Kita tidak sedang baik-baik saja. — Musafir Tinta

Kaum muslimin bagaikan satu tubuh, dimana ketika satu bagian sakit maka seluruh bagian pun ikut gusar merasakan sakitnya. Saat ini ada bagian dari tubuh kita yang tengah merasakannya, itu artinya kita tidak sedang baik-baik saja. Ada rintih yang nyaris tak terdengar, ada tangis yang tak digubris, ada luka yang mengiris. Tapi kita tak sadar […]

via Kita tidak sedang baik-baik saja. — Musafir Tinta

Advertisements

Pendongeng

danbo-menikahBanyak sekali yang terjadi beberapa minggu ini tapi rasanya berat sekali untuk menuangkannya dalam bentuk tulisan. Rutin sih ngunjungin blog tapi hanya sekedar lihat-lihat saja sebentar lantas setelah itu close tab. Membaca tulisan blogger yang lain pun amat sangat jarang. Sesekali ku baca beberapa tulisan yang judulnya menarik, memberikan satu dua komentar untuk satu dua tulisan lantas setelah itu sama seperti sebelumnya close tab. Benar-benar tak ada niatan untuk mencurahkan kisah sendiri di blog. Sepertinya kejenuhan ini telah merajai diri. Hari ini memaksakan diri untuk menulis karena rasanya hampa sekali kalau tiap kali buka blog, tulisan teratasnya itu-itu saja. Sama jenuhnya diriku dengan banyaknya postingan foto pernikahan teman-teman yang membanjiri hampir semua media sosial yang ku miliki. Bukan jenuh juga sih lebih tepatnya kepengen hahaha. Cerita tentang cinta dan pernikahan sepertinya memang tak aka nada matinya. Karena cinta dan pernikahan memang tak akan pernah mati selama pelakunya (read: manusia) masih tetap eksis di dunia. Kisah cinta yang lantas berakhir di pernikahan banyak sekali modelnya, ada yang awalnya tak kenal tapi berujung di pernikahan, bahkan mungkin awalnya bermusuhan tapi ujung-ujungnya nikah juga. Kali ini aku akan bercerita kisah cinta menuju pernikahan yang menurutku antimainstream banget.

Mudik lebaran tahun 2015 kemarin

            Kala itu aku mudik sendirian, benar-benar sendirian, tak ada yang menemani, semoga mudik tahun ini nggak sendirian lagi hahaha #ngarep. Bawaanku standar-standar saja, koper ukuran sedang, tas ransel, dan satu plastik berisi makanan dan camilan. Ku langkahkan kaki ke ruang tunggu pemberangkatan para penumpang kereta api di stasiun senen. Ada yang berbeda di ruang tunggu kala itu. Ada segerombolan kakak-kakak yang sepertinya sibuk mempersiapkan seperangkat alat pementasan. Hal ini semakin diperkuat dengan posisi gerombolan kakak-kakak itu tepat di depan jajaran kursi tunggu para penumpang. Di sana juga berserakan balon-balon dan properti pementasan. Benar saja, mereka adalah relawan (aku lupa nama perkulpulan relawan itu) yang tujuannya adalah memberikan hiburan bagi anak-anak yang akan ikut mudik bersama orang tuanya. Tema yang mereka bawa adalah “mudik ramah anak”. Kegiatan itu sepertinya bekerja sama dengan PT. KAI yang dilatarbelakangi keprihatinan mereka akan anak-anak yang banyak terlantar karena orang tua mereka sibuk mengangkat barang-barang yang ingin mereka bawa mudik. Menarik sekali kegiatan para relawan ini, pikirku kala itu. Ketertarikanku pada kegiatan relawan ini semakin menjadi-jadi ketika mereka memulai pertujukan, mereka mendongeng. Duuuh…. Lucu banget bikin ketawa tak henti-henti. Padahal aku udah gede loh, banyak anak kecil yang mulai mendekat ke depan, anak-anak itu juga tertawa renyah. Ketika pertujukan dongeng telah hampir selesai, mereka memperkenalkan diri satu per satu dan aku benar-benar terperangah ketika mereka memperkenalkan ketua dari perkumpulan itu. Seorang mas-mas yang masih sangat muda, paling muda malah di antara para pendongeng yang lain (kalau diliat dari wajahnya ya) dan ada nilai tambahnya lagi, mas-masnya ganteng hehehe. Biasanya kan orang ganteng tuh jaim ya, tapi si mas-masnya keren banget pas ngedongeng, pantesan beliau jadi ketua. Ku fotolah si mas-mas itu dan ku share ke saudara kembarku untuk menceritakan kejadian yang ku alami kala itu. Fotonya sepertinya masih ada di HPku tapi males banget yang mau ngobrak-abrik lagi soalnya udah lama banget. Tapi ini ceritanya benaran kok, jadi no picture belum tentu hoax ya hehe.

            Pas aku udah kirim tuh foto ternyata tanggapan saudara kembarku bikin aku tuh ngerasa dunia sempit banget.

“ih… itu kan mas Ojan” katanya.

“seriusan kamu kenal? Iya sih tadi pas perkenalan dia bilang namanya kak Fauzan” jawabku.

             Benar-benar dunia sempit kan. Ternyata kakaknya itu satu kantor sama kembaran aku. Beruntung banget dia sekantor sama kakak yang berbakat dan ganteng macam kak Ojan. Lantas semuanya berakhir begitu saja. Cerita tentang kak Ojan kembali berlanjut ternyata.

Di kosan kembaranku kemarin, Desember 2016

            Entah virus atau wabah dari mana, banyak orang-orang di sekitarku yang sedang sangat digandrungi sinetron india Mohabbattein yang pemeran utamanya kalau nggak salah Ishita dan Raman. Tak hanya perempuan (read: emak-emak) tapi juga ternyata laki-laki pun sama. Aku telah berkali-kali mencoba untuk ikut nimbrung nonton tapi ya nggak suka-suka, biasa aja. Emang pada dasarnya aku kurang suka nonton TV sih. Pas kebetulan lagi main ke kosan kembaranku kemarin, semuanya lagi pada nonton TV, aku iseng-iseng ikut aja daripada nggak ada kerjaan. Tetiba saja aku terlibat obrolan perihal pernikahan dengan teman-teman kosan mbak Dila yang lagi nonton TV itu. Teman sekosannya kembaranku bercerita tentang temannya yang Alhamdulillah telah hamil setelah menunggu selama 10 tahun lebih menikah. Wah… sangat membahagiakan sekali karena apa yang mereka tunggu akhirnya datang juga. Hal yang membuatku semakin terperangah adalah karena 10 tahun lebih itu dijalani dengan orang yang berbeda, maksudnya? ceritanya gini.

