Berhati-hati Di Hari Kedua

hati-hati*cerita ini agak jorok dan menjijikkan, jangan dilanjutkan membaca bagi yang tak suka dan tak siap. Entah apa motovasiku menulis ini. Aku nulis ini hanya buat arsip saja karena menurutku kejadian ini sulit untuk dilupakan.

            Entah sudah yang ke berapa kalinya aku berbagi rasa sakit yang konstan ku rasakan tiap bulannya. Kalau istilah medisnya sih PMS (pra menstruasi) yang dibagi menjadi PMS mayor dan minor. Aku pun kurang mengerti aku sudah sampai di kategori yang mana karena hingga umur yang hampir seperempat abad ini rasa sakitnya tak kunjung hilang. Aku pun tak pernah berniat untuk memeriksakannya ke dokter karena beberapa alasan. Pertama, aku takut, kedua aku takut, ketiga, aku takut hahaha. Dulu pas masih SMA sakitnya bisa sampai 5 hari dan makin ke sini rasa sakitnya berkurang menjadi 3 hari dan akhir-akhir ini menjadi 2 hari. Hari sakitnya berkurang tapi sepertinya intensitas rasa sakitnya masih sama. Jadi bisa dibayangkan, masanya makin pendek tapi intensitasnya sakitnya sama, sehingga rasa sakit yang ku rasakan semakin menjadi-jadi. Kalau dulu hanya sakit perut dan pinggang, sekarang menjadi rasa sakit perut, pinggang, kepala, dan muntah-muntah. Hari pertama tak ada rasa sakit yang terasa, hanya rasa ketar-ketir soalnya udah ketebak banget hari kedua pasti bakalan sakit banget. Banyak yang bilang ini semua salahku karena selalu mensugesti diri kalau hari kedua bakalan sakit. Beneran dah, ini semua bukan karena sugesti, aku pernah kok mensugesti diri kalau aku nggak bakalan ngerasain rasa sakit. Tapi tetep aja tuh sakitnya dateng-dateng aja.

            Dalam rangka untuk membuktikan hipotesis sugesti itu, berangkatlah aku ke Depok untuk membeli baju dari sebuah brand online yang kala itu sedang mengadakan diskon di store offlinenya. Yup, hari itu adalah hari kedua. Paginya udah kerasa nggak enak sih, tapi berhubung udah janjian sama saudaraku (read: kembaranku) buat beli tuh baju jadinya berangkat deh. Niat awalnya mau berangkat jam 07.00 soalnya kalau siang-siang suka gangguan commuternya kalau hari minggu. Eh… malah kesiangan, jadinya baru berangkat sekitar jam setengah sembilan. Sampai di stasiun Depok baru sekitar jam 10an lebih dan nunggu kembaranku yang tak kunjung datang. Sambil nunggu rasanya garing banget kalau nggak sambil makan atau ngemil makanan, maklum memamah biak wkwkwk. Tapi kok rada aneh ya, biasanya hari kedua tuh bakalan sakit, ini kok kayaknya baik-baik saja. Alhamdulillah sih. Aku mencoba untuk menganalisis, akhir-akhir ini aku sering makan daging sih, jangan-jangan selama ini aku kekurangan zat besi makanya jadi sering sakit perut. Karena alasan itulah, aku memutuskan untuk membeli roti maryam rasa daging dan susu rasa coconut delight yang akhir-akhir ini aku sukai dengan pertimbangan biar zat besi di tubuhku makin bertambah (sok iye banget gue analisisnya wkwkwk). Habis makan kedua makanan itu, mbak Dila tak kunjung datang. Aku menunggu sambil ngecas HP di sana. Ketika memperhatikan sekitar, tertujulah mataku pada seseorang yang terasa begitu familiar. Setelah aku timbang-timbang ternyata itu teman sekantorku yang juga punya tujuan sama. Tuh kan, kalau nggak janjian suka ketemu. Alhamdulillah jadi ada temennya. Tak selang beberapa lama, rasa sakit itu tiba-tiba datang tanpa permisi. Rasanya sakit banget, mual, pusing.

            Setelah mbak Dila datang, berangkatlah kita betiga ke tempat baju itu. Kondisiku udah nggak enak banget tapi tetep aja maksain buat ke tempat tujuan, nanggung banget udah sejauh ini. Pas nyampe di tempat tujuan, mereka berdua langsung milih-milih baju. Aku memasrahkan model bajunya pada kembaranku, apa yang dia suka nanti itu yang bakalan aku beli, aku di sana hanya duduk saja menahan rasa sakit. Hal yang paling aku butuhkan kala itu hanyalah bantal, guling, kasur, dan selimut. Setelah cukup lama duduk, aku tiba-tiba mual dan benar-benar tak bisa ditahan. Segeralah mbak Dila memberikan selembar plastik padaku. Aku langsung ambil posisi ke pojokan yang sepi orang di luar toko dan langsung muntah di sana (maaf menjijikkan, huhuhu). Kenapa nggak di kamar mandi? Kata mbak Dila di toko itu mbaknya judes dan galak, mending nggak usah berurusan dengannya. Duuh… pas banget dah momennya, lagi nggak enak badan dan bertandang ke toko orang jutek dan judes. Setelah mengeluarkan semuanya, akhirnya aku berjalan agak jauh banget untuk mencari kamar mandi dan bertemu dengan sebuah kamar mandi di depan indomaret. Alhamdulillah mbak yang jaga tokonya (yang jualan jus) mengijinkanku untuk memakai kamar mandinya (terimakasih mbak, semoga kebaikan mbak dibalas oleh Allah, amiiin).

            Setelah bersih-bersih, kembalilah aku ke toko itu dan mereka belum selesai memilah milih baju. Tak selang berapa lama, aku kembali ke luar toko dan duduk di luar saja karena kondisi badanku kembali tak menentu. Serangan mual kembali datang dan kali ini dengan kekuatan yang lebih besar, ditambah lagi aku tanpa persiapan apa pun untuk menghadapinya. Jadilah aku lari tunggang langgang ke samping toko dan langsung muntah di sana dan ternyata setelah aku kembali sadar, kerudung dan bajuku juga kena (huhuhu, jorok banget). Kita pun langsung memutuskan untuk pulang saja. Mbak Dila nyaranin buat ke stasiun sekalian bersih-bersih dan ganti baju baru yang baru aja di beli. Pas nyampe kamar mandi stasiun, aku pun kembali muntah. Duh… kondisi badanku emang bener-benar lagi nggak enak banget waktu itu. Aku malu banget, bahkan pas nulis ini pun rasa malunya masih kerasa. Aku malu banget sama teman sekantorku itu. Bahkan pas aku nanya mbak Dila, ‘kamu malu nggak kalau jadi aku?’ tanyaku. ‘ya malu banget lah, masak nggak bisa ditahan sih?’ jawabnya enteng. Ya aku bisa apa, itu benar-benar di luar kendali aku. Aku juga nggak mau ini terjadi padaku. Benar-benar harus berhati-hati di hari kedua. Jangan pergi kemana-mana kalau nggak mau kejadian memalukan semacam ini terjadi lagi. Nggak lagi deh keluyuran di hari kedua. Itu juga yang jadi alasan aku nggak mau dijadiin yang kedua eaaaa. Teteup ya, nyambungnya ke sana juga hahaha.

