Konsisten dan Profesional

konsisten-mengelola-blogBerawal dari kegabutanku di kosan karena ditinggal teman sekamar yang sedang pulang kampung ke Bandung untuk mempersiapkan perhelatan agung dalam hidupnya, yang ikrarnya menggetarkan alam semesta, yang disebut sebagai mitsaqan ghalidza ‘perjanjian yang agung’, yakni pernikahan. Hari pertama aku ditemani teman sekantor yang kosannya tidak terlalu jauh dari kosanku, tapi hari selanjutnya sepertinya tak enak rasanya merepotkan orang lain, jadilah aku nikmati saja kesendirian ini. Kadang sendirian membuat kita bisa memikirkan banyak hal yang mungkin tidak terpikirkan ketika kita bersama orang lain. Jadi, menyendiri sepertinya bisa jadi alternatif untuk menjernihkan pikiran sesekali. Mungkin karena aku kurang terbiasa sendiri, rasanya ingin sekali melakukan suatu hal daripada hanya bengong atau berpikir tak tentu arah. Hal yang biasanya ku lakukan adalah nonton drama, drama korea. Tapi, berhubung drama yang ku suka belum tayang lagi karena drama ini on going, jadilah aku tak melakukan apa-apa kemarin malam. Ditambah dengan kondisi badanku yang sedang benar-benar tidak enak, kepala migrain, pencernaan kurang lancar, dan Bekasi yang sepertinya sedang mencapai suhu terpanasnya. Rasa panasnya bukan main, jangankan di kosan yang tanpa AC, di kantor yang ber-AC pun keringat tak henti-hentinya bercucuran. Mungkin sudah masuk musim kemarau. Tak heran sih banyak meme yang bilang Bekasi punya dua matahari, panasnya benar-benar maksimal, numero uno.

            Rasa pusing yang ku alami tadi malam membuat tidurku makin ku perpanjang, tapi tetap saja sepertinya rasa pusingnya tak mau lepas dari kepala. Aku segera mandi agar kondisiku kembali pulih, yang ada di kepalaku pagi tadi hanyalah beli tolak angin cair atau minum kopi karena biasanya dengan salah satu barang itulah rasa pusingku bisa hilang. Pilihanku jatuh pada minum kopi walaupun ketika minum kopi itu rasa pusingnya sudah mendekati kata sembuh, tapi tetap saja ku beli untuk memaksimalkan proses penyembuhannya. Ketika akan pulang ke kosan, aku ingat aku harus punya tontonan, jadilah aku putuskan untuk mendownload sebuah film yang direkomendasikan seorang temanku di media sosialnya.

            Temanku ini adalah teman yang beberapa tahun belakangan ini aku kagumi. Setiap postingannya, entah itu di IG ataupun wordpress selalu membuat kekagumanku makin bertambah padanya. Selalu saja ada hal baru yang dia posting. Entah karena pengetahuanku yang sempit atau pengetahuan dia yang luas, seakan-akan apa-apa yang dia posting adalah hal baru bagiku dan selalu meninggalkan kesan. Tentunya hal ini membuatku semakin menyukainya. Aku menyukai dia dari penggambaran yang ada di kepalaku karena memang kita sudah tidak bertemu beberapa tahun. Akan ada dua kemungkinan ketika aku kembali bertemu dengannya, aku makin menyukainya atau mungkin malah tidak menyukainya. Apakah dia menyukaiku? Sepertinya tidak karena kemungkinan tidak ada kesan menarik yang ku tinggalkan ketika kita berteman. Kenapa aku begitu yakin? Nggak tau, yakin aja. Pesimis? Nggak juga. Menyukaiku ini bukan dalam taraf aku harus memilikinya, bukan. Aku bukan anak kecil, aku hanya kagum, suka, ya itu saja.

            Postingannya kali ini mengenai sebuah film dokumenter yang berjudul ‘Jiro, The Dreams of Sushi’. Sampai di kalimat ini mungkin akan banyak yang tahu siapa gerangan yang aku kagumi, hehe. Ya dia. Cukup sampai di sini, mari lanjutkan bahasan intinya mengenai film dokumenter ini. Film ini sukses membuatku tertampar, melongo, dan sadar. Film ini juga sukses mambuatku membereskan kamar yang berantakan, melipat baju yang sudah dicuci, kembali punya ‘ghiroh-semangat’ untuk melakukan banyak hal. Dahsyat bukan? Bukan lagi. Aku bisa menjadi sebegitunya ketika menemukan hal yang berhasil menaikkan motivasi. Apa sih isi film ini sampai sebegitu membekasnya di hati? Intinya sih tentang konsistensi dan profesinalitas. Dan semua yang ku tonton di film ini benar-benar berkebalikan dengan apa yang ku lakukan hingga saat ini. Dan aku berniat untuk merubahnya agar hidupku lebih punya arti, ceilah.

