Manusia-Manusia Kardus

1333547389_vtP3CgRMTTNAI35rWWp6Kejenuhan ini membuatku tak bisa melakasanakan hal yang paling ku suka selama ini, tidur. Bukannya tak lagi suka, tapi sudah sedikit jenuh karena tak ada hal lain yang ku lakukan sepanjang hari raya qurban ini selain tidur. Ya mau ngapain lagi, tak ada hal menarik lagi yang mampu mangajakku untuk mengajak badan ini beralih melakukan hal lain. Tapi, aku sudah mulai jenuh dan ku raih laptop untuk bercerita padamu tentang sekelompok manusia yang dengan sengaja atau tidak telah menjadi bagian dari keseharianku tiga tahun lebih beberapa bulan ini. Ku sebut mereka manusia-manusia kardus. Pasti ada alasannya dong ku sebut mereka manusia-manusia kardus. Ya iyalah ada, masak nggak ada. Manusia-manusia kardus ini adalah manusia yang berbekal kardus untuk mencari nafkah bagi kehidupan mereka.
Jika kau bermain ke Bogor akan ku tunjukan manusia-manusia kardus di sini. Mereka biasanya berada di atas motor di pinggir jalan yang tentunya bukan motor mereka. Berbekal kardus dan pluit mereka akan mendekati setiap motor yang berniat hendak memarkir motor mereka di depan sebuah toko di Bara, lokasi yang juga menjadi tempat tinggalku. Punya motor? Coba parkir motormu di depan sebuah toko, maka tanpa diundang dan dipanggil pun seorang manusia kardus akan menghampirimu dan meletakkan kardus mereka di atas motormu. Nah, kardus di atas motor menandakan kau harus membayar sejumlah uang untuk ongkos jasa kardus yang untuk beberapa menit nangkring di atas motormu. Orang lain sih menyebut mereka tukang parkir, tapi ku menyebut mereka manusia kardus, lebih keren kan, hahaha.

Continue reading

Advertisements

Today Woman’s Hero

Ga sabar banget pengen nulis cerita ini. Kejadiannya bukan hari ini sih, tapi tepatnya kemaren malem. Menggebu-gebu pengen nulis tapi apalah daya tubuh ini rasanya remuk redam ingin segera diistirahatkan. Bahkan saking capeknya, sampe nggak bisa mejemin mata untuk beberapa saat. Akhirnya ku ambil textbook biokimia analisis, bukan sengaja untuk belajar, sungguh, tapi untuk mempercepat proses menuju alam mimpi. Dan… ampuh. Tak terasa tiba-tiba udah pagi aja. hahahaha. Parah banget ya. Yah… mau gimana lagi. Daripada nggak tidur tidur. Dipikir-pikir, kalo orang lain kan biasanya pake dongeng gitu ya, tapi kalo aku agak canggih dikit, pake textbook. Tapi seriusan kalo aku diceritain dongeng atau cerita yang menarik, malah jatohnya nggak bisa tidur soalnya pengen dengerin ceritanya sampe akhir. Nah kalo pake textbook, lain lagi ceritanya soalnya males banget yang mau lanjutin materinya sampe akhir.

            Kenapa begitu tak sabarnya ingin cerita kejadian ini? Yup, karena cerita ini terjadi di luar batas kemampuanku yang selama ini aku pikir orang lain juga tak mampu. Ternyata aku salah, orang lain ada yang mampu. Kejadian ini juga wujud nyata dari skenario yang ku buat di bawah alam sadarku yang tak mampu ku realisasikan di dunia nyata. Ya ya ya, aku memang lemah dan penakut. Tapi setidaknya aku masih punya kesadaran untuk melakukan perlawanan, walaupun itu hanya di dalam hati dan khayalanku sahaja.

