Kematian

Berapa banyak manusia yang hidup dalam kelalaian sedangkan kain kafannya sednag ditenun? –Imam Syafii-

Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan muncul seiring bertambahnya usia, sepertinya aku benar-benar mulai dewasa. Tua itu pasti, dewasa itu pilihan dan sepertinya aku sudah memilih pilihan itu walaupun aku sendiri pun tak pernah menyadari kapan tepatnya aku memilihnya. Ya… sepertinya aku memang benar-benar telah dewasa. Bukankah orang baik tak pernah mengakui bahwa dirinya baik, lantas apakah aku benar-benar dewasa hanya dengan pengakuan dari diri sendiri bahwa aku telah dewasa? Tak taulah, aku sungguh tak terlalu peduli aku telah dewasa atau tidak, setidaknya ada banyak pertanyaan yang sepertinya mengindikasikan bahwa aku benar-benar telah dewasa. Pertanyaan yang begitu bergejolak adalah pertanyaan tentang kematian. Sebenarnya banyak sekali pertanyaan yang muncul, tapi hanya satu pertanyaan inilah yang sepertinya butuh jawaban dan semakin aku mencarinya justru aku merasa semakin takut untuk mengalaminya. Walaupun aku tau betul bahwa kematian adalah kewajiban bagi setiap insan yang bernyawa.

            Bicara tentang mati, kematian, meninggal, dan orang meninggal bukanlah hal yang asing bagiku. Di sekolah, di madrasah, di ceramah, bahkan di sinetron sering sekali bahasan tentang kematian ini dibahas. Bahkan ada satu lagu daerah ‘madura’ yang bercerita tentang kematian yang setiap kali ku mendengarkannya atau melantunkannya serasa ada yang tersekat di tenggorokan, menohok relung hati, dan memaksa air mata untuk keluar. Tapi ya hanya sebatas itu, aku masih merasa kematian itu jauh, kematian itu teori, kematian itu menyedihkan. Intinya aku merasa kematian itu masih amat sangat jauh dariku. Pun ketika kakekku meninggal, aku masih belum merasa bahwa kematian itu sangatlah dekat. Mungkin karena waktu itu aku masih sangat kecil untuk mengerti arti kehilangan dan kematian. Seiring berjalannya waktu, aku memasuki setiap fase dalam hidup TK, SMP, SMA, kuliah, lulus kuliah, dan kerja semuanya ku lalui dengan lancar, selamat dari kematian. Ketika lulus kuliah aku mulai memasuki masa dimana aku mulai banyak berpikir tentang lingkungan sekitar apalagi ketika pulang kampung. Melihat aku yang telah banyak berubah dan lingkungan sekitar masih begitu-begitu saja. Banyak mimpi yang ku bangun, tapi tiap aku pulang selalu ada saja tetangga yang berkurang karena telah meninggal. Aku merasa ‘masaku’ telah tiba, masa untuk menggantikan generasi tua padahal aku belum benar-benar siap. Tiap kali ada telepon dari orang rumah selalu saja ada saja tetangga yang katanya meninggal dan aku semakin merasa bahwa kematian itu dekat tapi belum benar-benar dekat.

