Rendah Hati Tak Merendahkanmu

5bcc4a599da181540115033-simakSudah lama tak bertegur sapa dan berkeluh kesah di sini. Banyak hari yang terlewati, banyak pula kisah yang dijalani. Sedang menimbang-nimbang kisah mana yang sekiranya sedikit ‘apik’ untuk dibagikan di sini. Kisah tentang haru biru tesis sepertinya terlalu mainstream walaupun ingin sekali ku ceritakan, seenggaknya kapan-kapan, tidak hari ini. Hari ini adalah hari perdanaku ngelab di laboratorium sitogenetika Fakultas Kedoteran Universitas Padjadjaran (Unpad). Yup, untuk kesekian kalinya aku pindah lab. Semoga ini lab yang terakhir yang akan mengantarkanku untuk memakai toga kampus gajah ini. Aku tidak bisa membohongi diri kalau aku mulai bosan dan ingin menapaki tahapan kehidupan selanjutnya yang pastinya ku percaya akan sangat menyenangkan. Prasangka baik akan mendatangkan kebaikan pula bukan?

              Aku sedikit kaget saja dan tak menyangka jika suasana lab yang sekarang ini sungguh berbeda dibandingkan lab-lab yang sebelumnya ku kunjungi, setidaknya kesan pertamanya. Gimana ya ngejelasinnya, seakan-akan aku udah lama mengenal orang-orang di sana saking ramahnya padahal ketemunya baru ketiga kalinya dan itu pun pertemuan singkat. Tak hanya pegawainya, tapi dokter-dokter di sana pun juga begitu, sangat baik dan ramah. Aku tak mengerti apa memang mereka baik atau akunya yang sudah lama tak diperlakukan dengan baik? Jadinya dibaikin dalam taraf normal un bisa bikin ku terharu sampe segininya Wkwkwkwk. Tapi mereka memang baik kok, seriusan deh. Salah satunya yang paling menarik perhatian adalah yang akan aku ceritakan di tulisan ini.

              Namanya dr. Eko, seorang dokter yang juga seorang doctor. Pertemuanku degan beliau hari ini adalah pertemuan perdana tapi kesan yang beliau tinggalkan sangat melekat dalam benakku bahkan hingga tulisan ini dibuat atau mungkin untuk selamanya. Pertemuan kami pun bukan pertemuan langsung antara aku dengan beliau, aku hanya kebetulan berada satu lab dengan baliau. Ketika aku sedang mengikuti pengarahan dari seorang pegawai di lab sitogenetik, masuklah beliau dengan seorang rekannya. Ketika beliau masuk, aku ngiranya beliau (maap beribu maap) itu bagian pegawai kebersihan gitu. Sungguh aku tak bermaksud mendeskreditkan pekerjaan seorang pegawai kebersihan. Kenapa bisa sebegitunya? Ya karena penampilan beliau yang sangat sederhana dan sikap beliau yang sangat sopan, teramat sopan untuk orang dengan predikat seperti beliau. Beliau seringkali melintarkan kata “maaf ya permisi”, “maaf ya ganggu”, “makasih ya”. Beliau juga tak segan menjelaskan dengan rinci pertanyaan apa pun yang dilontarkan kepada beliau. Ditambah dengan senyum sopan yang tak pernah lepas dari wajah beliau, senyum tulus dan rendah hati. Ketika pegawai yang menemaniku itu memanggil beliau “iya dok”, barulah aku tahu kalau beliau adalah seorang dokter.

              Ketika kegiatanku di dalam lab selesai, ngobrol lah aku dengan para pegawai di sana dan bahasan tentang dr. Eko semakin menambah kakagumanku kepada beliau. Menurut mereka, dr. Eko adalah dokter yang luar biasa. Seorang dokter sekaligus doctor yang masih rajin sekali masuk lab. Ditambah lagi beliau lulusan Todai (Tokyo University) sekaligus seorang dosen di Fakultas Kedokteran Unpad. Kebayang dong kesibukan seorang dosen dengan segala urusan administratif dan perkuliahan yang ada dan beliau masih sempat untuk terjun langsung meneliti di lab. Dedikasinya sungguh tidak bisa diragukan. Sifat beliau yang sungguh ramah dengan berbagai atribut ‘wow’ yang menempel pada beliau juga sangat menginspirasiku. Selama ini aku dihadapkan pada realita dimana orang yang punya pangkat dan keilmuan tinggi cenderung langitan –susah dijangkau wkwkwk (nggak semuanya ya, aku bukan mengeneralisir), sebagian besar orang yang ku temui seperti itu. Pun demikian, orang yang pangkatnya tidak tinggi, mempunyai kepribadian yang sangat ramah, baik, dan mudah tersenyum. Tapi hari ini semuanya runtuh ketika ku bertemu dr. Eko karena beliau adalah sosok dengan pangkat dan keilmuan tinggi tetapi mempunyai kepribadian yang sangat ramah, baik, dan mudah tersenyum. Terimakasih dok, memang benar teladan dengan perbuatan adalah teladan yang tak tergantikan, sama seperti yang telah dokter lakukan. Sekarang aku sadar, bahwa rendah hati benar-benar tak akan merendahkan kita, tidak sama sekali.

Kemantapan Berkomitmen

745            Pulang ketika menjelang lebaran artinya bersiap untuk mendatangi banyak kondangan. Syawal halal istilah bekennya. Hampir setiap hari ketika bulan syawal menghadiri kondangan nikahan menjadi rutinitas harian. Ada dua teman dekatku yang telah menikah dan akan menikah di bulan Syawal ini. Sepupu yang umurnya jauh lebih muda dariku, beberapa hari yang lalu telah menggenapkan separuh agamanya. Alhamdulillah wa syukurillah. Beberapa adik kelas yang merupakan tetanggaku juga akan melangsungkan pernikahan. Para orang tua mereka ku lihat mendatangi ibuku untuk mengundang secara langsung. Undangan seperti ini jauh lebih dihargai di desa tempatku tinggal daripada diundang menggunakan kertas undangan. Sedikit tidak efektif dan efisien sih tapi rasa penghargaan yang timbul berkat undangan langsung inilah yang mungkin tak bisa dibayarkan dengan apapun. Ponakan sepupuku juga kemarin telah melangsungkan pernikahan tapi karena hanya mengundang menggunakan kertas ke rumah, maka orang rumah sedikit tidak respect terhadap undangan yang mereka berikan. Jadilah mereka datang dan memberikan sumbangan seadanya. Sebegitu rumitnya hubungan silaturrahim di desa tapi mau tidak mau aku harus mulai mempelajarinya karena dimana kaki dipijak di situ langit dijunjung.

            Tetangga yang rumahnya paling dekat dengan rumah orang tuaku, beberapa hari lagi anaknya akan melangsungkan pernikahan. Aku agak sedikit terkejut dengan kabar ini karena masih sangat segar di ingatan, si adek ini dulu masih sangat kecil. Mungkin umurnya berbeda 10 tahun dengan umurku. Masih sangat muda untuk memegang sebuah komitmen seberat pernikahan menurut kacamataku. Aku selalu bertanya-tanya, rasa siap seperti apakah yang membuat seseorang berani untuk melangkah ke jenjang pernikahan? Karena menurutku, menikah itu berat, komitmennya harus kuat, dan masalah besar siap mengahadap. Walaupun tak dapat dipungkiri, rasa bahagianya pun tak bisa dibayangkan hanya dengan melihat harus langsung terlibat agar tak hanya bermain dengan persepsi yang datang sekelebat. Ketika si adek ini bertamu ke rumahku untuk bersalaman dengan membawa calon istrinya, terlihat jelas rona bahagia yang tak bisa disembunyikan dari wajah mereka berdua. Aku melihat mereka telah mantap untuk berkomitmen mambangun rumah tangga bersama. Bahagia sekali melihat pasangan yang sebentar lagi akan berstatus pasangan halal.

