tidak menyerah, dia terus mendesakku, terus menerus. Hingga muncullah sedikit pemikiran, “apa aku coba aja ya? Seenggaknya kan aku bisa tahu bagaimana perasaannya padaku”. Berkali-kali pernyataan itu aku pertimbangkan. Hari demi hari semakin muncullah rasa yakin dalam diri, hingga suatu malam aku berniat untuk mengungkapkan perasaanku padanya. Hanya sebatas ingin tahu saja bagaimana perasaan dia padaku, itu saja.

                Ku ambillah HP dan entah kenapa sebelum memulai pengungkapan itu, aku ingin sekali menelpon salah seorang temanku yang memang sering ku jadikan tempat curhat dan perlu kau ketahui, teman curhatku ini juga tak tahu perihal orang yang ku suka. Ku bercerita tentang sesuatu yang kurang penting seperti biasa hingga tanpa ada angin dan hujan dia berkata,

“Dita tau nggak, dia (temanku yang lain) lagi anniversary.an tau” ungkapnya.

“anniversary.an? emang pacaran sama siapa?” tanyaku karena yang ku tahu teman yang kita omongin ini tak mempunyai pacar.

“anniversary.an pengungkapan perasaan yang dia lakukan” jawabnya.

“maksudnya?” tanyaku makin penasaran.

“iya jadi ceritanya dia tuh udah nggak tahan menahan rasa, jadinya dia memutuskan untuk mengungkapkan rasa yang dia rasa pada orang yang bersangkutan di fb, chat fb. Tapi orang yang bersangkutan  nggak ngerespon tau, nggak bales satu huruf pun padahal chat nya udah dibaca. Nah hari ini tuh, tepat satu tahun dia nggak dibales chattingannya” ceritanya berpanjang lebar.

                Aku pun membeku mendengar cerita temanku, seketika ku buang jauh-jauh keinginanku terkait ungkap mengungkap itu. Aku membayangkan bagaimana jadinya kalau aku yang ada di posisi temanku yang tak dibalas chat nya. Mau ditaruh mana Maluku? Ya di ambon lah (hahaha). Aku menjadi kembali introvert seperti dahulu kala, tak ada lagi keinginan ungkap mengungkap itu. Aku putuskan akan berada di sisi tak ungkap karena ku tahu aku tak akan sanggup dan sepertinya prinsipku yang dahulu lebih menarik, bermain-main dengan ekspektasi sendiri akan jauh lebih menyenangkan daripada kenyataan yang menyakitkan, ya iyalah. Lagi pula prinsip ini jauh lebih tepat karena aku perempuan walaupun katanya menyatakan duluan itu jauh lebih besar pahalanya bagi seorang perempuan (ga tau ini dalilnya apaan). Pilih ungkap atau tak ungkap? Aku sih tak ungkap, kalau kamu gimana? Kamu… kamu iya kamu.

Bukan Segalanya Kok

http://anisahanwar.weebly.com/uploads/1/4/5/4/14545560/4998934_orig.jpg?271“kamu harus juara kelas terus ya,” perkataan kakak perempuanku ini sungguh membekas di ingatan, susah banget buat ngapusnya, kayak kamu #eh.

“kamu harus juara kelas, aku aja nggak pernah peringkat 3, peringkatnya kalau nggak satu ya dua” tambahya lagi menguatkan pernyataannya yang sebelumnya. Aku sih angguk-angguk geleng-geleng aja kala itu. Saking seringnya nih kakakku mendoktrinku dengan kalimat semacam ini, dampaknya adalah aku menjadi anak yang super rajin dan fanatik banget sama yang namanya nilai. Aku hanya tak ingin kalah dari kakakku, kan generasi penerus harus lebih baik, iya to?

            Di tingkat sekolah dasar (SD) ku lewati dengan cukup mudah. Hanya saja sempat terjengkang ke peringkat empat ketika kelas 3SD dan sukses membuatku nangis-nangis Bombay. Setelah itu, jangan ditanya, bak seorang marketing yang dikejar target, belajarku menjadi berkali-kali lipat dari sebelumnya sehingga peringkat wahid kembali ku dapatkan tatkala naik di kelas 4SD. Masa kejayaan masih ku pertahankan hingga masa sekolah dasar berakhir.