            Kematian yang terasa amat sangat dekat itu ketika dia datang pada orang yang sangat dekat denganku. Memang benar kata orang, kita akan merasa benar-benar merasakan suatu peristiwa ketika kejadian itu terjadi pada kita atau paling tidak pada orang yang benar-benar dekat dengan kita. Siapakah orang itu? Beliau adalah bapakku. Sepeninggal bapakku aku benar-benar tidak percaya bahwa beliau telah benar-benar tiada bahkan sampai tulisan ini dibuat, aku belum benar-benar percaya bahwa beliau telah satu tahun yang lalu meninggal. Aku tidak sempat melihat beliau menghembuskan nafas terakhir, aku tidak sempat melihat beliau dimandikan, aku tidak sempat melihat beliau dikafankan, dan aku tidak sempat melihat beliau dikuburkan. Aku pulang ketika beliau akan melakukan operasi jantung dan aku kembali lagi ke tanah rantau ketika melihat kondisi beliau yang baik-baik saja setelah operasi. Sama sekali tidak ada perasaan bahwa itu adalah pertemuan terakhir kami. Memang benar, jangan terlalu mengandalkan perasaan karena banyak sekali perasaan yang ternyata salah haluan. Aku sedih tapi aku sungguh tak peduli dengan rasa sedih ini, abaikan saja perasaanku, yang terpenting adalah aku selalu berdoa semoga beliau meninggal dalam keadaan khusnol khotimah, digugurkan semua dosanya, diterima semua amal ibadahnya, dan ditempatkan di tempat terbaik di sisi Allah, amiiin. Setelah bapak meninggal aku merasa kematian sangatlah dekat. Pernah suatu ketika bapakku terbangun di rumah sakit dan bercerita pada ibu kalau dalam mimpi itu beliau meninggal dan dibawa pulang ke rumah. Di sana beliau telah disiapkan tempat untuk pemandian jenazah, beliau begitu takut menceritakan mempinya dan ibuku pun menghibur ‘kalau masih mimpi mati dan takut mati berarti ga bakalan mati’ dan semua orang di sana pun tertawa termasuk aku. Kalimat ibuku benar-benar mayakinkanku bahwa bapak akan sembuh dan tidak akan mati. Tapi buktinya? Beliau meninggal, itu artinya kematian akan tetap terjadi pada orang yang takut atau berani akan kedatangannya.

            Satu tahun setelah kematian beliau, Om ku yang begitu dekat denganku juga meninggal, dan aku merasa orang-orang terdekatku satu per satu mulai pergi dan tidak menutup kemungkinan aku pun akan segera mati. Aku benar-benar merasakan kematian amat sangat begitu dekat ketika bapak meninggal. Pernah suatu malam aku terbangun dan kemudian sholat dan aku merasakan kalau kematian seakan-akan memanggilku. Satu per satu ku pegang anggota badanku hingga berakhir dan dada, dan ku bayangkan bahwa aku bisa mati tiba-tiba hanya dengan berheninya detak jantungku. Benar-benar rapuh manusia itu ya. aku benar-benar takut membayangkan kematian. Hari dimana bapak meninggal aku langsung memesan tiket pesawat untuk pulang kampung dan sepeti biasa fobia naik pesawat itu kembali datang. Ketika pesawat akan take off aku benar takut tapi aku membayangkan bahwa bapakku telah mengalami hal yang jauh lebih menakutkan dari sekedar take off pesawat yaitu kematian. Bukankah hal yang paling menyakitkan adalah terlepasnya nyawa dari raga? Katanya rasa sakitnya tak ada yang menandingi. Memabayangkan itu semua membuat aku semakin takut. Oleh karena itu aku tidak pernah mau menjadi penyebab hilangnya nyawa makhluk hidup semisal semut, kecoa, atau bahkan tomcat yang sering menggigit dan meninggalkan bekas merah gatal di kuliatku. Aku benar-benar tidak tega menjadi perantara peristiwa yang sangat menyakirkan itu, yaitu kematian. Hewan-hewan kecil juga punya nyawa kan? Itu artinya mereka juga akan merasakan rasa sakit ketika sakaratul maut dan aku tidak mau mereka mati gara-gara aku karena aku tau itu menyakitkan.