            Ada lagi seorang teman mainku dulu yang akan menikah sebentar lagi. Umurnya jauh lebih muda dariku. Aku ini hampir menjadi kakak perempuannya, tapi nggak jadi, kok bisa gitu? Iya… Soalnya aku hampir diangkat jadi anak sama ibunya dia. Ibunya dia tuh pengen banget punya anak perempuan soalnya dua anaknya laki-laki semua. Kebetulan ibuku lahir anak kembar perempuan dan semua anak ibuku perempuan. Tapi, tak berapa lama kemudian ibu temanku ini hamil si adik yang ku ceritakan ini dan laki-laki lagi. Jadinya aku dibalikin lagi ke ibuku. Begitu katanya ceritanya. Aku sendiri pun tak ingat detail kejadiannya. Si adik ini sekarang sudah besar, mandiri, dan sudah punya pekerjaan tetap. Nah parameter yang terakhirlah yang menguatkan para pemuda di desaku untuk mantap berkomitmen.

Ketika bercerita tentang tunangannya pada kami, si adik itu bercerita dengan ringannya dan begitu bahagianya. Aku yang memperhatikannya sedikit kagum saja dengan kemantapan komitmen yang dia tunjukkan. Sebenarnya bukan mereka yang terlalu muda tapi akunya yang sedikit terlambat untuk meyakinkan diri bahwa membangun komitmen pernikahan itu tidak semenakutkan dan serumit yang aku pikirkan. Make it simple and easy, karena apa yang kita prasangkakan maka itulah yang akan terjadi. Ya Allah… kenapa aku harus punya pemikiran serumit ini? Karena menurutku menikah itu bukan hal sederhana dan bisa dianggap sepele. Menikah itu awal mula kebahagiaan dan kesengsaraan yang akan kita jalani kedepannya, jadi nggak bisa asal gambling untuk memulainya. Tuh kan mulai rumit lagi wkwkwk. Intinya mah, kalau ada yang ngajakin berkomitmen menuju pernikahan, hayuk aja lah bang, asal visi dan misinya jelas mau ngapain ke depannya. Visi misi yang tak hanya sebatas urusan dunia tetapi harus tawazun (seimbang), dunia dan akhirat. Kalau memang mau berat ke salah satunya, aku akan pilih berat ke akhiratnya saja karena di sana kehidupan lebih abadi sedangkan dunia hanya tempat singgah semata. Maafkan tulisan yang asal ini karena bingung mau ngapain di waktu siang yang senggang wkwkwk.

Imam Lelangan

islam-clipart-sholat-9Berhubung suasana Ramadhan masih hangat-hangatnya di ingatan. Ingin rasanya sedikit mengenang momennya dalam bentuk tulisan. Sayang rasanya kalau hanya melayang di angan-angan. Mending aku bagikan, kan lumayan buat nambah-nambah postingan wkwkwk. Ramadhan memang selalu memberikan kenangan manis di ingatan. Entah sudah berapa kali berangan-angan, kenapa 11 bulan lainnya tidak seperti Ramadhan yang penuh dengan hingar bingar ibadah dan jajanan menggiurkan. Justru di sanalah letak keistimewaannya kawan, menjadi spesial karena jarang dan hanya sekali setahun sehingga sangat dinantikan. Ramadhan kali ini menjadi sangat indah untuk dikenang karena dilalui dengan melakukan tarling (tarawih keliling) bersama kawan-kawan.

            Ramadhan tahun ini adalah Ramadhan keduaku di Bandung. Tapi tahun ini agak sedikit berbeda karena proporsi Ramadhan kali ini aku lebih banyak di Bandung daripada di kampung halaman. Sedangkan tahun sebelumnya banyak ku lalui di rumah dibandingkan di Bandung. Ngapain lama-lama di bandung? Ya banyaklah, penelitian, kajian, dan mangkir dari rutinitas di rumah yang pasti bakalan banyak kerjaan menuju lebaran wkwkwk (yang terakhir jangan bilang sapa-sapa ya hahaha). Sehari sebelum Ramadhan, aku main badminton bersama teman-teman satu fakultas. Sungguh sangat menyenangkan karena ada adik kelas yang mau aku comblangin xixixi. Aku sengaja mempertemukan mereka berdua tanpa sepengetahuan mereka, seru banget kan. Semoga berjodoh ya mereka biar aku bisa membangun paviliun di surga, aaamiiin. Bact to the main topic, setelah main badminton tiba-tiba ada seorang teman yang ngajakin buat tarling, benar-benar dadakan dan tanpa babibu langsung aku iyakan. Soalnya aku pengen punya pengalaman tarling, kan nggak ada yang tau Ramadhan tahun depan masih dikasih umur panjang atau tidak. Nanti aku mau upload juga video kompilasi foto yang aku ambil selama melakukan tarling. Semoga sinyalnya mendukung ya soalnya aku lagi di kampung, rada-rada susah sinyal di sini.

            Salah satu pengalaman tarling unik yang mau ceritakan kali ini adalah tarawih di masjid Al-Imtizaj. Masjid Al-Imtizaj adalah masjid yang arsitektur bangunannya sangat unik, mirip klenteng, ala-ala tionghoa gitu. Setelah aku browsing tadi memang masjid ini sengaja dibangun pada tanggal 6 Agustus 2010 oleh Gubernur Jawa Barat untuk menfasilitasi orang-orang tionghoa muslim yang memang banyak berdagang di sekitar masjid ini. Masjid ini dibangun di bekas Gudang gedung perbelanjaan yang terbilang besar pada zamannya yang banyak orang tionghoa berdagang di sana. Nama Al-Imtizaj pun diambil karena mempunyai arti pembauran, harapannya bisa terjadi pembauran antara masyarakat tionghoa dengan masyarakat setempat dalam beribadah. Desain arsitekturnya yang unik membuat setiap orang yang melewati masjid ini ingin sekali berkungjung, termasuk diriku. Setiap melewati masjid ini ingin rasanya sholat di tempat ini tapi sebelum-sebelumnya belum ada kesempatan. Ketika ada tarling ini, makin semangatlah aku karena bisa ku pastikan masjid ini akan menjadi salah satu destinasi karena keunikannya.

            Aku awalnya tidak tau nama masjid ini, tapi ketika temanku yang notabene pemegang jadwal tarling memberitahu kalau hari itu akan tarawih di masjid tionghoa. Pikiranku langsung tertuju ke satu tempat, masjid Al-Imtizaj (yang tak ku ketahui Namanya sebelumnya). Semakin bersemangatlah aku dan teman sekosanku ketika sore tiba. Langsunglah kami berdua menaiki motor dan memecah jalanan Bandung yang memang selalu macet ketika sore apalagi di bulan Ramadhan. Ketika melihat nama masjid yang akan kami kunjungi, temanku langsung bilang padaku yang kala itu mengendarai motor kalau nama masjidnya masjid lautze. Kata temanku masjid lautze bukanlah masjid yang bentuknya seperti klenteng yang ingin sekali kami kunjungi. Tetapi memang masjid ini adalah pusat kegiatan islam masyarakat kong hu cu yang ada di Bandung. Bisa dibilang masjid lautze adalah Islamic centernya karena masjid ini memang sangat aktif melaksanakan kegiatan keislaman.

“Bukan masjid yang bentuknya klenteng itu ya qi?” tanyaku memastikan pada temanku yang Namanya Qiqi.

