Tumpuk Menumpuk

ZenRocksEntah sudah berapa kali ku buka laptop dan kembali menutupnya karena entah kenapa pikiranku sedang benar-benar kosong ide, kosong cerita, kosong inspirasi, padahal ya hidupku masih terus berjalan tapi seakan-akan tak ada cerita menarik yang layak ku ceritakan. Sekarang kembali buka laptop sembari ku ingat-ingat kira-kira cerita apa yang kali ini ingin ku angkat. Aku sebenarnya punya cerita yang ingin sekali ku ceritakan, tapi nanti saja setelah ‘cerita’ itu sudah berada pada tahap layak ku ceritakan. Kalau sekarang sepertinya belum cukup layak, aku perlu menunggu satu tahapan lagi, semoga happy ending, amin.

            Lalu mau cerita apa kali ini? Hm… apa ya? Itu tuh judul tulisannya, tumpuk menumpuk. Baiklah kita mulai. Begini ceritanya, setelah ku perhatikan ternyata segala sesuatu itu akan terasa berat ketika ditumpuk, ya tumpuk menumpuk. Sejak jaman kuliah dulu, ketika satu tahun tinggal di asrama aku memutuskan untuk mencuci baju sendiri dan aku adalah orang yang paling malas mencuci baju. Jadwalku nyuci baju adalah satu kali seminggu yaitu pada hari minggu karena hari yang lain rasanya padet banget. Tapi nggak juga sih, orang temenku yang lain aja suka nyuci tiap hari, berarti masalah sepenuhnya terletak padaku yang tak bisa mengatur waktu. Dampaknya adalah baju kotorku menjadi sangat menumpuk dan aku harus menjemur cucianku ke lantai 6 sedangkan kamarku di lantai 3. Benar-benar melelahkan tapi aku terus bertahan dengan kelelahan-kelelahan itu. Kejadian itu mengajarkanku bahwa menumpuk cucian itu benar-benar memberatkan, melelahkan, dan membebani pikiran. Beneran. Setiap minggunya bukan malah merasa senang karena hari libur tapi malah merasa terbebani karena harus mencuci.

            Kejadian tumpuk menumpuk yang selanjutnya adalah menumpuk laporan praktikum. Ketika kuliah dulu dalam satu minggunya bisa ada 3 sampai 4 laporan praktikum. Idealnya, setelah praktikum selesai aku harus segera membuat laporannya agar tak merepotkan diri sendiri atau bahkan orang lain. Tapi, hidup kan kadang tak seideal teori yang ada, ya aku termasuk yang tak ideal. Aku tumpuk saja laporan itu dan panik tunggang langgang ketika laporan itu telah memasuki deadline. Pembenaran yang ku buat kala itu adalah, aku akan merasa lebih produktif dan kreatif ketika berada di bawah tekanan, bahasa jawanya sih ‘under pressure’. Padahal aslinya aku benar-benar tersiksa dengan pola deadliner seperti itu. Biasanya aku akan merasa menyesal tetapi kejadian itu akan berulang-ulang laksana lingkaran setan yang tak ada ujungnya. Tumpuk menumpuk laporan sungguh tak bisa dibenarkan karena itu membuat kita menulis laporan tanpa analisis yang dalam dan terkesan apa adanya, asal-asalan yang penting selesai. Selain itu, rasa panik dan deg-degannya itu lo tak bisa digambarkan. Jujur tumpuk menumpuk laporan itu sungguh memberatkan. Aku benar-benar tak mengeti dan tak habis pikir bagaimana seorang aku bisa seperti itu saat kuliah dulu.

            Kejadian yang ketiga yang sepertinya akan menjadi contoh terakhir adalah menumpuk rasa, tumpuk menumpuk perasaan. Menyimpan rasa bukan hal yang mudah karena setiap harinya kita akan menumpuk rasa itu yang kian hari kian bertambah banyak, bertambah berat. Itulah sebabnya move on itu terasa begitu susah meyusahkan dan berat meberatkan karena tumpukan rasa yang terakumulasi tiap harinya. Aku merasakan sendiri sehingga aku berani untuk menceritakannya. Menyukai memang manusiawi tetapi rasa suka yang terus terakumulasi akan membebani diri sendiri. Tumpuk menumpuk rasa adalah yang paling berat di antara kejadian tumpuk menumpuk yang lainnya.