            Memasuki masa SMP, masa dimana bersekolah menjadi hal yang sangat-sangat menyenangkan. Aku menjadi pribadi yang haus akan perhatian dan nilai. Sifatku menjadi sangat mengerikan. Mau tahu semengerikan apa? Kalian bisa baca di sini. Singkat cerita, masa SMP ku lalui dengan begitu mulus, masa keemasan masih dengan kuat ku genggam.

            Masa-masa SMA adalah masa-masa suram untuk nilai raportku. Susaaah banget buat dapet nilai sesempurna masa-masa sebelumnya. Temennya makin beragam, pengetahuannya beragam, latar belakangnya beragam, membuat aku benar-benar tak bisa berkutik. Ku pasrah pada kesempurnaan nilai. Akan tetapi pada masa-masa terpuruk inilah aku menadapatkan banyak sekali pencerahan dan pendewasaan tentang apa itu hakekat sebuah nilai. Memang benar nilai-nilai yang ku dapatkan tak sesempurna tempo doeloe tapi aku mearasa lebih mengerti, lebih paham, lebih menguasai apa-apa yang ku pelajari. Aku telah menjadi lebih bijak dan lebih dewasa dalam menuntut ilmu. Judulnya aja kan menuntut ilmu, bukan menuntut nilai. Jadi ilmulah yang harus diperoleh bukan nilai. Nilai hanyalah bonus semata. Bonus kan bisa didapet ya sering juga ga dapetnya. Jangan sampai bonuslah yang menjadi target utama kita tapi esensi dari ilmunya malah terbengkalai.

            Kuliahpun aku tak terlalu menghawatirkan masalah nilai, yang penting ngerti. Tapi yang nggak nyungsep-nyungsep amatlah nilainya, masih dalam taraf standar, seenggaknya mau daftar apa-apa (semisal beasiswa atau lanjut studi) masih masuk kriteria lah. Nah… masuklah ke inti dari tulisan ini, ternyata masalah nilai inilah yang sedikit membuatku sedih akhir-akhir ini, gimana enggak coba, gini nih ceritanya. Emang harus segitunya ya… eh ceritanya belum yak wkwkwkwk.

            Ceritanya nih aku lagi jadi tutor buat adek-adek SMA. Nah kebetulan hari itu tuh ada ujian. Ku bagikan kertas ujian sambil ku bisikkan bisikan gaib kata-kata bijak sedikit,

“dikerjain sendiri ya adek-adek, nilai yang kalian dapetin di sini nggak terlalu penting, yang penting adalah kelian paham atau nggak sama materinya. Nilai ini hanya sebagai parameter, sebenernya selama ini kalian paham atau nggak. Jangan nanya temen ya, kerjain sendiri, nanti yang nilainya paling tinggi dan ngerjain sendiri kakak kasih coklat” kataku berpanjang lebar sedikit diselingi reward dengan tujuan mereka akan termotivasi mengerjakan soal-soal yang diberikan.

“tapi kak, kakak ngerasa nggak sih kalau sekarang itu sudah tidak ada yang namanya kejujuran. Semuanya hanya berpatokan pada hasil. Saya aja misalkan udah ngerjain bener-bener sendiri tanpa nanya temen terus nilainya kecil, saya bakalan dimarahin sama orang tua saya. Jadi, jujur itu nggak penting, yang penting di zaman sekarang itu cuma hasil. Iya nggak sih kak?” papar seorang anak di kelas itu, paparannya sungguh polos. Berbekal dari pengalaman pribadi sebagai premis tapi sayangnya kesimpulan yang didapatkan sungguh tidak tepat. Tapi jujur, aku sempat tercekat dan bingung harus menjawab apa. Belum sempat menjawab tiba-tiba anak yang lain menjawab,

“iya kak, orang tua saya juga begitu” jawabnya polos

            PLAK!!! Tamparan keras nih bagi para orang tua yang senantiasa menuntut nilai bagus tanpa menanamkan bagaimana seharusnya cara yang dilakukan untuk mendapatkan nilai tersebut. Jangan melulu menuntut nilai bagus, nilai bagus itu bukan segalanya kok. Kalau kalian jadi aku, mau jawab apa ke anak itu?

