Terpilihnya Seorang Imam

                anak-kecil-jadi-imamBanyak hal yang terjadi beberapa bulan belakangan. Ingin sekali ku ceritakan, tapi sepertinya akan banyak sekali keluhan. Sebenarnya tak apa-apa bukan, karena sejatinya keluhan adalah uangkapan rasa yang harus diungkapkan. Daripada mengendap tak karuan dan meledak dalam diri hingga mengganggu kejiwaan. Bukankankah akan lebih merepotkan handai taulan jikalau itu semua menjadi kenyataan? Lebih baik ku ceritakan lewat tulisan yang mungkin akan menjadi kenangan tak terlupakan di hari kemudian. Beneran bakalan cerita keluhan? Nggak sih, nggak malam ini, karena momennya udah terlewatkan. Aku mau cerita kisah yang menurutku unik aja untuk dibagikan, cerita tentang terpilihnya seorang imam.

                Salah satu yang sangat ku syukuri ketika ku berada di Bandung ini adalah bertemunya dan bertemannya aku dengan banyak orang-orang baik dan luar biasa hebat. Entah dengan apa aku bisa menggambarkan rasa syukurku ini. Aku bersyukur berada di tengah-tengah mereka dengan keberagaman yang mereka bawa. Keberagaman dan perbedaan di antara kami tidak lantas menimbulkan perpecahan, malah semakin meningkatkan rasa persaudaraan yang terjalin. Aku bertemu dengan mereka karena sebab-sebab tertentu, bisa karena organisasi, jurusan, beasiswa, kepanitiaan, lab, dan kosan. Nah, sebab yang ku sebutkan terakhir yang kali ini mau aku ceritakan. Kosanku sekarang sangatlah nyaman, tidak hanya karena fasilitas dan kondisi fisik kosannya tetapi penghuninya yang amat sangat bikin nyaman. Aku merasakan hangatnya persaudaraan, pertemanan, persahabatan, dan kebersamaan di kosan ini. Emangnya momen-momen apa aja sih yang membuatku merasakan semua rasa itu? Banyak, seperti, makan bareng, masak bareng, ngobrol bareng, dan sholat bareng. Momen yang terakhir ku sebut itu yang paling unik, sholat bareng alias sholat berjamaah.

                Sholat berjamaah menjadi ajang yang sangat menegangkan di kosanku ini, karena dari sanalah akan terpilih seorang imam yang akan memimpin sholat. Pertimbangan pemilihan imam bukan berdasarkan bacaan Al-Qurannya yang paling baik karena insyaAllah semua penghuni kosan bacaannya sudah baik, tetapi dipilih dari penghuni kosan yang paling terakhir sampai di musholla kosan. Peraturan ini dibuat untuk mencegah kecemburuan sosial dan ngaretnya proses sholat berjamaah karena tunjuk-tunjukan siapa yang seharusnya menjadi imam. Efektif? sangat efektif, bahkan peraturan ini membuat setiap orang penghuni kosan menjadi berlomba-lomba untuk segera sampai di musholla. Fastabiqul khoirot atau berlomba-lomba dalam kebaikan menjadi hal yang sangat tampak karena adanya peraturan ini. Tapi, jadi agak kabur juga sih antara fastabiqul khoirot dan nggak mau terpilih jadi imam, hehe. Sikap kompetitif setiap penghuni kosan menjadi sangat terasah. Bahkan waktu memulai sholat di musholla kami bisa bersamaan atau bahkan lebih cepat dibandingkan masjid yang suara speakernya terdengar hingga ke kosan, bahkan untuk sholat subuh sekalipun, mantul (mantap betul).