            Lantas happy ending dari semua kejadian yang ku ceritakan di atas adalah perubahan diri ke arah yang lebih baik (in shaa Allah). Aku sekarang telah sadar dan menyadarkan diri sendiri bahwa tumpuk menumpuk sesuatu adalah hal yang berat dan memberatkan. Ibaratnya, membawa sebuah batu akan terasa sangat ringan tetapi menjadi sangat berat ketika batu itu terus ditumpuk. Sekarang sudah tak ada lagi ceritanya cucian menumpuk karena telah ku jadwalkan ketika pulang kerja aku langsung mencuci setiap dua hari sekali. Sudah tak ada ceritanya ku tumpuk laporan (sekarang: kerjaan) karena apa yang harus ku selesaikan hari ini akan ku selesaikan hari ini, ya walaupun kadang-kadang masih ku selesaikan keesokan harinya tapi setidaknya tak sampai menumpuk. Dan yang terakhir, menumpuk rasa, sudahkan aku bisa melepaskan diri dari kebiasaan ini? Sepertinya aku telah cukup berhasil. Aku telah menemukan alasan kuat kenapa aku harus berhenti menumpuk rasa padamu, kamu… iya kamu. Alasan itu membuatku sakit pada awalnya tapi terasa ringan setelahnya karena aku telah terbebas dari tumpukan rasa yang selama ini ku akumulasi. Kalau kamu merasa hidupmu terasa berat bisa saja itu dikarenakan banyaknya hal yang kau tumpuk, entah itu pekerjaan, cucian, atau mungkin perasaan. Kurangi tumpukan itu, hindari tumpuk menumpuk sesuatu karena sungguh itu hanya akan memberatkan dan membebanimu.

Waktu

waktu-2zl38nq5xm6olz9fvi3668Kali ini aku akan memaparkan analisis dangkalku perihal waktu. Kenapa dangkal? Karena analisis ini hanya berdasar pada pengalaman pribadiku saja tanpa didasari teori-teori lain yang dapat menguatkan. Lagi pula ini bukan karya tulis ilmiah, ini hanyalah sedikit buah pemikiran akan kejadian yang ku alami dalam hidup. Aku sekarang hidup di dua tanah, tanah rantau dan tanah kelahiran. Apa yang membedakan kedua tanah tersebut? Banyak. Di tanah rantau aku harus mengurus semua sendiri, mengatasi semuanya sendiri, dan hidup mandiri. Sedangkan di tanah kelahiran, aku tak sendiri, semuanya serba ditemani. Tak hanya masalah sendiri dan ditemani, ada hal mendasar yang benar-benar membuat kedua tanah itu menjadi sangat berbeda, yakni persoalan waktu. Aku tak tahu apa cuma aku saja yang mengalami atau bagaimana, aku merasa waktu berjalan begitu cepat ketika aku berada di tanah rantau dan menjadi begitu lambat ketika berada di tanah kelahiran. Seringkali ku bergumam, apa ini yang dinamakan keberkahan waktu? Di tanah rantau aku berasa diburu waktu, semuanya seakan-akan kekurangan waktu. Hidup rasanya tak ada ketenangan, yang ada hanyalah ketegangan. Setiap hari selalu dilalui dengan hari yang penuh pekerjaan yang tak ada habisnya dan minus waktu. Berbeda sekali dengan di tanah kelahiran, semuanya serba adem ayem, semuanya pekerjaan terselesaikan dan waktu seakan masih banyak untuk sekedar duduk bersantai-santai. Kesimpulan awalku ada benarnya, ini persoalan keberkahan waktu. Nah pertanyaannya sekarang, apakah yang membuat keberkahan di kedua tanah itu menjadi berbeda? Mari ku lanjutkan dulu ceritanya.