“Iya ternyata bukan, padahal aku pengen banget mbak” Jawabnya

“iya… Aku pengen banget juga” kataku lagi

            Jadilah kami berdua tetap melanjutkan perjalanan ke masjid Lautze walaupun sebenarnya ingin sekali ke masjid Al-Imtizaj. Tapi, berhubung teman-teman kami yang lain sudah di lokasi jadilah kami juga harus ke sana. Sesampainya di sana, ternyata sangat ramai dan para jamaah hingga ke emperan dan hampir ke jalan raya karena memang lokasi masjid lautze pas di pinggir jalan raya. Aku dan Qiqi bingung harus duduk dimana karena sebagian besar jamaah yang hadir adalah laki-laki. Kami pun tetap memberanikan diri ke arah pintu masuk masjid yang kemudian ditanyakan oleh seorang bapak-bapak,

“Mau kemana?” tanya seorang bapak-bapak

“Mau ke masjid” jawabku agak kebingungan. Lantas si bapak manggilin seorang kokoh-kokoh yang sepertinya adalah tetua masjid lautze.

“Oh… mau sholat ashar ya?” tanyanya

“Nggak, nggak, kami mau ikutan buka puasa. Kalau jamaah perempuannya dimana?” tanyaku. Si kokoh-kokoh kemudian mengarahkan kami untuk ke arah ruangan sebelahnya.

            Kami pun berjalan kea rah ruangan yang dimaksud. Ketika sampai di sana ternyata tempat yang beliau tunjuk adalah tempat penyimpanan makanan yang akan dibagikan pada jamaah yang akan buka puasa. Kami bertambah bingung, ditambah lagi ada seorang ibu-ibu yang tiba-tiba bertanya,

“Adek ini dari komunitas apa? Adek ini yang mau nganterin paket makanan bukan?” tanyanya

“Bukan bu, bukan. Kami hanya ingin ikut berbuka puasa” Jawabku gelagapan.

            Akhirnya karena kebingungan, kami putuskan untuk melanjutkan perjalanan saja ke masjid Al-Imtizaj yang memang jaranya tak terlalu jauh dari masjid Lautze. Benar-benar diijabah keinginan kami untuk mengunjungi masjid Al-Imtizaj. Mengungkapkan keinginan secara tulus apalagi di bulan Ramadhan benar-benar langsung dikabulkan oleh Allah. Jadilah kami berdua buka puasa di masjid Al-Imtizaj. Dua orang teman kami yang lain yang sudah terlanjur berada di masjid Lautze akhirnya memutuskan untuk menyusul kami ke masjid Al-Imtizaj setelah berbuka puasa di masjid Lautze. Kami pun tarawih di masjid Al-Imtizaj setelah makan berat di warung makan di seberangnya.

            Ketika Shalat isya telah dilaksanakan, mulailah tetua masjid memberikan ceramah sebelum memasuki shalat tarawih. Ada hal menarik yang tidak kami temukan di masjid-masjid sebelumnya yang kami kunjungi, apakah itu? Yaitu pemilihan imam shalat tarawih yang dilakukan dengan sistem lelang. Aku menyebutnya imam lelangan. Karena pemilihan imamnya secara sukarela, sang tetua memberikan kesempatan kepada para jamaah yang ingin mengajukan diri untuk menjadi imam. Kami pun sangat antusias mengikuti pemilihan imam ini, kami berharap ada salah satu dari teman kami yang mengajukan diri. Tetapi ternyata jauh panggang dari api, tak satu pun dari mereka berdua yang mengajukan diri. Ya sudahlah ya, memang berharap pada manusia sering berakhir dengan kekecewaan wkwkwk. Shalat tarawih di masjid ini sebanyak 11 rakaat, yang terdiri dari 4 rakaat pertama, 4 rakaat kedua, dan 3 rakaat witir sehingga ada tiga imam yang dibutuhkan dari para jamaah yang hadir. Tujuan dari imam lelangan ini adalah untuk mempererat tali silaturrahim antar para jamaah dan pengurus masjid, ini yang aku dengar dari pak tetua yang menyampaikan ceramah.

            Setelah pulang pun, topik tentang imam lelangan ini masih menjadi menu utama obrolan kami. Qiqi pun nyeletuk,

“Nanti kalau punya calon ajakin ke sini ah, mau lihat dia ngajuin diri jadi imam apa nggak. Kalau nggak ngajuin diri langsung dicoret” katanya berkelakar.

Iya sih, kan dites bisa jadi imam shalat apa nggak. Kalau nggak ngajuin diri tapi udah sayang gimana dong wkwkwk. Tapi kan nggak ngajuin diri bukan berarti nggak bisa jadi imam shalat, bisa aja si doi nggak mau riya wkwkwk (bisa aja lu ngelesnya Bambang). Benar-benar pengalaman yang menyenangkan dan tak kan terlupakan. Terimakasih ya Allah telah mempertemukan hamba dengan Ramadhan di tahun ini, semoga bisa berjumpa kembali dengan bulan yang sungguh mulia ini di tahun depan dan tentunya dengan pengalaman baru yang akan terus menempel di ingatan, aamiin.

Berikut aku sertakan beberapa foto yang aku ambil dari tempat sholat masjid Al-Imtizaj yang nuansa orientalnya sangat terasa. Diikuti dengan video kompilasi foto dari kagiatan tarling yang telag kami lakukan, happy watching. Ternyata nggak bisa upload video soalnya kalau worpress yang free harus diupgrade dulu. Yah,,, sayang sekali, jadinya upload foto masjidnya doang deh, nggak papa ya.

 

Antara Aku, Kamu, dan Lift

032912500_1449735789-20151210-Ilustrasi-LiftBerbaring hampir seharian di rumah rasanya bosan merajai tanpa bisa dipungkiri. Langkah menjadi sangat terbatas hingga terkadang ingin rasanya berlarian bebas. Tapi apa daya, jangankan berlari, menapakkan kaki saja rasanya nyeri. Syukuri… kapan lagi bisa memerintah itu dan ini tanpa dimarahi wkwkwk. Pas lagi di rumah gini rasanya pengen banget segera ke Bandung. Giliran lagi di Bandung, pengen segera pulang ke rumah. Manusia memang makhluk yang membingungkan, berhubung aku juga manusia, ya… aku juga membingungkan. Sebenarnya, tiga hari lagi aku dijadwalkan akan kembali ke Bandung. Tapi, berhubung kakiku belum pulih, sepertinya tiket keretaku, ku rencanakan akan ku batalkan. Baru rencana? Iya. Sampai tulisan ini dibuat pun, tiketnya belum ku batalkan karena aku masih berharap ada sebuah keajaiban yang datang dari Allah sehingga kakiku bisa sembuh sebelum tanggal keberangkatanku. Berharap tidak apa-apa kan? Lah iya, bukannya cuma harapan yang menguatkan para kaum jomblo seperti kita (lah apa seeh).

            Ngomongin masalah Bandung, aku mau cerita sebuah kisah yang lokasinya sangat spesifik sekali, iya di lift. Kisah apa? Asmara? Maunya sih gitu tapi sayangnya bukan. Horor? Apalagi ini, nggak sama sekali dan nggak mau juga ngalamin hal ginian. Baca aja sampe akhir ya, nanti kan bisa disimpulkan sendiri, termasuk jenis apa cerita yang akan aku kisahkan sebentar lagi ini. Pertama-tama akan aku ceritakan perihal lift yang merupakan tempat kejadian perkara. Lift yang ku maksud adalah lift yang ada di fakultasku. Gedung Laboratorium tempatku mengerjakan penelitian terletak di lantai 3 sedangkan Gedungnya sendiri ada 4 lantai sehingga keberadaan lift menjadi hal yang sangat dibutuhkan.