                Menunda-nunda sholat tak lagi terjadi, karena disadari atau tidak, hal yang paling sering dilakukan seorang muslim adalah menunda-nunda sholat. Termasuk aku dan sholat yang paling sering aku tunda-tunda adalah sholat isya. Alasannya? Karena waktunya panjang, padahal belum tentu juga umurku bakalan sepanjang waktu sholat isya. Ampuni hamba ya Allah. Padahal katanya menunda sholat itu adalah ciri-ciri orang munafik, ngeri nggak sih. Bahkan di Al-quran Allah telah menjelaskan dengan sangat gamblang tentang ini,

Celakalah orang-orang yang shalat, yaitu orang-orang yang lalai dari shalatnya. (QS. al-Ma’un: 4 -5)

                Mungkin ini adalah momen yang akan sangat aku rindukan nanti ketika aku sudah tidak di kosan ini, saat dimana kita berlari-lari untuk segera sampai di musholla agar tidak terpilih menjadi imam. Bahkan ada yang bela-belain ngetokin kamar satu per satu karena datang terakhir dan nggak mau jadi imam dengan harapan masih ada yang tertidur dan mau ikutan jamaah, sehingga yang bersangkutan bisa terlepas dari tanggung jawab menjadi imam. Kenapa pada nggak mau jadi imam sih? Ya tau lah, kami kan maunya diimamin sama imam, hahahaha.

Teruntuk semua penghuni kosan rambutan, terimakasih atas canda tawa yang selama ini tercipta. Terimakasih untuk semua motivasi dan pengingat sehingga diri ini bisa senantiasa memperbaiki diri dari hari ke hari. Semoga Allah senantiasa memberikan keistiqomahan kepada kita semua untuk terus berada di jalanNya. Carilah aku jikalau nanti di akhirat kelak kalian tidak menemukanku di antara kumpulan orang-orang sholeh-sholehah yang mendapatkan syafaat dari Allah. Adukanlah padaNya bahwa kita pernah bersama-sama berlomba-lomba melaksanakan sholat berjamaah tepat waktu, berlomba-lomba untuk menentukan siapakah yang akan terpilih menjadi seorang imam. Semoga Allah mengumpulkan kita semua di surgaNya, aaamiiin.

Kehilangan dan Halangan yang Datang Bersamaan

87c84f2326a28d3b9c3e5e821b06749aBanyak kisah yang terjadi selama berada di Bandung, khususnya ketika bulan Ramadhan, yap… ini Ramadhan pertama di kota kembang, Bandung. Awalnya pengen bikin project gitu, menulis kisah yang terjadi setiap hari di bulan yang penuh berkah ini. Tapi, ya gitu hingga hari ke-22, barulah nih tulisan realease. Ngerasa nggak sih kalau waktu berjalan begitu cepat, jadi kalau punya niat baik sebaiknya disegerakan saja, jangan ditunda, kayak nikah #eaaa. Soalnya nih ya, perasaan baru kemarin rasanya mengharu biru menyambut Ramadhan pertama, eh sekarang udah mau selesai aja. Satu lagi, asik asik aja sih ya menyendiri, eh tiba-tiba temen-temen seangkatan udah punya bayi. Mau sih nikah, tapi belum ada yang ke rumah aja #kode. Cukup cukup…. back to the main topic. Jadi gini, ada sedikit kisah sedih nih, aku baru mengalami kehilangan, it’s not a big deal sih. Tapi, yang namanya kehilangan mau itu hal kecil atau besar, pastinya bakalan menimbulkan rasa sedih dan cekit-cekit gitu. Apalagi kalau diambilnya dengan pemaksaan dan tepat di depan mata kita sendiri. Sedih sih kehilangan tapi akan terasa lebih sedih ketika kita tidak bisa melakukan apa-apa untuk mencegahnya padahal kejadiannya tepat di depan mata kita sendiri. Yuk ah, dilanjutkeun wae atuh ya cerita lengkapnya.