            Aku selalu bertanya-tanya, kapan kiranya kematian akan mendatangiku, seperti apa akhir hayatku nanti, seperti apa proses terlepasnya nyawa dari raga ini, dan membuat aku semakin takut. Aku selalu bertanya-tanya kenapa orang-orang begitu semangat mengejar dunia sedangkan akhirnya mereka semua akan mati dan dunia itu akan mereka tinggalkan. Bahkan pertanyaan paling ekstrem, kenapa aku harus lahir ke dunia jika akhirnya akan mati dan mengalami proses kematian yang menyakitkan itu? Tapi aku sangat bersyukur dilahirkan ke dunia sehingga aku bisa bertemu dengan orang tuaku, saudara-saudaraku, teman-teman, dan orang-orang yang hadir dan mewarnai hidupku. Akan tetapi rasa takut akan datangnya kematian tak kunjung hilang dan bahkan ketakutan itu semakin bertambah seiring bertambahnya usiaku. Hingga akhirnya aku menemukan sebuah video yang menjawab semua pertanyaan-pertanyaanku tentang kematian, apa sejatinya kematian itu, apa yang harus kita lakukan untuk menyambutnya, dan apa yang harus disiapkan untuk menghadapinya. Video ini membuatku semakin mencintai Allah, Nabi Muhammad, dan Al-Quran lebih dari apa pun. Semoga imamku nanti adalah orang yang juga mencintai Allah, Nabi Muhammad, dan Al-Quran lebih dari apa pun. Amiiin.

Advertisements

Membunuh Berhala

96349-0-663-382-55e8e0cba2afbde1071c4a3e“Kenapa sih kak harus ada olimpiade-olimpiade gitu?” tanya seorang siswa padaku suatu hari karena dia sepertinya sudah jengah dengan semua rutinitas yang dia jalani. Dia anak yang cerdas, tak hanya soal pelajaran tetapi di bidang olahraga pun dia mumpuni. Bahkan di umur yang menurutku sangat dini (read: SMA) dia sudah sangat paham apa itu pola makan yang baik, pengaturan asupan yang baik, pola hidup sehat. Tak hanya tahu, tapi dia juga mengaplikasikannya. Ini menurutku sangat luar biasa, di saat yang sama, ketika teman sebayanya banyak disibukkan dengan urusan hati yang sulit mereka kendalikan atau menjadi remaja hits yang posting foto kesibukan sana sini. Dia malah lebih tertarik untuk mempersiapkan masa depan karier dan kesehatannya di masa depan. Pun aku sangat kagum karena di umur segini pun aku sebenarnya sudah sedikit paham apa itu pola makan yang baik, pengaturan asupan yang baik, pola hidup sehat, tapi bedanya sangat sulit sekali bagiku untuk mengaplikasikannya. Banyak alasan yang ku buat, ah… entar aja deh ngatur pola makannya kan sekarang masih muda, ah… entar aja deh ngaturnya kan sekarang masih hidup sendiri, entar aja ngaturnya kalau udah nikah, ah… entar aja deh kan ini kan itu. Gitu aja terus sampe nggak kerasa tiba-tiba udah tua dan tiba-tiba udah sakit-sakitan, naudzubillah.

Kembali ke pertanyaan yang tadi. Setelah pertanyaan itu terlontar, banyak sekali jawaban yang muncul di kepalaku, aku harus bisa memilih satu jawaban yang tepat, tapi sayangnya aku bukanlah pemberi jawaban ulung, sama sekali tak bisa meyakinkan, sehingga sering sekali pertanyaan-pertanyaan bagus hanya berakhir dengan jawaban yang apa adanya. Ya harus gimana lagi, beginilah adanya aku. Setelah sekian detik berpikir, akhirnya ku jawab dengan jawaban yang bisa ditebak sendiri lah, ngasal dan ada apanya eh apa adanya,

“hm… kenapa ya? Ini yang kamu maksud olimpiade pelajaran apa bidang olahraga?” tanyaku, sengaja ku selipkan pertanyaan agar ada jeda lagi buatku untuk berpikir. Sebetulnya ini retoris, pertanyaan yang tak butuh jawaban. Tanpa bertanya pun sebenarnya aku udah tau jawabannya. Tapi ya hanya itu yang bisa aku lakukan untuk mengulur waktu hingga jawaban meyakinkan bisa ku dapatkan.

