Menghidupkanmu Lagi

cara-menghidupkan-komputerBerasa luamaaa banget nggak nulis blog. Bukan karena males ato gimana ya (ada malesnya juga sih dikit) tapi penyebab utamanya adalah karena laptopku nggak bisa diidupin. Kenapa nggak idup? Ya karena nggak ada baterainya, ya elah tinggal dicas lah, ya memang segampang itu solusinya tapi atuh gimana kalau chargernya lagi rusak. Benerin atau paling praktisnya beli charger yang baru. Iya sih, tapi berhubung aku belum begitu familiar dengan daerah sini jadi ku putuskan saja untuk memati surikan laptopku untuk beberapa hari. Laptop mati suri imbasnya juga mati surilah aktivitas tulis menulis di blog. Paling banter cuma sebatas blog walking lewat HP, kalau nulis lewat HP kayaknya nggak deh, bisa keriting nih jari dan pastinya bakalan nggak konsen banget karena keganggu sama notifikasi medsos. Aku tuh paling nggak tahan kalau nggak buka laptop, jadinya dengan niat yang sudah ku bulatkan, ku putuskan untuk membeli charger baru di sebuah mall di bekasi yang katanya pusat barang-barang elektronik gitu, namanya Bekasi Cyber Park (dibacanya BCP). Lumayan deket sih nih mall dari tempatku soalnya kalau nggak salah liat aku pernah lewatin nih mall. Jadinya sore-sore langsung cus deh ke tempat itu.

            Awalnya sih kepengen naik gojeg tapi berhubung jaraknya deket jadi ku putuskan untuk naik angkot saja, lebih murah juga, paling ya macet-macet dikit. Naiklah aku angkot pertama, ke tempat tujuan dua kali angkot kalau nggak salah, dan beneran dong muacet, karena nggak tahan jadinya aku turun aja. Jalan kaki sekitar 100 meteran buat ngecegat angkot yang kedua. Di tempatku berdiri itu adalah pangkalan angkot dan angkotnya lagi kosong melompong jadinya ku putuskan untuk berdiri di luar saja siapa tau ada angkot dari belakang yang langsung berangkat tanpa ngetem. Ada kali ya sekitar 15 menitan berdiri di pinggir jalan raya yang ruame banget dengan polusi kendaraan yang luar biasa bikin badmood dan angkotnya nggak dateng-dateng. Kemudian datanglah dua orang dari belakang yang kepengen juga naik angkot yang searah sama aku, nah barulah si abang-abang yang tadinya main kartu di pangkalan tanpa menghiraukan kehadiranku beranjak dari duduknya untuk menjalankan angkotnya. ‘Oh… jadi gitu, pilih kasih’ pikirku kala itu, sedikit baper hahaha. aku pun bergegas naik ke dalam angkot tapi tau nggak pas naik ternyata ada angkot dari belakang yang langsung berangkat dong. Tau gitu kan nggak buru-buru naik angkot yang ini tadi biar si abangnya tau rasa udah nyuekin aku (hahaha apa coba).

            Nyampe di perempatan menuju tuh mall, turunlah aku dari angkot dan kembali jalan kaki sekitar 200-300 meteran, luamayan menguras tenaga dan tau nggak apa yang terjadi? Sekitar 10 meteran pas mau nyampe mall nya, ternyata mall nya bukan BCP dong tapi BTC. Aduuuh, kebayang nggak gimana keselnya, aku memang pengingat yang buruk soalnya huruf awalnya sama-sama B, tapi pengingat yang sangat baik jika itu berkaitan denganmu, kamu… iya kamu… hahaha. Aku kecewa dong, tapi coba aja masuk siapa tau ada yang jualan charger laptop. Tapi pas liat sekiling, ternyata tak ada satu stand pun yang kaitannya sama laptop semuanya jualan HP dan yang kaitannya sama HP. Berhubung udah kepalang basah jadinya ku putuskan untuk tetap melanjutkan perjalanan dan alat transportasi yang paling ajib di kondisi kayak gini nih, apalagi kalau bukan bang gojeg. Tak butuh lama menunggu, datanglah abang gojeg dan langsunglah kita meluncur ke BCP.