Hilangnya Rasa Aman

http://www.parenting.co.id/img/images/x39e8b41fb4f3dbd8397e2d141d9a88b6.jpg.pagespeed.ic.YZFZVM0-C9.jpg

Entah sejak kapan ingin menuliskan banyak hal di sini. Tapi, akhirnya hanya berakhir dengan tak menuliskan apa pun. Benar apa kata tahu bulat ‘mending dadakan, soalnya kalau direncanain suka nggak jadi’. Pertempuran dengan rasa malas situ akhirnya ku menangkan dini hari ini, tepatnya jam 03.19 pagi di akhir bulan Februari tahun 2017, ya 28 Februari. Cerita kali ini tentang kejadian yang baru-baru ini terjadi padaku, bukan hal penting sih, tapi sedikit horror. Sebelumnya aku pernah menuliskan peritiwa pembobolan tetangga kosanku di tulisan ini. Bisa kalian tebak kan, ya… pembobolan itu akhirnya terjadi padaku. Seakan-akan si pencuri ini telah menetapkan targetnya untuk menjadikan kosan ini sebagai sumber mata pencahariannya. Bisa dibilang begitu, sekarang giliranku untuk merasakan pahitnya kehilangan, kehilangan rasa aman.

            Pulang kerja seperti sebelumnya, tak ada yang aneh dan janggal. Setelah membeli makanan untuk mengisi perut, aku putuskan untuk kembali ke kosan. Cukup lama aku berputar-putar hanya untuk membali makanan, maklum anak kosan yang tak masak sendiri pasti merasakannya. Kebosanan akan makanan yang itu-itu saja. Setelah semuanya selesai, kembalilah aku ke kosan. Kebetulan kamarku terletak di lantai dua sehingga dari jarak yang agak begitu jauh pun aku bisa memperhatikan nyala lampu di kamarku. Eh… sebentar, seingatku aku tak pernah menyalakan lampu dan aku ingat betul ketika berangkat tadi pagi aku benar-benar tak menyalakannya. ‘Ah… mungkin lupa’ pikirku menghibur diri. Hari itu aku hanya berdua dengan tetangga kosan karena teman sekamarku sedang pulang ke rumahnya di Bandung. Naiklah kita berdua ke lantai dua, lantas setelah ku perhatikan dari jarak sekitar lima meter ternyata pintu kamarku telah terbuka. Lututku pun langsung lemas seketika. ‘Pintu kamarku’ kataku lemah. Tetangga kamarku mengira aku hanya bercanda, tapi ketika dia mengalihkan pandangannya ke pintu kamarku, dia pun juga terkejut.

            Aku pun langsung bergegas masuk ke kamarku. Layaknya di sinetron-sinetron, barang-barang di kamarku berantakan habis diacak-acak sama si maling. Aku langsung kehilangan selera makan, ku letakkan makanan yang ku beli begitu saja. Ketika akan mengambil HP, ternyata HPku tak tau ada dimana. Aku pun langsung sadar, sepertinya tertinggal di tempat aku beli makanan tadi. Makin menjadi-jadilah detak jantungku. Aku pun meminta tetangga kamarku untuk menjaga kamarku dan aku langsung bergegas mengambil sepeda dan balik ke tempat penjual makanan. Alhamdulillah HP ku masih tergeletak manis di meja untuk pembeli. ‘Mbak saya ambil HP ya, tadi ketinggalan’ kataku, ‘duh… untung belum ada yang beli lagi’ jawab ibunya. Aku langsung bergegas ke kontrakanku untuk mengecek barang-barang apakah yang hilang. Setelah sampai di depan kosan aku berteriak pada temanku di lantai dua, ‘aku ke pak RT dulu ya, mau laporan’ kataku.

            Sesampainya di pak RT ternyata pak RT nya sedang tidak di rumahnya, sedang ada urusan di luar. Aku pun menitipkan pesan pada anaknya bahwa telah terjadi insiden pembobolan di kosanku. Aku pun langsung menuju kosanku. Rasanya pengen nangis, marah, kesel, teriak dalam waktu bersamaan. Seakan-akan privasiku ternodai. Pernahkan kalian merasa ingin mengadu dan meminta perlindungan atas kedzaliman yang terjadi pada kalian tapi seakan-akan tak ada orang yang bisa untuk melakukannya. Bisa saja aku langsung menelpon orang tuaku kala itu tapi apa iya dengan mengadukan semuanya pada mereka akan menyelesaikan masalah ini? Masalah tak terselesaikan, malah hanya memberikan beban-beban baru pada orang tua kita yang mungkin juga sedang banyak sekali masalah. Menuliskan kalimat tadi membuatku merasa sudah benar-benar dewasa sebagai anak hahaha. Aku masuk ke kamar dengan ekspresi wajah campur aduk. ‘aku pengen nangis’ kataku pada tetangga kosanku. Aku mengecek barang-barang di kosanku, melihat dan meniliti kira-kira barang apakah yang maling itu ambil. Barang-barangku tidak ada yang hilang karena laptop selalu aku bawa tiap harinya dan aku memang tidak punya barang berharga lain hahaha #miris.

            Tetangga kosanku menyarankanku untuk memberitahu ibu kosan keesokan harinya. Tapi aku tak setuju dengan idenya, kalau kita lapornya besok, seakan-akan kita pasrah akan kedzoliman ini dan aku tidak bisa membiarkan ini. Selain itu, kalau besok, artinya peristiwa ini menjadi tidak aktual dan terkesan basi. Aku pun langsung kembali mengambil sepeda dan mengayuhnya ke rumah ibu kosan. Beliau kebetulan sedang pergi umroh, jadilah aku menemui bapak kosan. Beliau langsung naik pitam karena hanya selang beberapa minggu, malah terjadi lagi pembobolan di kosannya. Kan nantinya bakalan buruk juga buat image kosannya, jadi branding kosan sering dibobol. Beliau langsung memanggil keluarga dan tetangga di sekitar kosanku. Jadilah kosanku rame banget kala itu. Kayak abis ada hajatan. Aku pun banyak ditanyai ini itu. Aku sedikit terobati dengan banyaknya orang-orang ini, setidaknya rasa sendirian dan tak ada tempat mengadu menjadi tak terasa lagi.

