Waiting for Nothing

danbo_06Hal yang paling aku sukai dari Bogor adalah sinyalnya. Terhitung sejak tingkat akhir ini sinyal m3 di kosanku kenceng banget. Jadi, nggak ada ceritanya lagi tuh nongkrong di kampus buat internetan. Biasanya nih, dulu dulunya tiap abis magrib bela belain ngampus cuma buat numpang belas kasih wifi kampus. Modem? Aduh… kalo pake modem mah… nunggunya bisa sampe tua malahan bisa sampe ubanan. Seriusan. Nunggunya kayak nungguin kamu, lama (hahaha, abaikan). Banyak banget dampak positifnya, walaupun tak dapat dipungkiri dampak negatifnya juga tak kalah banyak. Positifnya sih aku jadi orang paling update sedunia, tahu segala hal yang ada, terutama gossip-gossip para selebriti #hahaha, eh kalo yang ini kayaknya dampak negatifnya ya. Nah, ngomong-ngomong dampak negative, kayaknya tadi pagi aku baru kena imbasnya sih. Gini ceritanya, sejak keberadaan sinyal ini, aku jadi suka streaming video-video di youtube dan parahnya ini susah dihentiin. Pas video yang satu udah ditonton, pindah ke video selanjutnya. Begitulah seterusnya, berantai-rantai hingga tak terasa waktu terus berjalan. Niatnya sih pengen ke departemen mau nanyain kelayakan skripsi (red: koreksian skripsi) sebelum dzuhur, jatohnya setelah dzuhur. Oke, aku salah dan ku terima konsekuensi atas ketidakberdayaanku memperioritaskan mana kesukaan dan mana kewajiban.

Continue reading

Mau atau Siap?

17Sudah hampir dua minggu ini kerjaanku tak pasti kemana juntrungannya. Menunggu kelayakan dari para dosen agung. Semakin diperparah karena ku tak boleh menanyakan kapan kiranya mereka akan menyelesaikan revisi skripsiku sebelum dua minggu. Ya ya ya, ini yang namanya birokrasi. Enak sih, jadi banyak waktu introspeksi diri dan semakin tahu plus sadar ‘apalah aku ini’. Salahku juga sih, menunda-nunda waktu kelayakan karena tak mampu melawan hawa nafsu malas dalam diri. Ya ya ya, semua memang salahku, mahasiswa memang selalu salah dan dosen selalu benar. Banyaknya waktu luang memberiku banyak waktu untuk berpikir tentang masa depan dan jujur aku takut. Takut nggak bisa bareng kamu (hahaha, abaikan). Nah begini, ketika menjadi mahasiswa tingkat akhir yang nyaris kelebihan semester, ada beberapa pilihan yang harus dipilih dan ditentukan, mau tidak mau. Apa saja? Pilihannya adalah menikah, bekerja, atau melanjutkan studi. Semuanya akan dilalui tapi tidak tahu pilihan mana yang akan didahulukan. Kalau aku pribadi sih? Jujur…. Cukup Allah dan aku saja yang tahu, hahaha.

            Pilihan yang pertama (red: menikah) menjadi trending topic paling nge-hits seantero jagad raya. Lihat saja ketika ngumpul sama temen-temen SMA terutama yang laki-laki pas lebaran kemaren. Sumpah, yang mereka omongin dari awal sampe akhir, dari alif sampe ya’, semuanya tentang menikah. Sungguh terlalu. Aku yang dengerin sampe mual mual, tapi kok mereka nggak ya? beda gender kali ya. Baru tahu ternyata anak laki-laki lebih ekstrem ngomongnya kalau tentang menikah dan pasangan hidup. Hanya bisa geleng-geleng kepala aja. Beda beda sih pandangan mereka, ada yang menanggapi super santai tapi ada juga yang menanggapi begitu seriusnya. Sesekali mereka meminta pendapat dari kami, kubu para perempuan. Dari kesemua percakapan yang mereka cakapkan aku bisa menarik kesimpulan jika mereka semua sudah berada pada tahap ‘mau’ menikah tapi belum sampai pada tahapan ‘siap’. Lah, apa bedanya ‘mau’ sama ‘siap’? Jelas sekali perbedaannya, dan ini juga baru aku tahu dari seorang teman beberapa hari yang lalu. Berhubung aku baik nih, aku mau ceritain perbedaannya sama kamu, iya kamu, hahaha :-D.