“ya dua-duanya kak, olimpiade pokoknya. Kenapa harus berlomba-lomba. Buat nunjukin bahwa kita yang terhebat gitu atau gimana?” tanyanya makin penasaran. Bahkan ditambah dengan satu pertanyaan lagi padahal pertanyaan sebelumnya belum bisa ku jawab. Yup, time is up, waktunya untuk menjawab pertanyaan, jangan sampai ngulur-ngulur waktu lagi, segera eksekusi, berikan jawaban segera dan kalau bisa meyakinkan.

“olimpiade itu diadakan sebagai tolak ukur, sudah sejauh mana sih kemampuan kita, sudah sejauh mana sih usaha kita, sudah sejauh mana sih posisi kita sekarang. Seandainya tak ada olimpiade maka kita tak akan pernah tahu bahwa masih ada langit di atas langit, kita tak akan pernah tahu posisi kita sebenarnya dimana dan selalu merasa bahwa kita adalah yang terbaik. Padahal mungkin kalau kita berlomba dengan yang lain, kita sebenarnya tak ada apa-apanya. Olimpiade itu ada agar kita bisa membunuh berhala-berhala yang tanpa sadar kita bangun sendiri akibat kekaguman pada diri yang berlebihan. Olimpiade membuat kita sadar bahwa usaha kita, perjuangan kita, pengorbanan kita belum ada apa-apanya” kataku panjang lebar. Entah dari mana jawaban itu muncul. Memberikan jawaban itu membuatku teringat pada diriku dulu. Kalau boleh jujur, aku benar-benar pernah membangun berhala-berhala itu, kagum berlebih pada diri sendiri. Tapi sekarang aku sadar, lebih tepatnya disadarkan, bahwa aku bukan siapa-siapa. Tak dapat dipungkiri bahwa setiap orang pernah melewati tahapan ini, membangun berhala. Atau mungkin ada yang belum dan berpotensi untuk membangunnya di masa depan. Saranku, bunuh segera berhala-berhala itu.

“oh… iya kak, gitu ya” begitulah tanggapan si adek yang tadi bertanya padaku. Entah dia terpuaskan atau tidak dengan jawabanku. Setidaknya tak ada pertanyaan lanjutan yang akan membuatku kembali memutar otak untuk mencari jawaban. Tapi tak disangka, pertanyaan lanjutan justru muncul dari diriku sendiri, seperti ini,

“iya kalau kita mengambil sudut pandang dari orang yang kalah dalam olimpiade itu. Bagaimana ceritanya jika kita menjadi orang yang terbaik di olimpiade itu? Bukankah itu malah akan jadi potensi membangun berhala yang lebih besar dalam diri?” itu pertanyaan lanjutanku. Iya juga sih, tapi mari sedikit merenung. Seorang juara sejati bukanlah orang biasa, mereka adalah orang yang telah mengalami banyak tempaan baik fisik maupun mental. Sehingga dia telah siap dengan mental juara yang telah dia bangun, bukankah padi yang makin berisi akan semakin merunduk? Seorang yang biasa-biasa sajalah atau dengan kemampuan tanggunglah yang akan membangun berhala dalam diri ketika menjadi juara. Seorang juara sejati tak akan melakukan itu semua. Lantas jika kitalah yang menjadi juara, maka itulah cobaan bagi kita, ujian bagi kita, sejauh mana kita tak menjadi jumawa. Karena kenikmatan dan kebahagiaan sebenarnya bisa jadi hadiah, cobaan, bahkan ujian. Yuk bersama-sama sadarkan diri, posisi kita sekarang, jabatan kita sekarang, kepercayaan yang kita punya sekarang, tanggung jawab yang kita emban sekarang, semua itu hanyalah titipan dan tak seharusnya kita membangun berhala dalam diri hanya karena itu semua. Tugas kita sebagai manusia hanyalah beribadah kepada Allah sehingga hanya padaNyalah kita menyembah dan meminta pertolongan. Jika telah terlanjur kau bangun, bunuhlah dan segeralah bertaubat. Jika belum, Alhamdulillah, semoga tak akan pernah. Memang sulit mengendalikan hati, jika mudah tak akan ada surga sebagai balasannya, kerena masuk surga itu bukan perkara mudah.