            Teman sekosan kembaranku ini punya temen. Nah temannya ini telah menikah 10 tahun lamanya tetapi belum juga dikaruniai keturunan. Entah karena masalah apa akhinya mereka memutuskan untuk bercerai. Nah… selang beberapa tahun, si mbak ini dilamar sama rekan satu kerjanya yang umurnya 10 tahun di bawah dia dan dia belum pernah menikah sebelumnya. Lebih mencengangkannya lagi, setelah enam bulan menikah akhirnya si mbak ini hamil, Alhamdulillah. Luar biasa sekali bukan. Berkat kesabaran akhirnya si mbak ini dikaruniai keturunan. Bukanlah waktu yang sebentar menunggu lebih dari 10 tahun. Aku tak henti-hentinya berkata ‘wah… keren banget ya mereka’. Karena penasaran, akhirnya aku memutuskan untuk melihat seperti apa pasangan yang sedang berbahagia itu. Pas aku lihat, ternyata mereka pasangan yang serasi, si laki-laki ganteng dan si perempuan cantik, tak terlihat perbedaan umur yang cukup jauh di antara mereka berdua. Aku merasa tak asing dengan wajah si laki-laki, berasa pernah lihat dimana gitu ya. Pas lihat foto yang kedua akhirnya aku sadar siapa si laki-laki itu,

“lah… ini kan mas ojan yang dulu dongeng di stasiu bukan?” tanyaku antara percaya dan tidak.

“iya… itu mas ojan yang sekantor sama aku. Kata Dila (read: kembaranku) kamu pernah cerita mas Ojan yang dongeng di stasiun kan ya” jawab teman sekosan mbak Dila.

            Tuh kan dunia benar-benar sempit, ternyata pendongeng yang pernah ku kagumi itu telah menikah dengan cerita pernikahan yang tidak biasa. Terlihat jelas bagaimana rona kebahagiaan terpancar dari pasangan itu. Barokallah mas Ojan dan istri, walaupun kalian tak mengenalku tetatpi kisah kalian berdua benar-benar mengispirasiku, bukan untuk ku tiru tapi untuk ku ambil hikmah dari jalan cerita yang telah kalian torehkan. Bahwa kesabaran akan selalu berbuah manis pada kahirnya walaupun pahitnya seringkali mewarnai awalnya. Semoga kelak anak yang dinanti-nantikan ini menjadi anak yang sholeh/ah, berbakti kepada kedua orng tua, mengharumkan nama agama, bangsa, serta berguna bagi orang-orang di sekitarnya. Amiiin.

Membunuh Berhala

96349-0-663-382-55e8e0cba2afbde1071c4a3e“Kenapa sih kak harus ada olimpiade-olimpiade gitu?” tanya seorang siswa padaku suatu hari karena dia sepertinya sudah jengah dengan semua rutinitas yang dia jalani. Dia anak yang cerdas, tak hanya soal pelajaran tetapi di bidang olahraga pun dia mumpuni. Bahkan di umur yang menurutku sangat dini (read: SMA) dia sudah sangat paham apa itu pola makan yang baik, pengaturan asupan yang baik, pola hidup sehat. Tak hanya tahu, tapi dia juga mengaplikasikannya. Ini menurutku sangat luar biasa, di saat yang sama, ketika teman sebayanya banyak disibukkan dengan urusan hati yang sulit mereka kendalikan atau menjadi remaja hits yang posting foto kesibukan sana sini. Dia malah lebih tertarik untuk mempersiapkan masa depan karier dan kesehatannya di masa depan. Pun aku sangat kagum karena di umur segini pun aku sebenarnya sudah sedikit paham apa itu pola makan yang baik, pengaturan asupan yang baik, pola hidup sehat, tapi bedanya sangat sulit sekali bagiku untuk mengaplikasikannya. Banyak alasan yang ku buat, ah… entar aja deh ngatur pola makannya kan sekarang masih muda, ah… entar aja deh ngaturnya kan sekarang masih hidup sendiri, entar aja ngaturnya kalau udah nikah, ah… entar aja deh kan ini kan itu. Gitu aja terus sampe nggak kerasa tiba-tiba udah tua dan tiba-tiba udah sakit-sakitan, naudzubillah.

Kembali ke pertanyaan yang tadi. Setelah pertanyaan itu terlontar, banyak sekali jawaban yang muncul di kepalaku, aku harus bisa memilih satu jawaban yang tepat, tapi sayangnya aku bukanlah pemberi jawaban ulung, sama sekali tak bisa meyakinkan, sehingga sering sekali pertanyaan-pertanyaan bagus hanya berakhir dengan jawaban yang apa adanya. Ya harus gimana lagi, beginilah adanya aku. Setelah sekian detik berpikir, akhirnya ku jawab dengan jawaban yang bisa ditebak sendiri lah, ngasal dan ada apanya eh apa adanya,

“hm… kenapa ya? Ini yang kamu maksud olimpiade pelajaran apa bidang olahraga?” tanyaku, sengaja ku selipkan pertanyaan agar ada jeda lagi buatku untuk berpikir. Sebetulnya ini retoris, pertanyaan yang tak butuh jawaban. Tanpa bertanya pun sebenarnya aku udah tau jawabannya. Tapi ya hanya itu yang bisa aku lakukan untuk mengulur waktu hingga jawaban meyakinkan bisa ku dapatkan.