            Perbedaan mendasar di kedua tanah itu adalah waktu dimulainya aktivitas hidup. Di tanah rantau aku bangun sekitar jam 5.00 pagi, sholat subuh lantas kemudian tidur lagi, bangun-bangun udah jam 9.00 bahkan kadang jam 10.00. Bangun di jam segitu menjadi hal biasa bagiku karena pekerjaanku tak mengharuskanku untuk berangkat pagi. Kadangkala terpikat godaan dunia maya, jadilah baru mandi sekitar setengah atau satu jam kemudian. Ketika melihat jam langsunglah tunggang langgang ke kamar mandi, menyiapkan semuanya dengan terburu-buru, berangkat kerja pun dengan terburu-buru. Berbeda sekali dengan di tanah kelahiran. Aktivitas kehidupan telah dimulai sejak dini hari dan tak ada ceritanya tidur lagi atau lebih tepatnya tak ada kesempatan untuk tidur lagi. Nyapu rumah, nyuci baju, bersih-bersih, beres-beres, nganterin ibu ke pasar. Setelah semuanya selesai, perkiraanku pastilah sudah jam 10.00 ternyata ketika dilihat masih jam 8.00 atau bahkan jam 7.00 pagi. Kenyataan ini membuatku tertegun, kenapa waktu menjadi terasa lambat di tanah kelahiran. Semuanya bisa ku selesaikan, tetapi waktu masih tersisa banyak. Dari perbandingan di atas, dapatkan kalian lihat perbedaan di antara keduanya? Aktivitas di tanah rantau dan tanah kelahiran? Yup, bedanya terletak di permulaan aktivitas yang dilakukan. Aku telah membuktikan ketika beberapa hari ini ku ubah pola aktivitas pagiku dan memang benar adanya, keberkahan waktu terletak di pagi hari. Beberapa hari ini aku memutuskan untuk tidur lebih awal. Tidur maksimal jam 23.00 dan bangun jam 03.30 kemudian memulai aktivitas hidup sepagi itu dan semuanya terasa begitu berbeda, waktu terasa berjalan selambat ketika di tanah kelahiran, padahal aku sedang berada di tanah rantau. Semuanya menjadi terorganisir, terselesaikan, tetapi waktu masih tersisa banyak untuk melakukan banyak hal. Tidur pagi juga ku hindari, karena tidur pagi membuat hariku menjadi hari yang malas dan mau tak mau menjadikanku seorang pemalas.

            Sebagai seorang muslim seharusnya aku lebih paham akan keberkahan waktu ini, bagaiama tidak? Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mendoakan waktu pagi sebagai waktu yang penuh keberkahan.

اللَّهُمَّ بَارِكْ لأُمَّتِى فِى بُكُورِهَا

Ya Allah, berkahilah umatku di waktu paginya.” (HR. Abu Daud no. 2606, Ibnu Majah no. 2236 dan Tirmidzi no. 1212. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini hasan).

            Mari bersama-sama raih keberkahan waktu di pagi hari, hindari tidur lagi, dan mulailah aktivitas hidup pada dini hari. Aku sudah membuktikan dan merasakan manfaatnya, nggak lagi deh diburu waktu, sekarang giliran kamu, kamu… iya kamu.

Terlambat Suka

6c9385d7d4159dc1e759ae41e6a13597(6 Januari 2015) Malam ini kembali terulang, merindukan banyak orang, lagi. Iya salah satunya kamu, iya… kamu. Aku sedang berjuang menghadapi hari tersulit di bulan ini dan Alhamdulillah, ketika menjelang malam, rasa sakitnya berkurang. Aku ingin banyak cerita tapi sepertinya belum saatnya. Nanti saja kalau aku sudah siap. Memang pada akhirnya semua menunggu untuk datangnya kata yang satu ini –siap- dan sepertinya untuk sekarang aku belum. Entah lah. Lantas, apa yang ku lakukan untuk mengobati rasa rindu yang konon katanya tak kan terobati kecuali bertemu? Bagiku mengobati rindu tak harus selalu bertemu, cukup mendengar suaranya saja sudah cukup bagiku untuk sedikit mengikis karang rindu di hati. Penyelesaian ini akan berlaku bagi orang yang memungkinkan untuk ku hubungi, lantas bagaimana dengan orang yang ku rindu tapi tak mungkin ku hubungi? Ku buka saja album biru, penuh debu dan usang hahahaha. Ku buka saja file foto di laptop yang memuat gambarnya, gambarmu, orang yang tak mungkin ku sapa baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Pasti bakalan banyak yang bilang, kenapa tak ku hubungi saja dengan dalih menjaga silaturrahim? Bagiku tak semudah itu, ada dinding harga diri yang mati-matian ku bangun selama ini dan tak akan semudah itu ku robohkan hanya karena persoalan rindu. Lagipula, aku tak sebegitunya merindukannya, hanya sebatas ya rindu wkwkwk. Aku masih punya akal sehat untuk ku fungsikan yang selama akal itu masih sehat maka selama itu pula aku pasti akan bisa untuk tak menindaklanjuti rasa rindu ini. Cukup biarkan, nanti juga hilang.

