Rantau Lag

imagesEntah itu judul bener atau nggak, pokoknya kemarin, lebih spesifiknya dua hari yang lalu, aku mengalami apa yang menjadi judul tulisan di atas, rantau lag. Rantau lag apaan sih? Ya semacam jetlag gitu lah, ketidaksiapan badan kita menghadapi perbedaan waktu ketika kita pergi ke belahan dunia yang berbeda dengan kita. Ketika tubuh kita ngerasa udah malem eh pas nyampe lokasi ternyata masih siang, jadinya tubuh kita jadi bingung dan terjadilah yang namanya jetlag, bisa berupa pusing atau nggak enak badan lainnya. Nah, kalau rantau lag itu adalah suatu kondisi dimana kita merasa terkaget kaget dan terheran-heran ketika tercemplung atau dicemplungkan di tempat rantau yang lokasi atau kondisinya berbeda dengan tempat kita berada sebelumnya, dimana secara psikis kita belum siap menghadapi kondisi yang semacam itu dan aku ngalamin itu gaes. Sekarang aku sedang berada di Jakarta Pusat, sedang menjalani magang di suatu Lembaga penelitian demi lancar jayanya tesisku. Iya, aku rantau lagnya di Jakarta? Iyakah? iya. Padahal nih ya, Jakarta itu bukanlah tempat yang baru bagiku, entah berapa kali aku ke Jakarta. Beberapa kali aku datang bahkan menginap di rumah temanku yang asli orang Jakarta. Pun demikian, merantau juga bukanlah hal baru juga bagiku, aku udah menjalani kehidupan merantau sejak kuliah S1 dulu mulai dari Bogor, Bekasi, Bandung, dan sekarang Jakarta.

            Terus kok bisa ngalamin rantau lag? Setelah aku analisis ternyata aku tuh nggak bisa hidup sendiri, aku butuh pasangan temen yang harus ada di sekitarku ketika aku berada di lingkungan baru. Ketika di Bogor dulu, rantau lag bisa aku hindari karena aku kuliah bersama saudara kembarku dan kompaknya GASISMA (keluarga mahasiswa madura) telah berhasil membuatku hanya nangis satu kali yaitu ketika berpisah dengan kelurgaku ketika pertama kali dianter ke kampus, setelah itu aku bahagia, sama sekali tidak mengalami rantau lag, bahkan dulu aku agak heran aja sama anak-anak yang sampe nangis berhari-hari bahkan hingga berbulan-bulan ketika di asrama. Sekarang aku megerti kalian gaes, setelah sekian lama wkwkwk. Dilanjutkan merantau ke Bekasi, rantau lag bisa diminimalisir karena aku sekamar dengan teman kosanku yang cerewet tapi baiknya minta ampun. Ketika di Bandung? Aku benar-benar jatuh cinta dengan kota yang satu ini, bahkan sebelum aku bertempat tinggal di sana. Jadi, semacam telah ada ekspektasi lebih dan mindset yang telah terbentuk bahwa Bandung adalah kota yang livable and loveable, dan memang iya. Aku banyak bertemu orang-orang baik di sini, lingkaran yang begitu positif, mulai dari kosan hingga kampus. Kalau kelak ada yang mau ngajakin bangun masa depan bersama di Bandung, aku mau banget wkwkwk. Nah, ketika di Jakarta? Jejejejejeng….. akhirnya aku ngalamin yang namanya rantau lag.

            Jadi, hari minggu kemarin aku berangkat dari Bandung menuju Jakarta pada jam 5.00 pagi. Terlalu pagi sebenarnya, sehingga aku harus bangun jam 4, lantas mandi dan sampai di stasiun jam 5 kurang 15 menitan. Jadinya ku putuskan sholat di atas kereta saja, khawatir ketinggalan kalau sholat di mushola stasiun. Sesampainya di stasiun Gambir Jakarta, ku pesan ojek online yang ternyata murah banget hanya 2k padahal setelah ku lalui jarak tempuhnya lumayan jauh. Sesampainya di kosan aku dipersilahkan oleh ibu penjaga kosan untuk memasuki calon kamarku yang seadanya banget kalau nggak mau bilang jelek wkwkwk. Pengap khas kamar yang udah lama nggak dipake. Bayangin dong, aku baru dari perjalanan jauh, panas di jalan, masuk kamar pengap, apa nggak stress, lebbay sih. Di kamar itu ada AC tapi berhubung aku sewanya yang nggak pake AC jadilah aku hanya melihat AC itu tanpa bisa menikmatinya. Ku coba berbaring di Kasur yang sudah diganti spreinya sama si ibunya, aku gerah segerah-gerahnya. Kata ibunya, kamar ini kamar sementara aku karena kamarku yang sebenarnya ada di lantai 3. Berhubung penghuni sebelum aku belum beres-beres, jadilah aku diminta menunggu di kamar pengap itu. Aku sudah benar-benar tak tahan, ku hidupkan AC yang ada di kamar itu karena toh itu fasilitas yang ada di kamar itu, kan aku juga didzalimi karena kamarku yang seharunya belum siap juga. AC benar-benar menghilangkan rasa gerahku, setelah agak dingin, ku matikan lagi takut dosa wkwkwk, padahal udah dosa dari awal sih hahaha. Sorenya akhirnya aku dipindahkan ke kamar lantai 3, kamarnya luas, ada kipasnya, tapi masih geraaaaah. Aku benar-benar tak tahan, ku tanyakan harga kosan yang pakai AC ke bapaknya dan tanpa babibu aku putuskan untuk menyewa yang berAC saja. Manja banget sih badanku nih. Mending aku ngeluarin budget lebih daripada aku mateng wkwkkwk.

            Hari pertama masuk magang, aku terlambat setengah jam karena aku masih mikir suasana Jakarta akan serupa dengan di Bandung. Berangkat 15 menit sebelum acara dimulai rasanya masih aman-aman saja kalau di Bandung dan ternyata aku salah besar. Pas pesen ojek online dan keluar kosan akhirnya ku sadari keberadaanku sekarang. Aku sedang di Jakarta, macet dimana-mana. Jadilah aku baru sampai di tempatku magang jam setengah 9 yang searusnya jam 8. Untungnya aku nggak dimarahin dan disambut dengan diskusi yang menyenangkan. Tetapi karena berada di tempat baru, aku masih merasa kikuk untuk bergerak ke sana ke mari. Ketika makan siang aku diberi saran untuk beli makan di daerah yang banyak jajanan dimana jaraknya lumayan jauh menurutku. Tapi, tetap ku datangi karena di sana ada masjid yang cukup besar. Sasampainya di masjid aku sholat dan setelah sholat aku benar-benar tidak bisa menahan emosiku. Aku menangis tanpa bisa dibendung, mengalir tanpa diberi aba-aba. Aku merasa benar-benar sendiri di kota besar ini, di kosan sendiri, di tempat magang sendiri, beli makan siang sendiri, tak ada yang menemani, tak ada yang dikenal dan mengenaliku, tak ada yang bisa ditanya atau diajakin bareng-bareng. Aku merindukan banyak orang dan banyak hal, aku merindukan kaluarga di rumah, teman-teman di Bandung, aku benar-benar merasa tersiksa dengan kesendirian ini. Aku berdoa pada Allah dan menyampaikan kondisiku yang tidak kuat sendiri, sedih sekali rasanya sendiri.