            Kejadian pertama terjadi ketika aku dan temanku terburu-buru ingin segera sampai di lantai 3 karena ada lab meeting bersama riset grup dosen pembimbingku. Ketika itu aku juga membawa sebuah proyektor yang akan digunakan untuk presentasi seluruh anggota grup sehingga mau tidak mau aku harus segera sampai di ruangan di lantai 3. Ketika memasuki lift, aku melihat seorang dosen sehingga aku menawarkan kepada beliau akan naik ke lantai berapa sedangkan aku sendiri sudah menekan tombol lantai 3. Percakapan yang terjadi kurang lebih sebagai berikut,

“Lantai berapa bu?” tanyaku dengan nada sopan

“Lantai 4 lah, kalau cuma lantai 2 atau 3 naik tangga aja, biar sehat” jawab beliau dengan nada sinis. Aku tidak siap dengan balasan jawaban semacam ini, sehingga ku jawab saja apa adanya.

“Iya bu, saya lantai 3, naik lift soalnya sedang buru-buru bu”

            Aku rada tidak terima sebenarnya soalnya kan lantai 3 juga termasuk tinggi kan, secara lantai maksimalnya kan lantai 4. Tapi lagi-lagi kan peraturannya ada 2, pertama dosen selalu benar, kedua, kalau dosen salah maka kembali ke peraturan pertama wkwkwk. Karena kejadian itu, mau tidak mau aku mencoba untuk berhati-hati ketika akan menaiki lift. Setelah aku menceritakan kejadian ini, usut punya usust ternyata dosen yang ku temui di lift itu memang suka mengomentari mahasiswa dengan nada sinis. Jadi, yang ku alami adalah hal biasa, biasa beliau lakukan pada banyak mahasiswa.

            Beberapa hari setelah kejadian tersebut, kembali naiklah aku menggunakan lift yang sama. Bedanya adalah aku dan temanku naik duluan sedangkan yang naik terakhir adalah seorang bapak-bapak pegawai yang selalu terlihat ramah dan tersenyum pada semua orang. Berkat keramahannya itulah, beliau menawarkan akan ke lantai berapa kepada kami,

“Lantai berapa?” tanya beliau sambil bersiap untuk menekan tombol di lift.

Aku pun langsung menjawab tanpa melihat beliau karena fokus pada HP yang ku pegang,

“Lantai 4 lah pak, soalnya kalau lantai 2 atau 3 katanya disuruh naik tangga aja” Aku menjawab menirukan kalimat ibu dosen yang kemarin sinis padaku. Sang bapak yang baik hati lantas menjawab sambil tersenyum,

“Saya turun di lantai 2, naik lift soalnya saya sedang sakit lutut” Jawab beliau sambil memegang lutut lantas keluar dari lift karena sudah sampai di lantai 2.

            Semua orang yang ada di lift membatu mendengar percakapan kami. Aku juga tidak menyangka akan terjadi hal bodoh semacam ini. Aku menjawab dengan nada sinis sepertinya. Padahal aslinya aku berniat untuk bercanda tapi sepertinya aku bercanda tidak pada saat yang tepat. Benar-benar timing yang salah. Keluar dari lift aku benar-benar menyesal sampe ke pori-pori. Nyueseeeeeeel aaaasliiiii. Ditambah komentar teman-teman satu labku yang menyayangkan kenapa aku harus bersikap sinis pada bapak yang memang terkenal baik seantero jagad raya fakultas. Ya Allah… mendzolimi orang baik ternyata semenyesal dan semenyakitkan ini. Nggak lagi-lagi deh nyakitin orang baik. Terus, apa kamu nggak nyesel nyakitin aku? (siapa yang nyakitin lu Maemunah wkwkwkw). Cara paling ampuh untuk menghilangkan rasa penyesalan ini adalah meminta maaf kepada beliau secara langsung. Aku rada takut soalnya kan kalau orang baik marah bakalan nyeremin banget. Tapi, berhubung aku harus ngilangin rasa nggak enak ini, mau tak mau harus aku hadapi semua konsekuensi yang menyertai. Baiklah, akhirnya ku beranikan untuk melangkah ke lantai 2 menemui bapaknya.

            Ketika memasuki Lorong di lantai 2, aku bertemu dengan si bapak yang ternyata baru keluar dari ruangannya. Aku rada takut soalnya si bapak tidak menunjukkan senyum ketika melihatku dari kejauhan. Aku pun memberanikan diri memanggil beliau,

“Pak…Pak…Pak” Kataku berkali-kali karena aku tidak memanggil nama beliau sehingga beliau rada nggak ngeh kalau aku memanggil beliau.

“Iya… Kenapa?” jawab beliau sambil tersenyum.

“Maaf pak, saya tadi yang di lift, saya mau minta maaf pak. Tadi saya hanya berniat bercanda” Kataku dengan nada menyesal yang tiada tara.

“Oh…yang mana ya?” jawab beliau mencoba mengingat-ingat

“Yang tadi pak, yang di lift, saya hanya bercanda pak. Maafin saya ya pak” Kataku kembali berkata dengan nada menyesal yang tidak bisa disembunyikan.

“Oh… iya nggak papa, saya orangnya juga suka bercanda, nggak papa, nggak papa, hahaha” Jawab beliau yang membuatku legaaaaa.

            Lantas terjadilah percakapan antara aku dengan si Bapak. Nama beliau adalah pak Juwandi. Pak Juwandi menceritakan pengalaman beliau yang akrab dan sering bercanda hampir dengan semua mahasiswa yang ada di fakultasku. Ya Allah… hina sekali lah diriku ini yang dengan sengaja ngejahatin pak Juwandi yang baiknya nggak ketulungan. Maafkan saya pak, nggak lagi deh becanda tidak pada tempatnya.

            Kejadian selanjutnya terjadi di sebuah lift di Gedung nanosains, berbeda Gedung dengan lift yang sebelumnya. Lift yang ini lebih modern karena berada di Gedung yang terbilang baru. Lantainya pun lebih banyak, sampai lantai 8 kalau tidak salah. Terdapat dua lift yang bersebelahan, kanan dan kiri. Kala itu aku berniat turun dari lantai 2 setelah melakukan sholat dzuhur di mushola yang terletak di lantai yang sama. Aku benar-benar sedang tidak mood untuk menuruni tangga walaupun hanya berjarak satu lantai saja sehingga ku putuskan untuk naik lift. Ketika menekan tombol lift, kedua lift yang bersebelahan itu sama-sama terbuka. Tetapi ku putuskan untuk menaiki yang sebelah kanan karena yang sebelah kiri sepertinya akan ke atas terlebih dahulu. Ketika memasuki lift yang sebelah kanan, ternyata ada seorang bapak-bapak yang berada di dalamnya. Lift ini memang agak besar sehingga terkesan lengang padahal ternyata ada orang di pojokan. Tiba-tiba si Bapak memulai komentarnya,

“Kalau cuma ke lantai 1 naik tangga aja biar sehat” Kata beliau dengan nada sinis. Ya Allah… kenapa ada kejadian gini lagi sih.

“Iya pak, tapi saya nggak tau tangganya dimana” jawabku ngasal soalnya bener-bener lagi nggak mood debat hal receh remeh kayak gini.

“Kalau ada pintu di depan lift itu isinya apaan?” kata beliau tambah sinis

“Oh… yang merah itu ya pak” jawabku, padahal aslinya aku udah tau tapi emang lagi males aja naik tangga ya Allah.

            Aku kira bakalan usai nih percakapan nggak penting macam ini. Tiba-tiba pas nyampe di lantai satu, si bapak malah ngegiring aku ke pintu merah depan lift. Terus beliau buka pintunya sambil ngomong,

“Nih…LIHAT tangganya” Kata beliau sambil nunjukin letak si tangga. Kalau menurutku sih si bapak lebih kepada menghina dibandingkan ngasih info padaku. Aku iyain aja karena emang lagi males banget ngobrol apalagi debat. Ditambah lagi omongan beliau emang bener. Setelah bilang iya aku langsung melangkah meninggalkan si bapak yang merasa puas karena telah menghinaku. Bodo amat.