Setelah aku menghubungi teman sekosanku dan mengecek semua barang-barang, taukah kalian apa yang hilang? Maling itu sungguh receh. Mengapa aku bilang demikian? Jadi ceritanya teman sekosanku punya kebiasaan ngumpulin koin seribuan di dompetnya, ada sekitar 30.000an. Yup, barang itu yang diambil, benar-benar receh bukan? Padahal ya, di lemari itu ada dua dompet. Satunya uang receh dan satunya lagi uang kertas yang tentunya nominalnya lebih banyak. Mungkin saking buru-burunya kali ya, mungkin yang ada di pikirannya, daripada nggak dapet sama sekali, receh pun jadi. Antara kesel dan kocak sih ya peristiwa pembobolan di kosan ini. Tapi, ada satu hal penting yang benar-benar hilang, yaitu hilangnya rasa aman. ‘Makanya segera cari seseorang yang bisa memberikan rasa aman’ kata atasanku yang sukses membuatku terdiam dan pegawai lain tertawa ketika aku menceritakan peristiwa pembobolan ini. ‘Ok pak, Noted it!’ kataku, padahal dalam hati mah ‘cariin dong makanya’ eaaa.

Jadilah malam itu aku tidur dengan rasa parno yang luar biasa menghantui. Engsel pintu kosanku rusak dan baru akan diperbaiki keesokan harinya. Kebetulan banget sendirian dengan peristiwa sehoror ini, komplit horornya. Aku takut malingnya kembali. Jadilah aku memutuskan untuk mengganjal pintuku dengan galon yang kebetulan baru aku beli sehingga isinya masih penuh. Aku pun tidur di dekat galon itu, ya aku tidur di dekat pintu dengan pertimbangan kalau ada orang yang mau masuk aku bisa langsung merasakannya dan bisa langsung terbangun. Benar-benar kejadian yang tak kan pernah terlupakan dan tak kan pernah pula mau diulang. Buat kalian yang baca tulisan ini, berhati-hatilah, karena kejahatan tidak hanya terjadi karena niat pelakunya tetapi juga karena ada kesempatan. Waspadalah… Waspadalah (bang napi banget, wkwkwkwk).

Pendongeng

danbo-menikahBanyak sekali yang terjadi beberapa minggu ini tapi rasanya berat sekali untuk menuangkannya dalam bentuk tulisan. Rutin sih ngunjungin blog tapi hanya sekedar lihat-lihat saja sebentar lantas setelah itu close tab. Membaca tulisan blogger yang lain pun amat sangat jarang. Sesekali ku baca beberapa tulisan yang judulnya menarik, memberikan satu dua komentar untuk satu dua tulisan lantas setelah itu sama seperti sebelumnya close tab. Benar-benar tak ada niatan untuk mencurahkan kisah sendiri di blog. Sepertinya kejenuhan ini telah merajai diri. Hari ini memaksakan diri untuk menulis karena rasanya hampa sekali kalau tiap kali buka blog, tulisan teratasnya itu-itu saja. Sama jenuhnya diriku dengan banyaknya postingan foto pernikahan teman-teman yang membanjiri hampir semua media sosial yang ku miliki. Bukan jenuh juga sih lebih tepatnya kepengen hahaha. Cerita tentang cinta dan pernikahan sepertinya memang tak aka nada matinya. Karena cinta dan pernikahan memang tak akan pernah mati selama pelakunya (read: manusia) masih tetap eksis di dunia. Kisah cinta yang lantas berakhir di pernikahan banyak sekali modelnya, ada yang awalnya tak kenal tapi berujung di pernikahan, bahkan mungkin awalnya bermusuhan tapi ujung-ujungnya nikah juga. Kali ini aku akan bercerita kisah cinta menuju pernikahan yang menurutku antimainstream banget.

Mudik lebaran tahun 2015 kemarin

            Kala itu aku mudik sendirian, benar-benar sendirian, tak ada yang menemani, semoga mudik tahun ini nggak sendirian lagi hahaha #ngarep. Bawaanku standar-standar saja, koper ukuran sedang, tas ransel, dan satu plastik berisi makanan dan camilan. Ku langkahkan kaki ke ruang tunggu pemberangkatan para penumpang kereta api di stasiun senen. Ada yang berbeda di ruang tunggu kala itu. Ada segerombolan kakak-kakak yang sepertinya sibuk mempersiapkan seperangkat alat pementasan. Hal ini semakin diperkuat dengan posisi gerombolan kakak-kakak itu tepat di depan jajaran kursi tunggu para penumpang. Di sana juga berserakan balon-balon dan properti pementasan. Benar saja, mereka adalah relawan (aku lupa nama perkulpulan relawan itu) yang tujuannya adalah memberikan hiburan bagi anak-anak yang akan ikut mudik bersama orang tuanya. Tema yang mereka bawa adalah “mudik ramah anak”. Kegiatan itu sepertinya bekerja sama dengan PT. KAI yang dilatarbelakangi keprihatinan mereka akan anak-anak yang banyak terlantar karena orang tua mereka sibuk mengangkat barang-barang yang ingin mereka bawa mudik. Menarik sekali kegiatan para relawan ini, pikirku kala itu. Ketertarikanku pada kegiatan relawan ini semakin menjadi-jadi ketika mereka memulai pertujukan, mereka mendongeng. Duuuh…. Lucu banget bikin ketawa tak henti-henti. Padahal aku udah gede loh, banyak anak kecil yang mulai mendekat ke depan, anak-anak itu juga tertawa renyah. Ketika pertujukan dongeng telah hampir selesai, mereka memperkenalkan diri satu per satu dan aku benar-benar terperangah ketika mereka memperkenalkan ketua dari perkumpulan itu. Seorang mas-mas yang masih sangat muda, paling muda malah di antara para pendongeng yang lain (kalau diliat dari wajahnya ya) dan ada nilai tambahnya lagi, mas-masnya ganteng hehehe. Biasanya kan orang ganteng tuh jaim ya, tapi si mas-masnya keren banget pas ngedongeng, pantesan beliau jadi ketua. Ku fotolah si mas-mas itu dan ku share ke saudara kembarku untuk menceritakan kejadian yang ku alami kala itu. Fotonya sepertinya masih ada di HPku tapi males banget yang mau ngobrak-abrik lagi soalnya udah lama banget. Tapi ini ceritanya benaran kok, jadi no picture belum tentu hoax ya hehe.

            Pas aku udah kirim tuh foto ternyata tanggapan saudara kembarku bikin aku tuh ngerasa dunia sempit banget.

“ih… itu kan mas Ojan” katanya.

“seriusan kamu kenal? Iya sih tadi pas perkenalan dia bilang namanya kak Fauzan” jawabku.

             Benar-benar dunia sempit kan. Ternyata kakaknya itu satu kantor sama kembaran aku. Beruntung banget dia sekantor sama kakak yang berbakat dan ganteng macam kak Ojan. Lantas semuanya berakhir begitu saja. Cerita tentang kak Ojan kembali berlanjut ternyata.