            Ketika tiba saatnya pulang dari tempat magang, ku lewati sebuah rumah sakit di sebelah tempat magangku. Ku berjalan seperti anak hilang tanpa arah dan tujuan, ada sih arahnya… ke kosan wkwkwk. Ketika aku sibuk dengan pikirankuu, tiba-tiba ada yang menyapa,

“Hei….. kamu” sampanya sambil menunjuk ke arahku.

            Siapa nih orang, emang ada ya yang kenal aku di sini? Pikirku kala itu. Terlihat olehku seorang perempuan memakai masker di wajahnya. Ah, paling salah orang seperti yang sudah-sudah. Pas si mbaknya buka masker ternyata orang itu benar-benar aku kenal dan mengenalku, kami saling mengenal satu sama lain. Langsung aku peluk si mbaknya yang ternyata adalah teman SMAku yang bekerja di rumah sakit itu. Dulu temenku ini sering sekali ke Bogor karena memang calon suaminya adalah kakak kelas di kampusku. Sungguh ini benar-benar sebuah keajaiban dan doaku benar-benar terasa diijabah oleh Allah. Ketika aku merasa benar-benar kesepian dan sendirian, beliau kirimkan orang dari arah yang tidak diduga-duga. Kami bercerita banyak hal, mulai dari kerisauanku yang merasa hidup sendirian di Jakarta hingga kehidupannya sekarang yang telah berumah tangga. Perjalanan pulang benar-benar tak terasa jauh jika dilalui dengan mengobrol bersama teman. Kami pun sepakat untuk makan di sebuah rumah makan sambil menunggu suami temanku ini datang. Kami berpisah setelah adzan isya dan aku diantarkan sampai di depan gerbang kosanku karena mereka khawatir dengan curhatanku yang selalu merasa insecure di kota besar ini.

            Berkat pertemuan kami yang tak diduga-duga itu, akhirnya ku tahu ternyata teman sebangku SMAku juga sedang berada di Jakarta Pusat. Temenku yang satu ini diterima PNS di sebuah kementrian dan tempat kerjanya di Jakpus. Ya Allah benar-benar sebuah kejutan yang tak disangka-sangka. Temeku ini juga menyayangkan kenapa aku nggak ngasih kabar, kalau ngasih kabar kan kami berdua bisa barengan ngekosnya. Ditambah lagi kosan temenku ini bagus dan bersih banget. Nggak papa lah… ketemu sama temenku ini sudah lebih dari cukup buatku. kalau tidak salah kira, sudah terhitung 4 tahun kami tidak bertemu. Terakhir aku bertemu dengannya ketika aku berkunjung ke rumah dia dan suaminya di Sukabumi. Temenku ini asli madura tapi dapet suami orang Riau yang kerjanya di Bogor, akhirnya mereka memutuskan tinggal di Sukabumi dan sekarang malah jadi orang Jakarta. Kami berdua akhirnya bertemu keesokan harinya, mengobrol dan mengenang banyak hal dari sore hingga malam hari. Tertawa lepas seperti jaman SMA dimana beban hidup masih tak seberapa. Mengobati rasa kangen yang entah sudah sejauh apa karena memang tak ada alat ukurnya. Saling berpelukan entah yang keberapa karena tak tahu kapan lagi akan berjumpa. Rindu yang menggebu membuat pertemuan menjadi sangat mengharu biru.

Terimaksih ya Allah atas semua pemberianmu yang sangat hamba tak duga-duga ini. Memang benar, jikalau kita benar-benar menginginkan sesuatu mintalah dengan sungguh-sungguh pada Allah yang punya segalanya. Tak sulit bagiNya mengadakan sesuatu dari yang awalnya tak ada menjadi ada. Maka perkara mudah bagi Allah mempertemukanku dengan teman-temanku yang memang sudah ada sehingga ku tak merasa sendiri, kesepian, dan hilanglah sudah rantau lag yang ku alami. Rantau lag mengajariku untuk selalu menghargai dan menyayangi orang-orang yang berada di sekitarku karena tanpa mereka hidupku benar-benar kosong dan hampa. Aku benar-benar mencintai kalian karena Allah kaluarga, saudara, dan teman-temanku. Keberadaanku terasa ada karena adanya kalian dan keberadaanku menjadi tak berasa ada jika tak ada kalian. Semoga kita semua kembali dipertemukan si surgaNya kelak, aamiin.

Menghargai Pemberian

Give, Donate, Charity

Tulisan ini ditulis ketika diriku berada di lab memperhatikan orang berlalu lalang dengan kesibukan mereka masing-masing. Sedangkan diriku? Hanya duduk berdiam diri memperhatikan mereka satu per satu sambil menyibukkan diri di depan laptop. Benci sekali rasanya tidak mengerjakan apa-apa, sedangkan yang lain terlihat sibuk atau mungkin menyibukkan diri. Ku pasang headset, buka laptop, cari jurnal, baca sekilas, lantas kembali bingung mau ngapain lagi. Akhirnya ku putuskan untuk menulis agar ada setidaknya satu karya yang ku hasilkan hari ini. Agar aku bisa tau bahwa aku pernah mengalami masa ini, masa-masa galau dan bingung mau dibawa kemana kiranya penelitian ini. Aku percaya semua ini akan ada ujungnya, jalani saja dulu, yakinlah akan selesai kemudian. Mau cerita apa ya? Oya kan udah ada judulnya tuh, pastinya udah kebayang dong mau cerita apaan. Iya sih, iseng aja nanya biar keliatan komunikatif gitu wkwkwk.

            Jadi gini ceritanya. Suatu hari seorang teman sejurusanku yang juga teman kosanku, yang kamarnya sebelah kamarku, memberikan sebuah kabar gembira.

“Mau nonton bioskop gratis nggak? Aku punya 8 tiket gratis nih buat nonton film X di semua bioskop di Bandung di hari kamis besok” katanya mengabariku lewat whatsapp.

“seriusan nih? maooooo” jawabku tanpa berpikir panjang.

“tapi belinya lewat aplikasi TIX ID, mbak punya aplikasi itu kan?” tanyanya.

“iya masih tapi harus top up dulu” jawabku.

“oke, nanti pesen tiketnya 8 ya” katanya.

“banyak banget, emang mau ngajakin siapa aja?” tanyaku.

“ngajak orang mah gampang kalau gratisan” jawabnya.