            Sesampainya di BCP, ku mulailah mengedarkan pandangan, stand yang manakah yang sekiranya harus ku singgahi. Setelah sedikit mengamati, berhentilah aku di sebuah stand khusus yang tulisannya menerima service laptop. Ku tanyakan, bisakah kiranya mereka menyervice chargerku yang bermasalah, si mas masnya bilang kalau charger sebaiknya beli yang baru saja. Ku iyakan saja, bersamaan dengan itu ku keluarkan charger laptopku agar mereka tau spesifikasi charger yang ku inginkan. Salah satu dari mas mas penjaga stand meminta izin untuk membawa chargerku karena ingin mengambil tipe charger yang sama. Tak lama berselang datanglah si abang-abang dengan charger yang 99% sama. Aku pun tertarik dan ku tanyakan harganya,

“kalau kayak gini berapa mas?”

“kalau yang kayak gini (square) ori semua jadi harganya agak tinggi, 280 ribu” katanya

“pas nya berapa mas?” tanyaku mencoba menawar

“270 ribu” jawabnya

Ya elah minim banget motongnya, kataku dalam hati. Kemudian ku lanjutkan lagi

“ga bisa kurang lagi mas? Pas nya berapa” kataku menambahkan

“paling nih pas nya 250 ribu mbak, udah nggak bisa kurang lagi nih, udah mepet banget, soalnya yang kayak gini original”

“yah… nggak bisa 200 ribu ya mas” tanyaku sedikit maksa

“nggak bisa mbak”

“oh… ya udah kalau gitu” aku pun bergegas dari tempat itu dengan harapan si abang-abangnya manggilin lagi, hahaha (ini sih taktik kalau belanja baju di pasar) dan abangnya nggak manggil dong. Jadilah aku ke stand yang lain, nanyain harga dan hampir semua ngasih harga tak kurang dari 250 ribu, paling rendah 250 ribu. Aku bertekad buat nyari harga 200 ribu soalnya aku liat di toko online sepeti di lazada, tokopedia, ada kok yang harganya 200 ribu. Tapi masih agak was was kalau beli online takut ga masuk pas lagi dicas jadi mending beli langsung ke tempatnya. Aku mulai agak luluh untuk tak mempertahankan perbedaan harga 50.000 itu soalnya aku tahu, kalau tempat jual elektronik di mall itu sebenernya punya satu orang alias satu stand sama stand yang lain harganya beti (beda tipis) soalnya mereka semacam sekongkol harga gitu lah. Tapi setelah berkunjung ke stand yang terakhir ini membuat aku membulatkan tekad untuk mencari harga yang lebih murah, masak si abangnya bilang gini,

Continue reading

Aku dan Pemikiranku

introspeksi diri“Aku pengen segera kuliah ah…” kata salah seorang temanku ketika aku masih SMA dulu. Aku pun mengernyitkn dahi, kenapa buru-buru, bukannya kala itu kita baru saja kelas 10 dan itu artinya kita baru saja masuk menjadi seorang siswa SMA. Aku telah sepenuhnya lupa apa alasan yang temanku ungkapkan kala itu ketika ku tanyakan kenapa dia begitu buru-buru. Ah… sudahlah, diingat juga pecuma, buat apa juga, sekarang masa itu juga telah berlalu. Sering ku perhatikan sekitar, melihat orang lain kuliah, seminar, sidang, kemudian wisuda. Mereka terlihat begitu bahagia melalui semua proses itu. Aku pun juga begitu, bahagia melihat kebahagiaan mereka. Tapi aku juga bertanya-tanya pada diri sendiri, apakah aku akan bisa berekspresi sebahagia mereka ketika aku melewati proses itu? Karena aku bukanlah orang yang pandai mengungkapkan rasa lewat ekspresi. Dan benar saja, ku lewati semua proses itu, dan bagiku rasanya biasa-biasa saja, seperti tak ada yang begitu sangat spesial sehingga aku harus tertawa begitu girang untuk mengungkapkannya. Lagi-lagi aku pikir ini semua hanyalah proses, aku juga nanti akan mengalaminya.