            Film menceritakan seorang pemilik restoran sushi di Jepang yang hingga umur 85 tahun masih bersemangat untuk bekerja membuat sushi, namanya Jiro Ono. Di awal film ini beliau berkata bahwa seseorang harus mencintai dan professional dalam pekerjaannya untuk menjadi orang yang sukses di bidangnya. Beliau begitu konsisten membuat sushi bahkan disebutkan di film itu beliau berangkat kerja menaiki kereta dengan posisi yang sama tiap harinya, saking konsistennya. Karena kecintaannya yang sangat besar pada pekerjaannya, beliau sampai tidak suka hari libur dan menurutnya hari libur itu terasa sangat lama, sampai sebegitunya loh. Emang ada orang jaman sekarang yang merasa kalau hari libur itu adalah hari yang tidak menyenangkan? Ada kali ya, tapi aku belum pernah ketemu orang seperti itu. Bahkan ketika beliau tidur pun, beliau bisa membuat sushi dalam mimpinya dan terbangun dengan ide-ide baru tentang sushi. Restoran yang beliau punya sangat kecil tetapi popularitasnya benar-benar telah mendunia. Dianugerahi penghargaan Michelin sebagai restoran bintang 3 (aku nggak tau ini penghargaannya sebergengsi apa tapi dari ceritanya sepertinya penghargaan ini bergengsi banget, mungkin sekelas Nobel kali ya, tapi di bidang kuliner), masuk guiness book world of records, dan berpredikat restoran termahal di dunia. Kalau mau buat reservasi harus dua bulan sebelumnya dan harga sushi per buahnya mulai dari ¥30.000 (kurs rupiah ke yen, 1¥ = 119.11, berarti ¥30.000 setara dengan Rp 3.573.300). What??? Mihil bingit? Aku baru konversi harganya pas nulis ini dan ternyata emang muahaaaaallll bangeeeet. Kalau harganya mulai dari ¥30.000, artinya itu harga termurah kan ya? Pantesan dibilang restoran termahal di dunia. Jangan bayangkan porsi yang besar dengan harga semahal itu, porsinya keciiiil banget sushinya, nggak nyangka semahal itu. Dan jangan bayangkan pula restorannya mentereng dan mewah khas restoran eropa, nggak, nggak sama sekali. Restorannya itu kecil, sempit, hanya berisi 8 kursi kayak warung gitu, benar-benar kecil untuk mendapatkan predikat restoran termahal di dunia. Lantas apa yang membuat restoran dan Jiro ini menjadi begitu tenar dan spesial? Coba nonton deh, kalian bakalan mengerti kenapa bisa sebegitunya. Aku akan sedikit bercerita, tapi mungkin nggak bakalan terlalu menggambarkan kehebatan kakek Jiro ini.

            Jiro telah terkenal sebagai master of sushi, tidak ada yang bisa menyamai kualitasnya selama dia masih hidup, bahkan anak tertuanya pun tidak akan bisa. Ini pendapat seorang penulis buku resep yang telah berulang kali makan di restoran Jiro. Jiro dilahirkan dari seorang Bapak yang mempunyai banyak uang dari usaha kapal angkutan miliknya. Akan tetapi bisnisnya bangkrut dan hidup keluarganya berantakan, bapaknya menjadi peminum dan tidak peduli pada keluarga. Menjadi anak yang tidak terurus membuatnya hidup disiplin dan selalu bekerja keras karena tanpa kerja keras dia tidak akan bisa makan. Jiro bekerja sebagai pegawai di sebuah rumah makan dan sangat konsisten di pekerjaannya, bahkan tetap bertahan walaupun dimarahi dan ditampar ketika melakukan kesalahan (gileee…. Kalau aku kayaknya bakalan langsung ngacir). Sikap disiplinnya inilah beliau tularkan pada anak-anaknya. Ketika anak keduanya akan membuka restoran sushi, pesannya beliau adalah ‘ketika kau pergi (untuk memulai usaha maksudnya), tidak akanada jalan kembali’. Jadi menurut Jiro, ketika orang tua memberikan nasehat kepada anaknya seperti ini ‘berusahalah, pintu rumah akan selalu terbuka ketika kau gagal’ justru akan mengantarkan seorang anak untuk gagal. Banyak pegawai dan pengamat yang berpendapat bahwa Jiro sangat perfeksionis dan sangat keras pada dirinya sendiri. Bahkan ada yang berpendapat ‘harusnya dia tidak menyesali hidupnya karena dia telah berusaha sangat keras, aneh saja kalau dia masih menyesal’. Perumpamaan bekerja pada Jiro adalah ‘kau tidak bisa merasakan kakimu ketika akan tidur’, mungkin saking lamanya berdiri kali ya. Saking jarangnya pulang, ketika anak-anaknya masih kecil, mereka berlari mencari ibu mereka dan berkata ‘bu… ada orang asing tidur di rumah kita’, padahal itu bapaknya sendiri, hahaha.

            Kesan yang didapatkan ketika makan sushi di restoran Jiro katanya selalu enak luar biasa. Ada kepuasan yang tidak bisa didefinisikan dengan kata-kata dan digambarkan dengan permisalan. Kombinasi rasanya luar biasa enak dan mengagumkan. Nggak kebayang seenak apa tuh sushi. Aku aja yang nonton sampe ngiler-ngiler gitu walaupun aku nggak suka sushi tapi kayaknya wenaaaak banget. Pas liat harganya jadi nelen ludah sendiri tapi wkwkwk, iya sih, ada harga ada rasa, tapi kan nggak harus semahal itu juga kaleee. Harganya sebanding sih menurutku karena bahan-bahan yang mereka ambil juga bahan-bahan dari orang yang memang sudah professional dan konsisten di bidangnya. Misalnya kayak ikan tuna, si Jiro udah punya langganan dari penjual tuna yang memang sudah konsisten dan professional di bidang per-tuna-an, udangnya juga gitu, guritanya juga gitu, berasnya pun juga gitu, berasal dari orang-orang yang memang sudah lama di bidang itu, konsisten dan professional. Bahkan bapak-bapak si penjual berasnya sampe bilang, beras jenis itu hanya Jiro dan karyawannya yang bisa ngolah. Pernah mau dibeli sama hotel Grand Hyatt tapi nggak dikasih karena menurut dia hanya Jiro dan karyawannya yang bisa ngolah, bakalan dijual kalau Jiro ngijinin buat dijual. Ampe segitunya lo. Semacam udah nge-link gitu satu sama lain, tidak terpisahkan. Bahkan si penjual bahan-bahan itu kalau ada barang bagus selalu mikir ‘wah… bagus nih barang buat Jiro’. Aku nggak ngerti lagi kenapa bisa sebegitunya ya membangun kepercayaan, ya itulah kekuatan konsistensi dan profesinalisme. Mereka selalu bilang tidak peduli dengan uang padahal kan bisnis ya tapi bagi mereka yang terpenting adalah kualitas.