Hari jumat kemarin, tepatnya tanggal 1 Juni 2017 atau hari ke-17 Ramadhan, pada siang hari di perumahan dekat kosan, jalan tubagus ismail, aku dan temanku kena jambret, iya… HPKU DIJAMBREEEET. Begini kronologinya, hari itu aku dan temanku berencana untuk berbelanja di pasar baru, mau beli oleh-oleh pulang kampung. Semua anak rantau pasti nggak asing lah dengan kegiatan semacam ini. Nah, sekitar jam 11 siang, temenku ini menjemputku di kosan. Aku yang bawa motor terus dia yang di belakang. Agak rempong sih hari itu, ada beberapa pesan yang harus aku balas tapi di saat yang bersamaan aku harus bawa motor. Bawa motor? Jangan dibawa, berat, biar aku saja wkwkwkw, bawa motor di sini artinya mengendarai ya sodara-sodara. Jadilah aku memasrahkan HPku ke temenku agar dia bisa membalas pesan yang ingin aku balas sekaligus membuka google map untuk menuju lokasi yang ingin kita tuju karena memang kami berdua belum tau persis lokasi tepatnya si toko baju berada. Nah berangkatlah kita berdua sambil ngobrol santai. Eh pas nyampe di jalanan perumahan menuju jalan utama tubagus ismail, ada dua orang laki-laki berboncengan yang merampas HPku dari tangan temenku.

“Aaaa… mbk” teriak temenku itu, aku awalnya nggak ngeh sama apa yang terjadi,

“HP… HP” kata temenku lagi. Beberapa detik kemudian aku baru sadar bahwa kita sedang mengalami penjambretan.

Aku langsung narik gas sampe full sambil teriak-teriak kayak orang gila,

“JAMBREEEEET….. JAMBREEEEEET……. JAMBREEEET…..ASTAGFIRULLAH…..” Teriakku kenceng banget ditambah lagi suara temenku.

                Ada beberapa bapak-bapak di pinggir jalan dan motor yang lalu lalang, tapi emang kondisinya sepi banget sih, semacam mestakung (semesta mendukung) aja buat di duo jambret buat ngalakuin kejahatannya. Orang-orang yang melihat kami berdua teriak-teriak kayak orang gila hanya ngeliatin doang nggak berbuat apa-apa, kayak nggak tergerak gitu buat ngapain kek, ngejar kek, nyegat mereka kek. Aku sih husnudzan aja, mungkin mereka bingung mau ngapain. Satu lagi, aku kan ngegas motor ampe full nggak setengah-setengah, eh masa di mata aku tuh pas ngalamin kejadian kemarin rasanya slow motion, beneran, serius. Makanya aku merhatiin gas motor udah full tapi rasanya kok laju motor kami lambat-lambat aja sampe kami kehilangan jejak si duo jambret. Sampe di tikungan, mereka berdua udah nggak ada jejaknya. Kami clingak-clinguk, keluar masuk gang buat nyari si duo jambret. Akhirnya kami pasrah, mungkin emang bukan rejekinya. Aku tuh nggak habis pikir aja, hari jumat lo, di bulan Ramadhan lo, bukannya setan-setan dibelenggu ya? Tapi ya kok masih ada penjambretan semacam ini. Hikmah yang bisa diambil adalah, nafsu jahat manusia sudah jauh berkembang melampaui kejahatan setan ternyata ya.

                Setelah itu gimana perasaanku sebagai korban? I feel nothing. Nggak ngerasain apa-apa, karena mungkin saking banyaknya rasa yang harus diekspresikan, jadi jatohnya nggak ada sama sekali yang tereskpresikan. Hal yang pertama dalam pikiran aku cuma pengen ngabarin orang rumah dan orang-orang terdekatku kalau HPku ilang. Oh iya, data-data di dalam HP itu yang jauh lebih berharga dari HP itu sendiri, foto-foto penelitian, foto-foto selama hampir setahun di bandung, file-file kuliah, file-file organisasi, dan semua muanya deh yang di dalemnya. Tapi, akhirnya aku ikhlasin aja karena aku percaya Allah akan menggantinya dengan yang jauh lebih baik. Selain itu, menyadari kalau semua yang melekat pada diri kita hanyalah titipan, maka ketika seketika hilang, hanya rasa ikhlas dan ketenangan hati yang tersisa. Kata ustadz Adi Hidayat, setiap benda yang kita punya akan ada hisabnya masing-masing. Nah, teruntuk HP ku yang hilang, maka sudah berakhirlah hisabnya terhadapku dan mulailah hisab untuk duo jambret itu yang tentunya akan terhitung dosa bagi mereka berdua. Semoga Allah mengampuni dan memberi hidayah untuk mereka berdua.