Continue reading

Imajinasiku Buat Si Mbak

Analisa-Usaha-Es-Teh-PociPagi ini semestakung (sepertinya semesta mendukung) diriku untuk menuliskan sebuah cerita yang kemarin sempat ku bicarakan dengan bak Dila (saudara kembarku). Aku lagi bener-bener PW (posisi wenak) pagi ini. Duduk di sebuah kursi taman yang disediakan oleh sebuah minimarket di dekat kampus. Ditemani segelas es teh susu dengan lambaian angin di pagi yang begitu cerah. Tak tahu kenapa hari ini begitu sangat menyenangkan bagiku. Padahal tak ada yang spesial dari keseharianku hari ini, masi sama dengan hari-hari sebelumnya. Bangun pagi-pagi, berangkat ke kandang untuk memberi pakan tikus peliharaanku, jam 9 pagi baru selesai. Jalan dari kandang FKH (fakultas kedokteran hewan) menuju tempat dudukku sekarang. Duduk di sini tak ku rencanakan sebelumnya. Baru terlintas setelah ku beli segelas es teh susu dari si Mbak itu. Si Mbak yang kemarin membangunkan imajinasi liarku. Ya… aku akan berbagi imajinasi liarku denganmu, imajinasi yang muncul karena drama korea dan FTV yang sering ku tonton, hahaha :D.

            Aku tak tahu siapa nama si Mbak penjual teh poci itu, yang ku tahu pasti si Mbak ini bukan wanita sembarangan. Kenapa begitu? Ya karena satu dan banyak hal. Si Mbak ini mirip karakter di drama-drama korea yang sering aku tonton. Sosok wanita yang lincah, pekerja keras, imut, dan ramah. Ciri wanita yang banyak disukai tokoh laki-laki di drama korea yang biasanya berasal dari keluarga kaya dan biasanya agak sombong. Baiklah aku akan mulai bercerita tentang imajinasi liarku tentang si Mbak. —kemudian cerita ini terpotong karena rasa sakit yang tiba-tiba datang—. Pengalamanku sih kalau lagi nulis itu sebaiknya jangan dipotong-potong karena sensasinya bakalan beda. Nih buktinya, tulisanku selanjutnya bakalan agak aneh, sedikit garing, dan taulah. Hanya sebatas pengen ngepost tulisan doang sih.

Continue reading

Maaf Pak, Saya Tak Punya Solusi

sedih            Hal satu inilah yang membuat hari ini hampir tidak efektif dan tidak produktif, ya gara-gara ketidakpastian. Jika masih ada yang pasti, kenapa harus bermain-main dengan ketidakpastian. Tak masalah menunggu dalam penantian yang lama, asalkan pasti kapan kiranya penantian itu akan berakhir, haha #curhat. Gini nih ceritanya, jadi di balai tempat aku penelitian itu ada sebuah alat yang sedang menjadi primadona, diperebutkan oleh hampir semua orang yang ada di sana, termasuk aku. Alat itu bernama rotary evaporator. Alat itu sekarang sedang dikuasai oleh seorang pegawai tetap di sana yang memang sedang mengerjakan sampel punya orang lain. Balai ini memang menerima layanan untuk melakukan identifikasi terhadap suatu sampel –exp. Analisis proksimat-. Berhubung orang yang nyuruh itu bayar dan biasanya mendesak, akhirnya sampel orang itulah yang didahulukan, yang artinya aku dan teman-temanku harus antre.

            Tadi udah aku bilang kan, ga masalah sama sekali menanti asalkan pasti kapan akhir dari penantian itu selesai. Tapi, masalahnya si mas-mas yang menguasai alat itu tak memberikan kepastian kapan alat itu bisa kita pakai. Kalau ditanya pasti jawabannya, mungkin besok bisa, datang aja besok ke sini. Dan bisa ku prediksi, pas aku datang besoknya, pasti alatnya ga bisa dipake. Si mas-masnya itu ga tahu apa pura-pura ga tahu, berapa banyak pengorbanan yang harus aku dan temenku keluarin hanya cuma buat dateng ke balai itu. Korban bensin, tenaga, pikiran, harta, jiwa, dan raga –lebay sih-. Daripada aku buang-buang semua itu, mending aku SMS aja atau nungguin kabar dari temenku yang hari ini bakalan ke sana. Dan saudara-saudara, benar perkiraan awalku, alatnya tak bisa dipake. Horeee, setidaknya aku ga mubadzir segala hal hari ini buat datang ke balai. Lantas, apa yang aku kerjakan hari ini? ya, aku menuju departemenku untuk mengurus berbagai surat. Surat itu ku buat untuk dua lab yang akan aku gunakan untuk penelitian selanjutnya, lab. kimia fisik dan lab. biofisika material. Setidaknya beberapa hari ke depan aku tak harus berjibaku di jalanan untuk pergi ke balai itu.