Di kosan kembaranku kemarin, Desember 2016

            Entah virus atau wabah dari mana, banyak orang-orang di sekitarku yang sedang sangat digandrungi sinetron india Mohabbattein yang pemeran utamanya kalau nggak salah Ishita dan Raman. Tak hanya perempuan (read: emak-emak) tapi juga ternyata laki-laki pun sama. Aku telah berkali-kali mencoba untuk ikut nimbrung nonton tapi ya nggak suka-suka, biasa aja. Emang pada dasarnya aku kurang suka nonton TV sih. Pas kebetulan lagi main ke kosan kembaranku kemarin, semuanya lagi pada nonton TV, aku iseng-iseng ikut aja daripada nggak ada kerjaan. Tetiba saja aku terlibat obrolan perihal pernikahan dengan teman-teman kosan mbak Dila yang lagi nonton TV itu. Teman sekosannya kembaranku bercerita tentang temannya yang Alhamdulillah telah hamil setelah menunggu selama 10 tahun lebih menikah. Wah… sangat membahagiakan sekali karena apa yang mereka tunggu akhirnya datang juga. Hal yang membuatku semakin terperangah adalah karena 10 tahun lebih itu dijalani dengan orang yang berbeda, maksudnya? ceritanya gini.

            Teman sekosan kembaranku ini punya temen. Nah temannya ini telah menikah 10 tahun lamanya tetapi belum juga dikaruniai keturunan. Entah karena masalah apa akhinya mereka memutuskan untuk bercerai. Nah… selang beberapa tahun, si mbak ini dilamar sama rekan satu kerjanya yang umurnya 10 tahun di bawah dia dan dia belum pernah menikah sebelumnya. Lebih mencengangkannya lagi, setelah enam bulan menikah akhirnya si mbak ini hamil, Alhamdulillah. Luar biasa sekali bukan. Berkat kesabaran akhirnya si mbak ini dikaruniai keturunan. Bukanlah waktu yang sebentar menunggu lebih dari 10 tahun. Aku tak henti-hentinya berkata ‘wah… keren banget ya mereka’. Karena penasaran, akhirnya aku memutuskan untuk melihat seperti apa pasangan yang sedang berbahagia itu. Pas aku lihat, ternyata mereka pasangan yang serasi, si laki-laki ganteng dan si perempuan cantik, tak terlihat perbedaan umur yang cukup jauh di antara mereka berdua. Aku merasa tak asing dengan wajah si laki-laki, berasa pernah lihat dimana gitu ya. Pas lihat foto yang kedua akhirnya aku sadar siapa si laki-laki itu,

“lah… ini kan mas ojan yang dulu dongeng di stasiu bukan?” tanyaku antara percaya dan tidak.

“iya… itu mas ojan yang sekantor sama aku. Kata Dila (read: kembaranku) kamu pernah cerita mas Ojan yang dongeng di stasiun kan ya” jawab teman sekosan mbak Dila.

            Tuh kan dunia benar-benar sempit, ternyata pendongeng yang pernah ku kagumi itu telah menikah dengan cerita pernikahan yang tidak biasa. Terlihat jelas bagaimana rona kebahagiaan terpancar dari pasangan itu. Barokallah mas Ojan dan istri, walaupun kalian tak mengenalku tetatpi kisah kalian berdua benar-benar mengispirasiku, bukan untuk ku tiru tapi untuk ku ambil hikmah dari jalan cerita yang telah kalian torehkan. Bahwa kesabaran akan selalu berbuah manis pada kahirnya walaupun pahitnya seringkali mewarnai awalnya. Semoga kelak anak yang dinanti-nantikan ini menjadi anak yang sholeh/ah, berbakti kepada kedua orng tua, mengharumkan nama agama, bangsa, serta berguna bagi orang-orang di sekitarnya. Amiiin.

Rumor yang Menyakitkan

twit2“dug…dug…dug… centraaaang” bunyi benda mengenai dinding, seperti bunyi badan yang dihantamkan ke dinding diikuti bunyi piring yang dibanting. Sukses membangunkanku dari rutinitas tak sehat yang hingga detik ini belum bisa ku tinggalkan, tidur pagi. Ku buka mata langsung melihat ke arah teman sekosanku yang pada saat yang sama juga sedang memandang ke arahku.

            “bunyi apaan mbak?” tanya kita berdua hampir bersamaan. Kita sama-sama bertanya dan sama-sama menggeleng karena memang sama-sama bingung dan tak tahu apa yang terjadi. Kita pun langsung bergegas ke jendela untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. Ketika membuka jendela, tak hanya suara hantaman benda yang terdengar tetapi juga diikuti teriakan dan perdebatan layaknya orang yang sedang berselisih pendapat. Suaranya terasa sangat dekat. Awalnya kami berdua mengira di lantai bawahlah peristiwa perdebatan yang cukup layak disebut ‘pertengkaran’ itu terjadi. Bukan tanpa alasan perkiraan ini muncul karena memang di lantai bawahlah cukup sering terjadi perdebatan yang beberapa kali berhasil menarik perhatian kami berdua. Setelah menfokuskan pendengaran dan didukung dengan intonasi suara yang semakin menguat maka dapat kami simpulkan bahwa sumber suara berasal dari kamar di sebelah kamar kami. Entah apa yang mereka perdebatkan. Apapun itu semoga semuanya akan baik-baik saja dan semuanya memang akhirnya semakin mereda dan suara nyaring tadi perlahan-lahan menghilang. Tapi, rasa shock yang kami berdua rasakan tak semudah itu menghilang. Bahkan sudah umur segini pun, kencangnya suara akibat pertengkaran benar-benar sukses membuat kami trauma, entah setrauma apa jikalau anak kecil polos yang mendengarkannya. Hikmah yang bisa diambil dari kejadian ini, janganlah pernah bertengkar di depan anak-anak, kalian tak pernah tau kan bagaimana berantakannya neuron-neuron otak mereka dan jejak-jejak trauma itu akan menjadi beban untuk mereka pikul entah sampai kapan. Kembali ke peristiwa pertengkaran tadi, siapakah gerangan penghuni kamar sebelah? Merekalah subjek utama yang akan aku ceritakan di cerita ini. Bukan bermaksud untuk membuka aib orang, sungguh aku tak bermaksud begitu, aku hanya ingin berbagi kisah yang lantas bersama-sama bisa kita ambil hikmahnya.

            Mereka adalah sepasang suami istri yang baru seumur jagung menikah, tak berlebihan jikalau ku bilang pasangan pengantin baru. Kami berdua diundang ketika mereka berdua menikah tapi sayangnya kami tak bisa datang karena satu dan lain hal. Pertetanggaan dimulai ketika si teteh belum menikah kala itu. Hubungan baik kita jalin sehingga tak jarang kami sering diberi makanan sama si teteh. Pernah suatu ketika, pas bulan Ramadhan, aku ingat sekali, kala itu aku sendirian di kosan dan sedang benar-benar tak enak badan. Ku beli makanan seadanya untuk berbuka puasa, benar-benar sedih rasanya, sakit sendirian di kosan di bulan Ramadhan. Ketika adzan berkumandang ada yang mengetuk pintu kamar kosan, dengan langkah berat ku langkahkan kaki ke pintu dan ketika ku buka pintu ternyata teteh sebelah menenteng sebuah plastik yang cukup besar,

“ini teh buat buka puasa” katanya padaku. Aku pun langsung menerimanya dengan kesadaran yang tak sepenuhnya penuh.