                Sorenya, aku ada janji dengan teman-teman kosanku untuk mengadakan ‘bridal shower’ dadakan ala-ala tahu bulat yang digoreng dadakan, soalnya kalau direncanain suka nggak jadi wkwkwk. Ini tradisinya orang barat sih, sepertinya ini acara bridal shower pertama dan terakhir yang akan aku hadiri. Semoga Allah senantiasa mengistiqomahkanku di jalan yang sesuai syariat Islam. aaamiiin. Fokusnya bukan ke sana sih, jadi mari lanjutkan dulu ceritanya. Semua teman kosanku sudah tau kejadian yang menimpaku. Mereka semua bersedih dan menguatkanku. Senang sekali rasanya punya teman kosan rasa saudara di tanah rantau. Kami semua bersenang-senang malam itu. Makan dan foto-foto bersama sebuah kafe yang Instagramable banget, namanya le delice bandung, kafenya ala-ala taman kerajaan gitu. Nih fotonya aku ambil di google, bagus banget kan…. aslinya jauh lebih bagus. Makanannya juga lumayan enak dan nggak terlalu mahal untuk tempat sekece itu.

le delice

                Malemnya aku ngerasan hal yang aneh, rasanya nggak enak hati dan nggak enak badan. Bener aja dong, aku dapet tamu bulanan alias halangan. Jauh lebih sakit rasanya halangan daripada kehilangan. Benar-benar kehilangan dan halangan yang datang bersamaan. Mari syukuri dan nikmati saja.

Karena Doaku Kah?

11918053_899462426775675_829091093_nSudah sejak 6 bulan yang lalu rasanya kelu untuk sekedar betegur sapa denganmu. Entah apa yang menahan jari jemari ini untuk sekedar menuliskan kisah receh sehari-hari yang ku alami. Sibukkah? Tidak, tidak ada orang sibuk, yang ada adalah kita yang tidak berada dalam daftar prioritas. Jadi, bagi kamu yang sekarang sedang menghibur diri karena sudah lama tak dihubungi karena alasan sibuk, maka bersedihlah, karena dapat dipastikan kamu sudah tak lagi berada di daftar prioritasnya. Itu analisis dangkalku saja sih, yang mungkin akan kamu iyakan setelah mambacanya, Iyakaaaan? #apasih.

            Rutinitasku sekarang adalah kuliah dan organisasi tapi anehnya aku merasa berat ke salah satunya karena memang pada dasarnya tak ada manusia yang bisa adil kan, pasti ada kecenderungan. Jadi, bagi yang berniat poligami dan mau bersikap adil, itu agak nggak mungkin nggak sih? wkwkwkwk, Ok back to the main topic. Menjadi mahasiswa pasca sarjana terasa lebih berat daripada menjadi mahasiswa sarjana #yaIyalah. Aku jujur nih, aku merasa sulit memahami materi yang seharusnya menjadi spesialisasiku nanti. Mungkin aku terlalu banyak dosa sehingga sel-sel neuron otakku sulit untuk saling sambung menyambung sehingga sinyal-sinyal yang terkirim ke otakku ketika dosen menjelaskan atau ketika diriku membaca buku atau jurnal tidak tertransfer dengan baik. Ataukah ini bukan passionku? Tapi aku tidak bisa kembali ke daratan, pantang pulang setelah layar terkembang, gitu ceunah. Kuatkan hamba ya Allah.