Continue reading

S2

hat tossing ceremony at graduationTak apalah ku tulis ini sekarang, siapa tahu bisa jadi motivasi untukku yang nyatanya sekarang memang sangat butuh motivasi. S2? Sudah ku kubur dalam-dalam impian itu. Sejak ibuku memintaku untuk tak lagi memikirkannya. Ya, ku ikuti saja perkataan beliau, karena gini-gini nih aku adalah anak yang tak bisa untuk tak patuh pada orang tua, apalagi ibu. Ibuku memang tak berpendidikan tinggi, sangat rendah bahkan jika dibandingkan dengan saudara-saudaranya yang lain. Kok? Bukannya mereka dilahirkan dari orang tua yang sama? Mereka memang lahir dari orang tua yang sama tapi dengan kesempatan yang berbeda. Masalah IQ? Tentu bukan. Jiakalau memang diberi kesempatan, aku yakin ibuku adalah wanita dengan IQ di atas rata-rata. Kesempatan? Ya, kesempatanlah yang membedakan ibuku dengan saudara-saudaranya yang lain dari segi jenjang pendiddikan.

            Kakekku yang tak lain adalah bapak ibuku adalah seorang petani yang tegas dan pekerja keras. Beliau dan istrinya adalah orang tua yang rela banting tulang untuk menghidupi keuarganya dan berkorban demi pendidikan anak-anaknya. Semuanya disekolahkan hingga jenjang pendidikan tertinggi yang bisa anak mereka raih. Tapi, ini hanya berlaku hanya bagi anak beliau yang laki-laki. Ibuku tujuh bersaudara, tiga laki-laki dan empat perempuan. Beliau masih menganut prinsip orang dulu, perempuan nggak usah sekolah tinggi-tinggi, nanti juga bakalan ada yang nanggung (suami). Nah, karena prinsip inilah kesempatan ibuku untuk menikmati jenjang pendidikan setinggi-tingginya pupus sudah. Tiga saudara ibuku yang laki-laki punya kesempatan itu dan sekarang mereka telah menjadi seorang polisi, petinggi sebuah Bank, dan seorang guru.

Continue reading

Multitasking

scheduling_vs_multitaskingSudah berhari-hari ku merasa telah menelantarkan blog ini. Tidak… tidak… bukan hitungan hari, hitungannya telah menjadi bulan. Terlantarnya blog ini tak lain dan tak bukan karena pikiranku telah tersita hanya untuk memikirkanmu. Memikirkanmu yang telah 4 tahun yang lalu telah ku khawatirkan.  Sungguh, telah ku khawatirkan dirimu sejak 4 tahun yang lalu. Sejak pertama kali ku injakkan kaki di kampus ini. Awalnya ku abaikan saja, tapi sejak jarak kita semakin dekat ku semakin tercekat, ternyata kehadiranmu telah begitu mengikat, dan sedikir demi sedikit ku mulai terpikat.

                Ku pikir aku adalah wanita kebanyakan yang katanya multitasking. Multitasking artinya many in one, bisa ngerjain banyak hal dalam satu waktu. Tapi sepertinya aku agak melenceng dari kategori ini. Buktinya kalo lagi mikirin kamu aku ga bisa mikirin yang lain, #eaaa. Tapi ini beneran, beneran ga bisa multitasking kalo hubungannya sama kamu. Kenapa ya? Aku juga tak tahu kenapa.

                Banyak hal yang telah ku telantarkan hanya gara-gara kamu. Mulai dari blog ini sampai urusan rumah tangga kosan ku telantarkan, seperti piket kosan dan nagih uang air/listrik. Semuanya ku abaikan, hanya fokus padamu. Tapi  masalah kita tak kunjung selesai. Sampe-sampe mau nyelesain tulisan ini saja kayaknya setengah mati ku lakukan karena tetap saja yang ada di pikiranku hanyalah dirimu. Sepertinya memang harus segera ku selesaikan hubungan kita ini agar aku bisa segera bebas dan pikiran ini tak lagi terikat hanya memikirkanmu. Kamu… iya kamu. Ya apa lagi kalau bukan penelitian, penelitian untuk menyusun buku sakral yang harus ku selesaikan dengan bermacam pengorbanan yang tak terbantahkan, skripsi.

                Berilah hamba kemudahan ya Allah, kemudahan baik dalam penulisan, penyampaian, hingga kemudahan untuk terlepas dari rasa malas ini yang sepertinya semakin erat mencengkeram hamba. Amiiin. Seriusan lo, yang lama dari penyusunan skripsi itu sebenernya bukan skripsinya, tapi terlepas dari jeratan rasa malas untuk melaksanakan dan menyusun skripsi itu. Kalau ga males sih, seminggu pun jadi kalau nyusun mah (dengan catatan penelitiannya udah selesai loh ya) :D.