“terimakasih banyak teh” kataku berterimakasih. Ketika ku buka, di dalamnya ada dua kotak nasi bebek favoritku dan dua bungkus kurma. Mungkin si teteh mengira mbak kosanku ada, padahal kala itu dia sedang pulang ke rumahnya.

            Itulah sedikit gambaran bagaimana baiknya si teteh tetangga kosanku. Setelah menikah, si teteh tinggal bersama suaminya, di sebelah kamarku. Itu kami ketahui ketika kami memberikan kado sebagai hadiah pernikahan pada mereka berdua. Kala itu terlihat jelas seperti apa raut bahagia pasangan baru itu, si teteh dan suaminya. Itulah mengapa kami begitu shock ketika mendengar hingar bingar di sebelah, antara percaya dan tidak. Aku sedih dan menyayangkan, kenapa harus berdebat pendapat hingga sekeras itu, jikalau memang ada yang tak disuka atau kurang pas kenapa tak dibicarakan baik-baik. Gampang sih menjadi komentator sepertiku, pengamat sepertiku, dan tak ada jaminan pula aku tak akan bersikap yang sama jika berada di posisi mereka. Aku berdoa semoga aku kelak bisa berpikir jernih ketika sedang marah sehingga apa yang ku dengarkan pagi itu tak akan aku lakukan, amin. Tapi tetap saja aku sedih karena aku tau suara itu cukup keras untuk didengar oleh tetangga yang lain.

            Beberapa hari setelah itu, tepatnya hari selasa kemarin, sepulang dari tempat kerja, kudapati banyak orang berkumpul di depan kosanku, lebih tepatnya di depan kamar si teteh dan suaminya. Aku kaget bukan kepalang, jangan-jangan mereka bertengkar lagi, pikirku kala itu. Aku pun mendekat ke kerumunan orang itu dan bertanya, ternyata telah terjadi pencurian di kamar si teteh dan suaminya. Orang-orang di sana menyarankanku untuk mengecek kamarku takutnya ada barang yang hilang. Aku tak terlalu khawatir karena memang tak ada barang berharga di kamarku dan memang benar tak ada posisi barang di kamarku yang berubah ketika terakhir kali ku tinggalkan. Aku sedih sekali atas apa yang menimpa si teteh dan suaminya. Barang-barang yang hilang adalah 3 buah laptop dan sebuah TV plasma 29 inc. Hal yang janggal adalah pintu kamar si teteh dan suaminya benar-benar tak rusak sama sekali, seakan-akan dibuka menggunakan kunci duplikat. Aku benar-benar tak habis pikir sama si pencuri, bagaimana dia bisa sehebat itu, membuka tanpa merusak pintu sama sekali. Si teteh berniat untuk membuat laporan ke polisi dengan tujuan agar si pencuri ditangkap dan jera sehingga tak meresahkan masyarakat yang lain, masalah barang katanya sudah dia ikhlaskan. Kalau tak salah pak polisi datang sekitar jam 11.an malam, aku sudah mau tidur kala itu sehingga tak keluar kamar. Banyak perkiraan yang muncul dan ada satu rumor yang membuatku benar-benar kaget, tak percaya, dan sedikit menyakitkan jikalau si teteh dan suaminya kelak mendengarnya.

            Rumor yang menyakitkan itu adalah banyak yang berpikir bahwa yang menjadi otak pencurian itu adalah suami si teteh sendiri. What the food? Kok bisa mereka berpikiran seperti itu? Aku yang mendengarnya saja kesel bukan kepalang entah bagaimana jikalau suaminya si teteh yang mendengarnya. Mereka berpikir seperti itu bukan tanpa dasar katanya. Menurut mereka, hal itu bisa saja terjadi karena pintu kamar mereka benar-benar tak rusak sama sekali, mereka berdua sering ribut, dan suaminya si teteh yang terlihat seperti ‘tak bekerja’. Ya Allah, tega banget ya mereka, bukannya si suaminya teteh juga diambil laptopnya, nggak mungkin dong dia ngambil punya dia sendiri. Lagian buat apa juga, bukannya kalau sudah suami istri maka semua barang yang ada adalah milik bersama? Terus kalau masalah ‘tak bekerja’, lah… bukannya jaman sekarang bekerja itu tak harus keluar rumah? Bisa aja si suaminya teteh kerjanya di depan computer yang notabene itu tak harus keluar rumah. Hal ini juga didukung dengan background pendidikan beliau yang ku tahu berhubungan dengan computer. Hanya satu yang tak bisa ku elak, yaitu pertengkaran yang kerap mereka lakukan. Seharusnya mereka tak harus berdebat pendapat hingga sampai terdengar orang lain, hingga terdegar ke tetangga sehingga melahirkan rumor-rumor yang menyakitkan seperti itu. Ya Allah lindungilah hamba, keluarga hamba, teman-teman hamba, dan orang-orang yang membaca tulisan ini dari rasa marah yang tak terarah, emosi yang tak terkendali, dan rasa kesal yang menghujam diri yang bisa membuat kita lupa akan hakekat dan kondisi diri dan sekitar, sehingga kami masih bisa berpikir jernih ketika emosi mendidih, bersikap wajar walau rasa marah sedang menajalar, dan menahan lisan untuk senantiasa berkata baik walaupun kondisi diri sedang tak baik. Amin.

Hei… Dia Kembali!

kata-bijakSudah lama blog ini seakan mati suri tanpa penghuni. Aku ada tapi seakan meniadakan diri. Apakah gerangan yang terjadi? Banyak, mulai dari yang datang terus menghilang, sampai yang menghilang lantas tiba-tiba datang. Dampak dari keduanya tentunya berkebalikan, ada yang senang namun tiba-tiba muram dan yang awalnya sedih berurai air mata menjadi senang tiada tara. Bagian manakah yang sebaiknya kuceritakan kali ini? Aku sedang tak ingin berbagi duka maka akan kuceritakan penggalan cerita bahagia. Aku pernah menuliskan kisah mereka berdua dengan judul Menjanjikan Janji. Kisah yang banyak menimbulkan komentar betapa tak bertanggungjawabnya si Rangga pada si Cinta. Ingin tahu kisah sebelumnya, silahkan baca dulu, jikalau tidak berkenan ya tak jadi masalah. Tapi biar greget, baca dulu lah ya, ya…ya… ya… #maksa hahaha.