“iya juga sih” jawabku mengiyakan.

            Jadilah kami berdua membeli banyak tiket, tidak hanya 8 tetapi hingga berpuluh puluh tiket, totalnya ada 68 tiket (kalau tidak salah hitung) dan semuanya gratis. Banyak respon orang-orang yang kami temukan ketika membagi-bagikan tiket ini, ada yang senang bukan main, berterimakasih tak henti-henti, dan diikuti rasa penasaran dari mana gerangan tiket gratis ini karena sungguh tidak mungkin aku dan temanku yang notabene masih mahasiswa ini membagi-bagikan tiket nonton bioskop yang tidaklah murah. Ada juga yang nerima aja tanpa babibu ingin tahu ini itu, cukuplah bagi mereka tiket gratis itu, golongan ini adalah golongan modis (modal diskon). Ada golongan yang agak jual mahal padahal sebenernya ingin dan ada pula yang menulis list nama tapi ternyata tidak hadir ketika pemutaran filmnya berlangsung, golongan terakhir inilah yang sedikit banyak akan aku bahas dalam tulisan ini.

            Golongan yang terakhir itu -golongan yang ingin tapi sebenarnya tak ingin- memberiku banyak pelajaran tentang pentingnya menghargai sebuah pemberian. Jujur, aku sedikit kecewa dengan sikap mereka, kalau tidak salah hitung ada 3 tiket gratis sia-sia yang dibeli tanpa ada si empunya tiket pas filmnya diputar. Aku sayang aja gitu ya, walaupun toh tiket itu gratis, tolonglah dihargai. Ada sedikit goresan kekecewaan yang walaupun tak aku tampakkan tapi aku rasakan, rasanya cekit-cekit. Rada aneh sih ya, padahal aku lo nggak keluar uang sepeser pun, nggak rugi serupiah pun, lantas apa sih yang ngebuat aku sampe sebegitu kecewanya. Nggak tau ya, kecewa aja gitu ya. Pas lagi mau mulai nonton, mbak di sebelahku yang juga tau sebab akibat tiket itu terbuang sia-sia hanya bisa berbisik,

“nggak papa, seenggaknya kamu belajar sesuatu dari peristiwa ini”

“iya mbak, makasih ya” jawabku.

            Pulang dari bioskop aku benar-benar tidak bisa menahan emosi, aku benar-benar nangis di atas motor. Air mata bercampur dengan rintikan air hujan yang turun ikut membaur. Aku jadi mengingat banyak hal dan satu yang benar-benar aku tangisi kala itu adalah aku sangat merasa bersalah pada Allah yang selama ini memberikan segalanya kepadaku, mencukupi kebutuhanku, menghidupkanku, menyehatkanku, mambahagiakanku, dan memberikan semuanya tanpa aku minta. Lantas sikapku? Sangatlah congkak, sama sekali tak pernah sungguh-sungguh berterimakasih atas semua pemberianNya. Kalau aku saja yang sebegitu kecewanya hanya karena tidak hadirnya temanku atas tiket gratis yang ku berikan -yang notabene aku tak mengeluarkan uang sepeserpun-, lantas bagaimana dengan Allah yang telah memberikan segalanya padaku? Ayo introspeksi diri. Rasa minim syukurku bisa dilihat dari minimnya ibadah yang ku lakukan, sholat yang ditunda-tunda, sedekah yang dinanti-nanti, puasa sunnah yang sangat jarang sekali, lantas kecewamu sungguh tak beralasan jika dibandingkan dengan semua yang ku lakukan selama ini.

            Ya Allah, ampuni hamba yang sungguh benar-benar telah melampui batas. Terimakasih atas pengingat yang engkau berikan bahwa sesungguhnya selama ini hamba begitu jauh dari rasa syukur dan penghargaan atas pemberianmu yang sungguh sangat berharga, kesehatan, keluarga, teman-teman, guru-guru, dan segalanya yang berada di sekitar hamba. Terkadang menghargai sebuah pemberian bukan hanya untuk menyenangkan orang yang memberikannya tetapi juga mehindari kekecewaan yang mungkin akan orang tersebut rasakan jikalau kita menolaknya. Terimakasih teman sudah tidak datang setidaknya dari kamu aku banyak belajar bahwa menghargai pemberian adalah sebuah keharusan.

Resiko Bertindak Tanpa Berpikir

cerobohSekarang aku berada di tahap dimana aku merasa, diriku yang sekarang bukanlah diriku yang dulu, sangat berbeda dalam banyak hal. Ada yang positif, ada pula negatifnya. Kadang ku merasa diuntungkan dengan perubahan ini, tapi terkadang pula perubahan ini benar-benar mengantarkanku pada banyak penyesalan. Seberapa signifikankah perubahan itu? Mari kaji satu per satu. Dulu aku anaknya introvert, susah sekali melebur dan membaur di lingkungan baru. Menutup rapat karakterku yang sebenarnya, merasa insecure akan banyak hal sehingga tidak bisa menunjukkan sisi terbaik dari diriku. Sekarang? Aku berubah menjadi orang yang ekstrovert, senang sekali bertemu orang, be just the way Iam, banyak bercanda, banyak ngomong sehingga sulit sekali untuk serius dan ini tidak baik menurutku. Dulu aku suka membaca dan belajar, sekarang aku merasa hampa dan tak begitu semangat belajar. Membaca pun menjadi sangat jarang walaupun itu hanya sekedar novel atau bacaan ringan. Sepertinya aku terkena dampak milenialisasi karena kemajuan teknologi. Tak bisa ku pungkiri, aku menjadi seorang yang suka sekali berselancar di youtube, membaca twit yang pendek-pendek, menghabiskan waktu hanya untuk scroll timeline Instagram, dan hal-hal minim faedah lainnya di medsos (media sosial).

            Akibat dari semua kebiasaan buruk itu, aku menjadi jarang menggunakan otakku sehingga harganya jadi lebih mahal kalau dijual karena jarang digunakan wkwkwk. Aku sekarang merasa bodoh dalam banyak hal, seperti dalam bidang akademik (pekuliahan dan penelitian), tercermin dari IPK ku yang mengenaskan, serta dalam hal pengambilan keputusan untuk melakukan suatu tindakan, aku merasa sangat payah. Sepayah apa sih? Payah banget tau, ada beberapa kejadian yang ingin aku ceritakan di sini.

            Pertama, kejadian ketika aku hendak mengurus surat ijin kode etik untuk penelitianku. Jadi, penelitian yang menggunakan hewan coba dan manusia sebagai objek penelitian harus mempunyai surat ijin kode etik, untuk menghindari terjadinya malpraktek. Surat ijin kode etik ini harus ada apalagi jika kita ingin mempublikasikan hasil penelitian kita dalam bentuk jurnal. Nah, berhubung penelitianku menggunakan keduanya (hewan coba dan manusia) maka mau tidak mau aku harus mengurus surat tersebut. Surat ijin kode etik sebenarnya bisa diurus di ITB, di fakultas Sekolah Farmasi, tapi berhubung katanya di UNPAD (Universitas Padjajaran) yang notabene punya fakultas kedokteran, lebih mudah dan cepat, akhirnya ku putuskan untuk mengurus di UNPAD saja. Teman-teman satu lab ku juga rata-rata mengurus surat ijin kode etik ke UNPAD.