Menjadi Ansosmed

Dampak-Sosial-MediaCoba aku mau tanya ya, ada berapa media sosial (medsos) yang kalian punya? Tiga, empat, lima, atau bahkan lebih. Aku pernah punya instagram, facebook, path, twitter, dan line. Di antara kelimanya, yang serin aku buka adalah instagram dan facebook. Blog tak aku masukkan ke dalam kategori medsos karena menurut sepemahamanku, media sosial adalah media online yang digunakan untuk mencari tahu lebih jauh tentang seseorang (kepo) atau berhubungan lebih intens dengan orang lain, selalu mengambil jatah waktu terbanyak ketika menggunakannya, dan meninggalkan rasa sesal ketika selesai mengotak-atiknya karena seringkali informasi yang didapatkan sebenarnya nggak penting-penting amat untuk menginvestasikan waktu sebanyak itu. Nah berhubung ngeblog itu bukan sarana kepo, nggak intens berhubungan dengan orang yang spesifik, nggak terlalu makan waktu, dan banyak manfaat yang didapat, jadilah wordpress bagiku bukanlah medsos.

            Aktif di sebuah medsos telah ku alami dalam beberapa tahapan. Ketika di awal-awal kuliah, aku sangat aktif di facebook. Ketika masa peralihan itu, baru ku sadari kalau facebookku selama SMA banyak diisi dengan status yang sangat-sangat alay, huruf besar kecil, memakai kombinasi huruf dan angka, serta update status yang sama sekali tak penting. Aktif facebook kembali tatkala kuliah bukan tanpa alasan. Kala itu, orang yang aku ‘menaruh perhatian lebih padanya’ cukup aktif di facebook. Jadinya mau tak mau diriku harus aktif di facebook untuk sekedar mengetahui kalau dirinya juga sedang online. Memasang status yang nyeleneh dengan harapan di komentari atau paling tidak di like, bahkan besar harapan dalam diri agar dia memulai chatting duluan. Kenapa nggak chatting duluan aja? hellow… sesuka-sukanya aku sama orang, aku nggak mau dan nggak akan pernah mulai chat duluan, itu prinsip hahaha. Kalau sudah dikomen, amboy… bukan kepalang senangnya. Sumpah itu masa paling nggak banget. Masa iya bela-belain mantengin facebook cuma buat mantengin orang lain online apa nggak.

            Beranjak ke tingkat akhir, alokasi buat facebook mulai berkurang, perhatianku beralih ke twitter. Beralihnya diriku pada twitter bukan tanpa alasan. Lantas alasannya? Ya karena ikut-ikutan temen aja soalnya kesannya kalau facebook kayak terlalu privasi dan ribet, kalau twitter kan bebas mau update apa aja dan dalam waktu singkat tweet-an kita bakalan tenggelam sama tweet-an yang lain. Alasan besar lainnya adalah karena orang yang ku kagumi ketika SMA dan lanjut hingga kuliah juga aktif di twitter hahaha. Berhubung aku sukanya dalam diam, jadinya ya gini deh ngikutin media sosial apa yang sedang dia tekuni. Tapi nggak segitunya juga ya aku sukanya, aku emang pada dasarnya suka twitter karena simple dan informasi yang disampaikan cepet. Aku sih pas awal-awal sering banget nge-tweet, sampe nih ya, aku dijulukin detik.com soalnya aku katanya tweet-annya sering banget, nyama-nyamain detik.com. Pernah beberapa kali aku pengen banget kamu… iya kamu… balesin tweet-anku tapi ya berkali kali pula harapan itu tak terkabul. Karena yang terjadi adalah, ketika aku tak mengharapkan balasanmu, tiba-tiba kamu tuh ngebales tweet-an ku dan itu bikin hari itu jadi indah hahaha, luebbbay. Tapi pernah suatu malam, aku udah jenuh banget nungguin tanggapanmu atas tweet-anku yang tak pernah me-mention namamu tapi aku sadar itu tweet-an untukmu. Eh… tanpa diduga kau membalasnya, senengnya banget banget pake banget hahaha. Sesederhana itu sih menyukai bagiku, tak harus kamu tahu, cukup aku saja yang tahu. Karena aku tak mau menodaimu dan aku tak mau merusak diriku, menyukaimu seperti ini saja juga cukup bagiku. Walaupun nanti toh kamu dengan yang lain ya tak masalah, toh kamu juga tak pernah tau perasaanku. Aduuuuh… ini ngomongin apaan sih, maap yak lagi baper.