Kebarokahan Waktu

jam-waktu1Beberapa hari ini ngepost tulisan lewat tengah malem sepertinya menjadi rutinitas yang menarik dan hari ini adalah hari keempat. Tak ada yang spesial sih di tengah malam, hanya saja tulisan yang sempet di buat pada siang atau sore hari baru sempet di posting pada jam segini, ya lewat tengah malem. Sebegitu sibukkah? Kalau boleh jujur sih nggak sibuk sama sekali, hanya saja sepertinya kebarokahan waktu yang ku punya terasa semakin berkurang karena tak banyak yang bisa ku lakukan tiap harinya. Tiba-tiba waktu berlalu begitu saja. Tiba-tiba udah sore aja. Tiba-tiba udah tengah malem aja. Ya, hampir sama tiap harinya. Hanya begitu-begitu saja. banyak hal sia-sia yang ku lakukan sehingga waktu 24 jam yang diamanahkan kepadaku seperti berlalu begitu saja. Padahal, di belahan dunia yang lain, banyak yang memanfaatkan 24 jam mereka untuk melakukan hal-hal yang berguna tak hanya bagi kehidupan mereka tapi untuk kehidupan ribuan bahkan jutaan orang lain. Lantas aku? Hanya untuk bermanfaan bagi diri sendiri saja seperti tak berdaya apa-apa.

Ya Allah apa yang salah dengan hamba? Apakah dosa-dosa hamba telah begitu besar sehingga telah mengurangi kebarokahan waktu yang hamba miliki? Sungguh hamba tak ingin hidup begini-begini saja. Izinkan hamba untuk menjadi pribadi yang lebih produktif dan bermanfaat tak hanya bagi hamba sendiri tapi juga bagi orang lain di sekitar hamba. Apakah kiranya kebarokahan waktu yang berkurang ini karena hubungan hamba dengan engkau yang juga berkurang? Ampuni hamba ya Allah jika sekiranya memang itulah penyebabnya. Apalah arti seorang hamba tanpa ampunan darimu? Apalah arti hidup hamba tanpa ampunan darimu. Izinkanlah hamba hidup dengan kebarokahan waktu yang tercipta dalam tiap detiknya. Sesungguhnya hamba tak ingin panjang umur tanpa adanya kebarokahan umur, yang hamba inginkan adalah kebarokahan umur dari tiap detik hidup hamba yang engkau berikan. Karena sejatinya hidup yang benar-benar hidup adalah hidup yang meberikan hidup bagi kehidupan yang nantinya akan hidup. Hamba juga ingin seperti itu ya Allah, hidup tak hanya menghidupi diri sendiri, tetapi punya hidup yang memberikan hidup bagi hidupnya kehidupan yang lain. Amiiin.

Akhirnya Menangis Juga

cryDinding pertahanan yang telah lama ku bangun dengan kokoh itu akhirnya runtuh.  Sekali lagi ku tegaskan, dinding itu ku bangun kokoh, tak main-main, sungguh. Tapi, dengan sekali sapuan air mata semuanya runtuh tak bersisa walapun awalnya utuh tak terkira. Ya, akhirnya ku menangis juga karena penelitian yang tak pasti kemana juntrungannya. Jika banyak temanku yang bilang telah banyak berurai air mata karena penelitian mereka, aku acuhkan mereka. Ku bangun bendungan dalam agar air mata tak akan ku rasa. Tapi semuanya sia-sia karena akhirnya hari ini ku menangis juga. Menangisi sesuatu yang entah apa itu. Menyesali sesuatu yang tak ku tahu pasti apa itu. Sebenarnya semuanya baik-baik saja, tapi ketidakjelasan memporak-porandakan semua. Sekarang ku mengerti mengapa banyak sekali wanita yang sakit hati ketika mereka disuruh menunggu akan sesuatu yang tak pasti. Lebih baik merubah arah menuju mata angin yang lain daripada menunggu si dia yang ada di dunia lain. Ya, ku merasakan itu semua walaupun ini tak seberat persoalan cinta yang mereka rasa. Tapi, sudah cukup mewakili akan apa yang mereka rasa, mungkin.