            Sudah-sudah, malam ini sebenernya aku bingung mau nulis apa tapi lagi pengen nulis. Nah, pas buka-buka folder ‘tulisan-tulisanku’ ternyata ada satu judul file yang menarik perhatian, judulnya ‘terlambat suka’. Karena penasaran dengan isinya, ku buka saja tuh file dengan harapan ingin tau isinya tapi pas dibuka eh ga ada isinya sama sekali. Aku emang terbiasa sih nulis judul tulisan yang bakalan ditulis, (tulisannya berhenti sampai di sini ketika pagi ini -25 Januari 2016- ku buka file ini yang menarik perhatian karena kasus yang sama seperti tempo dulu, pengen nulis tapi bingung mau nulis apa). Tak terasa sudah setahun yang lalu tulisan ini dibuat tapi belum kelar-kelar ceritanya. Aku ingat kala itu tulisan ini dibuat karena aku benar-benar merindukanmu, lantas pagi ini, sudah setahun berlalu dari malam ketika aku merindukanmu, apakah rasa itu masih ada? Alhamdulillah sudah tiada. Bagaimana bisa semudah itu melupakan rasa? Hei… aku tak pernah bilang mudah, melupakan itu bukan perkara mudah, melupakan itu susah, tapi bukan perkara mustahil. Aku hanya ingin memberikan gambaran jikalau mengosongkan hati tak pernah ku bayangkan akan senyaman ini, seringan ini, dan semenyenangkan ini. Bayanganku selama ini, kekosongan hati adalah simbol ketakmampuan kita mencintai seseorang tapi aku salah, mengosongkan hati berarti senantiasa mempersiapkan diri hingga yang seharusnya datang mengisi benar-benar menghampiri. Mengisi hati dengan nama orang yang tak seharusnya semacam memberikan hak bukan pada orang yang seharusnya, sangat tak adil bukan. Bagaimana jikalau sudah terlanjur? Ya lepaskan, lupakan, keluarkan. Emang bisa segampang itu? aku juga dulu berpikir tak kan semudah itu, tapi nyatanya benar-benar semudah itu, cukup lepaskan, lupakan, dan keluarkan.

            Terkait judul di atas –terlambat suka- adalah judul yang tercipta karena pemikiranku kala itu yang merasa menyesal karena terlambat merasakan rasa suka padamu. Kenapa rasa suka ini hadir ketika kita telah tak bisa bersitatap lagi dan intensitas pertemuan tak akan pernah sesering dulu. Tapi malam ini, aku justru bersyukur pernah terlambat suka padamu. Setidaknya rasa suka ini cukup kurasa saja lantas ku lupakan seperti malam ini. Menyukai seseorang selalu menjadi perkara menyenangkan apalagi orang yang kita suka juga menunjukkan gelagat suka yang sama. Tapi untuk apa juga jika rasa suka itu justru akan menjerumuskan kita pada hal-hal yang tak seharusnya. Seiring berjalannya waktu, kedewasaan pemikiran akan muncul dalam diri kita dan kita akan sepenuhnya sadar bahwa rasa suka bukanlah segalanya. Rasa suka hanyalah dorongan dalam jiwa yang tak selamanya harus selalu harus dituruti. Sama seperti rasa lapar, rasa ngantuk, dan rasa yang lainnya. Akan sangat berbahaya bukan ketika setiap muncul rasa lapar lantas kita langsung makan, apa jadinya badan kita. Jangan sampai setiap kita ngantuk harus selalu dibarengi dengan tidur, ada kalanya dorongan rasa tak dibarengi dengan perbuatan untuk menuntaskan dorongan tersebut. Pun demikian dengan rasa, rasa suka yang muncul ketika kita belum dewasa tak ubahnya hanya sekedar dorongan semata, cukup dirasa tanpa harus ada tindakan pemenuhan akan rasa tersebut. Jikalau kamu punya rasa tapi kau merasa belum dewasa, cukup rasakan lantas lupakan. Tapi jikalau kau sudah merasa dewasa, kau suka? Silahkan datangi orang tua bersangkutan yang punya kuasa. Ya beginilah akhir kisah judul terlambat suka yang untuk ketiga kalinya ku buka dan Alhamdulillah bisa ku selesaikan walaupun dengan konten yang agak nggak nyambung dengan perkiraan awal ketika judul tulisan ini diadakan. Tak apalah bukankah memang kadangkala seperti itu, ekspektasi tak selamanya sesuai harapan. Selamat beraktivitas.