            Tidak ada bumbu rahasia kayak ayam K*C, tekniknya juga tidak dirahasiakan, hanya saja mereka melakukan itu berulang-ulang kali hingga bisa professional di bidang itu. Dan yang paling penting Jiro tidak pernah merasa puas dengan teknik dan resep yang dia buat, jadi terus menanjaklah kemampuan dan kepiawaiannya membuat sushi. Dia bilang nggak akan berhenti berinovasi karena dia nggak tau puncaknya dimana, bahkan ada pesan bagus dari penjual gurita ‘ketika kau merasa ahli di suatu bidang berarti kau telah membohongi diri sendiri bahwa sesungguhnya kau tak tahu apa-apa’. Kata si penulis resep, untuk menjadi ahli membuat sushi, kita harus belajar dari Jiro selama setidaknya 10 tahun. What? Belajar 10 tahun? Lama banget. Entah orang dulu emang penyabar dan aku generasi sekarang yang katanya tidak bisa sabar dan maunya instant. Menurut mereka generasi muda lebih suka hal yang cepat tanpa memikirkan keahlian dan kualitas dan suka sekali waktu santai (ini aku banget). Iya juga sih…. Aku tipe yang tidak bisa menetap pada satu bidang yang sama, konsisten, melakukan hal yang sama tiap hari. Beda banget sama Jiro atau mungkin orang Jepang yang lain yang begitu konsisten dan prosefional di bidang mereka masing-masing. Mungkin karena aku belum pertemu passionku (ah… excuse lagi… excuse lagi). Intinya sih aku nggak habis pikir bagaimana caranya orang jepang itu menanamkan rasa cinta dan bangga akan profesi mereka masing-masing sehingga mereka bisa terus konsisten di bidang yang sama hingga berpuluh-puluh tahun. Di Indonesia tercinta ini kebanggaan justru muncul ketika kita bekerja di bidang yang dianggap prestisius di masyarakat dan menjadi minder ketika bekerja di bidang yang dianggap ecek-ecek. Ini juga yang terjadi padaku sekarang. Aku tuh ya, pas awal kerja, tiap hari mengutuki diri sendiri, kenapa aku di sini? Kenapa aku kerja cuma segini doang? Kenapa nggak di perusahaan gede? Kenapa hanya jadi guru? Guru les? Kenapa nggak kayak yang lain? Bener-bener minder dan nggak percaya diri. Kenapa? Ya karena doktrin yang berkembang di masyarakat seperti itu. Kebanggaan hanya ada pada pekerjaan dan posisi-posisi tertentu saja.

            Aku dari dulu sudah mengagumi Jepang di banyak lini dan nonton film ini makin menambah kekagumanku. Mungkin akan banyak yang mengira hidup konsisten dan professional itu kan kaku, nggak menarik, dan nggak bahagia. Hey… itu juga pendapatku sebelumnya tapi coba deh nonton film ini dan lihat betapa bahagianya si Jiro menceritakan pekerjaan yang amat sangat dia cintai, lihat bagaimana bahagianya dia ketika mengunjungi teman-teman sekolahnya dulu di kampung halamannya. Mereka sudah sama-sama kakek nenek dan terlihat sangat bahagia. Aku sampe mikir, orang jepang tuh hidup sehat banget ya kok bisa sampe setua itu tapi terlihat masih segar dan bugar. Aku kagum seada-adanya sama profesioanalisme dan konsistensi orang Jepang. Kayak gimana ya pola pendidikan yang mereka tanamkan sehingga bisa sedisiplin itu dan konsisten bahkan pada diri sendiri. Berkaca pada diri sendiri, sepertinya aku terlalu banyak waktu terbuang hanya untuk bersantai dan hal tidak produktif lainnya. Mungkin malam ini aku sadar tapi bisa jadi hari-hari barikutnya aku akan kembali ke pola hidup santai kayak di pantai, sellow kayak di pulow. Nah ini yang aku maksud, bagaimana caranya menanamkan konsistensi dan profesinalisme serta bisa istiqomah menjalankannya. Hanya satu sih kurangnya orang jepang tuh, kurang baca syahadat, hahaha.

Advertisements

Bukan Kesebelasan Biasa

20160220195352Judul Buku         : Kesebelasan Gen Halilintar

Penulis               : Lenggogeni Faruk

Editor                 : Sohwa Halilintar

Penerbit            : PT. Suqma Corpora Indonesia, GenH Media

Jumlah halaman      : 349 halaman

            Baiklah, saatnya curhat about a book that I have been read. Sebenarnya udah lama denger nih cerita keluarga yang luar biasa, kesebelasan gen halilintar dan baru ketemu bukunya di kosan kembaranku, punya teman kosannya katanya. Langsung deh tanpa ba bi bu nyomot nih buku soalnya pengen tahu lebih jauh apa sih atau lebih tepatnya seperti apa sih kesebelasan gen halilintar ini. Selentingan yang pernah ku denger sih katanya nih keluarga hebat banget, sepasang suami istri yang punya 11 orang anak, melakukan keliling dunia sambil ngasuh anak, dan lebih wow nya lagi nggak pake asisten rumah tangga, kece banget kan. Yuk ah… mari lihat lebih jauh apa isi buku ini.

            Buku ini bercerita tentang seorang mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Indonesia bernama Halilintar Asmid di tahun ke-4 masa kuliahnya dengan kebulatan tekad melamar seorang perempuan yang dia yakini akan menjadi pendamping hidup dan ibu dari anak-anaknya kelak bernama Lenggogeni Faruk yang saat itu juga berkuliah di UI Fakultas Ekonomi tetapi masih berada di tahun ke-2. Mereka sebenarnya sudah saling kenal karena mereka berasal dari daerah yang sama dan tinggal di satu kompleks perumahan yang sama, kompleks perumahan Caltex Indonesia – sekarang bernama Chevron Indonesia, Distrik Rumbai dan Dumai. Membaca sampai di sini saja aku udah angkat tangan tinggi-tinggi buat mereka berdua. Bayangin dong, keduanya masih kuliah dan tahu sendiri kan anak kuliahan itu belum punya penghasilan, tapi mereka udah berani banget untuk membina sebuah rumah tangga. Alasan yang disebutkan di buku ini karena mereka tidak mau berkubang di hubungan yang tak diperbolehkan agama, kalau memang cocok dan nyaman, ya langsung nikah aja. Keren nggak sih prinsipnya. Ibu Lenggogeni juga ku acungi dua jempol ketika mas kawin yang dia minta hanyalah ‘seperangkat alat shalat dan bacaan surat Al-Ikhlas tiga kali’. Di halaman awal saja buku ini telah sukses membuatku terkagum-kagum dan tak berhenti mengangguk setuju dengan keputusan-keputusan yang mereka ambil, yang menurutku antimainstream banget, seriusan.