            Entah angan-angan darimana, secara tidak sadar di bawah alam sadarku, aku selalu berpikiri bahwa UNPAD itu ya di Jatinangor, padahal kan ada juga yang di dekat ITB Ganesa. Jadilah aku pada hari kamis, hari terakhir dalam minggu itu untuk pengumpulan berkasnya, karena mereka hanya menerima berkas pada hari selasa, rabu, dan kamis setiap minggunya. Aku segera meluncur ke tempat mangkal Damri yang menuju jatinangor. Aku merasa sangat beruntung kala itu karena aku berhasil mencegat bis yang hampir berangkat dengan motorku, sambil melambaikan tangan pada sopirnya kalau aku akan ikut. Ku tempuhlah perjalanan dari UNPAD Dipatiukur ke UNPAD Jatinangor yang jaraknya lumayan. Turun dari Damri naik odong-odong UNPAD menuju fakultas Kedokteran. Sesampainya di sana aku agak curiga, karena di website dituliskan mereka berada di lantai 6 Rumah Sakit Pendidikan (RSP) UNPAD, akan tetapi, aku melihat Gedung di sana tidak ada yang menjulang tinggi hingga lantai 6, paling hanya lantai 2. Ketika aku bertanya pada pak satpam, benarlah saudara-saudara, ternyata RSP UNPAD itu berada di kota Bandung sebelahan sama Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung. Betapa kagetnya aku dan berkali-kali mengutuki diri sendiri kenapa tidak membaca alamat website dengan baik dan benar, atau seenggaknya bertanya pada rekan satu lab yang sudah mengurus surat tersebut. Aku udah nanya sih ke mereka, tapi nggak spesifik nanya lokasi, aku hanya bertanya mereka pakai apa ke sana, dan semua menjawab pakai motor atau ojek online. Parahnya lagi, aku sempat mengecek ongkos ojek online ke UNPAD jatinangor yang itu mahal banget dan aku belum sadar juga kalau yang mereka maksud itu adalah UNPAD di jalan Eicjkman bandung. Benar-benar kejadian yang sangat-sangat konyol, kepekaanku benar-benar sangat payah, analisisku sangat dangkal, dan aku merasa benar-benar eerrrghhhh.

            Kedua, kejadian yang terjadi lagi-lagi karena kurangnya info, analisis, dan minat baca yang minim dari diriku ini. Suatu pagi, aku berniat untuk berbelanja peralatan yang berkaitan dengan penelitianku. Hari itu rencananya aku akan mengambil sampel darah sehingga aku membutuhkan syringe dan tube anti koagulan untuk menampung darah. Toko Sakura menjadi tempat andalan karena dekat dari kampus, lengkap, murah, dan bisa beli eceran. Aku berencana menggunakan ojek online karena merasa akan lebih simple, murah, dan cepat. Didukung oleh promo yang aku dapatkan hari itu. Sayangnya, ketika sampai di Sakura, ternyata kedua barang yang ku butuhkan itu sedang kosong, syringe hanya ada yang merk lain yang tidak terlalu bagus dan tube antikoagulan yang tutupnya ungu bukan hijau. Aku biasanya menggunakan yang tutupnya hijau karena mengandung heparin sedangkan yang ungu mengandung EDTA. Berhubung barang-barang itu benar-benar sangat aku butuhkan hari itu, mau tidak mau aku harus mendapatkannya bagaimanapun caranya. Akhirnya ku browsing tempat serupa Sakura yang menjual alat-alat kesehatan juga, ku temukan sam medical yang jaraknya tidak terlalu jauh dari Sakura. Tanpa berpikir panjang, ku pesanlah ojek online menuju ke sana.

            Sayangnya, ojek online yang ku tumpangi kala itu rada-rada kurang aman dan nyaman cara bawa motornya. Ketika baru berjalan beberapa meter, ada bapak-bapak yang neriakin ‘mas… standarnya’. Ya ampu… si mas nya lupa naikin standar, padahal kan bahaya banget, kita berdua bisa jatoh. Di tengah perjalanan turunlah hujan yang amat deraslah, si masnya berhenti buat ngambilin jas ujan. Aku jadi merasa bersalah, soalnya udah agak nggak percaya ke masnya gegara standar motor dan cara ngendarain motornya yang kurang ajeg menurutku. Baru beberapa meter berjalan, ada bapak-bapak yang kembali neriakin ‘mas…. standarnya’. Ya Allah… masa lupa lagi, kan bikin makin was was yak. Pas mau belok di persimpangan masnya juga ragu-ragu sehingga banyak di klaksonin pengendara yang lain. Jarak sam medical yang deket jadi berasa juauuuuuh bangeeeet. Pengen segera nyampe rasanya. Akhirnya sampailah di sam medical. Sebelum berpisah, aku bilang ke masnya, ‘mas, jangan lupa standar motornya lagi ya hehe’. Aku kasian aja kalau nanti masnya lupa lagi. Sesampainya di sam medical, ternyata mereka hanya punya syringe sedangkan tube hijau tidak ada, adanya hanya yang ungu. Kenapa susah banget yak. Aku yang merasa sudah setengah jalan, jengah rasanya kalau nggak sampe dapet tuh tube. Jadinya aku cari lagi tempat serupa yang menjual alat-alat kesehatan, ternyata ada walaupun jaraknya cukup jauh, yaitu PT. Inti Medika Sarana. Sesampainya di sana, ternyata serupa dengan tempat-tempat sebelumnya, mereka tidak punya tube hijau, adanya hanya yang ungu. Kata si mbak-mbaknya emang kalau satu tempat nggak ada, maka tempat yang lain juga bakalan nggak ada, karena mereka semacam satu supplier gitu. Terus aku nyeplos dong ‘emang kalau yang ungu fungsinya apa mbak?’ terus mbak nya jawab ‘wah,,, saya kurang tau juga mbak’.