            Aku tidak habis pikir dengan orang-orang yang suka usil sama orang lain yang menurut pandangan mereka tidak seharusnya menggunakan lift. Lah… lift itu kan fasilitas to. Kalau memang naik atau turun lift dari laintai 2 atau 3 tidak seharusnya dilakukan, kenapa harus ada tombol lantai 2 atau 3? Kenapa nggak langsung aja lantai 4 dan seterusnya biar nggak ada kesalahpahaman macam ini. Suka sekate-kate emang. Atas dasar peduli dengan kesehatan orang lain aku rasa juga kurang tepat karena yang tahu kadar kesehatan seseorang ya orang yang bersangkutan. Tak usahlah terlalu peduli dan mencampuri urusan kesehatan orang lain lantas melarang mereka menaiki lift atas dasar biar lebih sehat. Lagi pula, orang yang negur aku juga menggunakan fasilitas lift. Akan sangat bijak rasanya jika beliau-beliau juga tidak menggunakan lift sehingga nasehat beliau akan lebih universal. Duh… jadi emosi gini kan akunya wkwkwk. Antara aku, kamu, dan lift mengajarkanku bahwa kejadian apapun bisa terjadi bahkan di waktu yang singkat, sesingkat naik lift dari lantai 1 hingga lantai 2 atau 3. Jadi, jenis kisah apakah yang aku alami selama di lift ini? Ya benaaar, menjengkelkan.

Rebahan Selama Lebaran

Kartun tidur aTulisan perdana setelah sekian purnama. Lahirnya pun bukan karena strong willingness dari diri tapi lebih karena kegabutan selama libur lebaran yang entah sudah hari keberapa. Gabutnya pun bukan tanpa alasan, eh gabut juga ada alasannya yak wkwkwk. Lah iya lah. Alesannya pun bukan sembarangan alasan, bukan kaleng-kaleng kalo kata anak sekarang. Aku kecelakaan gaes, kecelakaan tunggal, motor yang ku kendarai nabrak motor yang lagi parkir di pinggir jalan. Kan geblek. Kok? Nah gini ceritanya, ambil cemilan, bakalan lama nih soalnya ceritanya wkwkwk. Sore-sore syahdu gitu, ibuku nyaranin aku sama kembaranku buat jenguk ayah temenku yang lagi sakit. Jenguk orang sakit apalagi lagi bulan Ramadhan akan berlipat-lipat pahala yang bakalan didapat. Aku iyain lah, sebagai anak yang taat pada orang tua dan tergiur akan pahala, lagi pula hari itu aku sedang tidak berpuasa. Berangkatlah kami berempat dengan satu motor, aku, mbak Dila, dan dua ponakanku.

            Suasana sore itu begitu menyenangkan. Cahaya matahari yang masih terang tapi tak terik memberikan kemewahan daya tarik. Bersama dua bocil yang masih polos yang banyak bertanya ini itu membuatku bahagia walaupun masih sendiri wkwkwk. Aku langsung punya rencana pengen ngajakin dua bocil itu ke pantai di hari selanjutnya, berhubung pantai tak terlalu jauh dari rumahku, pasti bakalan nyenengin banget. Rencana hanyalah rencana, Allah lah yang menentukan apakah sebuah rencana akan terlaksana atau tidak. Lantas, bagaimana dengan rencanaku? Ya… Sepertinya belum mendapatkan persetujuan untuk terlaksana karena sepulang dari menjenguk ayah temanku, kami kecelakaan. Innalillah wal hamdulillah. Innalillah karena ini adalah musibah yang membuat kaki kiriku retak dan bengkak bak kaki gajah. Alhamdulillah karena kakiku tidak sampai patah dan hanya aku yang cidera sedangkan yang lain selamat. Mau tau kronologinya nggak? Nggak ya, tapi aku tetep mau cerita wkwkwk.

            Pas perjalanan pulang, ponakanku yang perempuan duduk di depan, sedangkan yang laki-laki di belakang. Nah ponakanku yang perempuan ini gampang banget tidur kalau kena angin. Pas dia tidur gitu, aku mencoba membangunkannya. Mbak Dila mengingatkanku jangan terlalu berfokus pada ponakanku yang tidur karena akan sangat membahayakan, takutnya nabrak. Tapi, karena jiwa keibuanku memberontak, pas di belokan pertigaan aku naikkan kepalanya biar nggak jatuh, dengan fokus pandangan hanya pada ponakanku tidak pada jalan raya dan tiba-tiba BRUUUUKKKK!!!!. Motor yang ku kendarai menghantam motor yang sedang diparkir di pinggir jalan dengan bunyi keras sekali. Semua orang yang ada di sana mengahampiri kami. Aku sempat melihat orang-orang panik menghampiri kami. Aku mengkhawatirkan kondisi ponakanku yang kecil-kecil, masa depan mereka masih panjang, aku akan sangat merasa bersalah jika ada apa-apa dengan mereka karena perbuatanku. Aku melihat sekilas pada mereka berdua, Alhamdulillah mereka tidak apa-apa, mereka baik-baik saja, hanya terlihat raut terkejut yang tidak bisa disembunyikan dari wajah mereka.

            Seorang bapak-bapak yang menghampiri kami memegang stir motor kami kemudian beliau gerak-gerakkan, beliau mengira stir motor yang ku kendarai tidak berfungsi dengan baik. Masuk akal sih, karena ketika terjadi kecelakaan seolah-olah stir motorku hanya bisa lurus dan tidak bisa dibelokkan, padahal itu terjadi karena fokusku yang terpusat pada ponakanku tidak pada jalan. Aku merasakan ada hal yang tidak beres terjadi pada kakiku, seketika kakiku tidak bisa digerakkan dan rasanya kesemutan, mati rasa. Benar-benar tidak bisa digerakkan sehingga aku hanya berdiri di atas motorku tanpa bisa bergerak walaupun banyak orang menghampiri kami. Ku lihat kakiku sudah bengkak memenuhi volume sepatuku. Mbak Dila membantuku untuk berjalan dan duduk di dekat motor yang ku kendarai. Ku buka dengan susah payah sepatu dari kakiku dan seketika dapat ku lihat bengkak yang membuat kakiku layaknya kaki gajah.

            Setelah agak tenang, kami putuskan untuk pulang ke rumah yang jaraknya sebenarnya tak terlalku jauh dengan mbak Dila yang mengendarai motor. Ku tahan rasa nyeri di kakiku yang bengkak karena ingin segera sampai di rumah. Sesampainya di rumah nenekku menyambut dengan wajah sumringah karena kami sampai pas buka puasa. Tapi ekspresi beliau seketika berubah ketika kami menceritakan kejadian yang kami alami dan menjadi lebih histeris ketika melihat kondisi kakiku. Ketika ku tapakkan kakiku di tanah, kakiku rasanya nyeri sekali, kepalaku tiba-tiba pening, berasa mau pingsan, dan aku langsung dipapah untuk duduk di lantai rumah. Aku tiba-tiba merasakan nyeri yang amat sangat pada perut dan pinggangku, kemudian diikuti badanku yang menggigil. Aku langsung meminta selimut dan bantal pada ibuku. Entah itu reaksi jenis apa, aku merasakan nyeri di kaki, pinggang, perut, dan menggigil di sekujur tubuh. Mukaku juga seperti pucat seketika. Aku pun langsung diberikan obat oleh ibuku, entah obat apa, yang ternyata bisa mengurangi rasa sakit yang ku alami. Tak selang berapa lama, kondisiku berangsur mambaik. Aku kembali dipapah untuk dipindah ke tampat yang lebih layak.