Rangga yang dulu menorehkan luka tiada tara di hati Cinta, tiba-tiba kembali menghubungi si Cinta. Hei… dia kembali. Kalua kalian ada di posisi Cinta, apa gerangan yang kalian lakukan? Beberapa teman sekantorku berkomentar,

“aku sih nggak bakalan nerima lagi mbak, masak udah ditinggalin gitu, tiba-tiba mau balikan. Nggak inget apa perbuatan dia yang sebelumnya”

“aku juga, kayak nggak ada orang lain aja”

            Aku mengangguk-angguk saja kala itu, kemudian salah satu di antara mereka menambahkan,

“tapi mereka udah terlalu lama ya. Susah emang kalau udah lama banget”

            Nah, di situ poinnya, melupakan ‘orang lama’ itu bukan perkara gampang. Apalagi dia datang dengan niatan untuk memperbaiki segalanya. Hal itulah yang menjadi pertimbangan si Cinta. Rangga kembali saja dia sudah senang bukan kepalang, ditambah lagi dia kembali tak hanya kembali tapi dengan niatan untuk menggenapi. Maka menguaplah semua catatan hitam yang pernah Rangga torehkan di hati si Cinta tanpa bekas. Tapi, kali ini dia tak mau menggantungkan harapan terlalu tinggi, bahagia menggebu-gebu, dia bersikap seolah-olah semuanya biasa-biasa saja. Tuhan maha membolak balikkan hati manusia, siapa tahu nantinya si Rangga kembali berubah pikiran dan pergi seperti sebelumnya. Tapi, seseorang pernah berkata, ‘jikalau seseorang yang pergi meninggalkanmu lantas datang kembali, maka kau adalah orang yang benar-benar berarti baginya. Kembalinya dia karena dia sepenuhnya sadar bahwa meninggalkanmu adalah kesalahan besar’. Iya sih, ada benernya juga, soalnya nih ya, kalau lagi beli baju nih di pasar terus nawar kan ya. Kalau sama si penjualnya nggak dikasih terus kita pura-pura pergi, kalau nggak dipanggil lagi, kita bakalan balik lagi dan bajunya langsung dibeli soalnya kita tahu tuh baju emang segitu harganya dan kitanya emang tertarik banget sama tuh baju. Analoginya kurang romantis yak, hahaha. Kejadian itu sih yang tiba-tiba terlintas di pikiran.

            Tulisan ini ditulis bertepatan dengan hari raya iedul adha, hari raya kurban. Berkurban sangat dianjurkan bagi yang mampu. Nah hari ini pula si Rangga bertamu ke rumah si Cinta untuk bertemu orang tuanya. Menyampaikan niat baiknya untuk meminang si Cinta. Datangnya si Rangga masih sebatas bertamu saja, dia hanya berdua dengan temannya, menyampaikan niat baiknya, jikalau memang diberi lampu hijau (dan Alhamdulillah sudah) maka in shaa Allah bulan April tahun 2017 bertepatan dengan ulang tahun si Cinta, si Rangga akan melamar si Cinta. Katanya sih sekalian kado buat si Cinta, ah… co cwiiiit. Sangat senang mendengar kabar gembira ini sekaligus menjadi saksi hidup atas lika liku kisah mereka yang in shaa Allah happy ending, Amiiin. Barokallah ya mbak, sebagai teman sekosanmu aku juga ikut senang kalau kamu senang, dan ikut sedih kalau kamu sedih. Aku berdoa semoga semuanya dilancarkan hingga hari H nanti, hari dimana kau tak kan lagi sendiri, tergenapi, dan menggenapi sebagai seorang istri yang akan taat pada suami hingga maut memisahkan nanti, amiiin.

Menjanjikan Janji

broken_promises_by_herrfousMari sejenak introspeksi diri, kira-kira sudah berapa janji yang telah kita buat tapi tak kita tepati? Ku menyebutnya, menjanjikan janji. Hal apakah yang kau lakukan tatkala janji itu tak sempat atau bahkan tak bisa kau tepati? Pastilah kata maaf yang terucap tak henti-henti. Baiklah, taruhlah saja mulut menerima ucapan maaf itu, lantas bagaimana dengan hati? Aku tak bisa menyanggupi, karena kadang hati berbeda sekali dengan yang tampak pada diri. Kau harus tahu itu, ketika kau berjanji, maka sesungguhnya bagian yang paling tersentuh dan berharap adalah hati, jikalau janji tak tertepati maka kepada hatilah seharusnya kau meminta maaf berkali-kali. Tapi masalahnya kadang hati telah terlampau berekspektasi tinggi, maka luka hati tak kan semudah itu terobati.

            Malam kemarin terasa begitu panjang, karena aku sedang tak enak badan dan teman satu kosanku pun juga begitu, sedang tak enak juga, tapi dia lebih parah, dia sedang tak enak hati. Aku merasa bingung harus bagaimana karena aku belum pernah merasakan rasa sakit yang satu ini (semoga saja tidak akan). Jadi ku memutuskan untuk menjauhkan diri, ku biarkan dia bertemankan kesenduan dalam diri karena aku tahu, solusi bukanlah sesuatu yang diperlukan dalam hal ini. Air matanya terus mengalir tiada henti mengingat janji-janji manis pujaan hati yang hanya sekedar menjanjikan janji.

            Ceritanya begini, aku pakai nama Rangga dan Cinta ya karena dua nama itulah yang tiba-tiba terbesit ketika ku ingin mencari nama samaran bagi mereka berdua. Lagi pula, apalah arti sebuah nama. Rangga dan Cinta bersekolah di sekolah yang sama ketika SMA. Mereka berdua bersahabat baik, bahkan mereka terlibat di organisasi OSIS di sekolah mereka, Rangga sekertaris dan Cinta bendaharanya. Cinta adalah siswi yang selalu mendapatkan juara kelas dan pekerja keras sehingga tak mengherankan banyak yang menaruh hati padanya, tak terkecuali Rangga. Rangga hanya menyimpan perasaannya dangkal-dangkal karena ia telah berniat akan menyatakan perasaannya pada Cinta ketika dia telah putus dengan pacarnya kala itu yang merupakan kakak kelas mereka berdua. Benarlah adanya firasat si Rangga, Cinta benar-benar putus dengan pacarnya, tanpa babibu Rangga menyatakan perasaannya pada Cinta. Jawabannya? Ya bisa ditebak sendiri lah, orang baru putus kok malah ditembak, ya pasti ditolak lah. Tapi Rangga tak menyerah, dia tetap berhubungan baik dengan Cinta, berinteraksi seperti sebelumnya, dan ketika suasana dirasa tepat, dia kembali menyatakan perasaanya pada Cinta. Jawabannya? Diterima, mereka pun jadian. Sama seperti sepasang sahabat yang lantas jadian pada umumnya, hubungan mereka menjadi lebih kaku, garing, dan nggak seasyik ketika hubungan mereka terikat oleh tali persahabatan. Cintalah yang paling merasakan perbedaannya kalau Rangga sih asyik-asyik saja karena memang dia lah yang menginginkan hubungan mereka ter-upgrade menjadi jalinan kasih. Bukankah hubungan tanpa rasa nyaman akan sangat merepotkan. Setelah pemikiran panjang, akhirnya Cinta memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka yang baru berjalan tiga bulan. Rangga tentu tak terima tapi akhirnya dia mengikuti saja keinginan si Cinta. Benarlah, hubungan mereka menjadi lebih baik setelah peristiwa pemutusan itu. Hari demi hari berjalan seperti biasanya hingga suatu ketika, Rangga meminta untuk kembali menjalin kasih dengan Cinta. Merasa telah nyaman dengan Rangga akhirnya mereka pun kembali jadian. Percakapan mereka terekam jelas dari surat yang mereka tulis di sebuah buku, yang mereka tulis secara bergantian. Kala itu mereka sudah di penghujung masa SMA, masa dimana bayangan melanjutkan ke perguruan tinggi sudah di depan mata.