Kemampuan Melupakan

http://cahayahipnoterapi.com/wp-content/uploads/2015/02/melupakan-mantan-dengan-hipnoterapi.jpg

melupakan

Malam ini berasa kembali ke masa kuliah dulu, begadang hingga waktu yang tak ditentukan. Berakhir tatkala mata telah tak mampu untuk bertahan. Sejauh ini masih sanggup dibegadangkan hingga 2 jam ke depan. Aku tahu ini tak dibenarkan tapi berasa kangen banget dengan pola hidup begadang hingga tengah malam. Telah ku tunaikan, lantas apa yang dirasakan? Kepuasan (hahaha). Mau curhat apa ya kira-kira? Ada kisah apakah hari ini? Oh… iya berita kehilangan. Tiga hari belakangan ini aku dikagetkan dengan beberapa berita kehilangan. Pertama, mbak kosan yang kehilangan HP nya ditempat yang sebelumnya telah terjamin keamanannya. Mbak kosanku termasuk pula aku telah terbiasa meletakkan HP dan laptop begitu saja di kantor tempatku bekerja. Tapi hari itu benar-benar sial, ada seorang bapak-bapak yang masuk dengan berpura-pura punya urusan tapi ternyata ngambil yang bukan-bukan, bukan haknya maksudnya. Aku berpapasan dengan bapak itu ketika keluar ruangan yang tak biasanya ada orang baru keluar dari ruangan itu, aku curiga, tapi odongnya tak punya niatan atau inisiatif untuk sekedar bertanya ‘bapak ngapain di sana?’. Benar saja, satu buah handphone telah raib dari ruangan itu. sebenarnya kalau aku tak segera ke sana mungkin semua barang berharga di ruangan itu akan raib (3 buah HP, 2 buah laptop, dan tas para pegawai). Selalu ada keberuntungan di setiap ketidakberuntungan, ‘untung ya cuma satu HP saja yang sempat terambil’.

            Kejadian kehilangan yang kedua dialami oleh seorang pegawai yang kehilangan motor yang baru dibelinya kurang dari tiga bulan yang lalu. Rasa iba menyelimuti hati karena orang yang bersangkutan sebelumnya telah terkena tipu daya jual beli motor online. Harga telah disepakati, uang sekitar 4 juta telah ditransfer, lantas si penjual hilang raib tanpa bekas. Banyak yang menyayangkan, kenapa membeli barang semahal itu lewat online apalagi belum berpengalaman. Tapi begitulah musibah, bisa menimpa siapa saja tanpa terkecuali, baik yang sudah berpengalaman apalagi yang belum berpengalaman sama sekali. Kejadian ketiga baru tadi sore terjadi. Seorang siswi kehilangan tas sekolahnya yang berisi buku pelajaran, dompet, uang, dan barang berharga lainnya. Kronologisnya begini, si siswi bersangkutan bersama pacarnya membawa mobil ke sebuah ruamh makan. Sesampainya di sana mereka keluar dan tas si siswi pun diletakkan di dalam mobil. Pencongkelan mobil pun terjadi, pintu mobil dicongkel dan tas pun di ambil, hilang tak berbekas. Air mata tak hentinya terurai dari mata si siswi. Banyak yang tak habis pikir, bagaimana di tempat seramai dan seaman itu bisa terjadi kejadian seperti itu padahal banyak satpam, yah walaupun mereka hanya berkumpul di satu titik tak punya niat untuk berkeliling, sepertinya. Satu lagi, bagaimana mungkin pintu mobil dicongkel tanpa menimbulkan suara alarm mobil? Bukankah disenggol sedikit saja suka pada heboh bunyinya. Entahlah, memang maling selalu punya cara. Benar-benar tiga kejadian yang mencengangkan, membuatku menjadi lebih awas dan waspada.