“ya dua-duanya kak, olimpiade pokoknya. Kenapa harus berlomba-lomba. Buat nunjukin bahwa kita yang terhebat gitu atau gimana?” tanyanya makin penasaran. Bahkan ditambah dengan satu pertanyaan lagi padahal pertanyaan sebelumnya belum bisa ku jawab. Yup, time is up, waktunya untuk menjawab pertanyaan, jangan sampai ngulur-ngulur waktu lagi, segera eksekusi, berikan jawaban segera dan kalau bisa meyakinkan.

“olimpiade itu diadakan sebagai tolak ukur, sudah sejauh mana sih kemampuan kita, sudah sejauh mana sih usaha kita, sudah sejauh mana sih posisi kita sekarang. Seandainya tak ada olimpiade maka kita tak akan pernah tahu bahwa masih ada langit di atas langit, kita tak akan pernah tahu posisi kita sebenarnya dimana dan selalu merasa bahwa kita adalah yang terbaik. Padahal mungkin kalau kita berlomba dengan yang lain, kita sebenarnya tak ada apa-apanya. Olimpiade itu ada agar kita bisa membunuh berhala-berhala yang tanpa sadar kita bangun sendiri akibat kekaguman pada diri yang berlebihan. Olimpiade membuat kita sadar bahwa usaha kita, perjuangan kita, pengorbanan kita belum ada apa-apanya” kataku panjang lebar. Entah dari mana jawaban itu muncul. Memberikan jawaban itu membuatku teringat pada diriku dulu. Kalau boleh jujur, aku benar-benar pernah membangun berhala-berhala itu, kagum berlebih pada diri sendiri. Tapi sekarang aku sadar, lebih tepatnya disadarkan, bahwa aku bukan siapa-siapa. Tak dapat dipungkiri bahwa setiap orang pernah melewati tahapan ini, membangun berhala. Atau mungkin ada yang belum dan berpotensi untuk membangunnya di masa depan. Saranku, bunuh segera berhala-berhala itu.

“oh… iya kak, gitu ya” begitulah tanggapan si adek yang tadi bertanya padaku. Entah dia terpuaskan atau tidak dengan jawabanku. Setidaknya tak ada pertanyaan lanjutan yang akan membuatku kembali memutar otak untuk mencari jawaban. Tapi tak disangka, pertanyaan lanjutan justru muncul dari diriku sendiri, seperti ini,

“iya kalau kita mengambil sudut pandang dari orang yang kalah dalam olimpiade itu. Bagaimana ceritanya jika kita menjadi orang yang terbaik di olimpiade itu? Bukankah itu malah akan jadi potensi membangun berhala yang lebih besar dalam diri?” itu pertanyaan lanjutanku. Iya juga sih, tapi mari sedikit merenung. Seorang juara sejati bukanlah orang biasa, mereka adalah orang yang telah mengalami banyak tempaan baik fisik maupun mental. Sehingga dia telah siap dengan mental juara yang telah dia bangun, bukankah padi yang makin berisi akan semakin merunduk? Seorang yang biasa-biasa sajalah atau dengan kemampuan tanggunglah yang akan membangun berhala dalam diri ketika menjadi juara. Seorang juara sejati tak akan melakukan itu semua. Lantas jika kitalah yang menjadi juara, maka itulah cobaan bagi kita, ujian bagi kita, sejauh mana kita tak menjadi jumawa. Karena kenikmatan dan kebahagiaan sebenarnya bisa jadi hadiah, cobaan, bahkan ujian. Yuk bersama-sama sadarkan diri, posisi kita sekarang, jabatan kita sekarang, kepercayaan yang kita punya sekarang, tanggung jawab yang kita emban sekarang, semua itu hanyalah titipan dan tak seharusnya kita membangun berhala dalam diri hanya karena itu semua. Tugas kita sebagai manusia hanyalah beribadah kepada Allah sehingga hanya padaNyalah kita menyembah dan meminta pertolongan. Jika telah terlanjur kau bangun, bunuhlah dan segeralah bertaubat. Jika belum, Alhamdulillah, semoga tak akan pernah. Memang sulit mengendalikan hati, jika mudah tak akan ada surga sebagai balasannya, kerena masuk surga itu bukan perkara mudah.

Rumor yang Menyakitkan

twit2“dug…dug…dug… centraaaang” bunyi benda mengenai dinding, seperti bunyi badan yang dihantamkan ke dinding diikuti bunyi piring yang dibanting. Sukses membangunkanku dari rutinitas tak sehat yang hingga detik ini belum bisa ku tinggalkan, tidur pagi. Ku buka mata langsung melihat ke arah teman sekosanku yang pada saat yang sama juga sedang memandang ke arahku.

            “bunyi apaan mbak?” tanya kita berdua hampir bersamaan. Kita sama-sama bertanya dan sama-sama menggeleng karena memang sama-sama bingung dan tak tahu apa yang terjadi. Kita pun langsung bergegas ke jendela untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. Ketika membuka jendela, tak hanya suara hantaman benda yang terdengar tetapi juga diikuti teriakan dan perdebatan layaknya orang yang sedang berselisih pendapat. Suaranya terasa sangat dekat. Awalnya kami berdua mengira di lantai bawahlah peristiwa perdebatan yang cukup layak disebut ‘pertengkaran’ itu terjadi. Bukan tanpa alasan perkiraan ini muncul karena memang di lantai bawahlah cukup sering terjadi perdebatan yang beberapa kali berhasil menarik perhatian kami berdua. Setelah menfokuskan pendengaran dan didukung dengan intonasi suara yang semakin menguat maka dapat kami simpulkan bahwa sumber suara berasal dari kamar di sebelah kamar kami. Entah apa yang mereka perdebatkan. Apapun itu semoga semuanya akan baik-baik saja dan semuanya memang akhirnya semakin mereda dan suara nyaring tadi perlahan-lahan menghilang. Tapi, rasa shock yang kami berdua rasakan tak semudah itu menghilang. Bahkan sudah umur segini pun, kencangnya suara akibat pertengkaran benar-benar sukses membuat kami trauma, entah setrauma apa jikalau anak kecil polos yang mendengarkannya. Hikmah yang bisa diambil dari kejadian ini, janganlah pernah bertengkar di depan anak-anak, kalian tak pernah tau kan bagaimana berantakannya neuron-neuron otak mereka dan jejak-jejak trauma itu akan menjadi beban untuk mereka pikul entah sampai kapan. Kembali ke peristiwa pertengkaran tadi, siapakah gerangan penghuni kamar sebelah? Merekalah subjek utama yang akan aku ceritakan di cerita ini. Bukan bermaksud untuk membuka aib orang, sungguh aku tak bermaksud begitu, aku hanya ingin berbagi kisah yang lantas bersama-sama bisa kita ambil hikmahnya.