            Masa twitter pun berakhir, beranjak ke masa instagram (IG). Ketika kuliah aku benar-benar tak mau membuat akun instagram walaupun teman-temanku menyarankan untuk membuatnya. Katanya sih menyenangkan gitu, bagi-bagi foto aktifitas sehari-hari kita, makanan yang kita makan, pemandangan, dan apapun itu yang bisa difoto. Aku bukannya tak tertarik tapi HP ku yang jadul tak mengizinkanku menginstallnya. Aku telah mengazzamkan diri untuk menginstall instagram ketika aku telah punya HP baru dan Alhamdulillah aku udah ganti HP. Langsung lah ku install instagram, path, dan line. Instagram menjadi sangat menarik dan dalam waktu singkat aku menjadi sangat aktif di IG. Bukan aktif posting-in foto tapi aktif kepoin orang-orang yang menarik untuk dikepoin. Apakah kepoin orang yang ku suka? Sekarang nggak lagi, kepoin orang-orang lucu, aneh, dan kocak menjadi lebih menarik perhatian toh kamu… iya kamu… tak terlalu aktif di IG. Selebgram yang sering bikin video dubsmash atau parodi yang mengocok perut menjadi incaranku tiap harinya. Akibat jarang liburan kali ya, jadi hiburannya video-video singkat di IG. Tiap waktu selalu mantengin IG, duduk berjam-jam pun menjadi tak terasa, benar-benar menguras waktu. Padahal waktu yang ku gunakan untuk membuka IG bisa aku gunakan untuk hal lain yang lebih positif.

            Kemana-mana menjadi tak tahan untuk tak melihat HP. Aku benar-benar merasa terganggu. Aku tak mau menjadi sosok nomofobia (No mobile phone fobia) dan kalau terus dibiarkan sepertinya aku akan menuju ke syndrome itu. Kenapa kekhawatiran itu ada? Karena aku tipe orang yang totalitas ketika ingin mengetahui sesuatu. Misalnya nih, aku lagi pengen tau si A. Jadilah aku akan kepoin semua medsos yang dia punya hingga aku merasa puas akan ke-kepo-anku. Misalnya saja, aku sempat terjerat sama pesonanya actor jepang Takeru Sato, jadilah selama beberapa minggu ku habiskan untuk mencari tahu secara detail siapa si Takeru ini. Makin banyak aku tahu, makin besarlah rasa sukaku dan makin banyak pula waktu yang aku alokasikan untuk berkutat dengan media sosial yang berkaitan sama si Takeru Sato.

            Beberapa hari yang lalu aku menyadari kesalahan perilakuku. Akhirnya ku putuskan untuk menantang diri sendiri, sejauh mana diri ini bisa bertahan ketika ku putuskan untuk menjadi seorang ansosmed (anti sosial media). Dua hari yang lalu ku uninstall semua media sosial yang ada di HP ku (fb, IG, path, twitter, line) hanya ku sisakan whatsapp (telah menjadi kebutuhan hidup dan kerjaan) dan BBM (ini sarana untuk berhubungan dengan anggota keluarga). Hari ini adalah hari kedua dan apa yang aku rasakan? Hidupku benar-benar tenang dan damai. Banyak sekali waktu produktif yang bisa aku alokasikan untuk mengejar impianku yang sempat ditutupi oleh bayang-bayang media sosial. Aku tak mau melalaikan keinginanku untuk mengejar impian hanya gara-gara meladeni media sosial itu, yang ada malah aku hanya bisa jadi penonton kesuksesan orang lain dan lalai untuk meraih kesuksesan diri sendiri. Emang aku agak lebay sih nanggepin medsos, ya atuh gimana kalau emang dampaknya segitu jauhnya buatku. Sebelum benar-benar terlihat dampak buruknya, akhirnya ku putuskan untuk mengambil langkah berani, langkah yang benar-benar ku syukuri karena ternyata menjadi ansosmed sangat sangatlah menyenangkan. Bisa bertahan berapa lama ya kira-kira menjadi ansosmed? Nanti aku ceritain deh kalau nanti medsos itu sudah kembali aku install. Aku berani menantang diri sendiri untuk menjadi ansosmed, kalau kamu gimana? Kamu… iya kamu.