Ikutan Cashtree, Halalkah?

Gini… bahasan kali ini akan sedikit berat, menyangkut halal dan haramnya suatu hal. Jarang-jarang kan bahas bahasan berat di sini. Yuk… mari. Beberapa hari yang lalu setelah sholat dzuhur tanganku ditarik oleh seorang senior yang sepertinya punya urusan yang sedikit penting. Aku langsung menghadapkan diri ke arah badannya untuk tahu lebih lanjut, urusan apakah yang sebenarnya ingin dia bicarakan denganku. Dia langsung mengeluarkan handphonenya dan menunjukkan sebuah aplikasi yang menjadi alasan kenapa dia ingin mengobrol denganku. Dia mengajakku untuk iseng-iseng ikutan cashtree, aplikasi pulsa gratis. Cara kerjanya kayak gini. Setiap kali kita mengajak satu orang untuk menginstall aplikasi cashtree maka secara otomatis orang yang kita ajak akan mendapatkan poin pulsa Rp 1000, nah kita yang ngajakin bakalan dapet 10% dari orang yang kita ajak yang artinya kita mendapatkan poin pulsa Rp 100. Persenan 10% yang kita dapatkan juga akan bertambah ketika orang yang kita ajak melakukan aktifitas yang menghasilkan poin pulsa. Aktifitas semacam apakah? Jadi setiap kali kita unlock screen maka di sana akan tertera poin pulsa yang akan kita dapatkan. Kalau hari biasa biasanya Rp 10 sedangkan kalau weekend Rp 20.

5NeRqt_9

kalau udah unlocked, kita bakalan dapet notifikasi seperti di bawah ini

VEf9VwJ4

Poin pulsa juga bisa kita dapatkan dari beranda cashtree yang kadang menawarkan poin pulsa. Semisal kunjungi link di bawah ini maka kalian akan mendapatkan poin pulsa Rp 150 atau semisal install aplikasi ini maka kita akan mendapatkan poin pulsa Rp 1000. Aku biasanya langsung install aja aplikasinya tapi setelah dapet poin pulsa aku langsung uninstall tuh aplikasinya. Ini penampakan poin pulsanya,

Screenshot_2016-01-27-13-33-27

Poin tersebut bisa kita tukarkan dengan nominal pulsa, poin pulsa Rp 5500 setara dengan pulsa Rp 5000, Rp 11.000 setara dengan Rp 10.000 pulsa, dan seterusnya. Intinya ini semacam beli pulsa menggunakan poin. Ini juga analog dengan bisnis MLM (multi level marketing), makin banyak kita ngajakin orang maka makin banyak pula poin pulsa yang akan kita dapatkan. Orang yang kita ajakin juga ga boleh langsung install di playstore tetapi harus melalui link yang kita share biar orang yang kita ajakin jadi anak buah kita. Kalau ada yang berminat silahkan klik link di bawah ini, kalau berminat nih ya.

Mau dapat pulsa dengan cepat? Ayo gabung di cashtree!
★Download dan dapatkan Rp 1000 secara langsung!★ Install dan buktikan sendiri! Flash Cash: 27 Jan 14:?? WIB (Rp 599) https://invite.cashtree.id/rwswtu

                Aku udah berhasil nukerin pulsa Rp 5000.

Lantas… apa yang membuatku ragu? Ini karena pernyataan seorang rekan, ‘gratis sih gratis…. Masalahnya halal nggak?’ katanya. Aku langsung mikir dong, iya ya, halal nggak ya… padahal hokum MLM juga masih banyak perdebatan. Aku seakan-akan menjadi seseorang yang bertindak tanpa berpikir, berorintasi hasil tanpa dalil. Please… bagi yang mengerti, cashtree… halalkah?