            Cinta memutuskan untuk menunda studinya dan memilih untuk ikut orang tuanya tinggal di Bandung, sedangkan Rangga memutuskan untuk melanjutkan studinya di Solo. Mereka pun berkomitmen untuk menjalin hubungan jarak jauh. Cinta telah begitu nyaman dengan Rangga, Rangga pun juga begitu. Tetapi, Rangga mulai sadar akan hubungan mereka yang tak seharusnya. Rangga akhirnya memutuskan untuk mengakhir hubungan mereka. Cinta yang kala itu telah menyimpan rasa yang cukup dalam pada Rangga benar-benar terpukul. Dia pun langsung membakar semua barang-barang yang ada kaitannya dengan Rangga, mulai dari foto-foto, hadiah, termasuk buku yang berisi surat menyurat yang mereka lakukan. Mereka pun menjalani kehidupan masing-masing di kota yang berbeda, Cinta di Bandung dan Rangga di Solo. Cinta akhirnya kuliah satu tahun kemudian di sebuah perguruan tinggi negeri di Bandung. Rasa pada Rangga masih ada bahkan mungkin makin dalam. Hari berganti hari hingga tak terasa Cinta akan menjalani sidang akhir kuliahnya. Tak dinyana ternyata Rangga kembali muncul dengan segala perhatiannya, menyemangati untuk kelancaran sidang, menanyakan rencana karir setelahnya, dan perhatian-perhatian lainnya. Sebenarnya entah sudah berapa kali Rangga datang dengan perhatiannya tapi ya selalu begitu, kembali menghilang tanpa jejak setelahnya. Tapi Cinta tetap senang walaupun cuma disinggahi sementara. Dia tetap yakin Rangga akan kembali lagi dan menetap suatu saat nanti.

            Setelah kuliah Cinta bekerja di sebuah instansi pendidikan dan Rangga di sebuah Bank di Solo. Rangga tiba-tiba menghubungi Cinta karena dia akan liburan ke Bandung bersama teman-temannya dan meminta Cinta untuk menjadi guide selama mereka di sana. Cinta senang bukan main. Dia berharap ini akan menjadi stimulus untuk pemersatu hubungan mereka. Benar saja, ketika Rangga di Bandung, Cinta masih merasakan kalau Rangga masih ada rasa terhadap dirinya. Hubungan mereka menjadi lebih intens setelah liburan di Bandung itu. Komunikasi lewat BBM dan whatsapp menjadi lebih sering. Hingga suatu ketika, Rangga mengutarakan niatnya pada Cinta,

“Dek, nanti bulan April aku mau pulang ke rumah di Wonogiri, mau ngenalin kamu ke ibu. Mau minta restu beliau, setuju apa enggak kalau aku sama adek” ungkap Rangga.

“Iya mas, nanti kasih kabar ya kalau udah tanya ke ibu” jawab Cinta.

            Cinta benar-benar berbunga-bunga hari itu. Bagaimana tidak, orang yang selama ini benar-benar dia harapkan akan mengenalkannya pada ibunya. Itu artinya Rangga benar-benar serius dengannya. Dia memberitahukan kabar itu pada ibunya dan saudara perempuannya yang memang telah mengenal Rangga dengan baik. Mereka pun juga ikut bahagia karenanya. Banyak percakapan terkait masa depan yang mereka diskusikan lewat chtting. Mulai dari tabungan nikah, pendapat tentang hubungan dalam sebuah pernikahan, dan percakapan yang kesemuanya mengarah ke masa depan.

Bulan April pun datang, dan satu hari setelah tanggal yang dijanjikan Rangga untuk pulang, Cinta langsung menghubungi Rangga karena Rangga tak kunjung menghubunginya,

“Mas kamu pulang kemarin?” tanya Cinta berbasa basi, dia berharap Rangga langsung mengerti kemana arah pertanyaan itu.

“Iya pulang, kenapa dek?” jawab Rangga singkat, benar-benar bukan jawaban yang Cinta inginkan. Ada perasaan tidak enak yang menyertai ketika pesan itu Cinta baca.

“Oh… nggak papa aku cuma nanya aja” balas Cinta seadanya, karena dia bingung harus berkata apa. Cinta terus menghibur dirinya, mungkin Rangga sibuk dan lupa tentang janji yang dia janjikan dulu. Janji untuk mengenalkannya pada ibunya dan niat baiknya. Selang beberapa jam dari percakapan itu, Rangga mengirimkan teks yang cukup panjang pada cinta,

“Assalamualaikum Wr. Wb. Dek maaf, maaf sebelumnya. Dulu aku janji setelah pulang mau kasih kepastian kan ya. Jadi gini, mulai sekarang kamu boleh membuka hari buat yang lain. Sebaiknya jangan nunggu aku ya dikarenakan ada beberapa alasan dari ibuku dan dari aku pribadi juga. Aku pengen kamu mendapat jodoh yang lebih baik dari aku. Pertama, aku belum boleh nikah dalam waktu dekat. Kedua, ibuku menghendaki istriku usianya di bawahku dua atau tiga tahun. Terus ada beberapa alasan yang tidak bisa disampaikan. Aku juga masih ada keraguan, beberapa kali sholat terus jawabannya belum jelas. Jadi aku nggak mau menjanjikan. Alangkah baiknya, kamu mulai membuka hati buat orang lain. Aku banyak kekurangan, maaf kalau sejauh ini menyakiti atau ada hal yang tidak berkenan. Tapi, jika suatu saat nanti ternyata berjodoh, ya aku nggak tau. Kalau perasaanku ke kamu masih ada. Tapi aku pengennya sama-sama menjaga hati dulu. tapi kamu boleh membuka hati buat orang lain. Aku manut kata ibuku, karena restu beliau itu yang utama. Yang jelas aku merasa tidak pantas kamu mendapatkanku. Aku banyak kekurangan, banyak banget. kamu bisa mendapatkan imam yang lebih. Sekarang ini aku fokus sama keponakan yang SMA dan adikku. Terserah kamu mau gimana, yang jelas aku nggak mau mengikat kamu dengan menjanjijikan hal yang belum pasti dan memberikan kebebasan. Soalnya kamu perempuan, jangan lama-lama nikahnya. Maaf ya sekali lagi.” Tulis Rangga panjang lebar.

“Waalaikumsalam, iya. Mudah-mudahan kejadian seperti ini cukup terjadi sama aku, jangan sama wanita lain. Kalau gitu kamu harus bilang ke mama dan mbakku atas keputusanmu soalnya aku udah cerita ke mereka” balas Cinta yang sangat shock membaca pesan dari Rangga. Dia membalasnya sambil berurai air mata.