            Mereka adalah sepasang suami istri yang baru seumur jagung menikah, tak berlebihan jikalau ku bilang pasangan pengantin baru. Kami berdua diundang ketika mereka berdua menikah tapi sayangnya kami tak bisa datang karena satu dan lain hal. Pertetanggaan dimulai ketika si teteh belum menikah kala itu. Hubungan baik kita jalin sehingga tak jarang kami sering diberi makanan sama si teteh. Pernah suatu ketika, pas bulan Ramadhan, aku ingat sekali, kala itu aku sendirian di kosan dan sedang benar-benar tak enak badan. Ku beli makanan seadanya untuk berbuka puasa, benar-benar sedih rasanya, sakit sendirian di kosan di bulan Ramadhan. Ketika adzan berkumandang ada yang mengetuk pintu kamar kosan, dengan langkah berat ku langkahkan kaki ke pintu dan ketika ku buka pintu ternyata teteh sebelah menenteng sebuah plastik yang cukup besar,

“ini teh buat buka puasa” katanya padaku. Aku pun langsung menerimanya dengan kesadaran yang tak sepenuhnya penuh.

“terimakasih banyak teh” kataku berterimakasih. Ketika ku buka, di dalamnya ada dua kotak nasi bebek favoritku dan dua bungkus kurma. Mungkin si teteh mengira mbak kosanku ada, padahal kala itu dia sedang pulang ke rumahnya.

            Itulah sedikit gambaran bagaimana baiknya si teteh tetangga kosanku. Setelah menikah, si teteh tinggal bersama suaminya, di sebelah kamarku. Itu kami ketahui ketika kami memberikan kado sebagai hadiah pernikahan pada mereka berdua. Kala itu terlihat jelas seperti apa raut bahagia pasangan baru itu, si teteh dan suaminya. Itulah mengapa kami begitu shock ketika mendengar hingar bingar di sebelah, antara percaya dan tidak. Aku sedih dan menyayangkan, kenapa harus berdebat pendapat hingga sekeras itu, jikalau memang ada yang tak disuka atau kurang pas kenapa tak dibicarakan baik-baik. Gampang sih menjadi komentator sepertiku, pengamat sepertiku, dan tak ada jaminan pula aku tak akan bersikap yang sama jika berada di posisi mereka. Aku berdoa semoga aku kelak bisa berpikir jernih ketika sedang marah sehingga apa yang ku dengarkan pagi itu tak akan aku lakukan, amin. Tapi tetap saja aku sedih karena aku tau suara itu cukup keras untuk didengar oleh tetangga yang lain.

            Beberapa hari setelah itu, tepatnya hari selasa kemarin, sepulang dari tempat kerja, kudapati banyak orang berkumpul di depan kosanku, lebih tepatnya di depan kamar si teteh dan suaminya. Aku kaget bukan kepalang, jangan-jangan mereka bertengkar lagi, pikirku kala itu. Aku pun mendekat ke kerumunan orang itu dan bertanya, ternyata telah terjadi pencurian di kamar si teteh dan suaminya. Orang-orang di sana menyarankanku untuk mengecek kamarku takutnya ada barang yang hilang. Aku tak terlalu khawatir karena memang tak ada barang berharga di kamarku dan memang benar tak ada posisi barang di kamarku yang berubah ketika terakhir kali ku tinggalkan. Aku sedih sekali atas apa yang menimpa si teteh dan suaminya. Barang-barang yang hilang adalah 3 buah laptop dan sebuah TV plasma 29 inc. Hal yang janggal adalah pintu kamar si teteh dan suaminya benar-benar tak rusak sama sekali, seakan-akan dibuka menggunakan kunci duplikat. Aku benar-benar tak habis pikir sama si pencuri, bagaimana dia bisa sehebat itu, membuka tanpa merusak pintu sama sekali. Si teteh berniat untuk membuat laporan ke polisi dengan tujuan agar si pencuri ditangkap dan jera sehingga tak meresahkan masyarakat yang lain, masalah barang katanya sudah dia ikhlaskan. Kalau tak salah pak polisi datang sekitar jam 11.an malam, aku sudah mau tidur kala itu sehingga tak keluar kamar. Banyak perkiraan yang muncul dan ada satu rumor yang membuatku benar-benar kaget, tak percaya, dan sedikit menyakitkan jikalau si teteh dan suaminya kelak mendengarnya.

            Rumor yang menyakitkan itu adalah banyak yang berpikir bahwa yang menjadi otak pencurian itu adalah suami si teteh sendiri. What the food? Kok bisa mereka berpikiran seperti itu? Aku yang mendengarnya saja kesel bukan kepalang entah bagaimana jikalau suaminya si teteh yang mendengarnya. Mereka berpikir seperti itu bukan tanpa dasar katanya. Menurut mereka, hal itu bisa saja terjadi karena pintu kamar mereka benar-benar tak rusak sama sekali, mereka berdua sering ribut, dan suaminya si teteh yang terlihat seperti ‘tak bekerja’. Ya Allah, tega banget ya mereka, bukannya si suaminya teteh juga diambil laptopnya, nggak mungkin dong dia ngambil punya dia sendiri. Lagian buat apa juga, bukannya kalau sudah suami istri maka semua barang yang ada adalah milik bersama? Terus kalau masalah ‘tak bekerja’, lah… bukannya jaman sekarang bekerja itu tak harus keluar rumah? Bisa aja si suaminya teteh kerjanya di depan computer yang notabene itu tak harus keluar rumah. Hal ini juga didukung dengan background pendidikan beliau yang ku tahu berhubungan dengan computer. Hanya satu yang tak bisa ku elak, yaitu pertengkaran yang kerap mereka lakukan. Seharusnya mereka tak harus berdebat pendapat hingga sampai terdengar orang lain, hingga terdegar ke tetangga sehingga melahirkan rumor-rumor yang menyakitkan seperti itu. Ya Allah lindungilah hamba, keluarga hamba, teman-teman hamba, dan orang-orang yang membaca tulisan ini dari rasa marah yang tak terarah, emosi yang tak terkendali, dan rasa kesal yang menghujam diri yang bisa membuat kita lupa akan hakekat dan kondisi diri dan sekitar, sehingga kami masih bisa berpikir jernih ketika emosi mendidih, bersikap wajar walau rasa marah sedang menajalar, dan menahan lisan untuk senantiasa berkata baik walaupun kondisi diri sedang tak baik. Amin.