            Mendapatkan buah hati adalah kesenangan yang luar biasa tak tergambarkan bagi semua pasangan suami istri apalagi yang baru menikah, tak terkecuali pasangan ini. Ketika ibu Lenggogeni akan diwisuda, beliau sudah memiliki dua buah hati, satu digendong dan satunya digandeng. Seinget aku pas aku kuliah dulu, banter-banternya nih ya, paling cuma gendong anak, nah ini ibunya udah punya anak dua. Standing ovation banget nih sama pasangan ini. Anak pertama diberi nama Atta Halilintar (laki-laki) dan yang kedua Sohwa Halilintar (perempuan). Ibu Lenggogeni menikah pada umur 20 tahun dan mempunyai 11 anak ketika umurnya 40 tahunan, jadi bisa dikatakan beliau melahirkan setiap tahun. Proses kelahiran dari masing-masing anak diceritakan cukup detail di sini, kapan mereka lahir, seperti apa rasa sakitnya (bikin deg-degan baca bagian ini), dimana mereka dilahirkan, dan cerita yang mengiringi proses kelahiran mereka. Setiap proses kelahiran masing-masing anak mempunyai cerita yang menarik tersendiri. Nama dari kesebelasan itu adalah (tambahin halilintar ya di belakang namanya) Atta, Sohwa, Sajidah, Thariq, Abqariyyah, Saaih, Fatim, Fateh, Muntaz, Saleha, dan Qahtan, dengan rincian enam laki-laki dan lima perempuan.

            Lebih mencengangkannya lagi, semuanya dilahirkan dengan proses yang normal dan mendapatkan asi eksklusif, serta pengasuhan tanpa keterlibatan asisten rumah tangga sedikit pun. Kebayang nggak sih, di saat banyak pasangan yang punya anak satu atau dua repotnya udah kayak gimana, ini 11 orang lo 11. Setiap dari mereka juga akan diikutkan ketika orang tua mereka melakukan perjalanan ke luar negeri, jadi kesebelas anak mereka bisa dibilang sudag pernah keliling dunia mengikuti kedua orang tua mereka yang berbisnis. Sempat beberapa kali pindah tempat tinggal, di Jakarta, Malaysia, Autralia, Eropa, hingga Amerika. Tetapi di Jakarta dan Malaysia lah mereka paling lama bermukim. Mobilitas yang tinggi membuat kesebelasan gen halilintar tidak sekolah di sekolah formal tetapi homeshooling dimana pendidikannya diatur oleh kedua orang tua mereka. Tak mengecap pendidikan formal bukan berarti mereka tak berprestasi, justru mereka tumbuh menjadi anak-anak yang outstanding. Mempunyai bisnis skala besar di umur yang masih belia, sebut saja bisnis alat elektronik, café, fashion, graphic design, travel, bahkan buku ini adalah hasil dari percetakan yang mereka punya. Nggak ada abisnya deh kalau mau ngomongin hebatnya nih keluarga. Jadi nggak salah kalau mereka ini ku sebut bukan kesebelasan biasa. Hal yang terpenting, pengetahuan agama dan dunia berjalan beriiringan di keluarga ini. Pengetahuan agama telah dengan baik mereka aplikasikan, jadi tak hanya sekedar teori yang hanya diketahui tetapi juga diaplikasikan di kehidupan sehari-hari. Semisal, larangan pacaran bagi kesebalasan halilintar, hijab yang mereka gunakan, dan hubungan antar manusia yang kesemuanya menurutku mereka sudah sampai pada tahap being bukan knowing. Buku ini juga dilengkapi banyak dokumentasi foto-foto keluarga kesebelasan gen halilintar yang bikin mata seger jadi nggak cepet bosen bacanya.

            Perasaan dari tadi ngomongin kelebihan, lantas apa kekurangan buku ini? hm… apa ya, kalau dari konten sih nih buku oke banget, penggambarannya gamblang, rinci, dan sukses bikin pengen cepet nikah wkwkwkw. Kurangnya paling dari segi penulisan kali ya, bahasa tulisannya berasa kaku dan kurang gimana gitu ya, mungkin karena Ibu Lenggogeni emang bukan penulis kali ya. Tapi kekurangan ini sangat tertutupi dengan kisah yang diceritakan di buku ini, bukan fiktif, nyata banget, dan keren banget menurutku. Membina keluarga tuh nggak gampang tapi buku ini telah sukses membuang rasa takut berumah tangga karena sepertinya sangat menyenangkan membina keluarga besar. Jadi intinya, yuk… kapan abang lamar adek bang wkwkwk. Nice book sih, kesebelasan gen halilintar ini juga menyampaikan pesan tersirat bahwa mempunyai anak banyak akan meminimalisir keinginan mendua atau selingkuh. Ya kali masih sempet mikirin selingkuh, hidup mereka sudah sangat rame dan bahagia untuk melakukan hal yang tak penting dan berdosa seperti itu. Perselingkuhan kan terjadi karena kejenuhan dan kesepian yang melanda dalam rumah tangga. Iya nggak sih? Di film-film sih gitu. Itu aja sih resensinya. Sebenernya bukan resensi sih, lebih tepatnya pendapat pribadiku tentang buku yang ku baca. Semoga akan terus berlanjut karena ada banyak buku yang mengantri untuk ku baca dan artinya banyak pula review yang harus aku tulis.