“Loh… udah bilang gimana? Kan aku bilangnya nunggu aku pulang ke ibuku. Aku dulu bilang seperti itu. Kalau ke mbakmu nggak papa aku akan SMS beliau. Tapi kalau ke mamamu aku nggak berani karena aku memang belum bilang ke beliau juga.” Jawab Rangga lagi.

“Iya silahkan. Mas nanti kalau misalkan kamu ketemu wanita lain, lebih baik bilang dulu ke ibumu, baru bilang ke wanita lain supaya kejadiannya nggak kayak gini. Sedih dan kecewa itu pasti. Tapi aku nggak bisa memaksakan perasaan seseorang. Nggak perlu bicara kekurangan mas, semua orang punya kekurangan, termasuk aku pun punya banyak kekurangan. Ya udah, aku yang salah.” Jawab Cinta yang masih merasa ini hanyalah mimpi.

“Ya aku sedih juga bilang kayak gini. Aku salah juga. Aku nggak bisa memaksakan dek. Demi Allah, kamu bisa dapat yang lebih. Aku banyak kekurangan, aku nggak mau kamu dapat yang seperti aku. Aku berminggu-minggu mencari jawaban dan ini jawabannya.” Tulis Rangga lagi.

“Kayaknya aku yang nggak pantas buat kamu makanya jadi kayak gini.” Balas Cinta singkat.

“Ya perbanyaklah berdoa karena aku belum memikirkan menikah. Fokusku untuk perbaikan diriku dan sekolah adik-adikku. Jujur, memang keluarga kami ada masalah yang cukup rumit dan aku nggak bisa egois memaksakan sesuatu. Jadi mohon pengertiannya ya dek. Maafkan sekali lagi.” Tulis Rangga yang lagi-lagi mengucapkan kata maaf.

“Kalau kamu meminta aku menunggu aku nggak papa mas.” Jawab Cinta merendahkan diri karena perasaannya telah terlalu dalam pada Rangga.

“Masalahnya, aku nggak mau menjanjikan. Nggak baik menjanjikan hal yang belum pasti. Sama aja kayak pacaran apa bedanya.” Tulis Rangga lagi.

“Ya udah terserah kamu aja mas.” Jawab Cinta berputus asa.

“Belum apa-apa aja aku udah menyakitimu. Jadi ini nggak baik untuk kedepannya. Kamu bisa dapat yang lebih. J” Tulis Rangga mengakhiri percakapan panjang mereka sore itu.

            Benar-benar percakapan yang panjang bukan? Bisa kalian bayangkan kan bagaimana hancurnya perasaan Cinta hari itu. Aku yang kala itu ada di tempat kejadian perkara benar-benar tak tahu harus berbuat apa, I do nothing. Ku biarkan saja teman sekosanku itu menangis sejadi-jadinya. Tangisannya berlanjut hingga malam hari sampai dia bawa tidur bahkan hingga pagi hari dan berlanjut hingga beberapa hari setelahnya. Aku memutuskan untuk menjauh, aku tak tahu dan memang benar-benar tak tahu harus ngapain, jadi ya gitu, aku tidur juga. Dari percakapan itu aku bisa membaca jelas bagaimana egoisnya si Rangga. Kalau memang dia benar-benar tak yakin, lantas kenapa dia harus datang dan memberikan harapan. Dia yang berkomitmen untuk tidak pacaran masih saja tiap hari menghubungi Cinta untuk sekedar menanyakan atau memberi kabar. Dengan beraninya dia datang membawa janji manis yang ternyata hanya janji palsu yang benar-benar pahit. Pesanku untuk semua para laki-laki, perempuan itu menanggapi sesuatu menggunakan hati dan perasaan, ketika kau datang membawa janji, maka janji itu akan dia simpan dalam hati yang kalau tak kau tepati akan benar-benar membekas tak mudah untuk diobati. Berjanjilah jikalau kau memang sudah yakin kau mampu untuk menepatinya jangan datang hanya sekedar membawa janji yang hanya janji, datang menjanjikan janji yang nantinya tak mampu kau tepati karena itu hanya akan melukai hati yang sakitnya tak terperi.

GrabCar for The First Time

027318200_1438955560-Screen_Shot_2015-08-07_at_8.44.26_PMMumpung masih anget-angetnya nih… beneran anget banget. Beberapa jam yang lalu baru aja gunain alat transportasi dengan aplikasi kekinian, apalagi kalau bukan grabcar. Emang udah punya niatan sih setiap kali gunain aplikasi transportasi kakinian bakalan aku posting di sini. Tadi sih udah punya niatan alay buat selfie sama bapak sopirnya tapi rasa malu mengekangku. Menjaga izzah (harga diri) juga sih, masak udah umur segini masih aja kayak cabe-cabean. Lupakan niatan alay, mari lanjutkan cerita terkait grabcar. Jadi ceritanya, pagi ini aku dan ketiga temanku ada acara ke sebuah tempat nun jauh di sana. Ada banyak pilihan alat transportasi untuk menjangkau tempat tersebut, yakni angkot, gojek, grabtaxi, dan grabcar. Satu-satunya dari keempat alat transportasi yang kusebutkan tadi yang belum pernah ku gunakan adalah grabcar. Aku pribadi sih entah kenapa lebih cenderung ngegojek aja, tapi kali ini aku berdamai dengan yang lain dan memutuskan untuk naik antara grabtaxi atau grabcar. Aplikasi grabride langsung aku install kembali dan melihat tarif yang terpasang di keduanya dengan jarak yang sama. Grabtaxi tarifnya antara 48-60.an ribu sedangkan grabcar hanya 38ribu. Sebagai orang normal pastilah milih grabcar lah ya. langsunglah aku order dan cuma berselang 5 menit.an bapaknya udah standby dong, how lucky we are.

mh8ajVo_

            Mobilnya bagus, avanza warna item dan yang paling penting drivernya ga neko-neko, bisa dibilang diem banget sih. Cuma setengah jam nyampe di tempat tujuan, no keringetan, no polusi, dan no desek-desekan. Buat gambaran aja ya, kalau naik angkot menuju tempat tujuan yang ingin kita tuju tuh harus 3 kali ganti angkot dengan ongkos kalau diitung-itung sekitar 12ribu dengan pelayanan yang apa adanya, kalau lagi apes bisa dapet bapak sopir yang judes dan ugal-ugalan, bahkan kadang memaksakan kursi yang udah ga muat tapi harus dimuat-muatin. Nah, kalau naik grabcar kan beda, udah mobilnya enak, adem, nggak desek-desekan, bapaknya ramah, dan yang terpenting tarifnya cuma 10ribu per orang. Jadi, kalau kamu ramean, pengen ke suatu tempat, dan bingung mau naik apaan yang enak dan nyaman, jangan ragu, grabcar, grab it fast ya, hehehe. Oya dokumentasi di bawah ini mobilnya avanzanya warna silver soalnya ini pas perjalanan pulang. Mukanya dikasih bunga soalnya mereka malu dan takut terkenal katanya wkwkwk. Terus aku yang mana? Aku yang motoin, hiks (T.T).

IMG-20160204-WA0028