            Aku langsung ngeh dong, kenapa aku nggak browsing aja, jangan-jangan fungsi mereka sama. Dan… jejejejenggggg…. beneran dooong, fungsi tube hijau dan ungu itu sama. Mereka sama-sama antikoagulan (mencegah darah menggumpal sehingga bisa dianalisis). Perbedaan mereka berdua hanya kandungannya saja saudara-saudara. Tau gitu kan…. sejak sedari tadi aku udah bisa dapetin tuh tube. Akhinya aku bilang ke mbaknya,

“fungsinya ternayata sama mbak, saya beli yang tube ungu ya 5 biji”

“maaf mbak, di sini nggak jual eceran”

Wagelaseeeeh…. udah jauh-jauh gini ternyata mereka nggak jual eceran. Jadilah dengan berat hati karena benar-benar butuh tuh tube, akhirnya ku putuskan kembali ke tempat awal, yaitu Sakura. Jaraknya juaauuuhhh. Sesampainya di Sakura aku langsung beli tuh tube dan kembali ke kampus dengan perasaan campur aduk, capek iya, kesel iya, merasa oneng iya, benar-benar merasa konyol untuk kesekian kalinya. Sangat beresiko sekali memang ya, bertindak tanpa berpikir matang terlebih dahulu.

Ketiga, kejadian ini baru kemarin lusa aku alami, kejadian yang terjadi karena sok ideku yang lagi-lagi bertindak tanpa berpikir. Bermula ketika printerku bermasalah, cartridge nya yang warna rusak. Printerku ini agak rewel ya, ketika tintanya abis, maka dia harus diganti cartridge nya yang harganya lumayan mahal. Aku pun berniat untuk memodifikasi printerku ini jadi infus aja biar nggak ribet dan lebih hemat. Tanpa berpikir panjang, ku bawalah dengan susah payah tuh printer ke BEC (Bandung Elektronik Center) yang memang tempatnya servis atau modif alat elektronik. Aku ingat kalau cartridge yang warna sudah aku lepas dari printernya, ‘ah… palingan nggak kepake juga’ pikirku kala itu. Aku bopong tuh printer ya, keliling-keliling mall kayak orang bingung bawa-bawa printer yang lumayan bikin pegel. Ketemulah sama sebuah toko servis yang katanya bisa modif jadi infus. Tapi kata mereka cartridge nya harus lengkap yang hitam sama yang warna. ‘Allahu robbi… kenapa tadi nggak dibawa aja ya” kataku dalam hati. Kalau beli baru berapa mas? aku sok-sokan nanya. Harganya lumayan dong, 135 rebu. Biaya modifnya 350k, kalau beli baru semua cartridge nya berarti 270k. Jadi kalau ditotal semua jadinya 620k. Padahal harga printernya aja 550k. Apa-apaan coba…. eeeergggghhhhh. Ngapain sih sok ide banget langsung bawa printernya, kenapa nggak survey harga dulu, kenapa nggak nanya-nanya orang dulu, atau seenggaknya browsing gitu di internet. Akhirnya ku bawa balik tuh printer ke kampus. Sesampainya di kampus aku bingung mau naro tuh printer dimana. Seketika terlintas sekre KAMIL di Masjid Salman ITB, nanti pulang ngelab aku ambil lagi. Eh… udah jauh-jauh jalan ke sekre, ternyata di dalemnya lagi ada rapat. Jadilah aku bawa lagi tuh printer yang beratnya lumayan. Karena haus, aku beli thai tea, eh… pas minta plastic, ternyata plastiknya abis. Bener-bener bikin emosi memuncak nih mas-masnya. Dia nggak liat apa, aku bawa apaan… ya kali bawa printer sampel megang cup besar thai tea tanpa plastic. Emang sekate-kate nih masnya. Aku mencoba untuk menahan emosi. Aku memutar otak dan akhirnya aku taroh tuh cup thai tea di tempat botol di tas ranselku. Terus printernya aku titipin di tempat penitipan helm di parkirn resmi kampus. Akhirnya aku terbebas dari gotong-gotong printer. Benar-benar hari yang sangat melelahkan dan mengesalkan, buah dari kepayahanku dalam bertindak tanpa berpikir panjang.

Hikmah dari kejadian-kejadian ini adalah berpikirlah sejenak sebelum bertidak, buat analisis-analisis kecil akan tindakan yang akan dilakukan, perbanyak membaca dan bertanya pada orang lain yang lebih berpengalaman. Awalnya aku merasa sangat payah dan konyol mengalami kejadian-kejadian ini tetapi setelah ku tulis kembali, aku merasa terkadang manusia harus melalu tahapan-tahapan payah dan konyol untuk menjadi lebih mawas diri dan dewasa. Tak apalah mengalami hal-hal payah dan konyol, yang terpenting dari semua itu adalah kita bisa mengambil pelajaran dari setiap kejadian yang telah terjadi dalam kehidupan. Karena hidup memang tempatnya belajar bukan?

Kaos Polo Abu

31726_xfh00033425824357_1_gudang_fashion___kaos_polos_kerah_Kaos polo itu cocoknya dipake sama laki-laki, kalau perempuan menurutku agak kurang pas aja, apalagi yang pake kerudung. Laki-laki yang memakai kaos polo terlihat lebih gagah menurutku walaupun tetep ya… yang pake baju koko dan pake sarung sama peci terus pergi jumatan jauh lebih menarik wkwkwk. Kaos polo juga lebih apik kalau lengannya pendek, kalau panjang jadi rada aneh aja, terlihat kurang pas. Orang yang pake kaos polo itu akan terlihat rapi, santai, sporty pada saat yang bersamaan. Makanya, kaos polo tuh bisaan dipake di acara semi formal dan bisa banget dipake buat hang out. Apaan sih ngereview kaos polo ampe segininya, semua orang juga udah tau kali. Iya juga sih tapi aku punya cerita kaos polo abu yang aku jamin nggak ada yang tau. Iyalah, cerita pribadi kok, yang bentar lagi bakalan jadi cerita publik. Awalnya mau nulis cerita ini kalau udah ketemu sama yang punyanya, tapi kok rasanya gatel aja pengen segera nulis cerita ini. Nanti kan bisa nulis lagi kalo beneran udah ketemu sama si empunya kaos polo abu. Yuk lanjoutkeun ceritanya.

            Jadi gini, awal mulanya diawali ketika aku memutuskan untuk belanja ke pasar tanah abang. Udah kebayang kan gimana tanah abang, banyak barang, banyak pilihan, nggak semuanya murah, bakalan dapet barang murah dan bagus asal pinter milih dan nawar aja. Nah, kepergianku ke sana dikarenakan aku ingin belanja perlengkapan PK (Persiapan Keberangkatan) untuk para awardee/penerima beasiswa LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan). Berhubung perlengkapannya lumayan banyak, jadi aku putuskan untuk belanja di tanah abang saja karena kalau di mall harganya bakalan jauh lebih mahal. Kala itu perlengkapan yang harus aku beli kalau tidak salah ingat adalah kaos polo warna merah, hitam, biru, abu, rok jeans, batik, dan tentunya kerudung untuk masing-masing baju yang berwarna warni tersebut. Lumayan banyak kan? Jadilah ku putuskan ke tanah abang saja soalnya banyak pilihan dan bisa nawar juga kalau belinya banyak. Ketika sampai di tanah abang, aku menghampiri toko kaos polo yang lumayan bagus dengan harga yang lumayan juga. Aku putuskan untuk membeli satu warna saja dan ku pilih warna abu. Nah, pas jalan ke toko yang lain ternyata ada yang lebih murah dengan kualitas yang biasa aja sih, jadinya aku beli sisa warna lain di toko tersebut. Jadilah kaos polo abu adalah kaos polo dengan kualitas dan harga paling bagus di antara kaos polo dengan warna yang lain.