Burung Bego

Burung-kolibri.jpgPercakapan absurd siang ini, berlangsung di musholla ketika hendak mendirikan sholat dzuhur,

Dia: mbak jadi imam ya (sambil mengambil posisi di sebelah kananku)

Aku: iya, tapi aku Sunnah dulu ya

Dia: ih… lama, langsung aja yuk

Aku: tau nggak, sholat sunnah tuh kayak sayap burung. Cuma burung bego yang nggak gunain sayapnya buat terbang.

Dia: parah… aku dibego-begoin (sambil ngeloyor langsung sholat Sunnah)

Aku: hahaha.

Ayo… udah pada pake sayap nggak buat terbang? Jangan sampe jadi burung bego ya yang nyia-nyiain sayapnya buat terbang. Kan mubadzir, masak udah disediain sayap tapi nggak digunain. Kata ustad Yusuf Mansyur dalam ceramahnya, “sholat rawatib –qabliyah dan ba’diyah’- itu ibarat sayap pada burung. Cuma ada dua alasan kenapa burung nggak gunain sayapnya buat terbang, karena sayapnya patah atau burung itu burung bego”.

Hei… Dia Kembali!

kata-bijakSudah lama blog ini seakan mati suri tanpa penghuni. Aku ada tapi seakan meniadakan diri. Apakah gerangan yang terjadi? Banyak, mulai dari yang datang terus menghilang, sampai yang menghilang lantas tiba-tiba datang. Dampak dari keduanya tentunya berkebalikan, ada yang senang namun tiba-tiba muram dan yang awalnya sedih berurai air mata menjadi senang tiada tara. Bagian manakah yang sebaiknya kuceritakan kali ini? Aku sedang tak ingin berbagi duka maka akan kuceritakan penggalan cerita bahagia. Aku pernah menuliskan kisah mereka berdua dengan judul Menjanjikan Janji. Kisah yang banyak menimbulkan komentar betapa tak bertanggungjawabnya si Rangga pada si Cinta. Ingin tahu kisah sebelumnya, silahkan baca dulu, jikalau tidak berkenan ya tak jadi masalah. Tapi biar greget, baca dulu lah ya, ya…ya… ya… #maksa hahaha.

Rangga yang dulu menorehkan luka tiada tara di hati Cinta, tiba-tiba kembali menghubungi si Cinta. Hei… dia kembali. Kalua kalian ada di posisi Cinta, apa gerangan yang kalian lakukan? Beberapa teman sekantorku berkomentar,

“aku sih nggak bakalan nerima lagi mbak, masak udah ditinggalin gitu, tiba-tiba mau balikan. Nggak inget apa perbuatan dia yang sebelumnya”

“aku juga, kayak nggak ada orang lain aja”

            Aku mengangguk-angguk saja kala itu, kemudian salah satu di antara mereka menambahkan,

“tapi mereka udah terlalu lama ya. Susah emang kalau udah lama banget”

            Nah, di situ poinnya, melupakan ‘orang lama’ itu bukan perkara gampang. Apalagi dia datang dengan niatan untuk memperbaiki segalanya. Hal itulah yang menjadi pertimbangan si Cinta. Rangga kembali saja dia sudah senang bukan kepalang, ditambah lagi dia kembali tak hanya kembali tapi dengan niatan untuk menggenapi. Maka menguaplah semua catatan hitam yang pernah Rangga torehkan di hati si Cinta tanpa bekas. Tapi, kali ini dia tak mau menggantungkan harapan terlalu tinggi, bahagia menggebu-gebu, dia bersikap seolah-olah semuanya biasa-biasa saja. Tuhan maha membolak balikkan hati manusia, siapa tahu nantinya si Rangga kembali berubah pikiran dan pergi seperti sebelumnya. Tapi, seseorang pernah berkata, ‘jikalau seseorang yang pergi meninggalkanmu lantas datang kembali, maka kau adalah orang yang benar-benar berarti baginya. Kembalinya dia karena dia sepenuhnya sadar bahwa meninggalkanmu adalah kesalahan besar’. Iya sih, ada benernya juga, soalnya nih ya, kalau lagi beli baju nih di pasar terus nawar kan ya. Kalau sama si penjualnya nggak dikasih terus kita pura-pura pergi, kalau nggak dipanggil lagi, kita bakalan balik lagi dan bajunya langsung dibeli soalnya kita tahu tuh baju emang segitu harganya dan kitanya emang tertarik banget sama tuh baju. Analoginya kurang romantis yak, hahaha. Kejadian itu sih yang tiba-tiba terlintas di pikiran.