Continue reading

Marah, Murah, Murahan

belanja            Perempuan dengan segala dinamika kehidupannya, dengan segala problematika pemikirannya, dan entah apapun itu dapat dipastikan suka yang namanya belanja. Kenapa aku begitu yakin akan hal ini? Ya karena tak dapat dipungkiri aku pun juga seorang wanita yang sebelas duabelas lah sama wanita-wanita yang lain. Tapi, ya aku ga gitu-gitu banget sih. Gitu gimana maksudnya? ya yang dikit-dikit belanja, geser dikit belanja, jalan dikit belanja, aku bukan tipe yang seperti itu. Selain terkendala dana aku juga kurang bisa berada di tempat ramai –exp, mall atau pasar- dalam waktu yang relatif lama, ditambah lagi kelainan pada metabolisme dalam tubuhku yang menyebabkan aku tak bisa berdiri dalam jangka waktu yang cukup lama. Mengapa begitu? Begini alasan ilmiahnya, ketika dalam suatu ruangan terdapat banyak manusia, maka kebutuhan akan oksigen meningkat padahal oksigen yang tersedia sama saja. Sehingga terjadi distribusi oksigen yang sedikit pada setiap orang yang ada. Sedikitnya asupan oksigen ini akan mengganggu jalanya metabolisme glikolisis dalam tubuh untuk membakar glukosa menjadi ATP (energi). Berkurangnya produksi ATP ini akan menyebabkan seseorang mudah mengalami 5L (lemah, lesu, lunglai, 2L yang lain lupa hahaha). Tuh kan kok jadi kayak kuliah, tak tahulah, intinya aku suka belanja kalau perlu aja, kalau nggak ya nggak suka. Apalagi nemenin belanja, sungguh aku benar-benar tidak suka.

Continue reading

Sebuah Dedikasi

           dedikasiMalam-malam selanjutnya mungkin akan sering berakhir seperti malam kemarin. Malam dimana aku, kamu, dan dia –singkatnya kami- akan pulang dari kampus lebih malam dari malam-malam sebelumnya. Sungguh tak apa sebenarnya, malah bisa dibilang aku sangat menikmati dengan apa yang ku lakukan ini, walaupun pada akhirnya akan menjadi sebuah rutinitas. Bagaimana tak senang? Berkumpul dengan tim yang bisa dibilang satu pemikiran untuk menuju satu tujuan bersama yang akan menjadi goal di akhir penghujung mengejar predikat sarjana, emas di PIMNAS (pekan ilmiah mahasiswa nasional), dan tujuan lebih jauhnya membawa pulang piala adikarta yang telah lama melanglang buana meninggalkan kampus yang telah melahirkannya, IPB. Tak apa jika banyak yang bilang ini sebuah keinginan yang sungguh terlalu dengan ide yang mungkin amat sederhana. Tapi memang inilah ciri khas kami, jadi juara dengan ide yang sederhana namun berguna. Sayangnya, bukan inilah cerita utama yang akan aku angkat kali ini. Cerita kali ini merupakan cabang yang ternyata lebih menarik untuk diangkat lebih mendalam, setidaknya menurutku.

Continue reading

Penyangkalan

danbo_on_street_by_lee_sutil-d5ih03aKu telah gadaikan satu hari kemarin dan satu hari ini untuk sejenak menenggelamkan diri di atas kasur bersama bantal dan guling. Bersama rasa malas dan rasa sakit yang entah sejak kapan selalu tanpa absen datang menghampiriku. Tak mengharapkan rasa itu datang tapi bagaimana mau mengelak jika dia sudah datang, yang ada hanyalah mengahadapinya dengan pasrah, tanpa perlawanan. Ku ambil novel Inferno karya Dan Brown yang sejak lama ingin ku baca. Sebenarnya sudah sejak lama novel ini mulai ku baca, tapi tak kunjung selesai ku membacanya. Percaya atau tidak, tiap kali membaca novel ini aku akan mimpi buruk malamnya. Ya, mimpi buruk. Entah ini sugesti atau bukan, yang pasti beginilah adanya. Tapi ada satu bagian dari buku ini sehingga mendorongku untuk menuliskan sesuatu dengan judul tulisan seperti di atas, penyangkalan.

Continue reading