            Kekhawatiran besar kembali menghampiriku karena aku sudah bisa memastikan kalau orang rumah akan mendatangkan tukang pijat untuk mengobatiku dan bisa ku banyangkan akan sesakit apa kakiku nanti. Benar saja, tukang pijatnya datang dan memijat kakiku yang bengkak sebesar pepaya. Aku pun berteriak tanpa rasa malu. Rasa sakit yang ku rasakan telah melebihi rasa malu yang ku punya sehingga ku meraung sekencang-kencangnya dan menangis sejadi-jadinya. Bagaimana tidak, kakiku tuh bengkak sebengkak-bengkaknya, dielus-elus aja nyeri, lah ini ditekan, terus diinjak dan ditarik. Gimana nggak teriak-teriak histeris. Rasa nyerinya pun tetap nempel walaupun kaki tukang pijatnya telah tearangkat dari kakiku, nempel bak perangko. Nyueeeeerrrrrri aaaassssli. Kakiku pun dibalut dengan kain kasa dan kardus sebagai penyangga (sangat tradisional bukan, wkwkwk). Alhasil sejak hari itu aku berjalan menggunakan kruk. Ada cerita tersendiri mengenai kruk ini.

            Ketika di Bandung, dosen pembimbingku juga mengalami patah kaki dan harus berjalan menggunakan kruk selama beberapa bulan. Alhamdulillah, sekarang beliau sudah sembuh. Ketika berjalan berdua dengan beliau, kami melihat seorang mahasiswa yang berjalan menggunakan kruk. Seketika beliau teringat masa-masa memakai kruk. Beliau lantas menceritakan pengalaman beliau dan mengajarkanku cara berjalan menggunakan kruk. Aku pun bergumam dalam hati, “kenapa ibu ngajarin cara jalan pake kruk ke aku ya?”. Dan… benar saja, sekarang giliran aku yang berjalan menggunakan kruk. Hikmahnya adalah, terimalah ilmu yang datang kepada kita karena bisa saja itu menjadi isyarat bahwa kita akan membutuhkannya di hari yang akan datang. Selain itu, ada satu lagi cerita terkait kruk. Beberapa jam sebelum kami berangkat, aku masuk ke dalam garasi. Di sana aku melihat kruk yang tergeletak di pojok garasi, aku pun bergumam dalam hati “wah… siapa tuh yang punya kruk, emang ada orang rumah yang pake kruk itu?”. Dan… benar saja, aku lah penghuni rumah selanjutnya yang memakai kruk itu. Hikmahnya adalah jangan menyimpan kruk dalam rumah karena dia akan meminta tuan untuk menggunakannya wkwkwkw (becanda… becanda, ini candaan yang dilontarkan orang-orang di rumah).

            Kesulitan terbesarku ketika menggunakan kruk adalah ketika aku harus ke kamar mandi. Benar-benar sangat merepotkan, tidak hanya merepotkan diri sendiri tetapi juga banyak orang rumah. Sampai di titik ini, aku benar-benar merasa tidak bisa hidup sendiri, aku membutuhkan pasangan wkwkwk. Hikmahnya sesuatu ya. Kesibukan lebaran tahun ini hanyalah rebahan, makan, rebahan, makan, kemudian rebahan lagi. Entah berapa banyak rebahan yang telah ku lakukan hingga hari ke-7 hari ini. Mohon doanya ya teman-teman yang membaca tulisan ini, semoga aku segera diberi kesembuhan agar bisa kembali beraktivitas seperti sedia kala, bisa segera kembali ke Bandung, nyelesain tesis, dan bisa wisuda bulan Oktober 2019. Aamiin. Buat teman-teman yang mengendarai kendaraan bermotor, jangan lupa tetap fokus dan konsentrasi dalam berkendara, karena ketika fokus dan konsentrasi buyar sekejap, konsekuensi dari ringan hingga berat siap menghadap. Pengalaman rebahan selama lebaran yang tak akan pernah terlupakan. Terimakasih ya Allah atas pengalaman yang sangat berharga ini.

Dimana Letak Keadilan?

inilah-macam-macam-jenis-keadilan-menurut-para-ahliMasih tentang kehidupan di Jakarta. Selama tinggal di Jakarta, aku banyak melihat ketidakadilan meraja lela. Di satu sisi aku melihat orang yang begitu nyaman tinggal di gedung megah, sejuk berAC, dan makanan melimpah ruah. Tapi, di sisi lain, aku melihat orang yang merasa cukup hanya dengan tinggal di gerobak dengan anak-anaknya yang banyak.  Lalu aku bertanya, dimana letak keadilan?

            Selama tinggal di Jakarta, aku ngekos di sebuah kosan tak terlalu jauh dari tempatku magang. Kamarku berada di posisi paling depan sehingga sangat dekat dengan gerbang kosan. Di depan gerbang kosan, di seberang jalan gang lebih tepatnya, ada tempat sampah yang biasa digunakan oleh pada penghuni kosan untuk membuang sampah harian. Entah karena terlalu tertutup atau gimana, ketika ku masuk ke dalam kamar kosan maka secara otomatis sinyal internet di HPku akan hilang. Sebagai generasi milenial yang tidak bisa lepas dari gadget terutama HP, kondisi ini menjadi salah satu penyebab makin minusnya kosan ini di mataku. Oleh karena itu, mau tak mau ku harus rela nongkrong di depan gerbang untuk mengembalikan sinyal di HPku. Berasa hidup di gunung bukan di Jakarta, masa masalah sinyal aja pake harus nongkrong depan gerbang kosan. Astaghfirullah, terlalu banyak mengeluhnya saya. Jadilah setiap pulang dari magang, bisa dipastikan ku akan nongkrong di depan gerbang sampai waktu yang tak bisa ditentukan. Sampe sebosennya aja, jadinya lama banget sih soalnya kalau main HP tuh nggak ada bosennya. Kejadian nongkrong ini tentunya bukan kebetulan sih, pasti ada maksud di baliknya dan beneran dong.

            Suatu malam, entah malam ke berapa, ku nongkrong di depan gerbang kosan buat nyari jodoh sinyal. Malam itu hujan, aku bersyukur sudah sampai di kosan sebelum hujan turun. Tak lama nongkrong di gerbang kosan, ada suara yang mengusikku. Ku dongakkan wajah dan tertujulah pada seorang bapak-bapak yang sedang ngorek-ngorek sampah sambil membawa sepeda. Wajahnya terlihat sumringah ketika melihat keberadaanku. Ya Allah, hamba sedih melihat bapak itu, lalu dimanakah letak keadilan? Di saat manusia yang lain mempunyai banyak pilihan untuk bersantai di rumahnya untuk menghindari hujan, bapak itu justru terkena hujan sambil mencari barang sisa di tumpukan sampah. Di malam yang lain ku kembali melihat seorang bapak yang juga sedang mengorek sampah di tempat sampah seberang kosan. Kali ini bapaknya berbeda dari sebelumnya, tidak memakai sepeda tetapi berjalan. Mebawa plastik besar di kedua tangannya. Ketika selesai mengambil barang yang diinginkan, bapaknya pun berjalan. Barulah ku lihat sesuatu yang membuatku makin mempertanyakan dimana letak keadilan. Ternyata si bapak (mohon maaf) cacat dari lahir. Bentuk tangan dan kakinya tidak sempurna. Tangannya bengkok sehingga tidak bisa membawa beban berat, sedangkan kaki beliau juga bengkok sehingga cara berjalannya lambat dan membuat badannya bergoyang seluruhnya ketika berjalan. Ya Allah… Bahkan orang cacat pun di Jakarta ini harus mencari nafkah. Saya pribadi sangat mengapresiasi si bapak karena tidak memanfaatkan kekurangan pada badannya untuk meminta belas kasihan orang lain. Tapi, pertanyaan dalam diri kembali hadir. Jadi, sebenarnya dimana letak keadilan? Bapak itu tidak pernah meminta untuk dilahirkan cacat. Kalau boleh memilih, mungkin beliau ingin terlahir normal, hidup normal, menikah, dan mencari nafkah yang halal untuk keluarganya.