            Tulisan ini ditulis bertepatan dengan hari raya iedul adha, hari raya kurban. Berkurban sangat dianjurkan bagi yang mampu. Nah hari ini pula si Rangga bertamu ke rumah si Cinta untuk bertemu orang tuanya. Menyampaikan niat baiknya untuk meminang si Cinta. Datangnya si Rangga masih sebatas bertamu saja, dia hanya berdua dengan temannya, menyampaikan niat baiknya, jikalau memang diberi lampu hijau (dan Alhamdulillah sudah) maka in shaa Allah bulan April tahun 2017 bertepatan dengan ulang tahun si Cinta, si Rangga akan melamar si Cinta. Katanya sih sekalian kado buat si Cinta, ah… co cwiiiit. Sangat senang mendengar kabar gembira ini sekaligus menjadi saksi hidup atas lika liku kisah mereka yang in shaa Allah happy ending, Amiiin. Barokallah ya mbak, sebagai teman sekosanmu aku juga ikut senang kalau kamu senang, dan ikut sedih kalau kamu sedih. Aku berdoa semoga semuanya dilancarkan hingga hari H nanti, hari dimana kau tak kan lagi sendiri, tergenapi, dan menggenapi sebagai seorang istri yang akan taat pada suami hingga maut memisahkan nanti, amiiin.

Long Journey to be Awardee

timthumb.phpSebelum memulai cerita ini ijinkan aku mengucapkan Alhamdulillahirobbilalamin, begitu besar limpahan rahmat dan kasih sayang Allah terhadapku selaku hambanya yang bergelimang dosa tetapi tetap diberi banyak nikmat olehNya. Ucapan terimakasih saya ucapkan kepada keluarga, teman, dan rekan-rekan yang tak pernah lelah memberikan semangat dan dukungannya bahkan mungkin pada saat yang sama mereka pun butuh semangat dan dukungan. Tulisan ini memang telah saya azzamkan untuk saya tulis jikalau nantinya saya menjadi awardee. Ini semacam efek domino, manfaat yang saya dapatkan dari membaca pengalaman orang di blog mereka akan juga saya lakukan sehingga kebermanfaatannya tak hanya berhenti di saya saja, tetapi akan terus mengalir dan memberikan efek domino juga terhadap lainnya. Bukankah prinsip kebaikan itu adalah sesuatu yang memberikan kebermanfaatan yang luas, ya kan? Iya dong. Yuk mari mulai ceritanya.

            Menjadi mahasiswa tingkat akhir merupakan masa dimana kita dihadapkan pada dua pilihan yang benar-benar membingungkan, atau bahkan tiga pilihan bagi sebagian orang, pilihan itu adalah melanjutkan kuliah, bekerja, atau menikah. Berhubung belum ada yang menjanjikan pilihan yang terakhir, jadilah saya hanya dihadapkan pada dua pilihan, melanjutkan kuliah atau bekerja. Saya telah memantapkan hati kala itu, ingin langsung bekerja setelah kuliah, hitung-hitung mengumpulkan pengalaman dan penghasilan. Jawaban mantap saya utarakan tatkala ketika sidang skripsi seorang dosen bertanya,

“rencana kamu setelah lulus kuliah mau ngapain? Lanjut kuliah apa kerja?” tanya ketua departemen Biokimia.

“saya mau bekerja pak” jawabku tegas.

            Pihanku jatuh pada bekerja maka kesibukanku setelah mendapatkan SKL (surat keterangan lulus) adalah ikut in campus recruitment beberapa perusahaan, apply via email, buat akun CDA (Career and Development Alumni) IPB, buat akun jobstreet, ikutan jobfair baik di dalam maupun di luar kampus, buat akun linked in, intinya semua yang berhubungan dengan pencarian pekerjaan ku ikuti baik dunia nyata maupun di dunia maya. Banyak panggilan dan sebagian besar berakhir di wawancara. Entah apa yang salah denganku. Masa wisuda pun datang dan aku belum mendapatkan pekerjaan, wisuda datang artinya beasiswa berakhir. Ku putuskan akan tetap tinggal di Bogor, dekat kampus, karena link telah terbentuk di sini, aku tak bisa ikut pulang ke kampung halaman walaupun keinginan itu amat sangat membuncah dalam dada. Biarlah ku bertahan sejenak di sini. Impian untuk mengirimi orang tua dengan uang penghasilanku menjadi sebaliknya, orang tuaku lah yang mengirimkan uang bertahan hidup selama aku menjadi pengangguran. Malu? Jelas, but I don’t have choice. Aku benar-benar full pengangguran tanpa penghasilan. Entah sudah berapa kali bolak balik Jakarta untuk melakukan interview, bahkan pernah ke karawang, Bekasi. Kala itu nggak ngenes-ngenes amat sih, soalnya aku nggak sendirian, ada tiga orang lain yang tak lain adalah teman sekamarku yang juga punya nasib serupa denganku. Penderitaan akan benar-benar menjadi penderitaan ketika kita melaluinya sendiri, tapi penderitaan akan berbuah kenangan ketika kita melaluinya bersama-sama. Lagi pula, katanya ‘penderitaan yang tidak menimbulkan kematian sejatinya adalah tahapan dimana kita akan dinaikkan tingkatannya’, and I believe this quote.

            Wawancara yang benar-benar membekas di benakku hingga saat ini adalah wawancara yang berhasil membelokkan arah haluan hidupku. Wawancaranya kurang lebih seperti ini,

“kamu itu nggak cocok jadi karyawan, kamu cocoknya jadi akademisi, semacam dosen, peneliti, atau sejenisnya” kata seorang psikolog yang diiyakan oleh pewawancara yang lain.

            Sinyal-sinyal tak akan diterima di perusahaan itu benar-benar kuat dan sedikit membuatku down, tapi setelah aku pikir-pikir, sepertinya benar apa yang beliau katakan dan aku pun merubah haluan yang awalnya mengejar pekerjaan akan berubah mengejar kamu beasiswa. Satu orang teman sekamarku yang wisudanya paling terakhir juga tak berniat bekerja, dia ingin melanjutkan kuliah, akhirnya aku memutuskan untuk satu haluan dengannya. Mulailah kita menyusun rencana. Beasiswa yang kita incar adalah LPDP (Lembaga Penglola Dana Pendidikan) dri kementrian keuangan. Persyaratan yang belum kita punya dalah TOEFL, dimana score yang harus kita lewati adalah >500 untuk dalam negeri dan >550 untuk tujuan luar negeri. Kita berdua langsung menyusun rencana belajar TOEFL tapi ternyata tak semudah yang ada di film-film yang selama ini aku tonton, dua orang yang bersemangat belajar, bekerja keras, dan akhirnya mereka berdua bisa meraih apa yang mereka inginkan. Nggak, nggak sama sekali. Kita berdua diterpa rasa malas yang amat sangat, terutama aku. Udah kemampuan Bahasa inggris pas-pasan, belajarnya ala kadarnya, biaya TOEFL minta ke orang tua, dan ya seperti yang kalian bayangkan, score yang aku dapatkan hanyalah 480 dan temanku 510. Kalau tak salah ingat, kita ngambil test itu bulan Februari 2015.