            Dari ketiga kejadian itu dapat ku lihat bahwa setiap korban akan mengalami shock dan kaget luar biasa mengalami kejadian yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Sehari dua hari mungkin masih membekas rasa sedihnya, tapi dua orang yang ku lihat tak perlu hitungan hari untuk recovery. Mereka terlihat begitu tegar dan menerima kejadian ini sebagai bagian dari ujian hidup. Pengen rasanya memperlihatkan ketegaran mereka pada maling-maling yang terkutuk itu agar mereka menyesal dan merasa rugi serugi-ruginya. Ini ngayal sih, lagian mana ada maling yang bakalan nyesel, kalau nyesel ya ga bakalan jadi maling. Bagaimana mereka bisa dengan begitu mudahnya bangkit dari keterpurukan? Analisa dangkalku sih karena otak kita punya kemampuan luar biasa untuk melupakan, melupakan sesuatu yang tak mengenakkan, entah itu rasa sakit, kecewa, sakit hati, penyesalan, dan rasa tak enak lainnya. Allah sudah begitu baik merancang otak kita dengan bagitu apiknya agar dengan begitu mudahnya melupakan. Mungkin ingatan tentang kejadiannya masih ada, tetapi rasa dari kejadian itu pasti telah hilang.

            Pengalaman pribadi yang aku alami adalah setiap bulan aku akan mengalami rasa sakit yang luar biasa akibat menstruasi, kejadian ini berulang tiap bulan, berlangsung selama dua sampai tiga hari. Menjalani hari tanpa gairah dan inginnya hanya tergeletak saja di kasur, makan tak minat, beraktivitas tak mampu. Aku selalu ingat memori itu tapi aku lupa rasa sakitnya ketika telah lewat masanya. Bayangkan saja bagaimana tersiksanya aku ketika aku bisa mengingat rasa sakit itu, hidupku akan terus berkutat dengan rasa sakit. Allah benar-benar maha baik, fabiayyi alaa irabbikuma tukadzibaan (maka nikamat tuhanmu yang manakah yang kau dustakan) (QS. 55:55). Kemampuan melupakan yang hebat inilah yang juga membuat perempuan mampu untuk mempunyai anak satu, dua, tiga, empat, dan seterusnya padahal semua orang tau bagaimana rasa sakitnya ketika melahirkan. Rasa sakitnya seperti patahnya 200 tulang secara bersamaan. Jikalau tak ada kemampuan melupakan maka tak akan ada ceritanya perempuan yang mau melahirkan lebih dari sekali jika rasa sakitnya masih bisa dirasakan.

            Kemampuan melupakan ini juga bisa membuat ornag-orang yang mengalami kegagalan akan terus bangkit dari keterpurukan. Maka aku sedikit tak percaya ketika anak muda jaman sekarang mengleuarkan istilah ‘gagal move on’. Hei… mana ada? Otak kita telah dirancang untuk bisa melupakan walaupun memang pada beberapa kasus membutuhkan waktu. Maka jangan lantas cepat mengambil kesimpulan dangkal bahwa kau telah ‘gagal move on’ yang ada adalah kau sedang dalam proses untuk move on. Istilah ‘gagal move on’ telah memberikan gambaran seakan-akan kalian adalah generasi yang mudah menyerah. Ih… mbak serius amat, itu kan istilah buat becandaan doang. Hahaha ya juga ya, serius amat nanggepinnya. Intinya adalah tak ada istilahnya kita harus menyerah akan rasa sakit entah itu jiwa maupun raga yang menimpa kita karena kita punya kemampuan luar biasa canggih untuk melupakannya. Jika sakit itu datang menghapiri hadapi dengan rasa sabar karena sakit yang disertai sabar akan menjadi penggugur dosa. Setiap dari kita telah dirancang untuk mempunyai kemampuan melupakan jadi jangan mendoktrin diri untuk senantiasa terpuruk karena kenangan akan rasa sakit yang kita coba untuk terus diingat. Biarkan aku dengan semua pengharapanku untuk suatu saat nanti membersamaimu, toh walaupun nantinya kau tak bersamaku, hidupku masih akan berjalan dengan normal karena aku punya kemampuan untuk melupakan, malupakanmu, kamu… iya kamu, walaupun ku tahu itu butuh waktu.