            Seperti yang terjadi beberapa minggu kemarin, aku dilanda rasa rindu malas yang amat sangat. Mengerjakan tugas yang jumlahnya beberapa, ibarat bikin candi, mengandalkan waktu semalaman. Beberapa kali metode ini ampuh ku aplikasikan tapi sepertinya tidak berlaku untuk malam itu, beberapa minggu kemarin. Aku benar-benar kewalahan, perhitungan akal paling toleran pun tidak mau mengiyakan kalau tugas itu akan selesai. Tapi anehnya aku merasa tenang dan selalu percaya kalau Allah akan menolongku dari jalan yang tidak pernah aku duga, kuncinya adalah kerjakan amalan yang telah menjadi rutinitas sesibuk apapun. Nah, lagi-lagi soal prioritas kan? Selalu prioritaskan ibadah di atas apapun karena Allah ga pernah lupa ngasih nikmat sehat dan nikmat-nikat yang lainnya kan. Nah, kalau kamu udah nggak dijadiin prioritas, maka jangan terus-menerus menghibur diri kalau si dia sibuk hahaha.

            Jadilah malam seninku dilalui dengan begadang, kegiatan yang sudah sejak lama ku tinggalkan. Aku yang dulu hobi banget tidur setelah jam 12 sekarang sudah tak lagi mau, karena tidur cepat itu membuat tubuh lebih segar dan membuat hari-hariku menjadi lebih teratur. Begadang hanya ku lakukan jika ada hal yang memang benar-benar harus dan tidak bisa tidak dilakukan jika tidak begadang #belibetBanget. Tugas-tugas yang harus ku kerjakan adalah menyiapkan presentasi salah satu jurnal acuan tesis, laporan praktikum, dan mengumpulkan modul praktikum. Tiga tugas yang harus dikumpulkan pada hari yang sama dan ku kerjakan hanya dalam waktu semalam. Harapan yang teralalu muluk-muluk sih, terlalu langitan. Kayak aku ke kamu, kamu… iya kamu, kamu terlalu langitan, susah dijangkau #eaaa. Parahnya lagi, presentasi itu harus ku presentasikan jam 7 pagi, pendek banget kan waktunya kalau mulai ngerjainnya dari abis isya. Celakanya, habis isya aku tidur dong karena nguantuk dan capek banget, bangun-bangun udah jam 1. Bayangkan dong, aku hanya punya waktu 5 jam untuk mengerjakan 3 tugas sekaligus. Ya Allah maafkan hamba yang lalai tapi tolonglah hamba ya Allah.

            Abis sholat subuh langsung siap-siap dan rieweuh banget dong karena ngerjain tugasnya masih seadanya dan ngasal banget, bener-bener belum selesai, pengen ngilang rasanya. Jam 6 harusnya udah selesai dan langsung berangkat ke kampus, tapi kemarin udah setengah 7 belum berangkat juga soalnya tugasnya bener-bener belum selesai. Pas lagi bingung-bingungnya mau ngapain, HP-ku bunyi. Ketika dibuka ternyata ada whatsapp dari dosen pengajar jam 7. Isi pesannya adalah beliau bilang kalau kuliah pagi itu ditunda soalnya si ibu kecelakaan, jatuh dari tangga dan kakinya patah. Ya Allah… Innalillah… aku sedih banget dong sekaligus ada perasaan lega (jahat sih yang ini) soalnya ga jadi kuliah dan presentasi. Aku bukan penyebabnya kan? Bukan karena doaku kan? Tak henti-hentinya aku menyalahkan diri sendiri, tapi memang aku ga doa yang macem-macem kan, aku hanya doa satu macem yaitu minta pertolongan agar dimudahkan dan minta pertolongan. Tak selang berapa lama ada pesan di grup kalau jam 10 nya nggak ada kuliah juga, yang artinya tugas modul juga nggak jadi dikumpulin. Tinggal tugas laporan yang aku lobi untuk dikumpulkan hari rabu dan asistennya mengiyakan. Hari senin yang dalam bayanganku akan sangat padat dan mencekam ternyata dapat ku lalui dengan lancar dan lengang karena tidak ada kuliah sama sekali dan tidak ada deadline tugas yang harus dikumpulin.