Hwayi: a Monster Boy

260ae79ba0c94990805e7abc0c3f2166Awalnya niat nggak niat buat nontonin nih film. Filenya udah tergeletak cukup lama di folder ‘movie and drama’. Emang suka gitu sih, minta membabi buta tatkala ada yang nawarin drama atau film baru. Nontonnya sih nggak tau kapan, tapi percaya deh akan ada masa dimana kalian ngerasa sendiri dan nggak tau ngelekuin apaan. Nah, di saat itulah bakalan ada rasa kepengen banget buat nonton film atau drama. Pada saat itulah file film atau drama itu akan menunjukkan fungsinya, menemani kesendirian kalian yang memang telah lama manyendiri haha. Kayak aku kemaren, lagi punya waktu yang lumayan lengang, mau ngerjain pekerjaan lain, udah pada selesai dikerjain jadilah larinya ya nonton film. Pas buka file ‘movie and drama’ ada satu movie yang belum aku tonton, judulnya Hwayi: a Monster Boy. Bukan horror kok, aku juga ogah kalau yang horror mah. Penasaran apa isinya, yuk mulai ceritanya.

            Cerita ini dimulai dari adegan gangster yang sedang dalam pengejaran karena membawa barang terlarang. Ditampilkan dua tempat berbeda, satu di kereta bawah tanah, satunya lagi di kereta yang melintasi padang pasir gitu, gersang. Aku juga agak bingung untuk menceritakan latarnya, intinya gangster gitu ya. Gangster ini akhirnya berhasil kabur dari pengejaran dan berhasil sampai di markas mereka, sebuah rumah sambil duduk melingkar memperhatikan sebuah pot bunga yang memang dari awal proses pengejaran tadi menjadi bahan rebutan, aku juga tak mengerti, kenapa pot bunga itu menjadi begitu diperebutkan. Setelah perdebatan singkat, akhirnya tanaman dari pot bunga itu diangkat dan di dalamnya ada seorang anak kecil yang tertidur pulas dengan tangan diikat dan mulut di lakban. Setelah anak itu dikeluarkan, ketua gangster itu meminta untuk dibawakan minuman, dan keluarlah seorang perempuan muda membawakan minuman dengan wajah penuh luka dan kaki dirantai, sampai kakinya bengkak dan berdarah.

            Lima belas tahun kemudian, ditayangkan seorang remaja laki-laki yang sedang memakai seragam sekolah turun dari sebuaah bus sekolah membawa sebungkus jeruk. Anak ini terlihat begitu kaku tatkala disapa oleh seorang perempuan seumurannya. Terjadilah percakapan di antara mereka berdua dimana percakapan lebih didominasi oleh si perempuan, si anak laki-laki hanya menanggapi sesekali dengan sedikit kaku. Ketika sampai di persimpangan jalan, mereka berdua harus berpisah, si perempuan ke kiri sedangkan si remaja laki-laki ke kanan. Ketika mereka akan berpisah, si perempuan bertanya,

“nama kamu siapa?” tanyanya

“Hwayi” jawabnya, sambil memberikan sebuah jeruk yang dia bawa pada si remaja perempuan. Si remaja perempuan mengambilnya sambil menggumamkan nama Hwayi yang menurutnya agak sedikit tak lazim bahkan sedikit aneh.

            Tak selang berapa lama, sampailah Hwayi di rumahnya yang dihuni oleh ayah-ayahnya. Ayah-ayahnya? Iya, Hwayi mempunyai beberapa ayah, yang tak lain dan tak bukan adalah anggota gangster yang dulu telah menculiknya. Hwayi adalah anak kecil yang dulu diletakkan di bawah pot bunga. Hwayi diculik dan dibesarkan oleh gangster yang menculiknya. Jadi dia memanggil ‘ayah’ untuk semua gangster itu dan memanggil ibu pada seorang perempuan yang di awal tadi ku ceritakan kakinya dirantai.

            Sekarang aku akan menceritakan satu per satu karakter ayah-ayah Hwayi tapi hanya ku beri symbol abjad saja karena susah sekali mengingat nama-nama orang Korea itu. Baiklah, mari kita mulai,

A, ayah Hwayi yang satu ini adalah ketua gangster yang dikenal tak punya perasaan ketika mengeksekusi korbannya. Hal ini terlihat ketika mereka menembak korban, tanpa babibu tiba-tiba ditembak aja. Biasanya kalau film-film lain kan korbannya diajak ngobrol dulu terus pas nembaknya kita tahu gitu kapan mulainya, nah kalau film ini main ‘dor’ aja. Jangankan korban, aku aja kaget pas mereka mengeksekusi korbannya. Ketua gangster ini paling jarang ngomong di antara yang lain, mukanya datar, tapi matanya memancarkan aura pembunuh yang tidak takut akan apa pun. Hwayi terlihat paling tunduk, patuh, dan takut pada ayahnya yang satu ini.

B, orang ini adalah sosok yang paling pintar di antara yang lain, paling dihormati oleh anggota gangster yang lain karena sosoknya yang terpelajar. Paling memikirkan masa depan Hwayi, bagaimana sekolahnya, intinya paling intelek lah di antara yang lain.

C, yang satu ini adalah sosok ayah Hwayi yang suka sekali bermain perempuan. Suka mabuk-mabukan dan berkunjung ke rumah bordir. Jago sekali membawa mobil sehingga selalu dijadikan sopir ketika gangster ini melaksanakan aksi mereka. Paling sayang pada Hwayi, gambaran sosok ayah yang rela memberikan apa pun dan berkorban demi anaknya. Sangat menganggap Hwayi seperti anaknya sendiri.

D, ayah Hwayi yang satu ini paling suka membunuh korbannya dengan pisau dan paling berhati dingin, seakan-akan sudah tak ada sama sekali belas kasihan di dalam dirinya. Akan sangat sebang ketika diberi kesempatan untuk menyiksa korban sambil tertawa, seakan-anak membunuh adalah kesenangan tersendiri baginya.