            Ketika hari H pelaksanaan PK, ternyata kaos polo abu sudah disediakan oleh panitia karena di kaosnya sudah dibordir logo PK angkatan kami. Jadilah, kaos polo abu yang ku beli tak terpakai. Iya, nggak kepake, sayang banget kan, padahal dia tuh yang paling mahal dan kualitasnya paling bagus. Kaos itu tak terpakai hingga detik ini, kenapa? Karena aku punya misi. Apaan tuh? Kaos polo abu itu akan aku berikan pada suamiku nanti. Emang muat? InsyaAllah, aku emang beli yang ukurannya agak gede soalnya aku nggak terlalu suka baju yang pas badan. Pas beli kaos polo abu itu pun si abang jualannya nanya “buat siapa mbak? Buat suaminya ya?” aku ketawa aja sambil mikir, wah… boleh nih dibuat tulisan dan baru terealisasi 2.5 tahun kemudian, lama banget yak wkwkw. Oya, ukuran kaos polonya XL. Akankah kaos polo abu itu benar-benar muat di kamu? Kamu… iya kamu… let’s see.

Tentang Berlari

img20181018072139Terhitung sejak tanggal 16 Oktober 2018 tahun kemarin (berasa lama ya, padahal sekarang baru tanggal 12 Januari 2019, hehe) aku memutuskan untuk menchallenge diri sendiri dengan melakukan sebuah tantangan #30HariLariPagi. Detail challenge ini akan aku sampaikan nanti setelah aku berhasil melewatinya karena sekarang baru sampai hari ke 21, kurang 9 hari lagi. Banyak yang salah paham dengan hashtag #30HariLariPagi, mereka pikir aku akan melakukannya 30 hari berturut-turut padahal maksudku itu ngelakuin lari pagi selama 30 kali, ambigu sih ya. Nah terlepas dari semua keambiguan itu, aku merasa banyak hal yang aku dapatkan dari challenge ini, mulai dari kesehatan jasmani hingga kesehatan rohani. Rohani? Darimananya? Nah itu, aku juga tak pernah membayangkan akan mendapatkan hal semacam ini hanya karena berlari. Hal-hal mendetail tentang lari yang ku lakukan akan aku posting di postingan terpisah karena di sana aku akan banyak bercerita tentang pengalaman berlari #30HariLariPagi mulai dari iseng, suka, sampe suka banget. Nah, di postingan ini aku akan bercerita tentang suatu hal yang aku temui ketika berlari, tentang kisah selama berlari.

            Aku lupa entah pada hari ke berapa pertama kali aku melihat mereka, mereka yang berlari dengan begitu bersemangat, terlihat dari kecepatan lari dan keringat yang membasahi kaos mereka. Tak ada yang spesial memang, berlari mengitari lintasan lari dengan penuh semangat hingga keluar keringat, aku pun demikian. Tapi, beberapa kali ku perhartikan, mereka berdua selalu berlari dengan jarak yang berdekatan, seperti tak bisa dipisah satu dengan yang lain. Lebih dekat ku perhatikan, ternyata mereka saling berpegangan melalui sebuah tali yang mereka pegang bersamaan. Dua laki-laki yang sepertinya sebaya itu terus berlari berpengangan melalui sebuah tali dengan posisi yang satu agak di depan dan yang satunya agak di belakang. Aku pun semakin penasaran, ada apa gerangan dengan mereka, aku tak bisa membohongi diri sendiri akan rasa penasaran ini. Ku terus berlari hingga pada titik tertentu aku kembali berpapasan (lebih tepatnya disalip mereka berdua) dan aku melihat sesuatu yang membuatku mengerti apa yang mereka berdua lakukan.

            Seketika ada rasa sesak di dada, air mata yang tak terasa menyeruak keluar bercampur dengan keringat yang sudah sejak tadi membasahi wajah. Sungguh air mata ini bukan semata-mata karena rasa kasihan dan iba, tapi lebih tepatnya menangisi diri sendiri yang minim syukur dan sering takabur. Mereka berdua berhasil menyadarkanku akan banyak hal yang lupa atau sengaja tak ku sykuri dan keluhan yang selalu saja keluar dari diri ini. Aku terus berlari dengan air mata tak berhasil aku bendung, terus keluar tanpa permisi. Kenapa emang mereka berdua? emang mereka ngapain? Yuk aku certain. Sebenernya aku juga nggak tau mereka itu siapa dan dari komunitas apa, tapi sepertinya mereka dari sebuah komunitas. Komunitas berlari bagi para tunanetra. Aku pernah liat di youtube sebuah komunitas serupa, namanya bioskop berbisik. Nah, komunitas ini adalah komunitas yang memungkinkan para saudara-saudara kita yang tunanetra untuk nonton bioskop. Cara nontonnya dengan cara dibisikin sama volunteer tentang jalan cerita yang lagi ditayangin di bioskop itu. Sungguh ide yang sangat brilian menurutku, bagaimana membuat saudara-saudara kita yang mempunyai keterbatasan untuk mempunyai akses yang sama terhadap hiburan. Nah, yang aku temui di lapangan ketika berlari ini, adalah teman-teman volunteer yang sedang mengajak saudara-saudara tunanetra untuk mendapatkan akses yang sama terhadap kesehatan, salah satunya dengan berlari.

            Mereka sangat bersemangat ketika berlari. Pernah suatu ketika aku dikagetkan dengan suara orang yang bertubrukan di lapangan, ketika ku tolehkan wajah ke arah suara, aku melihat dua orang yang sedang membungkukkan badan meminta maaf pada seorang bapak-bapak yang tak sengaja mereka tubruk. Ternyata mereka berdua adalah dua orang yang beberapa kali aku temui ketika berlari, kakak yang tunanetra dan volunteer yang menemaninya. Aku kembali merasakan sesak di dada dan keluar air mata tanpa aba-aba. Jikalau mereka begitu bersemangat mensyukuri sehatnya badan dengan cara berlari, lantas dengan alasan apa aku bisa bermalas-malasan dan tak ingin berlari. Bagiku sekarang, berlari tak hanya sekedar memenuhi tantangan #30HariLariPagi tapi lebih pada mensyukuri nikmat sehat yang ku dapat setiap hari, yang mungkin tanpa ku minta tapi dengan baik hati diberikan oleh ilahi robbi.  Tak pernah terbayangkan kalau berlari akan memberikan makna sedalam ini. Yuk ikutan lari, kamu… Iya kamu.