            Penelitian ini telah lama ku jalani, sebenarnya tak begitu lama, tapi terasa lama bagiku yang menunggu. Aku merasa dari awal mula penelitian ini dimulai, tak ada progress berarti. Aku merasa hanya berputar-putar di posisi yang sama, tak beranjak. Terburu-buru? Mungkin. Tapi aku merasa telah cukup bersabar, hingga sore tadi tak dapat ku tahan lagi, air mata karena penelitian yang selama ini teman-temanku alami terjadi padaku. Rasanya? Lega. Terasa ada beban yang hilang walaupun toh penelitian ini juga belum usai. Tak perlulah malu berurai air mata, toh kita tak merugikan siapa-siapa, hanya melepaskan beban yang menghimpit dada. Air mata juga itu juga menggambarkan aku yang sudah sedikit lelah dengan penelitian ini. Lantas, apakah aku akan menyerah? Tidak sama sekali. Coba saja buat aku lelah sampai dimana aku sudah tak bisa merasakan lelah itu sendiri, aku tetap tak akan menyerah. Bagaimana mungkin aku kan menyerah? Orang-orang di sekitarku telah dengan sekuat tenaga bertahan dengan rasa lelah yang mungkin berpuluh kali lipat dari rasa lelahku, mereka tetap bertahan kok untuk terus mendukungku. Lah, mereka bertahan bukan untuk diri mereka sendiri, tapi untuk diriku. Lantas, tak maukah aku berjuang melawan rasa lelah untuk masa depanku sendiri? Malu dong. Terimakasih untuk keluarga dan teman-teman yang senantiasa mendukung hingga saat ini. Air mata ini menunjukkan bahwa aku akan tetap bertahan hingga pertempuran ini usai. Jika kamu mahasiswa, tingkat akhir, menjalani penelitian, siap-siaplah berurai air mata. Hahahaha.

Balada Es Balok

ms-produk-26012013235345-100_4644xxDulu, pas waktu SMA, sering sekali ku melintas di depan pabrik tua ini. Pabrik yang telah berkarat di sana sini. Ku tak pernah tahu produk apa kiranya yang diproduksi oleh pabrik tua renta itu. Tapi, suatu hari aku baru tahu jika pabrik itu memproduksi es balok yang nantinya akan digunakan oleh para pedagang untuk melengkapi dagangan mereka. Aku tahu informasi bahwa produk yang dihasilkan oleh pabrik itu adalah es balok dari nenekku. Pun aku juga tahu dari para penumpang angkot yang suka menggunakan tempat ini sebagai titik pemberhentian karena memang dekat dengan terminal. Para penumpang yang turun akan bilang ‘turun di pabrik es ya’, nah dari sanalah aku tahu kalo pabrik ini memproduksi bongkahan-bongkahan es balok. Pengetahuanku tentang pabrik ini semakin mendalam ketika tanteku memutuskan untuk pindah rumah ke sebuah wilayah yang tak jauh dari lokasi pabrik es ini. jika ingin ke rumahnya aku harus melintasi bagian samping pabrik ini. Jika ku dongakkan kepala, akan terlihat kucuran air deras yang keluar dari pipa-pipa yang didesain secara khusus. Mungkin dari air-air inilah bongkahan es balok ini dihasilkan. Sayangnya aku tak tahu pasti karena pabrik ini dikelilingi oleh tembok yang begitu tinggi sehingga sulit sekali untuk melihat proses pembuatannya. Ya hanya sebatas pipa-pipa itulah yang bisa ku lihat.

            Bicara masalah es balok, aku suka sekali yang namanya es, tapi tidak dengan es balok. Ditambah lagi dengan penelitian yang menyebutkan kalo air yang digunakan untuk es balok lebih kotor daripada air kamar mandi, maka makin menjadi-jadilah rasa tak sukaku pada es balok. Si abang-abang yang biasanya jualan es balok suka seenaknya membungkus es balok dengan karung yang tak bisa dijamin kebersihannya. Tak jarang ku lihat bongkahan es balok yang dengan bebasnya digelatakkan di pinggir trotoar tanpa alas. Bisa dibayangkan berapa banyak salmonella yang telah menempel di es balok itu. Tak pelak, kenyataan pahit tentang es balok ini membuatku lebih baik memilih es-es yang lain. Jika ku menemukan pedagang es yang menggunakan es balok untuk dagangan mereka, maka ku tak akan lagi menjatuhkan pilihan pada pedagang itu. Intinya, sebisa ungkin ku hindari yang namanya es balok. Semua ini semata-mata ku lakukan karena ku sayang sekali pada tubuhku, kan ku jaga agar sehat selalu, hahaha :D.

Continue reading