            Pupus sudah harapanku untuk mengikuti seleksi LPDP dan temanku melangkah dengan tujuan dalam negeri. Akhirnya ku putuskan untuk mengikuti program pendampingan untuk mendapatkan beasiswa LPDP yang diadakan oleh lembaga pendidikan dompet dhuafa, BIPS (bestudi Indonesia preparatory school) dimana program itu akan memberikan pendampingan pelatihan bahasa inggris intensif agar para pesertanya bisa mendapatkan score memadai dan kemampuan untuk menjadi awardee LPDP. Aku sangat tertarik dengan program ini karena setiap pesertanya akan difasilitasi untuk ikut test IELTS gratis. Aku putuskan nekat mendaftar walaupun score TOEFL yang disyaratkan kala itu >525, ini semacam bonek (bondo nekat). Yup, aku tak diterima, gagal di seleksi berkas. Kabar gembiranya, temanku diterima menjadi awardee LPDP dan akan mulai perkuliahan bulan September 2015. Aku senang sekali sekaligus sedih akan nasib diri, tapi temanku ini terus menerus memberikan semangat agar aku tak menyerah sampai di sini. LPDP akhirnya membuka beasiswa jalur afirmasi, dimana beasiswa ini diperuntukkan untuk tiga golongan, untuk daerah 3T (terluar, terdalam, dan tertinggal), alumni bidik misi dengan IPK >3.5, dan mahasiswa berprestasi. Persyaratan TOEFL sangat meringakan, >450 untuk tujuan luar negeri dan >400 untuk tujuan dalam negeri. Tanpa banyak pikir panjang akhirnya ku submit semua pendaftaran, ku pilih tujuan luar negeri. Ada dua orang teman SMA ku yang juga mendaftar beasiswa afirmasi LPDP karena daerah asal kami bertiga sama, Pamekasan, masuk ke dalam kategori daerah tertinggal, entah ini berkah atau musibah, hahaha.

            Pada saat yang sama aku aku telah menandatangani kontrak menjadi seorang guru kontrak di sebuah lembaga bimbingan belajar, menjadi guru kontrak kimia. Pertimbanganku kala itu, aku hanya sebentar berkarir di tempat ini sampai pengumuman LPDP keluar, penghasilan yang ditawarkan lumayan untuk bertahan hidup, penalti yang harus ku keluarkan jika berhenti di tengah jalan tak terlalu besar, dan yang paling penting aku bisa mengasah kemampuanku menjadi seorang pengajar karena rencana pasca studi setelah lulus S2 nanti memang ingin menjadi seorang dosen. Tempat kerjaku memberikan lebih dari yang aku inginkan, pengembangan diri baik kemampuan mengajar dan pengetahuan islami, selain itu lingkungan kerjanya juga sangat menyenangkan, bersama orang-orang yang orientasinya tak melulu soal dunia tapi juga akhirat. Ternyata ada seorang rekan kerja yang juga mendaftar beasiswa LPDP afirmasi sepertiku.

            Hari yang dinantikan pun datang, hari pengumuman kelulusan berkas, pagi-pagi aku ditelpon oleh teman SMA ku. Dia memintaku untuk melihat pengumuman di website LPDP dan ternyata aku tidak lulus seleksi berkas. Sedih bukan main tapi ternyata dua orang temanku juga tak lulus. Aku pun langsung menghubungi rekan satu kerjaku, ternyata dia lulus. Usut punya usut ternyata daerah asalku (Pamekasan) telah keluar dari daftar daerah tertinggal sejak tahun 2015 dan yang aku lihat ketika mendaftar kemarin adalah daftar daerah 3T tahun 2014. Entah ini berkah atau musibah. Aku benar-benar sedih kala itu karena semua rencana masa depanku langsung berantakan hanya gara-gara satu pengumuman. Kebiasaanku terlalu percaya diri memang membahayakan, membuatku tak terbiasa membuat rencana cadangan.

            Hari-hariku ku isi dengan mengutuki diri sendiri, aku benar-benar merasa tak punya harapan dan masa depan. Agak berlebihan sih, tapi itu yang aku rasakan. Rekan kerjaku terus melaju ke seleksi berikutnya dan akhirnya dia berhasil menjadi awardee LPDP. Betapa inginnya aku di posisinya kala itu tapi aku yakin pasti ada rencana Allah yang lebih indah di balik semua kejadian ini. Rekan kerjaku yang satu ini selalu menceritakan kegiatannya sebagai seorang awardee yang sedikit membuatku semakin mengutuki diri sendiri dan semakin ingin berada di posisinya. Tapi, ya sudahlah mungkin ini yang terbaik buatku. Ku putuskan untuk kembali mengikuti test TOEFL untuk yang kedua kalinya dengan harapan aku bisa melampui score yang disyaratkan LPDP. Aku merasa sedikit lebih banyak belajar dari sebelumnya tapi ternyata scoreku hanya naik 10 poit, dari 480 menjadi 490. Bagaimana mau daftar tujuan luar negeri, untuk tujuan dalam negeri pun aku belum memenuhi kualifikasi. Program pendampingan dari dompet dhuafa kembali dibuka dan aku berniat untuk kembali mengikutinya, tapi aku tak mau seperti sebelumnya, aku harus mempersiapkan semuanya lebih baik. Akhirnya ku putuskan untuk mengikuti test TOEFL lagi tapi yang prediction karena harganya lebih murah dibandingkan yang ETS. Aku berhasil mendapatkan score di atas yang disyaratkan yaitu 537. Aku sedikit punya rasa percaya diri kala itu karena semua persyaratan telah ku penuhi. Hasilnya? Aku kembali tidak lulus untuk yang kedua kalinya. Rasa kecewanya tak sebesar yang sebelumnya sih karena mungkin aku sudah kebal dengan semua kegagalan-kegagalan yang ku alami. Karena tak mau berkubang dalam penyesalan, akhirnya ku putuskan untuk kembali mengikuti test TOEFL dari ETS karena LPDP tidak menerima TOEFL prediction. Kali ini aku lebih banyak belajar dari sebelumnya. Aku mengikuti saran seorang blogger untuk belajar buku longman, ku ikuti sarannya dan memang lebih terarah menggunakan buku longman. Alhamdulillah aku mendapatkan score 517, artinya aku bisa mendaftar LPDP tetapi berubah tujuan, dari luar negeri ke dalam negeri. Aku sempat ragu pada awalnya, mengubur keinginan yang telah lama diinginkan itu bukan perkara mudah, akhirnya setelah pertimbangan dan masukan sana sini ku putuskan untuk mengambil tujuan dalam negeri, ku pilih Institut Teknologi Bandung.