Terpilihnya Seorang Imam

                anak-kecil-jadi-imamBanyak hal yang terjadi beberapa bulan belakangan. Ingin sekali ku ceritakan, tapi sepertinya akan banyak sekali keluhan. Sebenarnya tak apa-apa bukan, karena sejatinya keluhan adalah uangkapan rasa yang harus diungkapkan. Daripada mengendap tak karuan dan meledak dalam diri hingga mengganggu kejiwaan. Bukankankah akan lebih merepotkan handai taulan jikalau itu semua menjadi kenyataan? Lebih baik ku ceritakan lewat tulisan yang mungkin akan menjadi kenangan tak terlupakan di hari kemudian. Beneran bakalan cerita keluhan? Nggak sih, nggak malam ini, karena momennya udah terlewatkan. Aku mau cerita kisah yang menurutku unik aja untuk dibagikan, cerita tentang terpilihnya seorang imam.

                Salah satu yang sangat ku syukuri ketika ku berada di Bandung ini adalah bertemunya dan bertemannya aku dengan banyak orang-orang baik dan luar biasa hebat. Entah dengan apa aku bisa menggambarkan rasa syukurku ini. Aku bersyukur berada di tengah-tengah mereka dengan keberagaman yang mereka bawa. Keberagaman dan perbedaan di antara kami tidak lantas menimbulkan perpecahan, malah semakin meningkatkan rasa persaudaraan yang terjalin. Aku bertemu dengan mereka karena sebab-sebab tertentu, bisa karena organisasi, jurusan, beasiswa, kepanitiaan, lab, dan kosan. Nah, sebab yang ku sebutkan terakhir yang kali ini mau aku ceritakan. Kosanku sekarang sangatlah nyaman, tidak hanya karena fasilitas dan kondisi fisik kosannya tetapi penghuninya yang amat sangat bikin nyaman. Aku merasakan hangatnya persaudaraan, pertemanan, persahabatan, dan kebersamaan di kosan ini. Emangnya momen-momen apa aja sih yang membuatku merasakan semua rasa itu? Banyak, seperti, makan bareng, masak bareng, ngobrol bareng, dan sholat bareng. Momen yang terakhir ku sebut itu yang paling unik, sholat bareng alias sholat berjamaah.

                Sholat berjamaah menjadi ajang yang sangat menegangkan di kosanku ini, karena dari sanalah akan terpilih seorang imam yang akan memimpin sholat. Pertimbangan pemilihan imam bukan berdasarkan bacaan Al-Qurannya yang paling baik karena insyaAllah semua penghuni kosan bacaannya sudah baik, tetapi dipilih dari penghuni kosan yang paling terakhir sampai di musholla kosan. Peraturan ini dibuat untuk mencegah kecemburuan sosial dan ngaretnya proses sholat berjamaah karena tunjuk-tunjukan siapa yang seharusnya menjadi imam. Efektif? sangat efektif, bahkan peraturan ini membuat setiap orang penghuni kosan menjadi berlomba-lomba untuk segera sampai di musholla. Fastabiqul khoirot atau berlomba-lomba dalam kebaikan menjadi hal yang sangat tampak karena adanya peraturan ini. Tapi, jadi agak kabur juga sih antara fastabiqul khoirot dan nggak mau terpilih jadi imam, hehe. Sikap kompetitif setiap penghuni kosan menjadi sangat terasah. Bahkan waktu memulai sholat di musholla kami bisa bersamaan atau bahkan lebih cepat dibandingkan masjid yang suara speakernya terdengar hingga ke kosan, bahkan untuk sholat subuh sekalipun, mantul (mantap betul).

                Menunda-nunda sholat tak lagi terjadi, karena disadari atau tidak, hal yang paling sering dilakukan seorang muslim adalah menunda-nunda sholat. Termasuk aku dan sholat yang paling sering aku tunda-tunda adalah sholat isya. Alasannya? Karena waktunya panjang, padahal belum tentu juga umurku bakalan sepanjang waktu sholat isya. Ampuni hamba ya Allah. Padahal katanya menunda sholat itu adalah ciri-ciri orang munafik, ngeri nggak sih. Bahkan di Al-quran Allah telah menjelaskan dengan sangat gamblang tentang ini,

Celakalah orang-orang yang shalat, yaitu orang-orang yang lalai dari shalatnya. (QS. al-Ma’un: 4 -5)

                Mungkin ini adalah momen yang akan sangat aku rindukan nanti ketika aku sudah tidak di kosan ini, saat dimana kita berlari-lari untuk segera sampai di musholla agar tidak terpilih menjadi imam. Bahkan ada yang bela-belain ngetokin kamar satu per satu karena datang terakhir dan nggak mau jadi imam dengan harapan masih ada yang tertidur dan mau ikutan jamaah, sehingga yang bersangkutan bisa terlepas dari tanggung jawab menjadi imam. Kenapa pada nggak mau jadi imam sih? Ya tau lah, kami kan maunya diimamin sama imam, hahahaha.

Teruntuk semua penghuni kosan rambutan, terimakasih atas canda tawa yang selama ini tercipta. Terimakasih untuk semua motivasi dan pengingat sehingga diri ini bisa senantiasa memperbaiki diri dari hari ke hari. Semoga Allah senantiasa memberikan keistiqomahan kepada kita semua untuk terus berada di jalanNya. Carilah aku jikalau nanti di akhirat kelak kalian tidak menemukanku di antara kumpulan orang-orang sholeh-sholehah yang mendapatkan syafaat dari Allah. Adukanlah padaNya bahwa kita pernah bersama-sama berlomba-lomba melaksanakan sholat berjamaah tepat waktu, berlomba-lomba untuk menentukan siapakah yang akan terpilih menjadi seorang imam. Semoga Allah mengumpulkan kita semua di surgaNya, aaamiiin.

Kehilangan dan Halangan yang Datang Bersamaan

87c84f2326a28d3b9c3e5e821b06749aBanyak kisah yang terjadi selama berada di Bandung, khususnya ketika bulan Ramadhan, yap… ini Ramadhan pertama di kota kembang, Bandung. Awalnya pengen bikin project gitu, menulis kisah yang terjadi setiap hari di bulan yang penuh berkah ini. Tapi, ya gitu hingga hari ke-22, barulah nih tulisan realease. Ngerasa nggak sih kalau waktu berjalan begitu cepat, jadi kalau punya niat baik sebaiknya disegerakan saja, jangan ditunda, kayak nikah #eaaa. Soalnya nih ya, perasaan baru kemarin rasanya mengharu biru menyambut Ramadhan pertama, eh sekarang udah mau selesai aja. Satu lagi, asik asik aja sih ya menyendiri, eh tiba-tiba temen-temen seangkatan udah punya bayi. Mau sih nikah, tapi belum ada yang ke rumah aja #kode. Cukup cukup…. back to the main topic. Jadi gini, ada sedikit kisah sedih nih, aku baru mengalami kehilangan, it’s not a big deal sih. Tapi, yang namanya kehilangan mau itu hal kecil atau besar, pastinya bakalan menimbulkan rasa sedih dan cekit-cekit gitu. Apalagi kalau diambilnya dengan pemaksaan dan tepat di depan mata kita sendiri. Sedih sih kehilangan tapi akan terasa lebih sedih ketika kita tidak bisa melakukan apa-apa untuk mencegahnya padahal kejadiannya tepat di depan mata kita sendiri. Yuk ah, dilanjutkeun wae atuh ya cerita lengkapnya.