            Doa memang benar-benar senjata ampuh untuk menghadapi banyak rintangan dan tantangan. Tapi, bukan karena doaku kan si ibu dosen jadi jatuh. Aku benar-benar merasa bersalah walaupun sejatinya aku tak bersalah. Kamu menginginkan banyak hal dan merasa sangat tidak mungkin untuk mendapatkannya, caranya gampang, mintalah pada yang maha punya segalanya, maha pengasih, maha penyayang, yang akan selalu menolong hambanya dari jalan yang bahkan tidak pernah kita duga. Nggak diminta aja dikasih apalagi diminta, masih males ibadah? Duuuh…. malu.

Almamater Baru

menuntut-ilmu                Puji syukur atas segala nikmat yang Allah titipkan padaku yang notabene dengan ibadah yang seminim ini bisa mendapatkan nikmat hidup yang tak bisa dihitung banyaknya. Nikmat sehat yang tak pernah diminta, nikmat tidur nyenyak tiap malamnya, nikmat bersama keluarga yang tak pernah lelah memberikan dukungan dan doanya, serta nikmat untuk kembali menuntut ilmu di jenjang selanjutnya. Alhamdulillah setelah rentetan ke ‘kekeuh’an itu akhirnya aku sekarang berada di sini di kota yang tiap aku bertemu dengan orang yang pernah tinggal di sini, mereka selalu berkata bahwa kota ini adalah kota yang penuh dengan kenangan manis. Bandung, not just a city, it’s home, it’s a story, it’s a history.  Ditambah lagi dengan wali kotanya yang dicintai tak hanya oleh warganya, tetapi oleh warga di daerah lainnya. Aku sudah sejak lama berangan-angan untuk bisa setidaknya ‘pernah tinggal’ di kota ini dan Alhamdulillah angan-anganku ternyata diijabah oleh Allah, tak henti-hentinya berucap syukur. Aku pindah ke Bandung per tanggal 1 Agustus 2017, berangkat dari Bekasi jam 10.00 dan nyampe di Bandung jam 2.00 dini hari. Itungannya tanggal 2 Agustus berarti ya. Tempat tujuan kala itu adalah kost yang aku booking by phone, jadi aku nggak survey tempat sama sekali, jadi yang penting ada. Tapi Allah maha baik, tempat kost ku ternyata nyaman banget jadi sepertinya akan tetap tinggal di kosan ini untuk dua tahun ke depan. Bahaya sih punya kosan terlalu nyaman karena bikin males keluar kosan ditambah lagi wifi yang 24 jam nyala dengan kecepatan yang cukup buat nonton youtube seakan-akan nonton TV dengan kamar mandi di dalem, lengkap sudah fasilitas buat jadi individu ansos (anti sosial) hehe. Tapi aku nggak bakalan gitu lah, rugi banget jauh-jauh ke Bandung terus temennya dikit, iya nggak sih? Hehe.

                Pindahan kali ini aku merasa sangat boros karena aku harus beli barang-barang kebutuhan di kamar. Perasaan pas dulu pindah ke Bekasi nggak seboros ini, mungkin karena dulu aku nggak sendiri tapi berdua sekamar, jadinya temen sekamarku yang notabene udah duluan di sana meminjamiku dengan barang-barang yang dia punya. Itulah yang membuat aku tak perlu membeli barang-barang terlalu banyak dan dampaknya aku rasakan ketika pindahan sekarang, berasa boros pake banget. Belum genap sebulan tapi pengeluaranku kayaknya udah cukup buat beli iphone7 wkwkwk. Tapi ya nggak (mama) papa juga sih kan barang-barangnya toh jadi punyaku kan. Keborosan ini juga didukung karena aku belum tahu dimana tempat beli barang-barang yang murah dan tempat beli makan yang murah. Kalau dibandingkan Bekasi, biaya hidupnya hampir sama lah ya tapi mahalan Bekasi dikit jadi aku nggak terlalu kaget. Nggak sekaget dulu pas pertama kali pindah dari Bogor ke Bekasi, rasanya kok apa-apa jadi mahal. Baru nyadar ternyata kota rantau yang pernah aku singgahi berawalan huruf B, Bogor-Bekasi-Bandung. So? There is somethihg special? Nggak sih, kocak aja.