E, yang satu ini paling muda di antara yang lain, paling ganteng, dan tubuhnya paling atletis. Sangat mahir menggunakan pistol dan sejenisnya. Selalu mempunyai kecurigaan pada Hwayi. Bahkan dialah yang dulu sempat akan menembak Hwayi ketika dia berada di dalam pot. Mungkin karena paling muda kali ya, jadi belum begitu punya rasa kasih sayang pada Hwayi.

            Pada suatu ketika, gangster ini mendapatkan orderan untuk membunuh seorang pejabat yang hobinya korupsi. Kala itu, si pejabat sedang dipijat oleh seorang tunanetra. Tanpa babibu tiba-tiba ruangannya didobrak oleh segerombolan gangster, para ayah Hwayi. Si pejabat tak kooperatif, melawan pada para gangster sehingga dia langsung dihabisi dengan tembakan membabi buta di sekujur tubuhnya. Si tunanetra hanya gemetar tak tahu apa yang harus diperbuat, ayah Hwayi (A) mengetes penglihatan si tukang pijat tunanetra dengan mengambil sebuah paku dan pura-pura akan menancapkannya pada mata si bapak tunanetra sambil mengancam agar dia tak akan pernah bercerita tentang apa yang dia dengar. Si bapak tunanetra pun mengangguk sambil gemetar. Padahal si bapak tunanetra itu bisa melihat sekilas wajah A dikarenakan paku yang akan ditancapkan pada matanya membuat cahaya menjadi memusat sehingga dia bisa melihat orang yang didepannya, yaitu si A.

            Setelah kejadian itu, seperti biasa, polisi akan datang setelah kejadian terjadi. Si bapak tunanetra si bawa ke kantor polisi untuk dijadikan saksi akan tetapi, si bapak Tunanetra tidak memberikan keterangan apa pun, dia hanya diam seribu bahasa, karena takut akan ancaman si A. Polisi sampai dibuat stress karena si bapak tunanetra tidak mengeluarkan satu patah kata pun sehingga polisi tidak bisa berbuat apa-apa. Setelah beberapa hari, munculah seorang polisi yang terkenal karena ke’nyentrikan’nya, dia selalu berhasil menginterogasi orang-orang yang sangat tidak kooperatif ketika proses interogasi. Dia pun langsung mengeluarkan aksinya, dia juga tau kalau si bapak tunanetra tidak total buta, artinya ada satu titik dimana dia bisa melihat gambaran benda walaupun hanya sesaat. Nah, karena diancam ini itu, akhirnya si bapak tunanetra itu buka mulut, seperti apa orang yang telah membunuh si pejabat. Parahnya, si A mempunyai kaki tangan seorang polisi, sehingga apa yang terjadi di kantor polisi kala itu langsung diketahui si A. Si A langsung menyusun rencana untuk menembak si bapak tunanetra ketika keluar dari penjara tapi tidak dengan tangannya, dia akan menyuruh Hwayi yang memang jago menembak, dia memang telah dilatih untuk menjadi sniper di masa depan. Senjata laras panjang telah disiapkan, Hwayi juga telah mengambil ancang-ancang untuk menarik pelatuk, tetapi ketika dia akan menarik pelatuk, dia justru tidak melakukannya kerana dia melihat sesosok monster yang tiba-tiba muncul di lensa senjatanya, ketika dia akan menembak, sehingga gagal lah rencana yang telah disusun oleh A. Si A marah besar pada Hwayi, dia marah bukan karena tak bisa membunuh si bapak tunanetra, melainkan karena dia merasa Hwayi tidak ingin menjadi seperti dirinya. Dia merasa Hwayi telah menganggapnya ayah yang kotor sehingga Hwayi tidak mau menajadi dirinya,

“Kenapa kau tak menarik palatuknya” tanyanya sambil menyeret Hwayi

“maafkan aku ayah, aku melihat ada monster” jawab Hwayi sambil menangis dan ketakutan.

“kamu merasa bersih? Kamu tak mau menjadi kotor seperti ayah-ayahmu? Kau tak mau menjadi bagian dari kita? Kau bagian dari kita anakku” jawabnya sambil melemparkan tubuh Hwayi ke dekat tubuh bapak tunanetra yang telah menjadi mayat dan tubuhnya penuh dengan luka.

“maafkan aku ayah, aku akan melakukannya, tapi tadi ada monster, maafkan aku ayah, jangan kurung aku, aku takut… aku takut…. Ada monster ayah… ada monster…” pinta Hwayi karena dia tahu ayahnya akan mengurungnya di gudang bawah tanah. Padahal di belakang Hwayi sedang berdiri seekor monster yang sangat besar yang membuatnya begitu ketakutan, monster yang telah menemani kesendiriannya dan selalu menimbulkan rasa takut yang sangat mendalam dalam dirinya. Hwayi tak berbohong, monster itu nyata, tetapi nyata hanya bagi Hwayi, ya hanya Hwayi yang bisa melihatnya, orang lain tidak. Ya, ini semacam halusinasi atau fobia. Ayah-ayah Hwayi yang lain sebenarnya tidak setuju dengan apa yang dilakukan si A. Beberapa di antara mereka malah ingin si Hwayi mempunyai kehidupan yang normal, mereka tidak mau Hwayi hidup seperti mereka. Bahkan ayah Hwayi si B, berencana untuk menyekolahkan Hwayi ke Amerika. Dia telah mendaftarkan Hwayi ke sekolah seni terbaik di Amerika karena dia tahu Hwayi sangat pintar melukis. Tapi ketika dia menceritakan rencananya pada Hwayi, Hwayi justru menolaknya karena dia tahu si A tidak akan mengijinkannya.