            Proses selanjutnya adalah memasuki dunia kerja, menikah, berkeluarga, mempunyai anak, dan akhirnya meninggal. Memasuki dunia kerja sedang ku hadapi sekarang dan rasanya, ya biasa-biasa saja, tapi aku sangat bersyukur dengan lingkungan kerja yang sangat kondusif bahkan seakan meningkatkan pengetahuanku terkait ilmu agama. Aku sangat bersyukur akan hal ini. Lantas proses selanjutnya adalah menikah dan berkeluarga. Inilah puncak kebahagiaan yang tiada tara bagi orang yang dimabuk cinta, ketika semua yang dulunya haram dan berbau neraka menjadi halal dan berbau surga. Apakah aku akan melewati proses ini? Mungkin iya atau mungkin saja tidak. Aku tidak tau karena hingga saat ini aku tak tau bagaimana atau seperti apa pastinya rasa jatuh cinta itu. Kata teman-temanku rasanya campur-campur. Aku iyakan saja karena merekalah yang merasakannya, ekspresi apakah yang akan aku keluarkan ketika proses itu datang? Apakah hanya akan berakhir dengan pernyataan biasa-biasa saja? Aku tak tahu. Aku sering dibuat bingung oleh beberapa temanku yang menunjukkan berbagai ekspresi ketika mengalami rasa yang satu ini. Kadang senang, senyum-senyum sendiri, tapi kadang sedih lantas nangis-nangis sendiri. Untuk urusan ini aku banyak dibantu oleh drama-drama yang aku tonton, tapi lagi-lagi ketika melihat diri sendiri, apa iya aku bakalan melakukan hal yang menurutku sedikit di luar akal sehat ini? tak taulah.

            Suatu malam aku mendapatkan ucapan maaf dari seorang teman yang sebelumnya kita tak pernah berkomunikasi secara intens. Dia mengucapkan maaf dan aku bertanya kenapa tiba-tiba minta maaf, dia pun manjawab karena ingin minta maaf saja. Beberapa hari dari malam itu aku baru tau ternyata temanku ini baru saja melahirkan seorang putra pertamanya. Aku baru mengerti untuk apa sebenarnya kata maaf itu, ya sepenuhnya untuk menghadapi peperangan dari proses melahirkan seorang anak. Apakah aku akan melawati proses yang satu ini? Mungkin iya mungkin saja tidak. Banyak yang bilang rasanya sakit sekali, tak bisa digambarkan. Aku mengiyakan saja, karena aku memang belum mengalaminya.

            Kemudian proses yang terakhir adalah mati, kematian. Apakah aku akan mengalaminya? PASTI. Seperti apa rasanya, tak ada satu pun orang yang mengalaminya memberikan kesaksian, kalau ada pasti kita bakalan lari tunggang langgang. Mengapa begitu? Iyalah, itu kan artinya kita diberi kesaksian oleh orang yang sudag meninggal. Tetapi, informasi dari beberapa ustadz yang aku tau, katanya rasanya sangatlah sakit, rasa sakit yang paling sakit yang tidak pernah kita rasakah selama kita hidup. Membayangkannya saja aku sudah tak sanggup. Kadang aku menutup mulut dan hidungku, menahan nafas sejenak, ku ingin sedikit merasakan bagaimana rasanya tanpa nafas untuk beberapa saat. Efeknya sukses membuatku sesak nafas dan tak ingin lagi mengulanginya, aku tak ingin mati konyol karena keisenganku.