                Nggak hanya kotanya yang baru tapi almamataernya juga baru, dari Institut Pertanian Bogor ke Institut Teknologi Bandung. Sampai tulisan ini dibuat pun aku masih berusahan menyesuaikan lidah dan jari agar nggak kepeleset bilang Institut Pertanian Bogor padahal niatnya Institut Teknologi Bandung. Pas upacara penyambutan mahasiswa baru juga sempet lidah kepleset bilang IPB padahal harusnya ITB. Kayaknya sih yang mendarah daging itu almamater S1 kali ya, ini pendapat subjektifku aja sih, mungkin orang lain nggak sama. Jadi gimana? Apa bedanya IPB sama ITB? Banyak. Mulai dari mana ya? hm… dari fisik kampusnya dulu kali ya. IPB itu luas banget sampe bus kampus hilir mudik untuk membantu mobilitas mahasiswa dari tempat yang satu ke tempat lainnya. Kalau ITB sempit, dari pintu depan ke pintu belakang aja bisa aku tempuh dengan hanya berjalan kaki, agak ngos-ngosan sih soalnya medannya naik terus. Lahan parkir, kalau IPB luas banget dan gratis, nggak bingung buat markir motor dimana-mana ada. Kalau di ITB karena mungkin lahannya sempit jadi berdampak juga pada lahan perkir, di ITB lahan parkirnya terbatas, mbayar kisaran 2000 sampai 3000, dan buat markirin motor kayak nyari jodoh #susah #eh hahaha, kayaknya nih lengan bakalan berotot soalnya ngangkatan motor pas mau markir sama mau ngambil motor. IPB itu udah kayak pesantren, banyaaaak banget yang pake kerudung panjang dan lebar, hampir homogen lah suasanya. Nah kalau ITB lebih heterogen, yang pake kerudung panjang dan lebar biasanya aku temuin di sekitar masjid kampus, namanya masjid salman. IPB lebih ramah orang-orangnya, kalau jalan banyak yang senyum (ini subjektif ya) tapi kalau ITB orang-orangnya terlihat lebih serius dan jarang senyum. IPB nggak terlalu keluar aura orang pinter yang mengintidasi gitu tapi kalau ITB aura pinter dan mengintimidasinya kuat banget hahahaha.

                Itu sih sekilas tentang almamater baruku, dari perkuliahan yang aku ikuti sih kayaknya aku nggak bisa lagi santai-santai kayak pas jaman S1 dulu. Sekarang belajarnya harus keras dan ekstra. Berasa pengen nginep di perpus kalau udah denger petuah dosen-dosen di sini ditambah lagi obrolan teman-teman seangkatan yang risetnya kayaknya udah jauh banget. Aku mah apa atuh, udah lupa semua yang pernah dilakukan di lab karena emang pada dasarnya kurang suka lab. Mulai sekarang harus mulai menyukai sesuatu yang tidak disukai, mulai dari lab, hal-hal detail, dan tepat waktu. Harus mulai manata diri karena adanya aku di sini bukanlah kebetulan, semuanya by design, dan aku sendiri lah yang memilih design ini maka jalan yang paling tepat adalah lakukan yang terbaik. Semoga semangat ini terus berkobar, kalau pun toh redup semoga Allah kirimkan pengingat dari jalan yang tak diduga-duga. Oya tak lupa doakan juga, semoga ngejar Master dapet Mister juga ya, Amin.