Continue reading

Jadi Istri Apa Emang Gitu Ya #part2

kisah-cinta-romantis-Islam-oleh-Unik-SegiEmpatBaiklah, ku putuskan untuk segera menceritakan cerita yang sudah terlanjur ku mulai, pantang ngegantung cerita, sekali mulai maka harus selesai. Takut keburu buyar nih ingatan. Sebenernya udah beberapa hari yang lalu selesai nonton nih dorama, malah malam ini udah ada satu lagi doramanya Takeru Sato yang sayang banget kalau nggak diceritain, judulnya Q10 bacanya ‘Kyuto’. Berhubung aturannya first in first out, maka aku selesain cerita ini baru nanti cerita dorama Q10. Padahal udah nggak tahan banget pengen cerita, hmmmm. Bener kan, emang nggak salah nontonin dorama maupun movie yang diperanin sama si Takeru Sato, semacam kayak ada jaminan gitu lo, pas abis nonton rasanya banyak banget pelajaran yang didapet dari tuh tontonan. Nggak kayak film yang kemarin aku tonton, beneran dah berasa rugi banget investasiin waktu dua jam ku untuk film semacam ntuh. Astagfirullah, kenapa jadi ngebanding-bandingin gini yak. Baiklah, daripada makin lama ngelanturnya, yuk lanjutin kisah si Tokuzo sama Tushiko.

            Kemarin nyampe mana ya? Kalau nggak salah sampe di cerita ketika si Tokuzo ngirimin jimat bersalin untuk Tushiko. Nah jimat bersalin itu ada gantungan lonceng kecil gitu, jadi kalau pas digerakin bunyi-bunyi ‘krining’ semacam itulah. Si Tushiko biasa menggunakannya untuk menghibur anaknya di kandungan, analog sama ibu-ibu yang ngajiin anaknya gitu kali ya kalau pas lagi hamil. Nah, naasnya si Tukuzo ternyata ketauan kalau dia bekerja di dua tempat, yakni di restoran Perancis sama kedutaan Inggris. Tindakan Tokuzo merupakan sebuah pelanggaran sehingga mau tak mau dia harus dipecat dari dua tempat dimana dia bekerja. Udah tuh ya, si Tokuzo jadi bingung mau tinggal dimana. Ditambah lagi ketika dia ke kosan Nii-yan (kakak laki-laki) nya, kakaknya ternyata sudah pulang kampung karena sakit parah. Kakaknya menderita TBC. Tokuzo kaget bukan kepalang karena alasan yang sering dia gunakan agar bisa bekerja di dua tempat adalah bilang kalau dia ingin menjenguk kakaknya yang sedang sakit, semacam karma gitu lah ya. Si Tokuzo malu untuk pulang karena dia telah dipecat, dia juga malu untuk memberitahu alamatnya yang sekarang. Dia akhirnya mendapatkan pekerjaan baru sebagai pelayan di sebuah warung kecil milik seorang bapak tua dan istri mudanya.

            Karena tak memberikan alamat yang baru akhirnya si Tokuzo tidak tau kabar tentang keluarga di desanya, tentang Tushiko, maupun tentang kakaknya. Si Tokuzo hanya fokus untuk membuat menu baru untuk warung tempatnya bekerja sehingga dia bisa mendapatkan pelanggan yang banyak. Usahanya sedikit membuahkan hasil, dia membuat sebuah menu dengan nama ‘kari Perancis’ yang sukses membuat orang-orang antre untuk hanya sekedar mencicipi kari buatannya. Setelah beberapa bulan bekerja di sebuah warung kecil, datanglah kabar dari teman sekamarnya dulu ketika bekerja di restoran Perancis kalau dia mendapatkan banyak surat dari desanya. Jadi suratnya nyampe di kosan Tokuzo yang awal, iyalah, dia kan nggak ngasih tau alamat yang baru. Taukah isinya? Ternyata isinya adalah Tushiko tidak bisa melahirkan dengan baik, anaknya meninggal ketika proses kelahiran. Kaget banget kan si Tokuzo, dia langsung pulang ke desanya, pergi ke rumah Tushiko dan meminta maaf atas perbuatan kurang ajar yang telah dia lakukan terhadap Tushiko, bahkan dia tidak ada ketika Tushiko berjuang untuk melahirkan anak mereka. Nah Tushiko ternyata masih sakit, dia kaget akan kedatangan si Tokuzo. Sebelum ke rumah Tushiko, Tokuzo pergi ke rumahnya untuk bertemu dengan ayahnya, dia bukannya minta maaf karena pergi dari rumah tapi malah minta untuk dipinjami uang 100yen. Rencananya uang itu akan dia gunakan untuk membuat sebuah rumah makan di Tokyo, dia sangat yakin akan rencananya itu, dia berniat akan membawa Tushiko ke Tokyo.

Continue reading

Jadi Istri Apa Emang Gitu Ya #part1

Cara-Menjadi-Istri-dan-Ibu-Rumah-Tangga-yang-sabar-baik-bijak-dan-hebat-menurut-islam-638x320Terhitung sudah sebulan sejak ku putuskan untuk taubat sama yang namanya nontonin drama-drama Korea ataupun dorama-dorama Jepang yang telah sukses membuatku kecanduan. Dan tepat di minggu kelima ini aku sudah tak sanggup lagi menahan candu akan tontonan itu. Tomat alias tobat kumat ditambah lagi libur akhir pekan tanpa agenda apa-apa. Alhasil hanya di kosan saja dan ya mau nggak mau, kerjaan paling nyenengin selain baca buku ya nonton. Idealnya ya pas aku putusin buat tobat, semua drama dan dorama itu harusnya diapusin semua terutama yang belum dotonton. Tapi sayang banget kalo inget pas downloadnya. Sayang sayang kan ya, udah bela-belain di download masak iya diapus gitu aja. Alasan sih, alasan orang-orang yang niat tobat tapi nggan terlalu niat. Tapi kalo dipikir-pikir ya, ngapain juga aku tobat, kan nonton nggak dosa ini asalkan jangan berlebihan. Nah, asalkan jangan berlebihan. Jangan sampai seperti yang ku alami pas kuliah dulu, nonton drama Korea dua hari berturut-turut nggak tidur. Eh pas giliran udah kelar tuh drama, berangkat kuliah serasa ngambang, berasa kaki nggak nyentuh tanah, hiiii nggak lagi deh kayak gitu. Berbekal keyakinan ‘asal nggak berlebihan’ mulailah ku buka laptop dan ku cari-cari dorama apa sekiranya yang pantas ku tonton. Jatuhlah pilihan pada dorama jepang dengan judul ‘Tennou no Ryouriban’, alasannya karena yang main si aktor kesayangan Takeru Sato, yang beberapa bulan ini memenuhi pikiran dan perasaan hahaha #lebay.

