Stasiun Pasar Senen

CIMG2311Ceritanya lagi pengen nulis banget, tapi lagi nggak galau. Emang orang nulis harus galau dulu? Kebanyakan tulisanku sih gitu. Dimulai dengan kegalauan yang entah darimana datangnya dan jreng jreng… tiba-tiba udah selesai aja tulisan yang siap diposting. Tapi aku nggak mau terus-terusan kayak gitu, masak harus nungguin galau dulu. Berarti banyaknya tulisan di blog ini harus sebanding dengan kegalauan yang aku rasakan? No no no, aku nggak mau. Galau di sini bukan melulu masalah hati ya, bisa juga galau masa depan yang entah dengan apa aku ke sana dan entah bersama siapa, hahaha. Tuh kan ujung-ujungnya emang bakalan ke situ juga, ya ke kamu juga, kamu… iya kamu (entah siapa kamu ini wkwkwk). Tetep sih mikirin kamu tapi nggak sekuat malam-malam sebelumnya hahaha #NgomongApaSih.

            Di bulan yang penuh berkah ini, di pagi yang sangat dini ini (aku liat jam sih udah jam 00.58), setelah nulis rencana studi buat studi pasca ku dan aku berharap rencana itu diridhai Allah sehingga tahun depan aku bisa benar-benar melanjutkan studiku aaamiiin, aku nggak bisa memejamkan mata entah karena apa. Malam-malam sebelumnya juga sampe selarut ini sih, tapi bedanya karena nonton film (lebih tepatnya dorama jepang yang entah darimana virusnya benar-benar menginfeksiku dengan sempurna). Tapi malam ini terasa lebih produktif karena aku telah berhasil menyelesaikan sebuah studi plan yang entah sejak kapan ku rencanakan untuk ku selesaikan. Produktifnya malam ini ku akui karena kultum yang ustadz tadi sampaikan, kurang lebih begini isinya ‘jangan pernah lengah dengan waktu luang, karena waktu luang itu penting dan genting’ dan –deg- itu bener-bener ngena ke aku karena aku sadar sudah berapa banyak waktu luang yang ku habiskan hanya untuk hal-hal yang memang ku tahu tak penting dan tak mendesak.

            Karena alasan itulah aku ingin menuliskan sebuah pengalaman yang menurutku unforgettable dan unbelievable. Perjuangan seorang freshgraduate yang sedang dalam transisi untuk mengganti status dari pengangguran menjadi berpenghasilan hahaha. Awalnya aku benar-benar tak tertarik untuk mengikuti seleksi untuk lowongan pekerjaan ini karena beberapa pertimbangan, pertama seleksinya di jogja (ongkosnya dong), kedua aku khawatir aku bakalan gagal (malu), ketiga sendirian (jomblo ya wkwkw). Tapi karena sifat plin planku yang sudah akut ini, akhirnya ku putuskan untuk ikut karena teman sepermainan bulu tangkisku menyanggupi untuk ikut bersamaku. Udah tuh beli tiket pulang pergi yang lumayan menguras isi dompet seorang pengangguran sepertiku kala itu. Tapi di luar dugaan, ternyata teman sepermainan yang tadi ku sebutkan memutuskan untuk tak jadi ikut karena dia ada panggilan untuk interview di Jakarta. Kesel sebel sih iya, tapi mau gimana lagi. Sebagai gantinya, dia mengutus teman sepermainannya untuk menemaniku karena ternyata dia juga tertarik pada lowongan pekerjaan yang ditawarkan.

Continue reading

Hipnotis Wireless itu Nyata Adanya

hipnotisAkhir-akhir ini jadi orang paling sensitif di dunia kalo ada yang nelponin. Apalagi kalo yang nelpon nomor telepon kantor, semisal 0251xxx, 021xxx. Deg-degan campur seneng gitu, kayak dapet telepon dari orang yang udah lama kita suka, kita kagumi, dan tiap sholat kita doain #ceileh. Pengen cepet diangkat tapi takut salah ngomong. Mungkin ini semacam sindrom yang dimiliki oleh para jobseeker. Satu hal lagi yang paling ditunggu, email masuk. Bawaannya seneng sumringah aja kalau ada email masuk, ya walaupun pas di cek ternyata email dari linkedIn atau mbak LinaJobstreet hahaha. Yup, I am a jobseeker right now and I proud of it. Kenapa? Karena dari sini aku belajar banyak hal, bahwa mencari uang itu sejatinya nggak mudah, membangun karier itu perjuangannya berdarah-darah, dan sesuatu yang luar biasa itu memang dimulai dari bawah. Jadi, haramkanlah kata menyerah keluar dari dirimu yang berjuang penuh gairah, atau mungkin pasrah menghadapi kehidupan yang begitu tak ramah. Bolehlah ucapkan kata pasrah, berserah pasrah hanya kepada-Nya yang maha pemurah, tapi dengan catatan telah  kau lakukan ikhtiar dengan susah payah. Bagaimana mungkin aku bisa menyerah dan hilang arah, sedangkan di saat yang sama banyak yang berjuang begitu susah payah untuk menunjukkan pada dunia bahwa mereka sama sekali tak goyah menghadapi dunia yang tak lagi ramah tamah. Ketika diri ini begitu lelah dan lemah, kembali diingatkan pada kalimat ini,

“kekacauan, keramaian, keamburadulan di lingkungan yang kamu diami sejatinya hanyalah beberapa meter di atas kepalamu. Cobalah dongakkan kepala ke atas, lihat beberapa meter di atasnya. Dunia begitu damainya, tak ada sama sekali kekacauan, keramaian, dan keamburadulan yang kamu rasakan di tempat yang kau pijak. Rasakan kedamaiannya. Jadi, kau hanya perlu dongakkan kepala ke atas saja, beberapa meter saja, maka semuanya akan berubah menjadi kedamaian”

Continue reading