            Berarti hidup di dunia ini singkat sekali sebenarnya ya, melewati beberapa proses yang telah umum dilalui oleh sebagian besar orang lantas setelah itu kita mati. Pertanyaannya, kalau memang begitu sederhananya kita hidup, mengapa Allah menciptakan manusia begitu banyak, kenapa tidak beberapa saja kalau hanya untuk menjalani proses yang begitu sederhana itu. Jawabannya adalah karena ada maksud, ada alasan kenapa kita diciptakan. Pemikiranku begini, setiap orang yang hidup itu punya misi yang telah diamanahkan kepadanya, lantas ketika misi itu telah selesai maka saat itu pulalah kita harus kembali. Lalu bagaimana dengan orang yang terlahir tanpa punya kesempatan untuk hidup seperti bayi-bayi yang diaborsi atau yang dilahirkan lantas dibuang itu? Ya mungkin misinya hanya sebatas itu, dilahirkan untuk memberikan tambahan kisah bagi ibu yang melahirkan mereka. Aku tak mau berpanjang lebar dengan pemikiranku karena sepertinya jika diteruskan akan keluar jalur. Intinya hidup di dunia ini hanya sementara, jalani prosesnya dengan sebaik-baiknya, jangan terburu-buru untuk melangkah ke proses selanjutnya karena cepat atau lambat kita akan melewatinya, nikmati saja proses yang sedang kamu jalani sekarang. Tak usahlah ingin segera beranjak ke proses selanjutnya hanya kerena orang lain telah mejalani proses itu dan kelihatan bahagia karenanya. Setiap kita punya masa untuk melewatinya. Karena proses yang pasti dijalani adalah kematian, siapkan diri dan bekal untuk menghadapi proses itu. Ini sepenuhnya pengingat untuk diri sendiri, syukur-syukur ada yang ikutan ingat, sehingga bisa jadi amal jariyah di akhirat kelak, aaamiiin.

Jadikan Rutinitas

Kebugaran-Jasmani-319x277Happy long weekend for Indonesian people. Sesuatu banget ya 17 Agustus tahun ini jatuh pada hari Senin. Itu artinya akan ada 3 hari long long weekend dan tiga hari pula jalan menuju puncak di Bogor bakalan nerapin sistem buka tutup gegara banyak yang liburan ke sono. How about me? Liburan ke Bogor juga kah? Biasanya kan sabtu minggu rutin tuh ke Bogor. Sayangnya di liburan kali ini nggak saudara-saudara. Diriku hanya menyendiri sendiri di kosan. penyebabnya adalah karena mbak Dila yang harus ke luar kota untuk urusan kerjaannya. Kan nggak seru tuh ke Bogor tapi nggak jelas mau ke siapa. Sebenernya masih ada kamu sih, kamu iya kamu tapi masak iya harus aku yang nyamperin kamu duluan hahaha. Back to the real topic, intinya di postingan kali ini aku bakalan cerita tentang rutinitas liburanku yang tak jauh dair kegiatan, tidur, makan, tidur lagi. Nggak ada yang menarik sih, tapi gimana dong, orang aku pengen curhat aja masak nggak boleh? Hehe.