            Drama ini berkisah tentang seorang pemuda yang bernama Tokuzo (diperankan sama si Takeru Sato), anak kedua dari empat bersaudara, putra seorang juragan di sebuah desa di Jepang. Nah si Tozoku ini terkenal di desanya dengan julukan Nokuzo (artinya bodoh atau tolol) dikarenakan walaupun sudah dewasa pikirannya sangat jauh dari umurnya. Sifatnya sangat kekanak-kanakan. Mudah suka pada sesuatu tapi mudah juga buat bosan. Ketika memutuskan untuk mengambil sebuah pekerjaan atau tanggung jawab, dia hanya akan bertahan maksimal 3 bulan. Dia pernah menjadi seorang pedagang, petani, prajurit, juragan beras, bahkan yang terakhir dia memutuskan untuk menjadi seorang biksu tapi hasilnya dia malah dikeluarkan dari kuil karena kelakuannya yang tak bisa dimaafkan, merobohkan makam leluhur para biksu. Semua profesi itu dia jalani kurang dari 3 bulan. Sama sekali tak bisa dewasa, beda sekali dengan kakak tertuanya yang menjadi seorang mahasiswa hukum, sangat dewasa dan tau kemana masa depannya akan dia bawa. Sang ayah yang khawatir jikalau di masa depan si anak akan menjadi Yakuza memutuskan untuk menikahkan anaknya dengan putri sulung seorang juragan sembako (anggep aja juragan sembako, aku nggak tau istilahnya hahaha).

Continue reading

Tokarev, Semua Berawal Darimu

video-stopmotion-2dAwalnya pengen cerita masalah pribadi, tapi sepertinya tak menarik lagi. Pengen nulis cerita yang sedikit berbeda dari sebelumnya, yah… walaupun dengan penulis yang sama #iyalah. Gini ceritanya, tiap kali bikin curriculum vitae tak pernah absen tuh point hobbi yang biasanya akan ku isi dengan, hobbi: reading, writing, travelling, and blogging, tapi sepertinya akan ada tambahan satu lagi yaitu sleeping hahaha #becanda. Ya nggak lah, masak sleeping, yang bener tuh watching. Watching? What kind of program? Aku jawab anything, tapi yang paling aku suka sih nonton drama, yah… bisa kalian prediksi lah what kind of drama. Yup, you are right, absolutely right, Korean drama, sampe ada folder tersendiri untuk genre yang satu ini hahaha. Jadi mau cerita tentang drama korea nih? Ya nggak lah, nontonnya aja bisa berhari-hari, gimana nyeritain ulang. Kali ini aku akan bercerita tentang Tokarev yang 100 persen nggak ada kaitannya sama drama korea, sip lah.

            Masa-masa rawan galau kayak sekarang nih cara yang paling ampuh untuk menghindarinya adalah watching alias nonton. Gimana nggak galau coba, kerjaannya cuma nunggu, nungguin sesuatu yang kemungkinan nih yang ditunggu juga nggak tau kalo lagi ditunggu, hahaha, apaan coba. Nggak sih, aku nih lagi nunggu kepastian kemana sebaiknya kaki ini dilangkahkan untuk menjemput tuh yang namanya masa depan. Apakah ke kanan lantas lewatin tanjakan atau mungkin ke kiri kemudian melintasi turunan? Aku hanya berharap, apa pun jalan yang ku pilih, I hope and I believe Allah will give me the best one, amiiin. Bact to Tokarev. Jadi aku baru aja selesai nonton sebuah movie Hollywood yang judulnya Tokarev. Cukup menarik buat aku ceritain kembali pake bahasaku sendiri, sekalian nambah postingan, hehe. Berhubung aku lagi males nih buat nyari lebih detail tentang nih movie, jadi buat yang pengen tau lebih dalam silahkan ketikkan “Tokarev” di search engine yang kalian gunakan, maka akan keluar tuh informasi sedetail-detailnya tentang nih movie. Aku cuma pengen nyeritain isi ceritanya doang plus hikmah apa yang bisa kita ambil dari nih movie.

Continue reading

Sepenting Itukah Dabba?

2htongbleng-H60-pwkAku bukan Stanley yang tak membawa dabba karena tak punya, tapi lebih tepatya memang tak pernah tahu bahwa dabba adalah hal yang harus dibawa.  Sedari kecil hingga sebesar ini, bisa dihitung dengan jari berapa kali kiranya aku membawa si dabba. Pernah suatu ketika ku bawa, tapi sungguh tak efektif menurutku membawa dabba. Maka selanjutnya ku putuskan untuk tak kembali membawanya. Lain diriku, lain pula si Stanley. Stanley ingin sekali membawa dabba. Tapi, dia tak punya daya apalagi upaya untuk membawanya. Orang tuanya yang telah meninggal tak mungkin lagi dengan sengaja memberinya dabba. Ngomong-ngomong masalah dabba, udah pada tahu belum dabba itu apa? Dabba adalah bahasa India yang kalau di Indonesiakan berarti kotak makan siang (lunch box).

            Cerita kali ini diilhami dari film yang ku tonton beberapa hari yang lalu. Telah dengan sengaja ku bercerita lewat twitter dengan hashtag #STD (Stanley ka dabba) dan sengaja pula ku tuliskan kembali di blog karena malam ini kembali diingatkan tentang cerita ini. Film ini bercerita tentang dabba, unik sih menurutku karena seperti yang telah aku tuliskan sebelumnya, tak pernah sedikitpun ku anggap membawa dabba ke sekolah adalah hal yang penting, sunggguh.

Continue reading