            Alhamdulillah aku lulus seleksi berkas, tinggal mengikuti seleksi substansif yang terdiri dari 3 jenis seleksi yaitu, wawancara, LGD (Leaderless Group Discussion), dan nulis essay on the spot. Ku ikuti setiap seleksinya dan aku merasa kacau balau di wawancara dan perasaan akan gagal itu kembali ada. Benar saja, aku tidak lulus seleksi sunstansi. Aku kembali mengutuki diri sendiri dan kehilangan kepercayaan pada diri sendiri. Bukan perkara mudah bangkit dari kegagalan-kegagalan yang ku alami. Kegagalan-kegagalan ini terjadi karena gagalnya diri ini dalam menyusun rencana masa depan. Setiap harinya ku isi dengan menyalahkan diri sendiri, mangapa begini mengapa begitu. Tapi, aku masih punya satu kesempatan lagi sekaligus kesempatan terakhir untuk mengikuti seleksi LPDP. Aku tak punya pilihan untuk tak kembali ikut walaupun dengan perasaan yang benar-benar kalut. Ku pelajari semua yang harus ku pelajari, ku ingat-ingat kembali proses wawancara yang ku alami, LGD yang aku lalui, essay yang ku ikuti, ku analisis dimana poin yang menguatkanku dan dimana poin yang melemahkanku. Ku berlatih habis-habisan untuk mengikuti seleksi ini yang kedua kalinya. Setelah lulus seleksi berkas, ku persiapkan semuanya dengan matang, ku tulis poin-poin pertanyaan yang sekiranya akan ditanyakan, ku tulis jawaban terbaik yang meyakinkan, ku perbaiki hubunganku dengan Allah karena bisa jadi kegagalan-kegagalan yang ku alami selama ini karena gagalnya diriku mejalin hubungan baik dengan sang pencipta. Meminta doa restu orang tua dan meminta doa pada teman-teman.

            Kembali ku ikuti seleksi substansi, masih jelas dalam bayangan gagalnya aku di seleksi sebelumnya. Semuanya serba sama, ku menginap di kosan teman yang sebelumnya ku inapi, ku mengikuti seleksi di gedung yang sama seperti yang dulu ku ikuti, bayang-bayang kembali gagal terlihat jelas, tapi aku tepis semuanya, aku tak mau gagal untuk yang kedua kalinya karena dua alasan, ini kesempatan terakhirku dan aku bukan keledai yang jatuh pada lubang yang sama dua kali. Entah kenapa, semuanya serba dimudahkan untuk seleksi yang kedua ini, aku merasa lega dan tak begitu khawatir degan hasilnya. Mungkin ini yang disebut berusaha maksimal dan lulus itu bonusnya. Pengumuman yang dinanti-nanti pun datang, kala itu bulan puasa, aku sedang berkumpul dengan teman-teman sekantorku untuk berbuka puasa. Pengumumannya belum keluar hingga menuju saat berbuka, entah sudah berapa kali ku buka email. Saat adzan berkumandang, pengumuman datang dan Alhamdulillah wa syukurillah, aku dinyatakan lulus seleksi substansi yang artinya aku telah menjadi awardee LPDP. Benar-benar indah rencana Allah, rasa senangnya membuat aku lupa akan kegagalan-kegagalan yang aku alami, mungkin inilah yang disebut berhasil setelah putaran ke tujuh. Pesanku buat teman-teman, jangan pernah menyerah karena kegagalan-kegagalan yang datang, lalui saja walaupun harus mengutuki diri setiap hari, tapi intinya jangan berhenti berjuang. Gampang emang ngomongnya tapi susah aplikasinya, susah bukan berarti nggak bisa kan. Ada banyak rahasia indah Allah kenapa aku baru diberi kelulusan tahun ini, tepatnya tanggal 10 Juni 2016 padahal aku menginginkannya tahun 2015. Salah satu alasannya mungkin kalau aku lulus tahun 2015 aku tak akan dipertemukan dengan teman-temanku dan kamu, hehe. Ada banyak kisah indah selama masa penantianku, mungkin suatu saat akan ku bagi di sini, tapi tidak sekarang.

            Aku berencana untuk intake kuliah di ITB januari 2017 tapi ternyata jurusan yang ku tuju tidak membuka pendaftaran di semester genap sehingga aku harus menunggu hingga agustus 2017, terasa lama memang, lama banget malah, tapi tak apalah, aku percaya akan banyak kisah-kisah menarik dan indah yang akan terjadi selama penantianku hingga masa kuliahku dimulai nanti. Sekali lagi ku tekankan, jangan pernah menyerah karena gagal karena berusaha itu jauh lebih indah dari pada tak pernah gagal karena tak pernah mencoba, karena ‘penderitaan yang tidak menimbulkan kematian sejatinya adalah tahapan dimana kita akan dinaikkan tingkatannya’. Bukan berarti aku merasa telah naik tingkat tapi setidaknya aku telah benar-benar berusaha memperjuangkan apa yang benar-benar aku inginkan.