            Menikmati very long weekend kali ini, aku laksana burung di sangkar emas alias nggak keluar kosan barang sekali. Keluar sih, cuma buat beli makan, udah itu nyangkar lagi deh. Widih… betah amat di sangkar emas? Ya willy nilly, nggak ada pilihan lain. Mau keluar nggak ada temen, mau keluar panasnya nggak ketulungan, mau keluar uang lagi sekarat, mau keluar nggak ada tempat buat dikunjungin, mau keluar nggak ada kendaraan. Intinya mah, males keluar ya karena alasan-alasan itu. Untuk mengisi kekosongan kegiatan, ku coba buka HP, tapi pas buka ternyata paketnya abis. Lengkap sudah, ini bakalan jadi long weekend paling boring. Berhubung udah nggak tahan nih, walaupun uang udah tipis banget, aku bela-belain beli pulsa paket. Setelah paketnya terisi, browsing anything, buka-buka social media, liat-liat yang menarik, lama kelamaan bosen juga. Setelah itu buka-buka contact di HP, nelponin orang rumah, curhat, ngobrol ngalur ngidul bareng sepupu, setelah itu percakapan pun juga harus diakhiri. Karena merasa terlalu banyak wasting time akhirnya ku putuskan untuk beres-beres kosan. Set set set, kosan pun bersih, setelah itu duduk sebentar sambil mikir sebaiknya ngapain lagi nih.

            Entah ilham darimana tiba-tiba aku kepikiran sama video senam yang aku download kemarin dan fix aku telah menemukan kegiatan selanjutnya yang bakalan aku lakuin. Ku lihat jam udah nunjukin jam 21.30 tapi entah kenapa semangat buat lakuin senam membuncah tak terbendung. Mulailah ku putar video itu dan ngikutin setiap gerakannya. Benar-benar menyenangkan dan bikin seger. Lumayan banyak keringat yang keluar. Padahal senamnya cuma 30 menit tapi udah sukses bikin ngos-ngosan dan anehnya bikin happy. Nah dari pengalaman senam aerobic malem-malem itulah aku telah berazzam bahwa aku bakalan jadiin nih senam aerobic rutinitas sehari-hari, ya jadikan ini rutinitas. Aku akan lihat dampaknya 30 hari ke depan dan akan kembali ku tulis di blog ini, moga aja bisa istiqomah ya, aaamiiin. See you guys on 30 days later. Semoga hasilnya sesuai yang diharapkan ya, berat badan jadi turun, badan jadi sehat, dan ketemu jodoh #eh. Aaamiiin.

Ku Harus Bisa

danbo_heaven_by_bry5-d391z1o“Kau harus bisa… bisa berlapang dada

Kau harus bisa… bisa ambil hikmahnya”

            Kenal sama lagu itu nggak? Lagu terbarunya Sheila On7. Aku bukan Sheila Gang sih dan bukan juga dalam kategori orang yang suka musik, liat aja play list di HPku, kosong melompong tanpa satu lagu pun tersimpan. Hanya saja, sepertinya bait lagu itu seakan-akan ngasih nasehat buat aku yang sekarang sedang ‘sedikit’ dilanda kesedihan, bahasa kerennya sih down. Bukan down syndrome ya. Emang sih up and down dalam kehidupan itu biasa. Kadang kitanya aja yang seringkali banyak keluhan, jumawa ketika di atas dan merasa terhina ketika di bawah. Padahal kan sama kayak bait lagu di atas tuh, kita selayaknya harus selalu bisa mengambil hikmah dalam setiap peristiwa yang terjadi di hidup kita, baik up maupun down.

            Nah, kemarin tuh pagi-pagi dikagetkan karena sebuah kabar dari seorang teman yang dengan kabar itu pula aku down. Kenapa? Karena kabar itu telah sukses merubah seluruh rencana hidup aku yang telah ku susun hingga tahun depan, semuanya hancur berantakan karena kabar itu. Salahku juga sih, tak pernah menyiapkan rencana cadangan jikalau kemungkinan buruk ini akan terjadi. Ya begitulah aku, terlalu berpositif thinking yang kadang kelewat batas, bahasa kasarnya sih keGRan. Kabar apaan sih sampe segitunya? Iya…. Aku dapet kabar kalau kamu udah sama yang lain dan bentar lagi mau nikah. Aku kan nggak siap dan nggak akan pernah menyiapkan diri untuk kemungkinan terburuk ini. Mana mungkin aku siap dan menyiapkan diri untuk melihatmu dengan orang lain. Sedangkan di lain sisi aku telah siap dan menyiapkan diri untuk bersanding denganmu. Tapi… semua yang ku ceritakan tadi boong hahaha. Intinya aku lagi sedih gitu ya karena sesuatu hal yang tak bisa aku ceritakan di sini.