            Kemudian tadi malam aku benar-benar terharu dan menangis tanpa bisa dibendung. Diawali oleh kiriman video dari seorang teman tentang seorang anak bernama Yuda yang marawat bapaknya yang sedang sakit kanker otak seorang diri. Bayangin dong, Yuda yang masih umur 12 tahun harus merawat ayahnya yang sakitnya bukan sakit sembarangan, sakit kanker otak. Selama menjalani perawatan di rumah sakit Hasan Sadikin Bandung, Yuda dan ayahnya tinggal di rumah teduh sahabat iin Bandung. Hal yang membuatku makin sedih, ayah Yuda mengalami kejang-kejang tengah malam. Yuda tidak enak membangunkan petugas rumah teduh di tengah malam, dia hanya bisa menunggui ayahnya sambil memijat ayahnya yang sedang kejang sampai adzan subuh berkumandang. Setelah itu barulah ayah Yuda dirujuk ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan. Betapa tak teriris hati ini mendengar cerita Yuda, terlebih ayah Yuda yang harus menahan rasa sakit berjam jam. Aku aja sakit kepala biasa sampe nelpon orang rumah dan nangis sesenggukan, gimana ayah Yuda yang harus nahan sakit kanker sampai kejang-kejang. Yuda pun tak bisa istirahat hingga pagi karena dia nungguin ayahnya sampe dapet penanganan dokter. Anak sekecil itu bebannya bisa seberat itu, di saat teman sebayanya masih sibuk bermain. Lantas dimana letak keadilan?

            Tak berhenti sampai di situ, kisah Yuda akhirnya viral dan membuatnya diundang di hitam putih. Ketika diwawancarai, tak henti-hentinya Yuda mengeluarkan air mata sehingga beberapa kali pernyataan yang harusnya Yuda keluarkan digantikan oleh host hitam putih. Kala itu yang diundang ke sana bukan hanya Yuda tetapi juga pemilik Yayasan sosial rumah teduh sahabat iin yang bernama lengkap Iraningsih. Beliau sungguh sangat baik menurutku. Bagaimana tidak, di saat yang lain berlomba-lomba membangun properti pribadi atau kos-kosan untuk mendapatka passive income, beliau malah mendirikan rumah teduh sahabat iin. Rumah teduh ini adalah rumah singgah yang dapat digunakan oleh para pasien dan keluarganya ketika melakukan pengobatan atas penyakit yang mereka derita. Rumah teduh ini tentunya sangat bermanfaat bagi para pasien dengan tingkat ekonomi pas pasan. Sudah menjadi rahasia umum kalau penyakit kanker membutuhkan pengobatan yang bertahap dan panjang sehingga akomodasi menjadi hal utama yang harus dipikirkan dan tentunya juga membutuhkan biaya mahal. Sebagian besar yang tinggal di rumah teduh itu adalah orang-orang dengan penghasilan minim dan bahkan harus meninggalkan pekerjaan serta keluarga mereka di kampung halaman. Rumah teduh ini tidak hanya menfasilitasi akomodasi tetapi juga transportasi dan administrasi rumah sakit yang terkenal ribet dan tidak bersahabat bagi orang yang tak beruang. Sungguh mulia pendiri, pengurus, pengelola, dan donatur rumah teduh ini. Hati mereka benar-benar lembut sehingga terketuk untuk menolong orang-orang yang benar-benar membutuhkan. Rumah teduh sahabat Iin sudah dibuka yang ke-12 kalau tidak salah, masyaAllah.

            Setelah ku dapatkan sekilas informasi tentang rumah teduh sahabat IIn ini, akhirnya ku putuskan untuk melihat lebih jauh ke akun Instagram mereka yaitu @rumah_teduh_sahabat_iin. Mulailah ku scroll dari atas ke bawah. Ternyata kisah Yuda hanyalah satu dari sekian ratus kisah pasien penderita kanker yang ada di rumah teduh ini. Berbagai macam jenis kanker diderita oleh pasien di sana, mulai dari kanker gertah bening, kanker darah, kanker tulang, kaker mata, kanker otak, dan bahkan kanker yang telah menyebar ke berbagai organ tubuh. Melihat kisah mereka membuatku semakin menyadari betapa kurang bersyukurnya diriku selama ini atas nikmat sehat yang diberi tanpa harus meminta. Permasalahan yang mereka hadapi tidak hanya menahan rasa sakit karena terkena kanker tetapi juga permasalah hidup terkait perekonomian keluarga yang tentunya tak kalah memberikan beban berat pula. Sebagian atau mungkin seluruh pasien yang ada di sana berasal dari keluarga yang kekurangan dari hal ekonomi. Dari sini aku kembali bertanya, dimana letak keadilan? Ketika di saat yang sama, ada orang yang ditimpa musibah bertubi tubi mulai dari penyakit hingga masalah ekonomi yang sangat sulit, tetapi di sisi yang lain ada orang-orang yang sehat wal afiat dengan perekonomian yang terus menggeliat. Dimana letak keadilan ketika di satu sisi ada yang diberi kesakitan dan kesulitan di saat yang bersamaan, sedangkan di sisi lain ada yang dianugerahi kesehatan dan kemudahan dalam hidup.

            Setelah merenungkannya sejenak, akhirnya ku menemukan muara atas semua pertanyaan yang terus terngiang, sebenarnya dimanakan letak keadilan? Iya dimana? Kalau menurutku, letaknya di akhirat. Kehidupan yang abadi setelah kematian. Dari perenungan di atas, maka tak ada alasan untuk tak mengimani adanya akhirat. Seandainya tidak ada akhirat, maka dunia ini menjadi tempat atas berjalannya praktek ketidakadilan. Bagaimana tidak? Dari kisah-kisah di atas, tidak adanya akhirat akan membuat orang-orang yang terkena penyakit dan berbagai kesulitan hidup akan merasa Allah sungguh tak adil akan hidup yang mereka jalani. Apa bedanya mereka dengan manusia yang lain, kenapa harus mereka yang terkena penyakit dan kesulitan hidup semacam itu, kenapa yang lain tidak?

Oleh karena itu, kita semua perlu sadar bahwa akan selalu ada konsekuensi atas segala hal yang terjadi pada diri kita. Jadi, tak perlu berlampau bersedih bagi yang sedang mengalami kesusahan dan tak perlu terlampau bahagia bagi yang dianugerahi kemudahan dalam hidupnya, karena semua ada konsekuensinya. Seringkali, setiap pulang ke kosan, tidur di kamar yang enak, berselimutkan selimut yang hangat, makan tanpa harus membanting tulang terlalu keras, tiba-tiba timbullah pertanyaan dalam diri. Apa bedanya aku dengan mereka yang hidup di jalanan, tak punya rumah, tak punya selimut, kepanasan, digigit nyamuk, makan kalau ada. Kami sama-sama manusia, lantas apa bedanya? Maka pada saat yang bersamaan, hatiku akan berbisik, akan ada konsekuensi yang harus kamu pertanggungjawabkan atas semua kenyamanan, kemudahanm dan kenikmatan yang kamu rasakan. Pun demikian akan ada pula konsekuensi atau balasan yang akan mereka dapatkan atas penyakit, kesulitan, kesusahan, dan kesedihan yang mereka rasakan ketika di dunia ini. Menulis seperti ini membuatku merasa bahwa dunia ini hanya panggung sandiwara belaka, tempat bersinggah sementara, tempat dimana keadilan banyak dipertanyakan, menuju akhirat dimana jawaban tentang dimana letak keadilan akan terjawabkan tanpa perlu dipertanyakan.