Hari jumat kemarin, tepatnya tanggal 1 Juni 2017 atau hari ke-17 Ramadhan, pada siang hari di perumahan dekat kosan, jalan tubagus ismail, aku dan temanku kena jambret, iya… HPKU DIJAMBREEEET. Begini kronologinya, hari itu aku dan temanku berencana untuk berbelanja di pasar baru, mau beli oleh-oleh pulang kampung. Semua anak rantau pasti nggak asing lah dengan kegiatan semacam ini. Nah, sekitar jam 11 siang, temenku ini menjemputku di kosan. Aku yang bawa motor terus dia yang di belakang. Agak rempong sih hari itu, ada beberapa pesan yang harus aku balas tapi di saat yang bersamaan aku harus bawa motor. Bawa motor? Jangan dibawa, berat, biar aku saja wkwkwkw, bawa motor di sini artinya mengendarai ya sodara-sodara. Jadilah aku memasrahkan HPku ke temenku agar dia bisa membalas pesan yang ingin aku balas sekaligus membuka google map untuk menuju lokasi yang ingin kita tuju karena memang kami berdua belum tau persis lokasi tepatnya si toko baju berada. Nah berangkatlah kita berdua sambil ngobrol santai. Eh pas nyampe di jalanan perumahan menuju jalan utama tubagus ismail, ada dua orang laki-laki berboncengan yang merampas HPku dari tangan temenku.

“Aaaa… mbk” teriak temenku itu, aku awalnya nggak ngeh sama apa yang terjadi,

“HP… HP” kata temenku lagi. Beberapa detik kemudian aku baru sadar bahwa kita sedang mengalami penjambretan.

Aku langsung narik gas sampe full sambil teriak-teriak kayak orang gila,

“JAMBREEEEET….. JAMBREEEEEET……. JAMBREEEET…..ASTAGFIRULLAH…..” Teriakku kenceng banget ditambah lagi suara temenku.

                Ada beberapa bapak-bapak di pinggir jalan dan motor yang lalu lalang, tapi emang kondisinya sepi banget sih, semacam mestakung (semesta mendukung) aja buat di duo jambret buat ngalakuin kejahatannya. Orang-orang yang melihat kami berdua teriak-teriak kayak orang gila hanya ngeliatin doang nggak berbuat apa-apa, kayak nggak tergerak gitu buat ngapain kek, ngejar kek, nyegat mereka kek. Aku sih husnudzan aja, mungkin mereka bingung mau ngapain. Satu lagi, aku kan ngegas motor ampe full nggak setengah-setengah, eh masa di mata aku tuh pas ngalamin kejadian kemarin rasanya slow motion, beneran, serius. Makanya aku merhatiin gas motor udah full tapi rasanya kok laju motor kami lambat-lambat aja sampe kami kehilangan jejak si duo jambret. Sampe di tikungan, mereka berdua udah nggak ada jejaknya. Kami clingak-clinguk, keluar masuk gang buat nyari si duo jambret. Akhirnya kami pasrah, mungkin emang bukan rejekinya. Aku tuh nggak habis pikir aja, hari jumat lo, di bulan Ramadhan lo, bukannya setan-setan dibelenggu ya? Tapi ya kok masih ada penjambretan semacam ini. Hikmah yang bisa diambil adalah, nafsu jahat manusia sudah jauh berkembang melampaui kejahatan setan ternyata ya.

                Setelah itu gimana perasaanku sebagai korban? I feel nothing. Nggak ngerasain apa-apa, karena mungkin saking banyaknya rasa yang harus diekspresikan, jadi jatohnya nggak ada sama sekali yang tereskpresikan. Hal yang pertama dalam pikiran aku cuma pengen ngabarin orang rumah dan orang-orang terdekatku kalau HPku ilang. Oh iya, data-data di dalam HP itu yang jauh lebih berharga dari HP itu sendiri, foto-foto penelitian, foto-foto selama hampir setahun di bandung, file-file kuliah, file-file organisasi, dan semua muanya deh yang di dalemnya. Tapi, akhirnya aku ikhlasin aja karena aku percaya Allah akan menggantinya dengan yang jauh lebih baik. Selain itu, menyadari kalau semua yang melekat pada diri kita hanyalah titipan, maka ketika seketika hilang, hanya rasa ikhlas dan ketenangan hati yang tersisa. Kata ustadz Adi Hidayat, setiap benda yang kita punya akan ada hisabnya masing-masing. Nah, teruntuk HP ku yang hilang, maka sudah berakhirlah hisabnya terhadapku dan mulailah hisab untuk duo jambret itu yang tentunya akan terhitung dosa bagi mereka berdua. Semoga Allah mengampuni dan memberi hidayah untuk mereka berdua.

                Sorenya, aku ada janji dengan teman-teman kosanku untuk mengadakan ‘bridal shower’ dadakan ala-ala tahu bulat yang digoreng dadakan, soalnya kalau direncanain suka nggak jadi wkwkwk. Ini tradisinya orang barat sih, sepertinya ini acara bridal shower pertama dan terakhir yang akan aku hadiri. Semoga Allah senantiasa mengistiqomahkanku di jalan yang sesuai syariat Islam. aaamiiin. Fokusnya bukan ke sana sih, jadi mari lanjutkan dulu ceritanya. Semua teman kosanku sudah tau kejadian yang menimpaku. Mereka semua bersedih dan menguatkanku. Senang sekali rasanya punya teman kosan rasa saudara di tanah rantau. Kami semua bersenang-senang malam itu. Makan dan foto-foto bersama sebuah kafe yang Instagramable banget, namanya le delice bandung, kafenya ala-ala taman kerajaan gitu. Nih fotonya aku ambil di google, bagus banget kan…. aslinya jauh lebih bagus. Makanannya juga lumayan enak dan nggak terlalu mahal untuk tempat sekece itu.

le delice

                Malemnya aku ngerasan hal yang aneh, rasanya nggak enak hati dan nggak enak badan. Bener aja dong, aku dapet tamu bulanan alias halangan. Jauh lebih sakit rasanya halangan daripada kehilangan. Benar-benar kehilangan dan halangan yang datang bersamaan. Mari syukuri dan nikmati saja.