Continue reading

Stasiun Pasar Senen

CIMG2311Ceritanya lagi pengen nulis banget, tapi lagi nggak galau. Emang orang nulis harus galau dulu? Kebanyakan tulisanku sih gitu. Dimulai dengan kegalauan yang entah darimana datangnya dan jreng jreng… tiba-tiba udah selesai aja tulisan yang siap diposting. Tapi aku nggak mau terus-terusan kayak gitu, masak harus nungguin galau dulu. Berarti banyaknya tulisan di blog ini harus sebanding dengan kegalauan yang aku rasakan? No no no, aku nggak mau. Galau di sini bukan melulu masalah hati ya, bisa juga galau masa depan yang entah dengan apa aku ke sana dan entah bersama siapa, hahaha. Tuh kan ujung-ujungnya emang bakalan ke situ juga, ya ke kamu juga, kamu… iya kamu (entah siapa kamu ini wkwkwk). Tetep sih mikirin kamu tapi nggak sekuat malam-malam sebelumnya hahaha #NgomongApaSih.

            Di bulan yang penuh berkah ini, di pagi yang sangat dini ini (aku liat jam sih udah jam 00.58), setelah nulis rencana studi buat studi pasca ku dan aku berharap rencana itu diridhai Allah sehingga tahun depan aku bisa benar-benar melanjutkan studiku aaamiiin, aku nggak bisa memejamkan mata entah karena apa. Malam-malam sebelumnya juga sampe selarut ini sih, tapi bedanya karena nonton film (lebih tepatnya dorama jepang yang entah darimana virusnya benar-benar menginfeksiku dengan sempurna). Tapi malam ini terasa lebih produktif karena aku telah berhasil menyelesaikan sebuah studi plan yang entah sejak kapan ku rencanakan untuk ku selesaikan. Produktifnya malam ini ku akui karena kultum yang ustadz tadi sampaikan, kurang lebih begini isinya ‘jangan pernah lengah dengan waktu luang, karena waktu luang itu penting dan genting’ dan –deg- itu bener-bener ngena ke aku karena aku sadar sudah berapa banyak waktu luang yang ku habiskan hanya untuk hal-hal yang memang ku tahu tak penting dan tak mendesak.

            Karena alasan itulah aku ingin menuliskan sebuah pengalaman yang menurutku unforgettable dan unbelievable. Perjuangan seorang freshgraduate yang sedang dalam transisi untuk mengganti status dari pengangguran menjadi berpenghasilan hahaha. Awalnya aku benar-benar tak tertarik untuk mengikuti seleksi untuk lowongan pekerjaan ini karena beberapa pertimbangan, pertama seleksinya di jogja (ongkosnya dong), kedua aku khawatir aku bakalan gagal (malu), ketiga sendirian (jomblo ya wkwkw). Tapi karena sifat plin planku yang sudah akut ini, akhirnya ku putuskan untuk ikut karena teman sepermainan bulu tangkisku menyanggupi untuk ikut bersamaku. Udah tuh beli tiket pulang pergi yang lumayan menguras isi dompet seorang pengangguran sepertiku kala itu. Tapi di luar dugaan, ternyata teman sepermainan yang tadi ku sebutkan memutuskan untuk tak jadi ikut karena dia ada panggilan untuk interview di Jakarta. Kesel sebel sih iya, tapi mau gimana lagi. Sebagai gantinya, dia mengutus teman sepermainannya untuk menemaniku karena ternyata dia juga tertarik pada lowongan pekerjaan yang ditawarkan.