Probabilitas yang Sama

download.jpgAlhamdulillah magang di Jakarta Pusat telah usai. Terhitung sangat singkat ketika diingat-ingat tapi terasa begitu lambat ketika dijalani. Jujur, aku suka sekali magang di tempatku magang tetapi sangat tidak suka Jakarta dengan semua hingar bingar yang ditawarkannya. Nggak tau kenapa ya, aku merasa sangat tidak betah. Banyak sekali pelajaran yang kudapatkan selama di magang di Jakpus, mulai dari metode penelitian yang menjadi terang benderang hingga pelajaran hidup yang bisa diambil hikmahnya. Kali ini aku akan bercerita tentang sebuah kisah yang ku alami di tempat magang yang terhitung sangat singkat itu, yaitu hanya 5 hari. Ada sebuah kisah yang sepertinya sangat menarik untuk aku bagi, sembari menunggu aku lelah hingga mudah tertidur malam ini. Sudah terhitung dua hari aku susah sekali tidur cepat di malam hari. Daripada maksain tidur tapi sebenernya nggak bisa bisa, mending nulis dulu biar capek terus langsung bisa tidur.

            Lembaga penelitian tempatku magang bergerak di bidang biologi molekuler. Aku kurang tau pasti ada berapa lab yang ada di sana, tetapi yang pasti ada beberapa lab yang menerima jasa diagnosa untuk mendeteksi penyakit kelainan genetik. Kebetulan lab yang aku tempati mendiagnosa kelainan pada tingkat kromosom. Salah satu penyakit kelainan genetik yang ku ketahui dipelajari di Lembaga penelitian ini adalah thallasemia. Thallasemia adalah penyakit kelainan genetik yang terjadi pada hemoglobin darah. Hemoglobin merupakan komponen dalam darah yang berfungsi untuk membawa oksigen ke seluruh bagian tubuh. Seseorang yang mengalami thallasemia akan mengalami kekurangan oksigen pada tubuhnya karena hemoglobinnya mengalami kelainan atau mutasi, Nah, apa dampaknya? Orang yang mengidap thallasemia akan mudah lelah, mengalami penyakit kuning, kegagalan jantung, bahkan kematian. Thallasemia dibagi menjadi dua jenis, minor dan mayor. Seseorang yang mengalami thallasemia mayor harus selalu waspada dengan kondisi hemoglobin dalam darahnya dan harus melakukan transfusi darah tiap bulan. Alhamdulillahnya, thallasemia telah menjadi perhatian pemerintah sehingga transfusi darah bagi penderita thallasemia tidak dipungut biaya alias gratis. Sedangkan penderita thallasemia minor biasanya tidak perlu pengobatan khusus, hanya akan mudah lelah saja. Setelah aku baca dari beberapa sumber, menurut WHO Indonesia adalah negara dengan persentase penderita thallasemia tertinggi di dunia. Aku terkaget kaget dan terheran heran membacanya, dari sini aku baru menyadari pentingnya Lembaga biologi molekuler di Indonesia.

            Para penderita thallasemia biasanya kurang bisa diterima untuk dijadikan pekerja karena kondisi fisik mereka yang lemah, mudah lelah, dan pemeriksaan rutin yang perlu mereka lakukan yang tentunya kurang menguntungkan bagi perusahaan yang menjujung tinggi produktivitas para pegawainya. Kalaupun mereka telah lulus seleksi tes, kemungkinan besar mereka akan gugur di tes medical check up yang sudah umum dilakukan oleh perusahaan. Nah, di sinilah letak kekagumanku pada tempat magangku ini karena ternyata ada beberapa orang pengidap thallasemia yang sengaja dipekerjakan di sini. Aku seringkali bertemu mereka ketika mereka memberikan file terkait data pasien ke ruangan tempatku magang. Bahkan, salah satu mbak ini sangat akrab dengan para peneliti di ruanganku. Ketika aku sedang menunggu waktu pulang, ku sempatkan duduk di lobi kantor. Ku perhatikan pintu otomatis yang dilewati oleh orang-orang, salah satunya mbak pengidap thallasemia yang sering berkunjung ke ruanganku itu. Si mbaknya terlihat ke luar kantor dengan membawa file, terus berjalan memunggungiku. Tak tau kenapa aku merasa tertarik memperhatikan mbaknya, beliau terlihat berjalan sambil menyeret salah satu kakinya. Mungkin sakit atau keseleo pikirku kala itu. Setelah siap pulang, ku putuskan segera memesan ojek online dan pulang. Aku berniat untuk berangkat pagi keesokan harinya karena ada metode yang akan diajarkan padaku.

            Benar saja, aku berangkat pagi-pagi sekali. Sampai di kantor baru jam 7.00, benar-benar sangat pagi. Baru ada beberapa pegawai. Bahkan lab tempatku magang belum dibuka. Ku lihat seorang mbak peneliti di lab ku yang sepertinya akan membukakan lab sambil ngobrol sama pak sekuriti. Tapi, ada yang aneh di sana. Si mbaknya ngobrol sambil nangis dengan air mata yang masih banyak menggenang di matanya. Aku melangkahkan kaki untuk mendekat dan ingin tahu hal apa yang sedang terjadi. Setelah ku dengarkan sejenak percakapan mereka barulah aku mengerti. Ternyata ada pegawai yang meninggal dan beliau adalah mbak pengidap thallasemia yang hari sebelumnya aku perhatikan cara jalannya itu. Iya, beliau meninggal, tergolong sangat mendadak. Si mbaknya memang terlihat berbeda, lemes dan kurang bersemangat hari kemarin menurut para pegawai di sana. Padahal beliau dikenal sebagai sosok yang ceria dan suka berinteraksi dengan para pegawai yang lain. Ketika ditanyakan terkait kadar hemoglobinnya, beliau bilangnya sudah periksa dan kadarnya normal.

            Aku kaget bukan main. Si mbaknya yang kemarin masih sehat-sehat saja, keesokan harinya telah mengahadap sang pencipta. Benar-benar umur tak ada yang tahu. Semua pegawai di tempatku magang merasa sangat kehilangan karena kematian si mbaknya, merasa belum percaya, dan benar-benar tak menyangka. Si mbaknya terkenal dengan kinerjanya yang sangat baik, rajin, dan suka menolong rekan kerjanya. Benar-benar sosok yang baik hati dan suka menolong orang lain katanya. Menurut informasi, beliau ini adalah pegawai ketiga pengidap thallasemua yang meninggal. Bagian administrasi di tempatku magang memang sengaja menempatkan para penderita thallasemia, maka pengganti si mbaknya juga harus penderita thallasemia. Ketika sedang mengobrol tentang kematian si mbaknya, salah seorang pegawai di lab ku berkata,

“Temennya dia yang sama-sama punya thallasemia ngerasa was was nggak ya? Ngerasa kematian begitu dekat dengan mereka” Katanya.

            Aku dalam hati menjawab, “Mbak, jangan salah lo, kita semua yang sehat ini juga punya probabilitas yang sama untuk meninggal”

            Iya kan? Setiap orang yang hidup harus menerima kenyataan bahwa kematian adalah sebuah kewajiban. Jadi, kematian itu tidak hanya perlu dikhawatirkan oleh orang yang punya penyakit saja tetapi juga oleh semua orang yang bernyawa. Justru menurutku, orang yang tahu bahwa dirinya sakit semacam ‘diuntungkan’ untuk senantiasa mengingat mati sehingga senantiasa meningkatkan ibadah untuk memperbanyak bekal untuk kembali kepadaNya. Nah, kita-kita yang sehat ini yang selalu merasa ‘aman’ dari kematian akan cenderung melalaikan ibadah karena merasa kematian sangatlah jauuuh. Padahal kita mempunyai probabilitas yang sama untuk meninggal.