Continue reading

Ketika Trial Bertemu Error

trial_and_errorSalah satu alat transportasi yang akhir-akhir ini akrab dengan keseharianku adalah angkot. Jika menelisik lebih jauh, ternyata alat transportasi ini telah lama akrab denganku. Bagaimana tidak, tetanggaku yang telah ku anggap seperti pamanku sendiri adalah seorang supir angkot. Ketika masih kecil, aku sering sekali diajak jalan-jalan menggunakan mobilnya yang sering sekali berganti-ganti. Karena memang selain menjadi supir angkot, beliau juga berprofesi sebagai pedagang mobil, gampangnya makelar mobil. Aku akan senang bukan kepalang ketika diajak untuk jalan-jalan ke kota karena memang rumahku di desa. Hal yang paling ku senangi ketika ke kota, karena ketika melewati persawahan luas di desaku, aku akan bisa melihat banyak sekali bintang yang bersinar terang di perbukitan nan jauh di sana. Bintang di perbukitan? Iya, tak lama setelah itu aku tahu, ternyata mereka bukan bintang melainkan cahaya lampu rumah penduduk yang bersinar layaknya bintang di langit. Tak hanya di ajak jalan-jalan, seringkali aku juga dibelikan makanan di kota. Ada sebuah warung bakso yang begitu terkenal di seantero desaku, namanya bakso goyang lidah. Saking tenarnya, kalau kamu ke kota tapi belum beli bakso goyang lidah, itu sama halnya kamu belum ke kota. Begitu katanya. Sekarang, bakso goyang lidah sudah tak setenar dulu, sudah banyak sekali pesaing-pesaing baru yang menawarkan bakso dengan citarasa berbeda. Begitulah hidup, semua ada masanya.

Continue reading

Maret, Udah Tanggal 20 Aja

241857_697122f4-55dc-11e4-b982-55d84908a8c2Enggak kerasa, eh kerasa sih, tiba-tiba udah tanggal 20 aja. Ngeh sih kalo udah tanggal 20, tapi belum sepenuhnya sadar kalau tanggal 20 itu artinya udah lewat setengah bulan di bulan ini. Nah, pertanyaan besarnya, pencapaian apakah yang teah dicapai di bulan ini? Sebelas hari lagi udah mau ganti bulan lo. Apakah masih sama seperti bulan kemarin? Merugi dong. Atau mungkin lebih buruk? Naudzubillah, harapannya sih lebih baik. Kalau dari segi mobilitas sih sepertinya bulan ini lebih baik. Seenggaknya di bulan Maret ini aku udah main ke Jogja demi sebuah masa depan #tsah. Akan aku ceritakan secara lebih detail di tulisan tersendiri untuk cerita petualanganku ke Jogja kemarin. Banyak ‘first time experience’ yang ku alami kemarin, seru kalo diinget-inget lagi sekarang, pas ngalamin? Seru juga sih tapi agak deg degan juga. Nah, dari segi aktivitas fisik juga di bulan Maret ini jauh lebih baik dari bulan kemaren bahkan bulan-bulan kemarennya juga. Aku sekarang jadi suka sekali olahraga, lebih tepatnya main bulutangkis. Awalnya sih main di halaman kosan, sempit sih tapi lumayan lah masih bisa keringetan juga. Saking sempitnya sampe-sampe kalau main tuh raket sering banget ngejangkau atap, jadi harus bisa ngira-ngira. Bukan apa-apa, raketnya bisa patah, kan sayang. Murah sih raketnya, tapi kan murah juga dibeli pake uang. Lantas setelah beberapa hari mahir main di halaman kosan, aku pun beranjak ke lapangan bulutangkis yang sebenarnya atas info dari seorang teman yang katanya di deket kosannya ada sebuah lapangan bulutangkis baru. Wah… bener-bener ladang amal deh bagi yang buat tuh lapangan. Kan bikin orang jadi sehat juga dapet pahala. Posisinya deket masjid lagi (yang ini ga ada hubungannya sih sama pahala, hahaha).

Continue reading